Tentang Perspektif: Menjadi Generalis Atau Spesialis

DSCN0040.JPG
Beberapa waktu yang lalu, aku dihadapkan pada suatu statement, yakni:

Menjadi spesialist itu memang penting, tetapi akan lebih baik bila kita bisa menjadi seorang generalist.

Well, noted. I’m trying so hard to understanding this statement while other of my friend said this kind of sentences to me:

Sudah, kamu itu cukup jadi penulis saja. Jangan merambah ke dunia lain yang “bukan kamu.” Beri kesempatan orang lain untuk unggul di bidang lain, seperti apa yang sudah kamu dapatkan saat ini. Beri mereka kesempatan yang sama untuk bertumbuh sepertimu.

I’m not trying do defense all the things I get.
Actually, after I hear the statement, it really made me suck in the deep though. Tahu alasannya? Ada kontradiksi yang menarik dari dua statement yang muncul dari dua kepala yang berbeda.
See, dua kepala yang artinya adalah ada perbedaaan perspektif yang memengaruhi tentang pandangan-pandangan seseorang terhadap sesuatu atau seseorang yang lain.

Being An Ambitious Person is Kinda Sucks

Honestly, aku terjebak dalam insecurity lingkungan yang selalu menekanku tak tidak habis-habisnya “mengataiku” bahwa aku adalah seseorang yang terlalu ambisius. Yes, u read it well. Septi is an ambitious girl. Seseorang yang penuh dengan ambisi dan teramat sangat visioner. But hey! Jangan dikira menjadi seseorang yang ambisius itu semenyenangkan itu. Ada banyak hal yang membuatku takut untuk tetap menjadi diriku sendiri akibat terlalu banyak di sekitarku yang bilang, bahwa:

Jangan terlalu menggebu-gebu jadi cewek, nanti cowok pada takut deketin, lho.

Jangan pinter-pinter, kasian nanti pada nggak bisa ngimbangin, lho.

Mbok ya jadi orang tuh yang biasa-biasa aja biar yang mau ngajak temenan nggak takut kalah pinter sama kamu.

And so many statement like this yang buat aku jadi bener-bener mikir sekadar cuma nanya ke diri sendiri, “Memangnya salah ya kalau aku pengen pinter?” “Memangnya salah ya kalau aku ingin unggul dalam satu bidang?” “Memangnya salah ya kalau punya visi misi buat masa depan?” “Memangnya salah ya menjadi seorang cewek yang penuh dengan ambisi?” 
I’m getting tired of this dan akhirnya memutuskan untuk, baiklah, aku akan menjadi biasa saja demi bisa hidup dengan tenang dan tidak tersiksa dengan judgement yang terlalu banyak dari lingkungan di sekitarku.
 
 

And Now Life Dragging Me To Contradiction Perspective

Sebut saja, rekan kerjaku terang-terangan bilang bahwa being spesialist is good, but it better for me if I can be a generalist too. It drag me into the feeling like “WHAT THE KIND OF THIS SITUATION?” Setelah bertahun-tahun aku bersusah payah untuk, baiklah, aku harus menyadari bahwa aku punya kapasitas untuk tidak menganggap bahwa aku bisa di semua hal dan semua bisa. Sebab, ada orang lain yang lebih bisa untuk menguasai hal tersebut dan dia pekerjaan itu lebih efektif jika bukan aku yang handle.
 
Entah mengapa aku merasa ada yang salah, pada diriku mungkin. Ada pemikiran yang menjebakku pada lingkaran berpikir bahwa

Setiap orang itu terlahir menjadi perfeksionis dengan standar masing-masing yang mereka buat dan mereka jalani untuk diri sendiri atau untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan dia.

No, ini tidak sama dengan “Lah, berarti kamu nggak bisa terima masukan, dong?” Bukan! Bukan itu maksudnya… Tapi, lebih ke andai memang kita dipaksa untuk menjadi seorang generalis, lalu kita menguasai berbagai bidang sedangkan kita bekerja sama dengan orang-orang yang lebih ekspert di bidang tersebut, yang terjadi bukan malah kita jadi belajar hal baru, melainkan kita jadi buang-buang waktu karena sebenarnya kita unggul di bidang lain, tetapi kita memaksa diri kita untuk ada di kondisi yang kita tidak bisa, namun memaksa diri kita untuk bisa. Hanya untuk sekadar mendapat predikat bahwa: Kita bisa melakukan apapun.
Aku merasa bahwa menyelesaikan pekerjaan bukan hanya sekadar “menyelesaikan pekerjaan”, melainkan seharusnya bisa memberikan value, impact atau perubahan yang bisa membuat kita menjadi spesialist yang nggak cuma sekadar punya title.
Simply way, let me said that done the task is not only about say to the world that “I’VE BEEN DONE THIS TASK,” but I feeel I have to say “I’m done with this, I am doing this because of……. and after this i’m gonna doing…… for a better result.”
Seperti yang aku percaya dan tanamkan pada diri sendiri bahwa melakukan kesalahan itu tidak sesederhana trial and error, tetapi adalah tentang trial and measure. Apakah kesalahan yang kita lakukan menjadikan kita sebagai seseorang yang lebih berkembang atau justru menjadikan kita sebagai seseorang yang penuh dengan makian karena terlalu memaksakan keadaan?
Silakan menjawab dengan perspektif masing-masing.
Salam.

Kembalinya Freelancer ke Kantor. Apakah Ini Sebuah Kemunduran?

Well, its been a long time since I update my blog talking about pekerjaan, dunia perkantoran dan dunia digital nomad yang menyenangkan. Yah, i think I wanna share one of my big revolution after being comfort with my daily routine as a freelancerI’M WORKING AND JOINING COMPANY now! XD
Hahaha maybe some of you ngakak deh baca prolog dari tulisanku kali ini. But, please stop laughing and let me explain you a story of me. I’ll to to explain by myself, so you guys bisa coba lihat dari perspektif kalian sendiri either itu dari perspektif freelancer atau perspektif karyawan full timer.

Satu tahun silam, aku menjalani karir sebagai seorang digital nomad, as a freelancer yang fokus di dunia content marketing, sosial media marketing dan digital ads yang you know guys pasti nggak asing di dunia ini. Yup, dunia ini sudah mendarah daging di aku selama satu tahun terakhir dan membuatku bisa menjadi diriku sendiri — yang suka jalan-jalan ke luar kota sambil bawa laptop. Atau bahasa sederhana dan kerennya sih, bisa kerja di mana saja as a digital nomaden.

Itu lhooo, orang yang kerjanya pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain kayak kutu loncat. Nggak ikutan gabung di satu perusahaan, tapi tetap mengerjakan project gituuu. Hihihi sounds fun ya kan? Tapi ya nggak juga seeehhh hahahaha.

Menikmati Indahnya Menjadi Digital Nomaden

Aku bisa bilang bahwa jadi digital nomaden itu salah satu pencapaian yang luar biasa menyenangkan. Bisa kerja kapan saja semaunya, dimana saja, dan yang jelas nggak terbatas ruang dan waktu. Selama jadi digital nomaden, aku biasanya pindah-pindah kota. Mulai dari ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Purwokerto, dan sampai ke Turki. Ah, such a wonderful experience, sih. Sungguh pengalaman yang nggak akan pernah bisa aku tukar dengan uang.

Meskipun pernah jadi orang konyol yang bawa laptop ke gunung dan nyoba bukain ads & business manager di gunung, tetap saja aku nggak pernah menyesal sedikitpun jadi orang yang konyol karena sebab tersebut. Hahahaha. Asyik soalnya jadi orang aneh di antara orang yang normal. Eh maap nih, jadi aku ini normal atau nggak sebenarnya? Skip ~

Menjadi digital nomaden juga mempertemukanku kepada banyak hal, mulai dari ketemu klien yang normal sampai aneh-aneh, ketemu sama partner kerja yang kerjaannya rapi sampe super bikin naik darah, hingga dicap sebagai influencer mata duitan karena aku itu jarang banget gabung ke event gratisan. Ya Allah, aku nggak matre kok beneran, deh. Tapi ya emang kalau ada event berbayar mendingan dateng ke event berbayar daripada gratisan *ehhhhh. Kecuali, event itu berupa event untuk belajar bareng-bareng. I mean, aku bisa belajar banyak dari event tersebut. Tsaaahhh ~ Pinter amat kalo ngeles, kayak guru privat aja XD.

Flashback ke Perjuangan Bisa Menjadi Digital Nomaden Alias Freelancer

Kata siapa jadi freelancer itu mudah?
Kata siapa jadi freelancer itu enak?
Kata siapa hm kata siapa?

Monmaap nih yaaaa, yang bisa bilang kayak gini pasti nggak pernah ngerasain jadi freelancer sebenar-benarnya freelancer. Palingan ya kalaupun pernah, dia cuma nanganin beberapa klien aja dan nggak multitasking. Monmaap yaaa, tapi jadi freelancer itu nggak gampang :”)

Butuh waktu satu lebih dari tahun untuk bisa membangun personal branding yang cukup kuat untuk bisa mendapatkan klien dan dipercaya perusahaan untuk bisa handle berbagai macam jenis pekerjaan. Dulu, zaman sebelum aku kayak sekarang, bisa laptopan di mana saja, aku juga jadi karyawan di perusahaan Creative Agency di Jakarta, Bekasi, Semarang, dll.

Aku belajar banyak dari pengalaman gabung di agensi. Mulai dari anak bawang yang setiap hari cuma dimaki-maki sama senior karena tulisannya jelek, nggak bisa ngomong, nggak berani berpendapat, hingga akhirnya aku jadi Septi yang seperti sekarang ini.

Emang sekarang tuh Septi yang kayak gimana sih, Sep? Hahahaha nggak hebat-hebat banget, kok. Tapi yaaa alhamdulillah sekarang cukup bisa diandalkan dan bisa diajak diskusi perihal content writing, social media marketing, hingga digital advertising. Waaahhh, kayaknya keren, ya? Nggak juga sih, biasa aja sebenernya. Hanya alhamdulillah kebetulan mungkin aku lebih dulu tahu daripada teman-teman yang belum tahu saat ini. 🙂

Dimaki-maki Senior dan Nangis Setiap Pulang Kerja

Pait sih kalau inget momen beginian. Dulu setiap kali pulang kerja aku nangis di perjalanan pulang ke kosan. Apalagi ya, momen itu terjadi ketika aku baru pindah ke Jakarta. Stressnya itu lho Masya Allah. Peralihan dari anak desa ke anak kota, sampai peralihan dari anak bawang ke sekarang itu cukup makan waktu dan bikin sakit-sakitan. Sedih kalo inget. Sampai aku berkali-kali ke dokter, ganti-ganti dokter dan mereka bilang aku nggak ada gejala penyakit dalam karena semuanya normal. Dan kesimpulannya aku sakit hanya karena stress hahahahah. Sungguh bulan yang berat untuk hidup di Jakarta,

“Kok tulisanmu jelek banget sih. Ini nih yang kamu sebut tulisan? Kayak gini mah nggak usah belajar juga bisa.”
“Makanya kalau diajari tu dicatet, diinget di luar kepala. Diajari kok lupa terus, Capek tau ngajarin tuh kalau nggak ada gunanya begini.”
“Udah diajarin berapa lama masih nggak ngerti-ngerti juga? Disimak dong kalau ada orang yang ngajarin tuuu, jangan cuma dateng doang tapi nggak disimak.”

Deuuuhhhh, banyak banget deh kalau diinget-inget. Nggak guna banget rasanya waktu itu. Berasa kayak gue salah gabung perusahaan ga sih? Apalagi nih yaa, aku cuma pakai ijazah SMK. Kebayang dong mindernya ada di tengah-tengah teman-teman kantor Jakarta yang notabene-nya mereka adalah lulusan dari kampus-kampus keren dan dari jurusan keren di kampus mereka. Ada yang lulusan kampus Jakarta, Bandung, dll. Nah, aku? Remahan doang :”)

Yes, sebagai lulusan SMK, aku minder bukan main pada awalnya. Sampai akhirnya, aku ketemu sama dosenku, Pak Algooth dan senior kontenku, Innes Sabatini namanya. Aku bersyukur bertemu dengan mereka. Its like I get a gift from God. Anugrah ketemu mereka. Both adalah orang-orang yang cuek, tapi bener-bener bisa bikin aku tahan banting. Dari dikata-katain tulisanku jelek sampaaiiiiii dikatain karena masih kecil makanya suka labil :”).

Dibilang Hidupnya Enak Karena Bisa Jalan-jalan Kapanpun

Hellaaaawwww plissss, aku ini juga kerja, kok. Hahahha. Bedanya hanya kalau kalian mungkin kerja di kantor, terikat jam kerja, aku kerjanya lebih fleksibel baik dari segi tempat maupun waktu. Aku bisa jalan-jalan ketika kalian kerja. Aku bisa bangun siang ketika kalian sudah harus ke kantor. Kayaknya enak, ya?

Padahal, sisi freelancer yang tidak kalian tahu adalah kami ini jam kerjanya lebih gila dari kalian, loh. Kami bekerja saat weekend. Kami bekerja saat kalian tidur. Kami bawa laptop saat perjalanan bahkan membuka laptop di atas motor atau di atas kereta. I did it. Iya, aku pernah buka laptop di motor. Mulai dari nulis, sampai ngeceki iklan yang aktif. Emang nggak capek? YA MENURUT NGANA AJA! Eh maap ngegas :)))

Setelah Hampir Setahun Bekerja Secara Nomaden, Akhirnya…..

I
t isn’t that easy as you guys can see to decide that
FINALLY SEPTI NGANTOR LAGIIIII.  Jujur, nggak ngerti harus seneng atau sedih ketika pertama kali baca email yang intinya adalah “welcome to the team, Septi ^^”. Its too warm for me to feel hurt inside of me :“). Dan tepat nggak nyampe 5 menit setelah aku mendapatkan telepon dari CTO kantor sekarang dan email resmi bahwa aku bisa bergabung di kantor, aku nangis dong WUAKAKAKAAK. Nangis? Seorang Septi nangis? Jarang-jarang kan seorang Septi nangis dan ini beneran dong beneran banget nangis nyesek gituuu semacam kayak ada unek-unek di kepala dan kalo ni hati bisa teriak bakalan teriak “GUE BENERAN NGANTOR LAGI,NIH?” :”)

Kok sedih? Kan padahal cari kerja itu susah…
Kok sedih? Kan udah enak kerja tapi nggak perlu ngelamar..
Kok sedih? Kan enak kerjanya di Semarang dan deket rumah..

It doesn’t about the salary, it doesn’t about the time, that is all about the chance. Yap, aku harus melepaskan banyak sekali kesempatan setidaknya dalam tahun 2018 ini. Kesempatan untuk bisa ikut serta dalam Ubud Writer Fest yang aku dambakan selama 3 tahun ini harus kandas juga akhirnya. Belum lagi, aku harus melepaskan kesempatan untuk berangkat ke Slovenia dan Kroasia dengan jalur beasiswa. Kesempatan untuk bisa jadi moderator roadshow ASEAN GAMES 2018 di kota-kota Indonesia dan banyak kesempatan lainnya.

Sedih!
But, this is life. Sometimes we only need to accept about everything in the world for us.

Awalnya Bisa Kerja Company Lagi Gimana Ceritanya?

Doa itu emang sebaik-baik ucapan. Dan tolong, kalanian hati-hati dengan doa, umpatan dan semua keluhan kalian hahahaha. I can say this because this is the part of my dua anyway. Beberapa wakt terakhir sebelum akhirnya ngantor aku dapet klien macem-macem cukup banyak dengan tabiat dan karakter yang Masya Allah bener-bener bikin jantungan, ngelus dada dan istighfar banyak-banyak XD.

Jam kerja jadi berantakan (((emang aslinya udah berantakan sih))) tapi jadi makin berantakan. Terus bener-bener waktu tersita banyak, nggak tenang dan anything else, lah. Then, sering banget kayak ngomong lirih:

“ya Allah, aku capek jadi freelance. Pengen kerja di kantor yang gajinya tetap tiap bulan dan kliennya nggak model-model begini.”
“ya Allah, kalau ada kantor agensi atau apa deh yang modelnya kayak agensi Jakarta tapi ada di Semarang asik kali yaa.”
“Pengen deh kerjanya nggak sendirian, ada temennya, ada temen ngobrol, temen brainstorming, temen lah pokoknya. Kerjanya nggak di kafe sendirian, jalan-jalan sendirian terus.”

Anndddd dooor!!!!!

Beneran kejadian dong :”) terus akunya yang sedih! Wakakakaakaka. Ternyata manusia emang gitu ya, nggak bersyukurnya banyak! Padahal udah minta ini itu aneh-aneh dan dikabulin, tapi malah sedih. Sedangkan di luaran sana banyak yang tidak seberuntung aku yang alhamdulillah dikasih kesempatan lagi untuk belajar.

HAH BELAJAR?

Yup.. Pada akhirnya mengapa aku menerima tawaran untuk bisa bergabung dengan kantorku yang sekarang adalah karena aku ingin belajar. Tentang apa? Tentang banyak hal. Tentang sosialisasi, tentang digital marketing again pastinya, tentang society, tentang banyak hal yang nggak akan ada habisnya ilmu itu.

Sebab, kalau dari awal niatnya cuma uang, kerjaan pasti jadi setengah-setengah. That’s why aku selalu bilang ke diriku sendiri bahwa di manapun aku harus belajar dan dapat sesuatu dari sana alias nggak cuman buang-buang waktu aja dan doing nothing. Duuh, it’s not meee XD. Aku dengan curiousity yang bikin orang sering kesel ini paling nggak bisa kalau nggak nanya sesuatu apalagi kalau hal itu baru banget buat aku. Bisa sampe mumpluk nanyanya hahaha

In the end, i would like to said that being a freelancer or full times, both are have the plus and minus. Semuanya tergantung kita banget mau ambil dari perspektif yang mana. Baik buruknya porsinya sama. Tinggal porsi bersyukurnya. Bisa nggak kita jadi orang bersyukur? Dalam hal ini aku — kadang buat bisa bersyukur itu ada aja godaannya. Padahal, banyak yang pengen bisa dapat posisiku, tapi akunya suka leda-lede bersyukurnya. Astagfirullah :”)

And how lucky I am bisa bergabung ke dalam company yang menyenangkan, mulai dari sistem kerja, teman-teman, jam kerja, ambiance dan banyak hal lain yang semenyenangkan itu.

So, it’s okay to come back to be a full timer again asalkan jangan sampai lupa bersyukur karena:

Hidup yang kita jalani adalah hidup yang orang lain inginkan.

Jadi, Apakah Sebuah Kemunduran Bagiku dari Menjadi Freelancer dan Kembali Menjadi Full Timer di Kantor?

ABSOLUTELY NO kalau buat aku.

Tidak ada salahnya untuk kembali ke perusahaan, untuk belajar, untuk mengaplikasikan ilmu, untuk kembali mencoba hal baru — belajar tentang bagaimana caranya berinteraksi, belajar tentang bagaimana caranya bekerja bersama tim, belajar tentang hal teknis dengan case-case baru lagi tentu saja.

Yaaa meskipun tidak ada lagi bangun siang, bobo siang, tidur kapanpun, lembur kapanpun, libur kapanpun, jalan-jalan kapanpun, Tidak akan adalagi nonton drama korea sampe lupa waktu, tidak akan ada lagi ngopi semaunya, tidak akan ada lagi mblayang semaunya. Tidak akan ada lagi cerita enak jadi freelancer wkwkwkw.

Nggak deeeeng nggak gitu banget juga. Kerja juga masih bis amain, masih bisa nongkrong, masih bisa ngelakuin hal menyenangkan lainnya, kok HEHEHEHEHEHE asal pinter manage waktu aja :)))

Salam,
Freelancer yang akhirnya jadi anak kantoran (lagi)

Para Peminum yang Tak Punya Waktu Tidur

Image from: Google with edit
Waktu menunjukkan pukul 23.57 WIB. Iya, waktu sudah larut, hampir menjelang dini hari. Tapi masih saja kampung ramai akan orang-orang yang kenal waktu tidur. Di atas meja dan kursi tempat mereka duduk, seperti biasa ada botol-botol miras yang sebut saja tak pernah absen kulihat setiap kali aku melintas.
Beberapa di antaranya selalu memandang ke arah kami, orang-orang yang tengah menuju masjid saat waktu shalat tiba, termasuk hari ini. Iya, beberapa berdiri, memasang mata mereka, seolah mengunci fokus pada target dan siap melakukan “catcalling” atau sekadar menyapa dengan salam. Eh ini termasuk “catcalling” juga kan, ya?
Benar, lokasi tempat mereka, para peminum biasa berkumpul ada di jalan menuju masjid. Sebelum lorong kecil yang kami lalui, mereka biasa memenuhi halaman salah satu rumah dengan motor berjejeran hingga menutup jalan dan atau memenuhi dengan kursi dan duduk memenuhi teras. Aku tidak melihat kegiatan berfaedah yang mereka lakukan, selain hanya duduk, begadang degan ditemani botol-botol minuman yang seharusnya tidak ada di meja itu.
Ini bukan pertama kali aku melihat. Bahkan, bisa dibilang ini adalah makanan sehari-hariku. Sejak kecil, aku seolah telah terbiasa dengan kelakuan mereka yang tak jarang membuat warga kampung merasa insecure. Tahu kenapa? Ketika mereka hilang sadar, bukan hanya teman minumnya yang jadi korban, namun seringkali warga tak bersalah juga jadi korban. Dan kelakuan mereka beberapa kali menyeret mereka keluar masuk bui. Tapi, apa yang terjadi? Hukum selalu bisa dibeli dengan uang dan mereka kembali dengan aktivitas yang sedemikian membuat warga resah. Aku salah satunya.
Aku masih ingat betul beberapa hal tidak pantas yang aku lihat kala mereka hilang sadar. Dulu, saat aku masih memakai seragam, ada seseorang hilang sadar dan dia duduk, sesekali bersujud, menyembah rumah salah satu kyai di kampung selama beberapa hari dan membuat keluarga sang pemilik rumah takut untuk sekadar keluar rumah. Saat diajak pulang, ia kembali lagi dan begitu terus selama beberapa hari.
Aku, yang hanya tetangga yang tinggal di samping rumah pun merasa tidak nyaman melintas di depan rumah pak kyai. Sebab, sesekali ia, sang peminum yang hilang sadar berdiri dan berteriak sendiri. Kebayang nggak sih kalau pas aku lewat terus dia datengin aku dan teriak gitu? Hahahaha kan ngeri. Btw, ini hahanya jangan dianggap bercanda, ya.

Bambu yang panjang, balok kayu yang besar kerap kali jadi senjata untuk memukul yang mereka anggap lawan.

Tempat di mana mereka biasa berkumpul, di rumah sebelum lorong menuju masjid, sering terjadi drama. Tiba-tiba ada saja yang berteriak lalu mencari balok kayu atau senjata apapun yang bisa ia genggam, untuk bisa ia pukulkan ke lawan yang ia incar. Siapa lawannya? Entah. Siapa saja tiba-tiba bisa jadi lawan. Parahnya, kalau lawannya sama-sama mabok, yang jadi korban bukan hanya meraka berdua, tetapi orang-orang yang berusaha memisahkan mereka. Ngeri kan? Hahahaha aku pun kalau boleh pergi dari tempat ini, aku akan pergi sejauh yang aku bisa. Menjaga jarak dari mereka.

KDRT Bukan Lagi Hal yang Tabu

Seberapa parah KDRT yang ada di bayanganmu? Kalau di sekitarmu seringkali ada kekerasan dalam rumah tangga saat ada pihak baik dari istri atau suami saling tampar, itu biasa buatku. Di sekitarku, tak jauh dari rumah bahkan sering terjadi KDRT yang sungguh, kamu akan merasa bahwa mati baginya lebih baik daripada harus menanggung siksa yang naudzubillahimindzalik.
Salah satu contoh yang pernah kulihat dari jendela kamarku sendiri malam itu adalah saat ada perempuan yang rambutnya dijambak oleh satu orang laki-laki. Mau tahu kasusnya apa? Jadi, sore hingga malam waktu itu, tersebutlah sekumpulan anak muda sedang berpesta minuman di salah satu rumah. Mereka mengundang satu wanita penghibur yang dibawa oleh salah seorang dari mereka. Dan ketika si A, sebut saja begitu. Membawa sang wanita ke dalam kumpulan mereka dan si B ingin sang wanita juga menemaninya dan si wanita mau, si A yang hilang sadar tidak terima.
Si B dihajar habis-habisan oleh si A. Si B membalas dan terjadilah pertengkaran di antara mereka. Dan yang kulihat dari balik jendela kamar adalah ketika sang wanita, rambutnya dijambak oleh si A dan disalahkan si A, dimaki habis-habisan, diseret karena si A merasa telah membayar si wanita dan ia merasa dikhianati.
Kalau kamu wanita dan melihat hal seperti ini, kamu akan bersikap apa? Warga sekitar bahkan takut melerai. Warga bahkan takut akan ada korban jiwa sebab nyawa selalu jadi taruhan saat mereka hilang sadar. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bisa berpura-pura betah ada di tengah-tengah lingkungan mereka.

Kebiasaan yang Selalu Menjadi Hal Baru Bagi Mereka

Sungguh, ini sudah lama dan mungkin sudah beberapa generasi. Sejak aku masih kecil, pemandangan lumrah ini sudah ada. Tapi, tidak bagi mereka. Bagi mereka, peminum yang tak punya waktu tidur, ini adalah penyakit musiman. Yang kadang hilang dan kadang timbul. Mereka seringkali membuat zona waktu mereka sendiri.
Dan tahun ini, tren togel sedang marak di sini. Kalau kamu tidak asing dengan istilah HK dan SGP, maka selamat datang di dunia togel yang membuat mereka kecanduan. Hahaha ngomong-ngomong soal togel aku jadi ingat. Kala itu, di pekarangan belakang ruma yang ada pohon kelengkeng berdiri kokoh, ada seorang bapak-bapak yang hilang sadar berdiri di depan pohon. Ia diam, lalu mengobrol, lalu diam, dan ia bercakap-cakap dengan pohon meminta pencerahan tentang nomor togel keberuntungan. Wallahi, sedih liat pemandangan seperti ini.
Aku tak punya kuasa bahkan untuk sekadar bertanya ia sedang berbuat apa dan untuk apa. Aku hanya tahu bagaimana menutup mata, telinga, dan pintu rumah saat harus melihat hal-hal seperti ini terjadi. Hahahaha, iya, ibu selalu memintaku untuk buta dan tuli setiap kali kejadian seperti ini harus membuatku berpikir dan bersedih hati.
Mengapa aku menyebut mereka para p
eminum yang tak punya waktu tidur? Sebab hingga hari ini, sejak aku masih bayi, hingga pagi bahkan saat aku membuka mata, mereka selalu terjaga. Entah apa yang mereka lakukan, tapi sungguh ini bukan kabar baik untukku. Aku dan warga lain yang merasa tidak nyaman ini butuh perlindungan dari orang-orang yang seringkali bebas, meski seringkali keluar masuk bui.

Kenapa Nggak Lapor Aparat Berwajib Saja?

Well, cara ini sudah berkali-kali dilakukan oleh warga. Dan hasilnya selalu sama. Yang tertangkap, berhasil diciduk, selalu bisa lolos, dengan uang jaminan yang diberikan. Lalu, kebiasaan seperti tersebut di atas kembali terjadi, begitu dari aku tidak mengerti hingga kini sampai lelah hati.
Salam,
12 Juni 01.20 WIB
dari aku yang baru saja melintas di depan konferensi para peminum yang tak punya waktu tidur

Buka Bersama; Rutinitas Bersama Keluarga yang Hingga Saat Ini Masih Menjadi Wacana

Nggak kerasa ya, puasa sebentar lagi..
Masha Allah, sudah masuk Bulan Ramadan..
Aku pengen pulang, merasakan sahur dan buka puasa sama keluarga..
Tidak ada yang bisa menggantikan keluarga saat tiba Bulan Ramadan. Semua orang berbahagia, sebab sebentar lagi masa yang dinanti untuk bisa berkumpul bersama keluarga, makan sahur dan berbuka puasa bersama menjadi momen satu tahun sekali yang aku yakin banyak yang merindukan ini.

Tidak sama seperti kalian yang berbahagia sebab bisa merasakan momen yang langka ini, aku, justru menangis setiap kali menjelang Ramadan, saat Ramadan, hingga tiba waktunya Idul Fitri, hari kemenangan yang dinanti selama satu bulan lamanya. 
Dulu sewaktu aku menjadi anak rantau, aku benar-benar merasakan apa itu sendiri — sahur sendiri, berbuka puasa sendiri, tanpa keluarga. Kalau bangun kesiangan, ya resiko. Kalau misalkan saat berbuka puasa hanya ada teh hangat yang kubuat dengan bantuan dispenser kantor, ya inilah hidup. Itu yang aku rasakan saat itu.
Dan momen sahur bersama ibu benar-benar menjadi precious thing yang tidak tergantikan. Benar-benar momen yang membuatku menangis sejadi-jadinya di kantor dan di kosan setiap kali aku teringat bahwa aku di tanah rantau sendirian.
Tapi, ada yang lebih menyedihkan daripada sekadar meratapi hidup menjadi anak rantau yang rindu akan pulang untuk bisa bercengkrama dengan keluarga, yaitu bertemu, tapi tidak bisa bercengkrama.
Tahun ini, alhamdulillah aku bisa menikmati segarnya meneguk teh panas atau sekadar air putih di rumah, bersama ibu. Tapi sayangnya, selalu dan tidak pernah bisa untuk merasakan bahagia ini bersama bapak. Sekalipun dalam hidupku hingga tahun ke dua puluh tiga ini tidak pernah aku merasakan berbuka dengan keluarga — seutuh-utuhnya keluarga.

Puasa di Satu Atap yang Menganut Keyakinan Berbeda

Kalian mungkin sering merasakan berbuka puasa dengan teman yang berbeda keyakinan. Bagiku, itu hal kecil yang memang sudah sewajarnya ada. Tidak ada yang perlu diperdebatkan tentang siapa yang puasa dan siapa yang tidak ikut puasa. Keyakinan memang sudah seharusnya tidak memaksa suatu pihak untuk meyakini keyakinan yang lain.
Tapi, kasusku berbeda. Aku hidup di tengah keluarga dengan keyakinan yang bisa kalian bayangkan rasanya saat orang tua kalian menganut agama berbeda dan mempercayai kitab yang berbeda pula? Saat kalian bisa bersama orang tua kalian menjalani shalat jamaah bersama, puasa bersama, tadabur Al-Quran bersama-sama, tidak demikian dengan aku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan kehidupan masjid dan gereja, tasbih dan rosario, Al-Quran dan Injil serta perbedaan keyakinan-keyakinan yang membuatku entah ada di titik mana. Aku pernah merasakan roti yang diberikan oleh Bapa di gereja dan memakannya saat aku masih berusia anak-anak.

Kata keluargaku, itu adalah berkat dari Tuhan lewat Bapa. Aku pun pernah meraih juara hafalan surat pendek antar masjid, juara mempraktekkan shalat fardhu dan juara lain di dunia muslim. Sebuah kontradiksi yang menyenangkan. Setidaknya, masa kecilku penuh dengan masa-masa bahagia meski banyak pihak yang menentang untuk percaya pada salah satu agama yang ada di kelurga besarku.

Bahkan, awal di mana aku ingin memakai jilbab, Ibuku melarangku. Katanya, jangan dulu. Akan banyak hal yang aku lalui kalau aku benar-benar memutuskan memakai jilbab. Hancur rasanya mendengar ini.
Awalnya aku menyangkal, satu tahun kemudian, aku benar-benar mulai memakai jilbab, lalu tahu apa yang terjadi? Satu bulan kemudian, saat liburan semester, aku membuka jilbabku karena harus rekreasi bersama keluarga dari Bapak ke Bandung. Sulit bagiku yang masih belia mempertahankan jilbab sedangkan aku sendiri di sana.
Untuk shalat saja bahkan terasa sulit, sebab terjebak dalam zona waktu di tengah-tengah mereka benar-benar membuatku berjuang lebih keras dari biasanya. Aku bahkan untuk wudhu harus mencuri waktu. Aku harus benar-benar mencari space kosong untuk bisa menggelar sajadah dan menengadahkan tangan di lima waktu yang harusnya tak boleh aku lewatkan.
Masa laluku berat, bahkan hingga hari ini.
Mendengar bahwa agama yang kupercaya ini hanya mencetak orang bodoh, adalah hal termenyakitkan yang aku tidak tahu harus marah atau harus apa untuk bisa mencernanya. Aku masih ingat betul rasanya, bahkan hingga saat ini. Mau marah, tapi aku bisa apa? Tak ada satupun kalimatku bisa sampai hingga membuat mereka mencerna. Hingga pada akhirnya, aku kalah dengan kalimat “mereka berbuat demikian karena mereka tidak mengerti. mengalahlah…”

Baik, aku menyerah. Aku tidak ingin menjadikan orang lain sebagai tersangka atas ketidakmampuanku memberikan penjelasan paripurna.

Membayangkan Bisa Shalat Jamaah Bersama Saja Sudah Membuat Pipiku Basah, Apalagi Bisa Berbuka Puasa Bersama?

Mungkin, bagi kalian, mudah untuk bisa mengatur jadwal setidaknya satu minggu sekali atau bahkan satu bulan sekali untuk berbuka di rumah bersama keluarga. Lengkap. Tanpa ada seorangpun alpa. Aku belum pernah merasakannya. Sekalipun belum sekali dalam seumur hidupku. Menyedihkan, ya? Padahal, semua anggota keluarga ada. Lengkap. Tapi aku tak bisa menjadwalkan satu haripun untuk bisa bertemu mereka dan menyantap hidangan berbuka bersama-sama.

Tahu alasannya kenapa? Betul, karena kami menganut keyakinan yang berbeda. Sebab itulah, aku tak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya nikmatnya berbuka bersama keluarga.

Aku dan ibu. Hanya ada aku dan ibu. Sedari dulu begitu dan aku bosan. Kalaupun harus ada kakak laki-lakiku yang hadir di tengah ritual puasa tahunan yang kami jalani, kami tidak pernah duduk dalam satu meja. Kalau aku di dapur, mungkin kakakku di kamar dan ibu di ruang tengah. Kalau aku di ruang tengah, kakakku di dapur bersama ibu. Seterusnya begitu.

Lalu, kakakku menikah dengan wanita pilihannya. Aku menduga, bahwa ia merasakan kesepian yang sama, sepertiku. Aku tahu betul bagaimana rasanya dan mengapa ia segera untuk meminang gadis pujaannya yang kini menjadi kakak iparku. Sebab, ternyata sepi memang menjadi pembunuh paling kejam dari dalam diri. Kalian percaya? Mungkin tidak, sebab kalian tidak pernah mengalami.

Aku tidak merasa butuh dikasihani. Aku hanya ingin berterimakasih kepada golongan yang selalu me
mbagi bahagianya melalui sosial media dan menceritakan tentang hangatnya hidangan berbuka yang bisa mereka santap bersama keluarga. Terima kasih telah membaginya, kepadaku yang rindu untuk bisa merasakannya meski hanya sekali saja.

Suatu hari, kalau kalian membaca ini dan bertemu denganku, boleh kuminta satu? Jangan pernah mengasihani aku —
yang pernah shalat di gereja,
yang pernah shalat menghadap patung Bunda Maria,
yang sering mendengar kalimat rosario di tengah-tengah doa bersama,
yang pernah melepas jilbab karena tiada seorangpun yang bisa menjadi teman dalam perjalanan.

Aku sudah cukup merasakan pahitnya sendiri selama ini. Tolong, jangan kalian tambahi dengan rasa kasihan yang ingin sekali kalian sampaikan.

Terima kasih, ya, sudah berkenan membaca sepanjang ini.

Salam untuk keluarga di rumah,
Dariku

Perjalanan Seperti Apa yang Kau Dambakan Untuk Menemanimu Menuju Rumah?

Menjadi anak rantau itu sulit. Apalagi jika setiap bulan sekali harus pulang ke kampung halaman.
Aku harus selalu berebut tiket dengan perantau lain yang ingin pulang dari riuhnya metropolitan.

Pernah bayangin nggak rasanya menempuh perjalanan jauh secara kilat, tetapi frekuensinya luar biasa sering. Aku mengalaminya secara langsung selama satu tahun ini. Dimana setiap Hari Jumat malam pulang ke kampung halaman Semarang dan menempuh perjalanan dengan kereta selama 7 jam, sampai di kampung halaman Sabtu Subuh dan Minggu malam harus kembali ke Jakarta, si kota metropolitan dengan menempuh perjalanan 7 jam lagi. Itupun kalau keretanya nggak delay!

Iya, aku menghabiskan empat belas jam lamanya di dalam kereta ekonomi, berbagi tempat dan ruang bersama penumpang lain, berdesakan dengan tas dan barang bawaan merea hanya demi bisa bertemu dengan keluarga. Dan itupun tidak lebih dari 48 jam lamanya — tidak lebih dari dua hari penuh. Such a tiring trip. But, i did it!

Semua lelah rasanya tidak sebanding dengan bisa menatap wajah kedua orang tua di rumah yang menanti dan berharap anak perempuannya ini bisa sampai dengan sehat walafiat dan selalu membawa kabar baik. Tidak dengan topik suasana kantor yang menyebalkan atau manusia-manusia metropolitan yang terkenal kejam.

Aku melabuhkan hatiku pada kereta api untuk menjadi armada yang menemani perjalanan panjangku. Tiada sebab lain yang membuatku bertahan pada gerbong-gerbong yang sekilas terlihat sempit itu selain keramahannya. Bagiku, bisa duduk berbaur dengan orang asing itu asyik. Aku jadi bisa melihat sisi lain kehidupan dari perspektif baru.

Di gerbong-gerbong itu selalu terjalin percakapan sederhana antar penumpang yang saling tak kenal sebelumnya. Sesederhana pertanyaan, “tujuannya mau ke mana, mbak?” atau sekadar pertanyaan basa basi, seperti “kerja di Jakarta, mba? Saya juga, lho.” Lalu percakapan mengalir dan mulai beranjak ke mana ia menemukan topik ternyamannya. Kamu sudah pernah merasakannya? Aku sering dan itu menyenangkan.

Belum lagi, gerbong-gerbong kereta yang terlihat diam itu di dalamnya ternyata menyimpan kehidupan yang menyegarkan bagi mata dan membukakan perspektif dunia dari sisi yang lain.
Gerbong kereta ternyata menyimpan cerita seorang ibu yang susah payah menghibur anaknya yang sedang rewel di dalam kereta, kisah pasangan kakek nenek yang berjalan bergandengan untuk mencari bangku mereka, kerja keras para porter tengah membantu mbak-mbak atau ibu-ibu yang merasa kerepotan dengan barang bawaan, polosnya wajah balita-balita lucu yang sesekali muncul di balik bangku kereta ke arahku hingga duduk di samping balita yang tidak mau dipangku oleh sang ibu. Lucu sekali tingkahnya.

Dan aku selalu bahagia bisa berinteraksi dengan mereka dan lupa bahwa empat belas jam bukan waktu yang singkat untuk ditempuh dalam keterbatasan waktu — aku, menikmatinya.

Aku larut dalam ruang dan waktu – menikmati perjalananku bersama orang-orang asing yang menjadi keluarga sementara di dalam gerbong kereta kesayanganku.

Mungkin omong kosong bila aku tidak suka jalur udara – pesawat. Namun, perlu dipahami bahwa jalur udara itu selain harus memiliki uang yang sedikit lebih banyak, aku juga harus memiliki kepentingan yang menuntutku untuk bisa terbang segera agar bisa sampai dengan kilat. Dan kereta, adalah solusi yang tepat bagi manusia sepertiku dengan kantong pas-pasan dengan frekuensi bolak balik kamping halaman-ibukota yang lumayan sering. 

Tetapi, dibandingkan pemandangan pesawat dari ketinggian yang luar biasa menakjubkan itu, ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang bila aku naik kereta api untuk mengantarku dari dan ke kota tujuanku. Ialah kemanusiaan – dimana toleransi, berbagi, keramahtamahan lebih bisa didapatkan dengan mudah jika harus disandingkan dengan penumpang pesawat yang cenderung individualis karena kepentingan untuk lekas sampai ke tujuan.

Di kereta, tak jarang aku tiba-tiba mendapatkan informasi terbaru dari penumpang lain. Saat aku bertemu dengan para pendaki yang baru pulang, aku jadi tahu bahwa gunung itu tidak semenakutkan itu bila kita memiliki niat dan tujuan yang baik. Aku yang tidak tahu apa-apa tentang gunung jadi paham bahwa naik gunung bukan sekadar untuk eksis belaka, melainkan untuk untuk melakukan kontemplasi (perenungan terhadap diri sendiri) sekaligus melakukan tadabur alam.

Di kereta, aku jadi tahu bahwa tidak semua anak kecil yang menangis bisa didiamka
n hanya dengan cara digendong begitu saja. Beberapa diantara mereka butuh dimengerti bahwa kereta itu memang tempat yang kecil, mereka butuh protes sebab ruang gerak mereka begitu terbatas. Bahkan, beberapa diantaranya lebih merasa nyaman untuk duduk dibangku sendiri daripada harus duduk di pangkuan ibunya yang selama ini digadang-gadang hangat tak tergantikan. Anak kecil, entah mengapa selalu punya sisi unik tersendiri bagiku yang sudah mulai berumur ini.

Dan dalam setiap perjalanan menuju rumah, aku selalu menemukan banyak rumah di gerbong-gerbong kereta ekonomi. Sebab rumah ialah tempat di mana hati berada, bukan hanya sekadar alamat belaka. Pada setiap jiwa-jiwa perantau yang akan pulang, aku melihat jauh ke dalam mata mereka ada binar-binar kebahagiaan yang tidak bisa dideskripsikan.
Aku pernah beberapa kali bercakap pada perantau dari beberapa kota dalam beberapa waktu. Salah seorang diantara mereka mengaku bahwa pulang Jakarta ke Kediri membutuhkan waktu tempuh hingga empat belas jam dan ia selalu pulang dua minggu sekali. Ia pulang untuk anak dan istrinya di rumah yang menantinya.

Seseorang yang lain pulang, mengambi cuti rutin dan sesekali meminta dispensasi untuk bisa lebih lama di rumah agar bisa duduk bercengkrama dengan orang tua mereka. Aku merasa kalah. Tujuh jam perjalananku ternyata masih biasa saja jika dibandingkan dengan mereka.

Dan di dalam gerbong-gerbong kereta yang bisu itu, ada banyak rumah yang dirindukan oleh para perantau dari ibukota. Mereka, para perantau membawa harapan baru bagi keluarga di kampung halaman. Aku makin takjub dengan perjuangan mereka dalam menempuh ruang, jarak dan waktu.

Bayangkan saja, duduk sendiri menjadi orang asing dan bertemu dengan orang asing dan harus duduk menghabiskan perjalanan bersama mereka selama empat belas jam itu sulit. Apalagi, bagi seorang introvert sepertiku, aku akan lebih memilih banyak diam jika tidak ada yang memulai percakapan 

Ada hal yang selalu aku takutkan setiap kaii ingin dan akan pulang. Aku takut tidak bisa pulang karena harus berebut tiket dengan para perantau yang rindu kampung halaman lainnya. Lebih-lebih kalau pas lagi high season, sepertii tanggal merah di Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Udah deh, tiket pasti sudah habis tiga bulan sebelum Hari H. Gimana enggak coba? Lawong yang hari merah biasa aja rebutannya naudzubillah, gimana kalau pas lebaran kan hahaha. 
Aku pernah merasakan habis tiket tepat saat long weekend dan akhirnya memutuskan pulang ke kampung dengan moda transportasi bus. Lalu, aku menyesali pilihanku sendiri hahaha. Sebab, waktu tempuh empat belas jam yang biasanya aku gunakan untuk pulang pergi hanya habis dalam sekali perjalanan saja. Kalau ditanya bagaimana rasanya, aku lebih baik di kosan nyuci baju daripada harus mengulangi kesalahan yang sama ehe.

Bukan hanya bosan, lelahnya itu lho nggak ketulungan. Itulah sebabnya aku merasa kalah seperti yang telah aku jelaskan di atas. Aku kalah dengan perjuangan pernatau lain yang jauh jauh lebih gigih jika dibandingkan perjuanganku yang baru begitu saja.

Sekarang, betapa bersyukurnya aku hidup di zaman yang serba digital. Dimana aku bisa mendapatkan apa yang aku mau hanya dalam satu genggaman saja. Sejak kenal dengan Traveloka aku teramat sangat terbantu untuk reserve jadwal kepulanganku bahkan ketika high season – ketika semua orang ingin pulang dan berisitirahat dari hiruk pikuk metropolitan. FYI, tiket Idul Fitri selalu habis tiga bulan sebelum Hari H.
Kebayang nggak tuh gimana hecticnya kami para perantau memperjuangkan ego kami masing-masing demi bisa pulang? Hehehe. Bahkan, saat-saat seperti ini, teman pun jadi lawan. Selama aku bisa pulang, ya aku akan mendahulukan diriku terlebih dahulu, baru temanku hahahaha.

Tapi, semua berubah sejak aku kenal Traveloka. Aku yang biasanya ‘nitip pesan jadwal’ ke temanku jadi nggak perlu takut kehilangan kursi. Sebab, aku bisa memesannya sendiri, meskipun aku sendirian ataupun tengah malam di kamar kosan. Hanya dengan satu aplikasi saja, aku bisa melakukan reservasi tiket kapanpun sesukaku.

Aku pernah mengalami bagaimana rasanya bingung nggak bisa pulang, sendirian di tanah rantau dan kehabisan tiket kereta atau moda transportasi lain saat ingin sekali pulang. Sedih, udah anak rantau, anak kosan, sendirian pula. Mending kalau kosan ramai, kosan kan juga sepi, hahahaha kasian banget ya aku kayaknya XD.

Nggak apa-apa, deh soalnya sekarang kan aku sudah aman-aman aja hehehe. Jadinya, sudah anti bingung lagi kalau misalkan mau pesan-pesan tiket entah buat pulang PP kampung halaman metropolitan atau untuk beli tiket bakal jalan-jalan ngebolang hahahaha.

Sekarang mah udah rebes banget mau pesan bangun tidurpun udah langsung bisa bisa aja. Lagi ngojek di atas motor pun bisaaaaaaaa banget hahahhaha. Sambil menyelam minum air kalau aku mah. Jadinya sambil naik motor menempuh perjalanan, sambil pesan tiket untuk perjalanan yang lain. Anaknya emang sekalian banget gitu nggak mau repot huahahahaha. Simpel banget lah pokoknya!

Ditambah lagi, aku sudah memiliki m-banking dan e-banking yang mana membuatku bisa langsung melakukan pembayaran saat itu juga tanpa harus ke minimarket terdekat. Jadi, kalau ada yang bilang anak zaman sekarang itu terlalu gandrung dengan gadget, maka aku ingin tertawa saja rasanya hahahha. Karena mungkin jika aku bukan anak zaman sekarang, aku nggak akan pernah aware dengan aplikasi Traveloka dan kemudahan-kemudahan yang bisa aku nikmati di dalamnya.

Sekarang, setiap kali aku butuh tiket, aku cukup buka aplikasi, isi stasiun awal dan stasiun tujuan, tanggal keberangkatan, memilih kursi yang aku ingin singgahi, menyelesaikan pembayaran daaaannnnn bayar, deh. Praktis abis sekarang. Malahan bisa bantu teman-teman atau orang asing yang sedang kesulitan memilih tiket.

Aku pernah nongkrong di Indomaret point di Pandanaran Semarang. Aku melihat bapak-bapak tengah kesulitan memilih tiket untuk Beliau pulang. Karena aku pernah merasakan betapa menyedihkannya nggak bisa pulang kampung dan kebetulan aku paham, maka aku mendekati bapaknya dan bertanya kepada Beliau.

Lalu, tanpa banyak basa-basi aku membantu beliau untuk pesan tiket melalui Traveloka. Taraaaaa!!! Tiket yang awalnya nggak ada di minimarket itu dengan keterangan “Kereta Habis atau Kursi Tidak Tersedia” bisa- bisa aja tuh dicari di Traveloka. Iyes, beda banget dan aku pada saat itu jadi makin bangga sama Traveloka sebab dia punya banyak stok kursi dan real time untuk ditampilkan. Jadi makin cinta deh, ah hahaha.

Asyiknya pakai aplikasi Traveloka itu hemat waktu dan hemat tenaga. Kalau zaman baheula harus antri ke stasiun untuk bisa pesan tiket, sekarang cukup buka aplikasi, masukin tujuan dan tanggal, konfirmasi, bayar, deh! Jadi makin hemat, kan? Hihihi
Apalagi kalau harus melakukan perjalanan tiba-tiba dan tak terduga. Bisa banget tuh pakai Traveloka. Kayak dulu, pas waktu masih pertama kali merantau ke Jakarta dan dapat kabar nenek meninggal di Semarang. Duh, udah gatau lagi tuh mau gimana, dan akhirnya yaudah pesen aja tiket d Traveloka biar cepet.

Waktu itu aku pesan tiket kereta eksekutif, karena memang butuh waktu yang lebih cepat dari kereta ekonomi. Dan eng ing eeeennggggg gampang banget dooooong caranya. Praktis abiiissssss. Apalagi aku juga pakai m-banking kan, jadinya bisa langsung transfer tanpa repot saat itu detik itu juga hihihi.

Btw, temen2 udah pernah nyoba Traveloka belum? Kalau belum, ini ada infografis sederhana deh bisa dilihat dulu. Gampang banget, kok! Nggak pake ribet-ribet. Coba deh dilihat dulu.
Gimana manteman? Super gampang, kan pesan tiket di Traveloka? Jadi, udah cucok banget nih kalau si Traveloka ini dibawa kemana mana dan dikantongin di saku celana. Bahkan, kalau punya aplikasi Traveloka di smartphone itu bisa banget buat bantuin orang lain yang lagi susah ataupun emang butuh bantuan untuk beli tiket dadakan.

Kalau aku sih, selain buat sendiri aku juga suka pesenin buat temenku karena dia masih kurang paham kalau pesan tiket itu bisa lewat aplikasi. Dan biar sekali kerja, biasanya aku pesan dari aplikasi dan akun Travelokaku.

Mayan kan, dengan makin banyak pesan makin banyak benefit. Ah iya, kalau pesan di Traveloka itu ada keuntungan lain juga, lho! Poin! Iya, kamu bakalan dapat poin setiap kali pesan tiket kereta di Traveloka. Nantinya, poin yang terkumpul ini bisa ditukar dengan tiket atau promo lain yang sedang berlaku. Jadi bisa tambah ngirit deh ehehehe anaknya irit banget ya aku. Gimana, asik banget, kan?

Terus nih terus, nggak cuma bisa pesan tiket kereta aja kalau pakai Traveloka. Alias, bisa pesan banyak tiket sekaligus di Traveloka jadinya irit banget nget nget nget. Apalagi ada promo bundling dari Traveloka kayak pesan Tiket Pesawat + Hotel bisa lebih murah. Ada juga nih promo pulsa internet. Cucok meong buat kalian yang kayak aku gini, cari diskonan mulu kerjaannya hahahha.

Dan kecenya di Traveloka ini, kamu jadi bisa pesan tiket event yang on going atau mendatang gitu. Jadinya yaaa begitu, deh. Praktis abeesssss. Nggak ada tu ngantri-ngantri buat bisa dapat tiket event yang murah atau gratis malahan. Pakai Traveloka aja udah beres, kok!

Kalau aku sih yang sering banget kepakai beli tiket kereta sama hotel. Gakuat beli tiket pesawat shay! Hahahah. Nih, buat teman-teman yang masih galau install Traveloka, lihat grafis ini dan pertimbangkan sendiri deh betapa menguntungkannya Traveloka. Dijamin nggak akan nyesellllllll XD.

Waaaahh nggak nyangka bisa nulis sepanjang ini kek kereta beneran hahaha. Abisnya kalau nyeritain tentang perjalanan dan kereta nggak akan ada habisnya, sih. Pasti pengen cerita lengkap gitu soalnya Traveloka bantu aku banget untuk jadi bisa ke mana-mana dengan kereta. Mau ke luar kota dari atau menuju ke Jakarta pun gampang dan nggak ribet. Tinggal klik aja, selesai, deh!
Apalagi aku kan anaknya nggak mau ribet banget, yak. Jadinya yaaaaa ngapain gitu maksudnya pake empet-empetan atau antri di event. Males ke warung juga btw kalau harus beli pulsa meskipun butuh heheheh. Dasar emang ini bocah malesnya naudzubillah banget XD. Tapi yaa mumpung jomblo lah yaaa males-malesannya di puas-puasin sek sebelum nanti akhirnya nggak jomblo lagi.
Lhooo ini apa ini kok bahas kereta jadi sampai jomblo? Hahaha. Udah udah udah, udahan aja sampe di sini. Intinya, kalau belum install Traveloka, gih, install! Gih cobain sendiri betapa praktisnya pakai Traveloka dan bukti
kan sendiri kalau aplikasi Traveloka #JadiBisa bikin teman-teman serasa punya kantong Doraemon karena bisa ngapa-ngapain hihihi.

Ini cerita perjalananku teman-teman, kalau kalian gimana? Share, dong! ^^

Selamat mencoba!
Salam

Digital Strategist Itu Biasanya Ngapain Aja Sih Kalau Lagi Internetan?

Sep, lo tu ngapain sih tiap kali kemana mana bawa laptop?
Harus banget ya gadget-an terus tiap kali pergi?
Kerjaan lo sebenernya apaan sih, Sep?

Aku sediiihhh, aku sediiiiiih dengan pertanyaan ini wkwkwk. Meskipun sedih, aku cukup senang mendengarnya dari teman-teman yang penasaran dengan apa pekerjaanku. Yes, meskipun kadang sebel juga kalau digreseni, aku tetap saja cinta sama mereka. Sebab, dengan mereka bertanya demikian, artinya mereka perhatian sama aku. Iya, mereka berarti memperhatikan kegiatanku, to? Buktinya mereka sampai nanyain aku sebenarnya itu ngapain aja kegiatannya. Aih, seneng deh ada yang merhatiin hahahha. (dasar jombloooooo)

Jadi nih, banyak banget yang suka nanya Septi tu ngapain sih kegiatannya sampai bisa jalan-jalan terus padahal nggak kerja wkwk. Ya Allah ini beneran deh bukan omongan yang enak banget hahah. Aku kerja kok kerja, tetapi online as a digital strategist. Jadi, aku itu kerjanya bisa di mana aja selama ada internet dan laptop. Sama aaa satu lagi, colokan! Wakaka bravo!

Emangnya, Sep, kalau pas lagi open laptop dan internetan ngapain aja, sih?

Biar nggak salah paham, biar nggak ada yang ngira aku doing something, aku jelasin ya sedikit demi sedikit. Seorang digital strategist itu adalah anggota bagian dari digital marketing. Tugasnya ngapain? Tugasnya riset konten, analisis konten, terus baru deh buat planning. Jadi, setiap kali aku internetan, ya pasti minimal semenit dua menit ngerjain konten plan. Minimal, monitoring kerjaan klien gitu hehehehe.

Kok bisa sih, Sep dapat klien terus?

Alhamdulillah, sejak resign dari ex kantor Semarang jadi makin banyak klien. Alhamdulillahnya lagi, sudah nggak perlu jemput bola. Maksudnnya, sekarang kliennya yang dateng ke aku, bukan aku yang nyari. Jackpot pokoknya. Dan ini bisa terjadi karena doa ibu. Lah, kok bisa? Iya, karena ibuku nggak ridho aku kerja di Jakarta (lagi dan lagi), makanya ibu mungkin doain aku biar tetap di Semarang dengan kerjaan apapun.

Emangnya kerja freelance tu gimana sih, Sep?

Kerja freelance itu kerja  lepas. Kerja yang nggak harus ngantor, tapi tetep harus selesaikan project dari klien sesuai brief. Emang bisa gitu kerja tanpa ketemu dan koordinasi langsung? Alhamdulillah selama ini kerja selalu bisa begitu. Dan inilah kelebihannya kerja di dunia digital, semuanya serba digital. Selama ada internet mah semuanya aman-aman aja hehehe.

Sudah berapa lama jadi freelancer, Sep?

Kalau dihitung total sih sudah lama sekali, ya. Sejak aku SMK, saat masih putih abu-abu. Iya, sekitaran 5 tahun yang lalu. Tetapi, saat itu masih nyambi statusnya alias double job, fulltime dan freelance. Kalau fulltime freelance-nya baru satu dua tahun belakangan ini, sih. Dan ini udah full freelance banget. Jadi, 24 jam-ku dedicated untuk laptop dan smartphone tersayang. Pantes aja jomblo yeu, kan? XD

Jadi ya kalau ditanya tentang internet sehat itu kayak gimana, ya aku bakalan jawab:

internet sehat itu, adalah internet yang bisa membuatmu jadi semakin tahu banyak hal
baik itu yang membuatmu jadi makin kaya ilmu, kaya uang, dan kaya akan informasi
sebab, internet itu sesuai yang pasif, yang mana kalau bukan aku yang mengendalikan diriku sendiri, ya aku sendiri yang akan terima akibatnya. Dan bilamana internet itu tidak kupergunakan dengan baik, aku yang akan kena imbasnya.

Ibaratnya, internet itu pisau dan semua orang bisa pakai pisau
Bedanya, yang satu buat motong bawang dan sayuran
yang satu buat bunuh orang
tergantung tangan masing-masing

Pokoknya, baik baik deh sama internet. Bersyukur banget bisa hidup di zaman digital kayak gini. Aku jadi bisa kemana-mana tanpa harus terikat dengan satu kantor dan bisa belajar  banyak study case yang bisa bikin aku semakin ciamik Insya Allah. Ciamik dengan karya yang semakin dikenal banyak orang. Karyanya mungkin nggak terlihat secara kasat mata, tetapi setidaknya orang tahu bahwa ada brand yang terbantu karena aku hihi.
Jadi inget sama mba Dewi Rieka dan mba Prananingrum yang udah hits banget sama karya-karya mereka hahha. Aku pengen kayak mereka gitu, yang satu punya buku Anak Kos Dodol yang hits banget. Akunya masih gini-gini aja. Padahal ya internet selalu on setiap waktu. Ahhhhh, semoga saja suatu saat aku bisa deh nerbitin buku sendiri hehehe.

Apakah Kamu Termasuk Gen Z? Coba Baca Dulu Tulisan Ini!

“Kok lo bisa sih sambil kerja sambil makan sambil dengerin cerita?”
“Lo nggak pusing apa Sep pegang laptop ke mana-mana?”
“Itu smartphone nggak bisa gitu ditaruh dulu?”
Pernah mendapati pertanyaan-pertanyaan seperti di atas? Aku pernah, sering lebih tepatnya. Pertanyaan ini seringkali muncul ketika tengah berkumpul di suatu komunitas atau meetup bersama teman-teman. Sebagai seorang freelance yang hidup di dunia digital, rasa-rasanya pertanyaan ini terdengar seperti protes karena waktuku bersama gadget terasa lebih lama dibandingkan dengan dunia nyata.

Ah ~ memang tidak semuanya mengerti betapa menjadi seorang freelancer itu adalah hal yang penuh kebimbangan. Di satu sisi aku harus menjadikan gadgetku sebagai pacar pertama, sedangkan di sisi lain ada dunia nyata yang harus tetap kurengkuh agar aku tidak merasa aku jauh dari sebenar-benarnya duniaku.
Seperti dilema. Menjauhkan diri dari gadget bagiku dan para pekerja di dunia maya seperti bunuh diri. Bukan apa-apa, kami, aku terutama mendapatkan begitu banyak informasi dan benefit di sana. Tidak hanya satu dua, dari berita, hingga update teknologi terbaru bisa aku temukan melalui sosial media. Tentu saja setelah memfilter konten-konten alias bukan sekadar membaca informasi yang lebih banyak HOAX-nya daripada benarnya.

Selamat Datang di Dunia Gen Z, Selamat Bergabung!

Yash, selamat datang di dunia digital native, di mana anak-anak zaman sekarang cenderung lebih praktis dan lebih terbuka jika dibandingkan dengan masa lalu. Ciee masa lalu.
Kalau banyak yang mengatakan bahwa aku terlalu addict dengan smartphone, maka mungkin mereka memang belum terbuka dengan generasi Z alias Gen Z yang memang lebih fokus ke personal space dan cenderung addict dengan teknologi. Dan anak-anak sepertiku, cenderung lebih memilih kuota daripa makan mewah ala sosialita. Percaya, nggak?

dan ternyata baru ngeuh aku se serius ini kalau lagi di depan laptop
capture by: windisaras
Bagiku, kehabisan kuota internet itu paniknya bisa melebihi nyasar di kota orang sendirian. Soalnya, kalau ada kuota internet, nggak ada orangpun aku masih bisa buka aplikasi peta di smartphone dan tinggal ketik aku mau ke mana. Canggih, kan?
Dan yang lebih penting lagi nih, anak-anak sepertiku yang lahir dan hidup di dunia serba digital aliass Gen Z ini teramat sangat suka mengeksplorasi. Jadi, jangan sampai deh dikekang-kekang karena ini justru akan membuatku dan anak-anak sepertiku jadi nggak bisa berkembang. Hihi.. Makanya kalau di zaman sekarang nemu anak-anak kreatif, ya itu buat dari kebebasan kami untuk mengeksplorasi dunia yang kami sukai.

Sebenarnya Seperti Apa Sih Ciri-Ciri Gen Z Itu?

Gen Y, Gen X, sekarang ada Gen Z. Sebenarnya apa sih yang membedakan mereka dengan generasi sebelumnya?

Pernah nggak sih bertanya-tanya, si Gen Z ini gen apalagi, sih. Kemarin sudah ada gen X dan gen Y. Eh, lha kok sekarang ada Gen Z lagi, hmm…..

Jadi, kalau teman-teman merasa terlalu nyaman dengan smartphone, lebih takut kehilangan kuota daripada si dia dan punya sifat short attention span alias multitasking, maka teman-teman masuk ke dalam kategori Gen Z. Selain ciri tersebut, yang menandakan bahwa teman-teman adalah Gen Z sejati, yaitu saat teman-teman striving of freedom alias nggak suka dikekang di dalam kotak yang itu-itu aja. (((ini aku banget hahaha)))

Si Gen Z ini cenderung sensitif sama perubahan yang ada dii sekitar. Ya wajar aja, sih. Soalnya Gen Z ini terlahir untuk jadi smart dan lebih digital native. Terbuka akan informasi dan nggak mau dibohongi sama informasi yang nggak berbobot buat mereka. It means that, kalau mau serving konten buat Gen Z ini kudu pinter-pinternya. Soalnya kalau nggak pinter, yasudah deh nggak bakalan dibaca sama mereka.

Anak-anak Gen Z termasuk aku ini bisa dibilang perlu atensi lebih dari media yang ingin menjadikan kami sebagai target market. Lha kok, bisa? Yes, Gen Z punya typical yang kalau konten sedari awal sudah nggak menarik, ya siap-siap aja deh untuk nggak ditonton. Iklan, contohnya. Kalau Gen sebelumnya masih bisa disogok dengan visual berupa gambar, berbeda dengan Gen Z. Kami ini suka video format, tetapi jangan salah. Format video unskippable juga nggak banget buat kami. Nah, lho, bingung kan? :)))

Terus Gimana Dong Kalau Mau Deketin Gen Z?

Nggak cuma problematika para advertiser aja, sih. Banyak yang merasa gen Z itu terlalu gegayaan di zaman sekarang. Padahal sih, enggak juga. Lha wong memang mereka terlahir di dunia yang melek teknologi, kok. Jadi ya wajar-wajar aja kalau mereka terbuka akan informasi dari luar dan malah hal tersebut membuat para Gen Z ini jadi agak-agak berbeda dengan Gen-Gen sebelumnya.

Minggu lalu, aku berkesempatan ketemu Giring Ganesha. Iya, vokalis Nidji itu lho untuk duduk bareng sambil ngobrolin si Gen Z ini. Di H Gourmet n Vibes, Giring memaparkan bahwa Gen Z itu masuk ke generasi yang agak-aga
k susah dideketin. Soalnya mereka sudah smart, jadi bisa memilih dan memilah apa saja yang cocok untuk mereka.

Nah nah nah, kamu mau deketin gen Z atau deketin aku? Kalau mau deketin Gen Z itu ada triknya, soalnya. Ini dia:

– Provide the right content

Aku kan suka sama konten travel nih, nggak mungkin dong kalian maksain aku buat nyobain make up? :))) Bisa-bisa aku block karena bete akunya nggak bisa bedain mana eyeliner dan mana eye shadow :))

– Humor and Good Storyline

Kenal istilah dirty jokes? Itu lho, kalau becandaan jorok baru lucu. Itu mah udah lewat! Kalau sama gen Z mah, selama humornya punya storyline dan pesannya nyampe, asik-asik aja tuh buat di simak. Jadi ya, siapin aja konten yang sesuai sama Gen Z.

– Right Format dan Be Mindful of Video Ads Length

Seperti yang sudah aku mensyen di atas. Kami ini suka format video, jadi banyakin aja konten video. Tapi yang singkat aja, ya. Kami kan multitasking, agak susah kalau harus disuruh nontonin satu video dan itu harus fokus hihi.

– Right Context

Relevansi! Ah iya, pastikan konten yang mau disajikan ke Gen Z itu relevan. Soalnya nih soalnya kalau nggak relevan, jauthnya mubazir. Para advertiser nggak dapat manfaat. Para Gen Z juga nggak tertarik. Kan sayang ya, kan? Iya, sayang XD. *toyorpalasepti

Konten Kayak Gimana Sih yang Disukai Gen Z?

Hayooooo kalian tahu nggak konten kayak gimana yang bikin gen Z betah berlama-lama nangkring? Sudah tahu kincir.com, belum? Kalau belum, cus deh buka di tab baru di browser kalian. Di sana banyak banget konten-konten yang gen Z banget alias anak muda banget.

Seperti yang sudah aku singgung di atas, si Gen Z ini kan suka dengan perubahan zaman yang kian lama kian menarik, maka dari itu Kincir ini memfasilitasi keingintahuan Gen Z yang luar biasa tak terbendung. Dengan mengusung tag line masa kini, yaitu “We Are Young”, startup yang digawangi oleh Giring Ganesha ini menghadirkan 3 kanal baru dan mengembangkan dua kanal baru yang bisa kalian akses sebagai teman dikala bosan. *tsaaahhhhh *bakdumcessss

Emangnya kanal apa saja sih kok sampai harus baca KINCIR? Nih ya, nih!

– Geeky, Buat para lelaki yang masih muda dan cinta akan karya

Di kanal ini, ada banyak banget konten yang membahas tentang kebudayaan pop yang digemari oleh anak muda, khususnya laki-laki. Ada topik bahasan lengkap, mulai dari film, komik, game, anime, teknologi, hingga sains biar kamu jadi pinter. Nggak nyesel pokoknya kalau baca kanal ini. Super asik pokoknya!

– Chillax, teruntuk yang butuh panutan gaya hidup masa kini

Zaman kian lama kian canggih. Gaya hidup kian lama pun kian berkembang. Yang awalnya sederhana-sederhana saja, kini jadi super luar biasa bervarisi ragamnya. Nah, kalau kamu mau tahu lifestyle anak muda zaman kini, cus cus cus cek aja ke Kincir. Kanal Chillax ini cocok banget buat kamu karena di dalamnya banyak bahasan keren tentang pengetahuan dunia, relasi percintaan, hubungan buku, travel, musik, kuliner, kesehatan, edukasi, hingga pekerjaan. Lengkap, kan?

– Icon, kanal untuk kamu pecinta sosok

Suka action figure atau ngefans sama para influencer yang lagi naik daun? Kalau iya, cucok banget nih buat masuk ke kanal Icon. Pasalnya, kanal ini membahas sosok-sosok ternama yang tengah jadi sorotan. Ada banyak figur yang dibahas, mulai dari selebritas, figure yang tengah menjadi viral, dan tokoh yang menginspirasi di bidang apapun itu.

– Turbo, untuk si anak pencinta dunia otomotif

Hayolooo anak motor belum sah kalau belum masuk ke kanal Turbonya Kincir. Di kanal ini, pembahasan kendaraan dari basic, hingga modifikasi aksesoris otomotif yang digemari anak muda dikupas tuntas.

– Style, untuk kamu pencari inspirasi

Nah ini yang terakhir, nih. Kanal style alias kanal buat kamu yang mencari inspirasi dalam gaya, mulai dari bagaimana memadupadankan style berpakaian, aksesoris, sepatu, hingga gaya rambut masa kini. Jangan sampai ketinggalan berita dan bikin kamu pakai pomade rambut dari pasta gigi, ya! Hihihi
Jadi gimana? Setelah membaca tulisan di atas, kamu merasa bagian dari Gen Z atau malah merasa Gen Z itu generasi yang ajaib, unik dan aneh? Apapun jawaban kamu, jangan sampai itu membuatmu ketinggalan informasi terkini, ya! Makanya, kalau mau tetep stay tuned dapat informasi terbaru dan kekinian di masa sekarang, langsung aja kuy cek ke KINCIR.COM :))
Salam,