Life As A Content Creator: Nggak Cuma Harus Bisa Nulis, Tapi Harus Bisa Lebih dari Itu



Flashback
Jakarta, 2015
Aku menantang diriku sendiri untuk bisa menjadi bagian dari salah satu digital creative agency yang pernah mendapatkan best agency of the year di Jakarta. Alasannya sederhana, aku ingin mematahkan stereotipe bahwa anak SMK itu nggak akan bisa kerja kantoran di Jakarta karena background pendidikan yang cuma sampai pada sekolah menengah alias bukan sarjana. Iya, aku cuman lulusan SMK komputer yang bahkan nggak paham kalau disuruh ngulangin pelajaran itu lagi HAHAHA emang dasar gadungan ya aku ini ­čśÇ
Aku yang keras kepala dan nggak suka diremehkan lantas menantang diriku sendiri untuk bisa ke Jakarta dengan uang pas-pasan dan bekal seadanya. Numpang nginep di kosan teman sampai kecopetan HP pun pernah aku alami hanya demi bisa membuktikan bahwa Jakarta tidak sekeras itu untuk anak sekolah menengah sepertiku.
But, hey! Jakarta keras bung.
Hari dimana aku interview dan kehilangan handphone-ku, aku bertemu dengan salah seorang pelamar yang dari perawakannya sudah jauh lebih dewasa dariku. Waktu itu aku masih berusia 20 tahun. Waks! Masih sangat muda ya ternyata.. Sekarang juga masih muda, kok! Muehehehe :))
Back to the topic
Aku masih ingat betul ketika mas-mas pelamar (sebut saja begitu) ngobrol denganku, kira-kira seperti ini:

“dari mana, Mba?”“saya dari Semarang, mas.”“wah, jauh sekali ya Semarang. Lulusan kampus UND**, ya?”“Oh, enggak kok, mas. Saya cuma lulusan SMK.”“Hah, jauh-jauh dari Semarang dan cuma lulusan SMK? Memang bisa ya mba masuk kantor sini?”┬á“Hahahaha, bismillah aja, mas. Emang masnya lulusan mana?”“Oh, saya baru S2 di ……. dan sudah berpengalaman sebagai content writer selama 7 tahun di perusahaan X.”“Waaa hebat. Keren dong, ya. Punya blog?”“Ada, dong di http://www.xxxx.blogspot.com”“Woh, masih blogspot ya, mas?”“Emang mba ngerti blog? Punya emang?”“Ada, mas di http://www.dwiseptia.com :)”

Daebak! Aku minder bukan main ketika diajak ngobrol. Tapi di sisi lain, aku semakin tertantang untuk menunjukkan kepada semesta bahwa aku nggak harus jadi sarjana dulu untuk bisa dapat kesempatan bergabung ke perusahaan yang aku impikan sejak lama, yaitu bekerja di Jakarta.
Singkat cerita, ketika aku dipanggil keruang interview, aku bertemu dengan senior content, manager dan HRD perusahaan. Guess what??!! Managerku bilang “Septi, sebenarnya saya mau test Septi nulis, tapi lihat blog Septi saya yakin banget pasti Septi cinta banget sama nulis, kan?” Aku tersipu sekaligus bersyukur telah mengenal dunia blogging saat aku tengah duduk di bangku SMK.
Dan, aku diterima karena aku seorang blogger dan suka nulis di blog! Awwwww… Sebagai syarat wajib, aku diminta untuk menuliskan kisah sederhana sebagai syarat sah interview siang itu. Aku lantas memiliki jabatan sebagai content writer di perusahaan di Jakarta pada hari dimana aku interview tanpa harus menunggu sampai 2 minggu hingga 1 bulan karena aku seorang blogger. I’m proud of being blogger! ^^

Jakarta mengenalkanku pada banyak hal tentang dunia kepenulisan yang aku alpa di dalamnya. Aku belajar banyak hal baru semenjak bergabung menjadi bagian dari tim konten. Aku belajar tentang bagaimana memilih dan memilah istilah yang tepat, bagaimana menulis singkat rapi atau menulis panjang tetapi tidak bertele-tele dan bagaimana membuat pembaca jatuh cinta dengan karakter tulisan kita. Yaaa, kayak yang kalian baca sekarang ini gengs! Heheu ­čÖé Kalian jatuh cinta nggak sama tulisanku? Ah elah genit amat ini bocah HAHAHA
But, seriously! Jakarta teach me a lot of things. I’m feeling like I’m the new one. Lebih dari apa yang aku bayangkan, aku jadi mengerti tentang dunia periklanan yang teramat sangat dekat dengan dunia kepenulisan. Satu yang nggak bisa aku lupa adalah ketika managerku bilang “Konten itu cuma dasar, pengembangannya banyak sekali. Jadi, kalau Septi mau benar-benar jadi hebat, Septi harus jadi penulis hebat dulu.Well noted, mas! I’ve been do it and here I am right now ­čÖé
Setelah memahami tentang dasar-dasar┬ákepenulisan dengan caci maki sebagai makanan sehari-hari, aku dihadapkan pada dunia Search Engine Optimisation, Search Engine Marketing, Social Media Management dan Digital Marketing alias dunia periklanan yang sejak dulu kala aku idam-idamkan. Yup, aku mengincar posisi ini sejak lama. Aku belajar dengan otodidak demi bisa duduk di kursi panas dan menjabat sebagai seorang Digital Ads Specialist. Uwuwuwuw rasanya kayak naik roller coaster ternyata menjadi seorang pengiklan yang mengelola konten klien untuk bahan iklan demi bisa meningkatkan awareness, reach, engagement dan impression. Duuuuhhh ini istilah emang bikin pusing ­čÖé

Time flies..
Ibuku memintaku untuk kembali ke Semarang. Dan bagiku tidak mudah untuk kembali dari perantauan ke tempat asal yang tidak jauh lebih maju dari Jakarta. Sedih, depresi dan tentu saja bingung harus menjadi seperti apa. Tapi bersyukur, aku sudah mengantongi cukup ilmu untuk bisa membuatku menjadi seseorang yang cukup bisa berdikari dengan profesiku, yaitu menjadi seorang blogger dan digital nomaden. Euuuhh istilahnya aneh-aneh banget, ya! Hahaha maapkeun. Dunia digital marketing memang sungguh bikin pusing tujuh keliling :))

People Change..
Ada beda dari Semarang dan Jakarta. It feels like Jakarta beat drive me crazy and Semarang make me crazy because I can’t doing anything here. Oh God! I’m feeling so down live back to Semarang. Aku beradaptasi setengah mati, sebab biasanya di Jakarta hidupku penuh tekanan, aku dipaksa untuk bisa hidup dengan pace yang luar biasa cepat, waktu yang hampir tiada liburnya dan tentu saja lingkungan yang membuatku harus bisa menguasai banyak hal karena aku tidak akan menjadi siapa-siapa jika aku tidak menguasai apa-apa.

Tapi, Semarang membuatku menjadi seseorang yang lebih santai untuk bisa menikmati hidup. Bebas dari hiruk pikuk kota yang macet, orang-orang yang 24 jam hidupnya di jalan dan tentu saja Semarang tidak membuatku tertekan akan istilah-istilah aneh dalam dunia digital marketing ini. Eheu ternyata semua kota memang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing ya :))

Digital Improve..
Digital yang kukenal dulu dan sekarang berbeda. Aku sungguh seperti terseret arus dan harus bertahan demi bisa berenang ke tepian *halah drama HAHAHAHA. Aku mengenal digital sebagai tempat dimana personal branding dibentuk, portfolio disampaikan tanpa harus bertatap muka dan tentu saja membangun sosialisasi lewat social media tanpa harus saling tahu dalam dunia nyata.

It’s time to challenge myself to be a better me. Sebagai manusia yang cinta dengan tantangan aku menantang diriku sendiri untuk bisa belajar lebih dan lebih dan lebih lagi sampai akhirnya aku memutuskan untuk menjadi seorang freelancer alias digital nomaden, yaitu orang yang bisa bekerja di berbeda tempat. Yesss, bekerja dimanapun, masuk ke bidang apapun untuk bisa mengerti segala macam hal dan bertemu dengan orang dengan berbagai macam bentuk. Yeah, please let me introduce myself that I’m a content creator. Someone who create content in any way.┬á

Punya basic sebagai seorang blogger tidak lantas membuat pekerjaan sebagai content creator lebih mudah. Heeeyyyyyy!! Ngeblog itu nggak cuma sekadar nulis, apalagi jadi content creator :))))

Kadang suka gemas sama teman-teman yang menganggap bahwa pekerjaan sebagai seorang content writer, copy writer, advertiser dan content creator itu cuma sebatas NULIS DOANG. Yaiyasih cuma nulis, tapi nulis itu juga butuh skill alias nggak bisa sembarangan nulis :))
Apalagi, setelah memutuskan menjadi seorang digital nomaden alias orang yang kerjanya pindah-pindah, aku jadi punya tuntutan kepada diriku sendiri untuk bisa bekerja secara mandiri dimanapun dengan laptop yang harus selalu on setiap waktu karena aku harus siap kapanpun klien atau partner kerjaku membutuhkanku.

Selain itu, aku juga harus punya kemampuan yang nggak cuma sekadar nulis. Aku dituntut untuk bisa fotografi, videografi, editing foto dan video, desain grafis sampai harus bikin sketch atau typography ala ala untuk bisa mendukung segala sesuatu yang bisa menjadikan kontenku makin kece dan ciamik.

Yaaahhhh for the sake of content I have to be a good content creator too, right? Simple, kenapa harus bisa semuanya? Karena ngrepotin orang lain itu nggak gampang, belum lagi kalau yang direpotin pas nggak bisa. Duh, pokoknya jadi content creator itu nggak bisa bergantung sama orang lain. Belum lagi idealisme diri yang kadang gede banget. Uh! Minimal kalau mau jadi content creator itu menguasai basic dari berbagai macam hal, deh pokoknya heheu :))

That’s why, biarpun nggak professional banget, setidaknya aku bisa membuat produksi kontenku semakin kaya dengan beragam jenis konten, seperti tulisan, foto, video, atau sekadar desain infografis apa adanya mueheheh yang penting nggak kosongan aja! :))
Pernah nggak sih punya pengalaman yang super duper mengesalkan saat laptopan? Yes, tiba-tiba laptop force close padahal banyak file yang belum disimpan! Nyesek beb :”) Sedihnya nggak ketulungan kalau sampai harus mengulangi segala sesuatu dari awal. Aku selalu halu punya laptop yang dibekali dengan┬áprocessor AMD APU A10-8700P dan GPU AMD Radeon R6 M340DX 2GB.

Boro-boro force close, kalau laptopnya sudah dilengkapi dengan processor ciamik tersebut nge-lag aja udah nggak mungkin banget hahahaha. Prosesornya aja bisa buat main gaming. Kebayang kan kalau cuma buat software content creator macam rentetan keluarga Adobe mah keciiiillll. Apalagi buat nonton film atau video? Wuuuhhhhhh jangan salahhhh bisa wuswuswus ini mah.. Enteng pisaaannnn :))

Cuma aku suka parno kalau laptop bagus itu biasanya berat dan bikin capek kalau dibawa kemana-mana alias nggak bisa menunjang mobilitasku yang luar biasa kayak belut kepanasan ini heheu. I
yak! Anaknya nggak bisa diem banget buset dah hahahaha. Pagi dimana, siang dimana, sore dimana, malam dimana, hari ini dimana, besok dimana, lusa ehhh udah pindah kota lagi. Emang dasar cacing kepanasan! Heheheu :))
Makanya aku punya angan-angan banget bisa punya laptop yang slim, desainnya kece dan hmmm harus bikin aku ngerasa prestige karena laptopnya membuat setiap pasang mata jatuh cinta. Cieeeee ah ini obrolannya kemana-mana banget yah hahaha. Jadi kebayang sama desain ASUS X555 seriesyang luar biasa menggoda kannnn hmmmm…

Ya gimana dong, nggak cuma unggul di performa, laptop ASUS X555 nggak cuma unggul di performa dan desain yang nyaris sempurna. Laptop ini bahkan punya keyboard yang terbuat dari alumunium dan bisa menyerap panas. Nah loh, makin betah laptopan nggak tuh ceunah!!! Belum lagi, baterai laptop ASUS X555 ini non removable yang artinya nggak ada tuh laptopnya benjol karena ada bagian baterai yang menonjol terlihat dan kadang justru mengganggu. Ringkas banget, kan?
ASUS X555 punya baterai jenis Li-Polimer yang daya tahannya 2,5 kali lebih kuat dibandingkan baterai Li-Ion Silinder. Bahkan setelah diisi ulang hingga ratusan kali, baterai ini tetap dapat menyimpan sampai 80% dari original kapasitasnya. Kita nggak sering cari colokan deh kalo mau kerja.
Parahnya, si ASUS X555 series ini baterainya adalah jenis Li-Polimer yang tahannya bisa 2.5 kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan baterai Li-Ion Silinder di pasaran. Nggak ada ceritanya nyari colokan pas lagi nongkrong-nongkrong cantik deh pokoknya! :))

Gokilnya lagi, Asus X55 ini sudah dilengkapi dengan teknologi IceCool yang dirancang untuk mengatasi overheat yang biasa menyerang laptop pada umumnya. Teknologi ini mampu menjaga temperatur notebook di antara 28-35 derajat. Suatu suhu yang bahkan lebih rendah dari suhu yang dihasilkan oleh tubuh manusia. Kebayang kan nyamannya bisa berduaan dengan laptop berlama-lama tanpa takut laptop jadi panas atau overheat? :))

Detailnya performanya bisa dicek di gambar di bawah ini ya, gengs!

Bisa dibilang, ini laptop impian content creator banget banget banget, sih! Mau diajak nulis hayuk, mau diajak bikin desain hayuuukkk, mau diajak olah digital foto hayuuukkk, mau diajak edit video dan render video ya hayuuuukkk. Pokoknya semuanya hayuuukkk dah!!! Udah paket lengkap pake telor ini mah bisa nulis, ngedit dan olah konten dalam satu perangkat. Yang penting, entengnya itu lhooo bikin cintak!!! Bisa dibawa-kemana mana, tapi tetap bisa diandalkan kapanpun tanpa takut berat dan bikin nggak nyaman heheu.

Anyway gengs, kalian kalau penasaran bisa lihat-lihat Asus X555 ini d Tokopedia, lho! Karena eh karena si ASUS X555 juga dijual di Tokopedia! Asyik kaaann bisa review dulu sebelum beli dan jangan lupakan baca testimoni dan review tentang ASUS X555 ini yaaa. Dijamin kalian yang nggak pengen beli jadi pengen beli dan yang pengen beli jadi tambah nggak tahan buat beli sekarang juga! Ya gimana dong, bagus banget sih barangnyaaa heheu :))

Ini nih yang nggak boleh ketinggalan! KAMERA! Yes, as a content creator kamera harus banget aku bawa kemana-mana. Setiap kali aku menuju suatu tempat barangkali untuk jalan-jalan atau memang khusus untuk take foto aku selalu menyiapkan jepretan terbaik. Tapi yaa kadang memang hasil tidak sesuai ekspektasi kan, ya? HAHAHA

Makanya aku butuh laptop canggih buat membantu aku olah digital foto agar hasilnya makin bagus dan makin siap untuk diunggah ke blog atau social mediaku. Heheu, hidup di sosial media harus sempurna, bukan? Dan Laptop ASUS X555 akan membantu mewujudkanku menjadi sesempurna itu karena kemampuannya yang luar biasa mumpuni bagi content creator sepertiku :))

Last but not least, I always admire a content creator di bidang apapun itu. Bagiku, jadi content creator itu nggak gampang dan bisa jadi bagian mereka itu such a gift, sih karena nggak semua orang bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Repot beb kalau nggak bisa bagi pikiran dan waktu dalam satu waktu. Apalagi kalau deadline menyerang. Euuuhhh jangan ditanya pusingnya heheu!

Aku paling seneng sama content creator yang bisa menciptakan desain dan video. Aku nggak bisa soalnyaaa huhu, nggak pernah bisa bikin desain semaksimal yang mereka bikin :”) Pokoknya content creator itu emang juarakkk!!! Btw, kalau sambil ngerjain jangan lupa siapkan cemilan biar nggak bosen, ya! Menghadapi deadline juga butuh tenaga bruh!!! HAHAHAHA

Salah satu proses content creator – sketch gambar dan menemukan ide sebelum akhirnya memvisualisasikan ide tersebut ke dalam gambar yang lebih matang


Tapi tenang, kalau sudah pakai ASUS X555 mah semuanya jadi bereeeeessssss ~

Mau
deadline lagi kenceng-kencengnya, semuanya bakalan aman. Laptop X555 kan udah ciamik banget dilengkapi dengan baterai jenis Li-Polimer, Teknologi IceCool, dan Prosesor AMD®Quadcore A10 yang mantap banget untuk mendukung kegiatan content creator yang nggak jauh-jauh dari dunia blogging, editing gambar, rendering video, dan membuat infografis untuk kebutuhan content masa kini.

Jadi kapan kamu punya laptop ASUS X555? :))

Salam,

Seafood 68 Jakarta untuk Pecinta Kuliner Enak dan Murah di Jakarta

“Orang paling kasihan itu orang yang nggak suka sama seafood” Innes Sabatini

Masih inget banget obrolan santai bareng sama senior konten di kantor beberapa bulan silam setiap kali bahas tentang seafood. Topik tepatnya sih lupa, yang jelas pembahasan kami masih tentang makanan dan makanan. Kebetulan kami berdua adalah pecinta  seafood. Meski tak pernah makan seafood bersama, tetapi setiap kali membahas seafood tingkat kebahagiaan kami seolah sama. Luar biasa! Hahahahaha
Nah, beberapa waktu lalu, tepat setelah aku main ke Ragunan Zoo sama Mas Haris, aku diajakin untuk mampir ke resto seafood terenak yang letaknya di Kelapa Gading. Katanya sih enak banget, tapi karena jarak Ragunan ke Gading cukup bikin sakit punggung dan sakit tulang belakang, akhirnya kami memutuskan untuk googling tempat makan seafood enak di Jakarta. 
Dari 10 list yang masuk di website review, ada satu nama yang terlihat cukup dekat di peta yang menjadi tujuan makan kami berdua. Sederhana, hanya karena alasan dekat akhirnya kami memutuskan untuk ke sana.

Jarak di Peta dan Jarak Sebenarnya

Sewaktu SMP, aku pernah belajar tentang perbandingan. Perbandingan di peta dan perbandingan sebenarnya. Terlihat sepele dulu. Dan aku membuktikannya di dunia nyata bahwa sejatinya jarak itu tentang perspektif. Jauh dekat itu tentang perjalanan yang kita tempuh dan bagaimana kondisi badan saat menempuh hahahaha.
Entah akibat jalan-jalan di Ragunan yang cukup luas membuat kami kelelahan keduluan mungkin, perjalanan kali ini rasanya supeeerrr melelahkan. Bisa jadi juga karena tumben kami naik motor. Biasanya kami naik grabcar atau gocar atau uber car yang cuma duduk dan istirahat di mobil lalu sampai ke tujuan. Ah! Itu dia mungkin hahahahah.
Sekitar 1 jam lamanya akhirnya kami berhasil sampai di tujuan. Seafood 68 Jakarta yeay! Warung makan di ruko sederhana dengan tenda memanjang di di depan ruko membuat rumah makan ini seperti warung tenda biasa saja. Karena mepet dengan maghrib, kami memutuskan untuk mencari masjid terdekat dan melaksanakan sholat terlebih dahulu. Setelahnya, kami kembali dan memesan menu di Seafood 68.

Pengunjung Mulai Berdatangan

Kami datang di waktu yang tepat. Kalau kami terlambat 10 menit saja, duh sudah entah rasanya. Yap, sekitar bada maghrib tempat ini mulai ramai dipadati oleh pengunjung. Dari dalam, aku melihat antrian manusia entah bermobil atau bermotor berbaris untuk mendapatkan nomor antrian. “Mas mas, untung kita nggak telat dateng ke sini. Tuh, liat deh antriannya parah,” “Woh, ramai juga ternyata,” “Iyo,”

Pesanan kami mulai datang. Udang, cumi, kangkung, nasi, es teh dan air mineral sudah siap untuk kami santap. Seperti biasa, aku mencoba kuahnya terlebih dahulu. Daaaannnn UENAK! Yaaaa, nilainya 8 boleh lah. “Rasanya mirip sama yang di Semarang. Baru kali ini ada yang rasanya sama enaknya sama yang di Semarang,” “Woo jangan salah! Di Gading lebih enak lagi rasanya! Kapan-kapan kita ke sana,” “Mosok?” “Iyo!”

Aku makan cukup lahap. Entah karena memang aku yang lapar atau memang enak ya ini? Wahahahah. FYI, aku nambah nasi setengah porsi. Padahal, biasanya aku makan nasi satu porsi aja sisa wakakakak. Ah, ini enak dan memang enak! Recommended untuk para pecinta seafood!

Harga Murah Rasa Mewah

Oh ya, soal harga bagaimana? Ini pertanyaan paling klasik ya kalo soal kulineran hahahaha. Menurutku, ini termasuk murah! Kami berdua habis 160 ribu untuk makan menu tersebut di atas. Harga lumayan mahal, tetapi untuk sekelas seafood dengan rasa demikian ini cukup murah. Apalagi, soal rasa ini juara. Buktinya  bisa bikin Septi nambah setengah porsi nasi wakaakkakaka.

Pun ada otak-otak yang uenaknya bukan main. Itu kalau perutku masih muat aku mungkin akan makan lebih banyak heheheh. Aku cuma makan 2 karena aku mau menghabiskan seafood yang ada di meja. Jarang-jarang kan makan seafood enak
weheheh dasar anak kos!!! XD

Nih, kalau kalian mau nyobain silakan cekiceki ke Seafood 68 Jakarta yang beralamat di:
Jam bukanya maghrib. Tetapi, kalau kalian sampai terlambat sepersekian waktu yaaaa rasakan sendiri antrian yang memanjang di depan warung ini hahahaha…. Kalau mau cepet sih, dateng aja setengah 6, pesan dulu terus nikmati deh. Jadi, pas yang lain datang untuk antri, kalian sudah bisa pulang dengan perut kenyang XD *tipsalasepti* huahahahahahahahah

Oh ya, ini gratis karena aku dibayari hehehe. Honestly, aku jarang ┬ámakan begininan (mahal soalnya). Dan alhamdulillah aku punya teman baik hehehe.. Thank you, Mas Haris! ­čÖé

Selamat mencoba, ya!
Salam,
Jakarta Selatan – Semarang

Dimensi Waktu di Dua Kota Berbeda Ternyata Sungguh Terasa. Jakarta – Semarang

DwiSeptia – Hidup di dua dunia seperti pada film fiksi yang diceritakan terlihat begitu menyenangkan dan terlihat sangat mudah. Nyatanya, di kehidupan nyata tidak demikian adanya. Boro-boro deh bisa hidup di dua dunia. Hidup di dua kota saja rasanya sudah bikin nyut-nyutan kepala. Yay! Aku merasakan bagaimana rasanya hidup di dua kota dan merasakan perbedaan dimensi waktu yang luar biasa.

source: google

Semarang

Lahir dan besar di Semarang membuatku tidak tahu menahu tentang glamornya kota lain. Iya, aktivitas normal baru dimulai bada subuh dan selesai ketika pukul 9 malam. Damai sekali rasanya. Nggak ada ceritanya pulang malam itu sebuah kewajaran. Bahkan, terlalu sering pulang malam di Semarang akan menimbulkan kesan negatif dari oranng-orang sekitaran. Nakal lah, nggak bener lah, nggak tahu aturan, lah dan lain sebagainya lagi.

Beranjak dewasa, kegiatan semakin terasa padat dan luar biasanya menyita waktu. Pagi sampai malam rasanya kurang. 24 jam kalau bisa ditambah, pengen deh ditambahin biar bisa melek dan produktif sepanjang waktu tanpa harus mikirin ini itu. Bahkan, dulu pas masih merasakan sekolah-kerja dan kuliah-kerja, hampir nggak ada waktu untuk istirahat dan itu teramat  sangat menyenangkan. Meski terasa lelah, tetapi bisa menyelesaikan banyak hal dalam satu hari benar-benar bisa mengajarkanku tentang manajemen waktu.
Setahun belakangan ini aku mulai pindah ke Ibukota Indonesia, Jakarta. Kota metropolitan yang glamornya Masya Allah ini membuatku sedikit kaget. Ada perubahan hingga seratus delapan puluh derajat yang aku rasakan. Jam kerja yang berbeda, kondisi jalanan yang berbeda, hingga lingkungan yang luar biasa berbeda.

Jakarta (Maret 2016)

Per awal bulan ketiga di tahun 2016, aku resmi pindah ke Jakarta. Kota  nomor satu di Indonesia ini benar-benar membuatku ingin menyerah. Untuk bisa mengikuti ritme kota ini saja membuatku harus konsultasi ke klinik karena beberapa masalah pencernaan.

“Saya sakit apa, dok?”

“Dari recordnya sehat padahal. Yakin nggak salah makan?”
“Enggak kok, normal.”
“Tinggal di mana?”
“Saya baru ngekos di Jakarta Pusat”
“Oooh, baru di Jakarta berapa lama?”
“Baru banget pindah. Sebulan belum ada kali. Kenapa?”
“Sakitmu ini karena stress berarti. Obatnya ya satu, adaptasi dan jangan stress!”
Ini adalah percakapan paling absurd, paling bikin malu dan paling ah entah sampe bingung pas dapat jawaban ini. Periksa tanpa dikasih resep obat dan cuma disuruh pulang, rileksin pikiran dan istirahat biar stressnya ilang.
Yes, awal kali ke Jakarta aku stress berat. Macet yang nggak ada abisnya, jam yang rasanya cepet banget. Waktu rasanya gitu-gitu aja. Berangkat pagi, sampai kosan malem, Sampai kosan sudah nggak bisa ngerjain yang lain karena udah capek, mandi lalu tidur. Paginya begitu lagi dan repeat sampai berhari-hari. Kagetnya bukan main!
Setelah satu tahun lamanya beradaptasi aku mulai terbiasa dengan kota Jakarta. Menyenangkan atau tidak itu tergantung bagaimana aku bisa face the world in this metropolitan city. Terutama soal menghargai waktu yang ternyata sungguh mahal harganya.

11/2 2017

Aku pulang ke Semarang. Ada banyak hal yang selalu ingin kulakukan selama aku di Semarang. Kalau bisa nggak tidur untuk memastikan checklistku terpenuhi semua, mungkin aku akan melakukan itu. Hari ini contohnya. Aku kesal bukan main. Sepulang dari camping, aku sudah merencanakan untuk pergi ke Semawis dan ke Tembalang untuk menengok murid lesku dulu. Sudah matang sekali rencananya dan tinggal eksekusi. Tetapi, ada ‘sesuatu’ yang memaksaku untuk menunggu. Okelah, kalau hanya 1 hingga 2 jam lamanya aku masih bisa menunda jadwalku dan pulang lebih larut.
Sayangnya, pihak yang tak bertanggung jawab tersebut menjadikan 4 jamku terbuang sia-sia tanpa kepastian. Aku kesal bukan main. Rasanya ingin mengatakan kepadanya bahwa seseorang itu dimintai tolong bukan untuk dipermainkan. Hingga malam ini bahkan masih belum ada kepastian darinya. Masya Allah, kedua acaraku gagal dan dia masih tidak ada kabar kapan akan datang. Wanita memang sungguh dengan ketidakpastian.

Sebenarnya yang bikin kesal bukan hanya tentang menunggu 4 jam lamanya. Karena ketidakpastian tersebut, aku jadi batal ke Tembalang dan lebih parahnya aku batal ke Semawis. Kan bisa besok ke Semawisnya. FYI, Semawis Pecinan Semarang hanya buka di weekend saja. Untuk weekdays, Semawis tutup. Kebayang kan kesalnya seperti apa? Waktu tidak bisa diulang begitu saja. Hari Senin Semawis tutup. Tahu kan apa artinya? Aku baru bisa ke sana untuk kepulanganku selanjutnya. Huft….
Aku heran dengan orang-orang yang seperti ini. Membuat janji lalu membiarkan semuanya seperti tidak terjadi apa-apa. Membatalkan sepihak tanpa kepastian. Padahal, yang diajak janjian bisa jadi memiliki ‘hal yang lebih utama’ tetapi tetap mengutamakan teman yang sedang butuh bantuan. Cmon guys, hidup bukan tentang keegoisan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.
Aku menyadari satu hal bahwa, menjadi tegas itu perlu. Menjadi baik itu memang nggak boleh pilih-pilih, tetapi menjadi terlalu baik hingga mengorbankan kepentingan pribadi itu juga nggak baik, sih. Tulisan ini adalah pelipur lara, untuk mengingatkan diri ketika  lupa agar kejadian yang sama tidak lagi terulang.
Salam,
Semarang

Main-Main ke Petak Sembilan, Kawasan Pecinan di Glodok Jakarta

Imlek tahun ini aku ngotot banget pergi ke klenteng. Bukan untuk merayakan, tetapi aku suka nuansa Imlek yang penuh dengan merah. Aku tidak terlalu suka warna mencolok, tetapi aku suka sekali dengan lampion. Iya, lampion yang digantung setiap kali menjelang dan setelah Imlek selalu memanggilku seolah ingin kutatap lama-lama. Indah sekali.
Sayangnya, Imlek yang jatuh pada tanggal 28 Januari 2017 tidak menuntunku untuk bisa melihat secara langsung prosesi peribadatan umat Tionghoa di klenteng. Alasannya klasik, hujan. Memang, hujan disaat Imlek dan Cap Go Meh dianggap lumrah oleh yang merayakan tahun tersebut. Rejeki, katanya. Semakin deras, maka akan semakin baik pula rejekinya. Wallahualam, semua kan sudah tertulis jauh di sana.
Hari ketika Imlek, aku hanya duduk di kos, mengerjakan apa yang bisa kukerjakan sambil menikmati beberapa film yang telah kuputar sebelumnya. Menyenangkan, tetapi aku cukup kecewa karena pembatalan acara yang dilakukan secara sepihak. Tak apalah, toh itu juga sudah terjadi.
Keesokan harinya, Minggu (29 Jan 2017), aku tetiba diajak untuk ke kawasan Glodok, Kota, Jakarta. Tanpa pikir panjang aku mau. Antusiasmeku masih sangat besar untuk ikut menyaksikan jajaran lampion merah yang indah tersebut. Akhirnya, tepat setelah aku izin pulang lebih dulu dari gath Blogger Jakarta, aku menuju ke stasiun Cikini untuk bisa sampai ke stasiun Kota.
Sesampainya di sana, aku telah ditunggu oleh Mas Haris, tersangka yang membatalkan sepihak dan mengajak secara mendadak. Kami makan terlebih dahulu sebelum kami melakukan perjalanan jauh *halah*. Setelah cukup kenyang, kami menuju ke kawasan Petak Sembilan, Jakarta berjalan kaki. Ini tidak direkomendasikan untuk yang tidak suka berjalan jauh, ya. Jaraknya lumayan jauh jika dari Stasiun Kota. Cukup melelahkan.

Akhirnya, Jejak Membawa Kami Sampai ke Tujuan

Pertama sampai, aku tidaak pernah membayangkan akan menyusuri gang-gang kecil. Kupikir, kelentengnya sebesar Sampookong di Semarang. Ternyata, lebih kecil. Untuk bisa ke sanapun, kami harus melewati pasar yang lumayan sempit dan gelap karena waktu sudah menjelang maghrib. Obyek foto terlalu gelap.

Kupikir daerah ini istimewa, ternyata biasa saja. Bagiku, masih keren wilayah pecinan Semarang, sih. Ya mungkin karena aku asli Semarang dan sedang rindu pulang juga. Biasalah, sudut pandang subyektif selalu mengikuti, itu pasti. Mas Haris menunjukkanku klenteng pertama.

“Kita sudah sampai,” katanya. Lah, kok biasa saja, pikirku waktu itu. Kami diizinkan masuk oleh warga sekitar yang ada di klenteng. “Masuk saja, tidak apa-apa, kok,” sambut mereka ramah. Iya, kami dibebaskan untuk masuk sekadar melihat-lihat atau mengambil gambar orang-orang yang tengah beribadah. Dengan sedikit ragu, aku pun masuk ke dalam.

Memang naluri fotografer kali, ya. Aku ditinggalkan dan Mas Haris asyik membidik obyek foto. Aku yang memang masih merasa kikuk di dalam, akhirnya duduk mengobrol dengan salah seorang bapak2 paruh baya yang sepertinya keturunan China asli (terlihat dari wajahnya, sih hahaha). Aku menanyakan ini dan sekarang aku lupa apa  yang telah aku tanyakan XD. Blogger macam apa saya ini hahahaha.

Oh ya, pertama kali masuk ada yang bikin keki dan kzl abis. Aku datang dengan menggunakan kacamata. Tetapi, ketika masuk ke klenteng Mas Haris bilang, “lepas saja kacamatamu itu, biar sama dengan mereka (Orang China),” -_________________________- Ini buka kali pertamanya sih aku diperlakukan seperti ini oleh orang-orang di sekitaranku. Mungkin, karena memang aku sipit ┬ádan sometimes sangat sipit kali, ya hahahaha.

Villa Dharma Bhakti, Petak Sembilan

Setelah cukup puas, kami menuju ke klenteng selanjutnya. Aku masih penasaran dengan sekitaran kawasan ini. Rasa-rasanya memang kawasan pecinan. Hanya saja, kalau dibandingkan dengan Semarang kawasann ini lterlihat ┬álebih kumuh dengan gang-gang yang sangat sempit. Bahkan, ketika ada dua mobil berpapasan pun salah satu harus mengalah untuk ‘mojok’ supaya yang dari arah berlawanan bisa lewat.

“Ini, klenteng yang lebih besar dan lebih bagus,” kata Mas Haris setelah kami sampai di Villa Dharma Bhakti. “Aku lebih suka ┬áyang tadi,” kataku. Bagiku, klenteng sebelumnya yang aku lupa namanya memiliki kesan magis tersendiri. Memang kecil, sih. Tetapi, klenteng ini punya daya magis yang membuat mereka yang datang bisa langsung terhipnotis, sakral sekali.

Dan di klenteng ini, kami berdua bertemu dengan Mas Deli dari TelusuRI dan Mas Randy yang pernah menjadi pengacara di acara Sekoolah TelusuRI. Wah, dunia sempit, ya! Atau memang Jakarta yang terlalu sempit? Ah, mungkin aku yang mainnya kurang jauh, jadi ya ketemunya yang itu-itu saja wakakaka.

Di tulisan kali ini, aku pengen nulis tentang sejarah Imlek dll. Tapi, aku tak tahu banyak tentang itu. Jadi ya, batal aja deh hahahha daripada aku salah XD. Oh ya, tepat 15 hari setelah acara Imlek, akan ada perayaan Cap Go Meh yang jatuh papda  tanggal 11 Februari, lho. Dan kata bapaknya yang aku ngajak ngobrol di atas, akan ada arak-arakan di kawasan Kota dan sekitarnya sebagai bentuk sukacita Imlek.

“Jalanan akan ditutup karena akan ada pawai. Ke sini saja, mbak,” kata Bapaknya.

Pengen lihat sih, tetapi sayangnya aku nggak bisa ke TKP huhu.. Sedih amat yak hahah. Its okay. Pasti akan banyak pengalaman lain yang bisa aku ceritakan di blog ini. Tunggu saja! ­čÖé

O
h ya, ternyata nuansa Imlek sama saja dengan lebaran, ya. Ada cara bagi-bagi angpao XD. Jadi, kawasan klenteng di Petak Sembilan benar-benar penuh dengan pengemis huhu. Sedih sih, liatnya. Tapi, mungkin memang sudah tradisinya seperti ini kali, ya.

Salam,

Jakarta Pusat

Sudah Pernah Main ke Wisata Ragunan? Intip Keseruannya, Yuk!

Ternyata, menghabisakan waktu di sudut kota jakarta itu menyenangkan, ya? Rasa-rasanya mungkin aku akan sangat jarang bisa menikmati pemandangan seperti ini di Jakarta. Ya, Ragunan menjadi labuhanku untuk menghabiskan akhir pekanku di hari Sabtu lalu (4/2/17). Sebelumnya aku ingin ke Serpong untuk bertemu dengan kawanku yang sebentar lagi akan pulang. Tetapi ternyata, hari itu takdir tidak membawaku ke stasiun Tanah Abang dan menuju Serpong. 
Mungkin karena memang dasarnya aku suka jalan, maka aku akan dengan otomatis melakukan switching jadwal tanpa pikir panjang. Ragunan! Ya, aku ingin sekali ke sana. Bukan apa-apa, aku hanya ingin menghabiskan waktu saja di Jakarta. Karena masa depan, aku tidak tahu akan membawaku ke mana. Aku hanya tahu satu hal tentang,

Menghabiskan waktu itu menyenangkan

Aku mengajak Mas Haris yang kosnya dekat dengan ragunan. Baru kali ini aku naik motor di sekitaran Jakarta sejauh itu. Biasanya aku paling malas jauh-jauhan di Jakarta. Terlebih lagi, aku tidak tahu arah jalan ke sana. Modal nekat dan berteman dengan Maps, aku memberanikan diri. Alasannya sederhana, aku tidak ingin menghabiskan banyak uang hanya untuk ongkos menuju dan pulang dari Ragunan.
Singkat cerita, akhirnya aku naik motor ke daerah Pasar Minggu Baru dan kami menuju ke Ragunan naik motor. Ternyata, cukup jauh sekitar 30 menit lah dari daerah stasiun Pasar Minggu Baru. Oh Jakarta, mau menikmati jalanan saja sulitnya bukan main. Yah, setidaknya aku tetap bisa merealisasikan ke Ragunan naik motor dan saving beberapa rupiah, lah.
Ngomongin rute ke Ragunan, bisa dicek langsung di website official-nya, kok. Cekki di sini Ragunan Zoo Jakarta , ya! Informasi lengkap seputar Ragunan bisa diakses di web tersebut. Kalau di blog ini sih, aku hanya ingin menceritakan tentang bagaimana rasanya kembali ke alam bebas.

Masih ada ya ternyata daerah seperti ini di Jakarta | Hooh

Memang, sedikit mengesankan bila di Jakarta masih menemukan alam yang masih asri seperti di Ragunan Zoo. Aneh, tapi juga menyenangkan. First impression aku sih masih biasa-biasa saja. Sampai pada akhirnya aku menyusuri wilayah di dalam kawasan Ragunan dan menemukan betapa indahnya ekosistem yang dibentuk di sana. Adeeeeeemmm banget pokoknya!

Dari awal masuk, ada petunjuk arah yang bisa aku pilih. Aku mau ke mana-mana pun sudah jelas arahnya. Mungkin, sedikit membingungkan bila tak suka menghapal sepertiku. Hanya berpedoman pada petunjuk arah membuat sedikit tersesat. Untung aku bawa teman! Hahahah setidaknya yaaa kalau nyasar ada temennya gitu XD.
Pertama kali masuk, ada sekawanan burung pelikan di kolam yang lucu. Semuanya putih, berbaris rapi dan beberapa di pinggiran menunggu untuk diberi makan. Masuk lebih jauh, ada kawasan primata seperti bekantan, kera, dan lain-lain. Di sisi lain ada pula ular-ular sanca yang bisa dinikmati daari balik layar kaca. Dan ini bagian paling menyenangkan, sih soalnya Mas Haris nggak bisa ketemu ular dan aku suka godain dia huahahahaha. Seru ya ternyata godain mas-mas sama ular wkwkwkw.
Oiya, ada toilet gratis di kawasan Ragunan yang bisa dinikamati pengunjung, lho! Dan ini sungguh GRATIS! Jadi, kalau mau pipis berkali-kali pun tetap tidak akan pernah ada masalah hahaha. Pun, ada pujasera dan jajaran pedagang di sana. Jadi, aman-aman saja kalau misalkan lapar di tengah jalan.

Oh ya, di Ragunan udaranya masih alami sekali. Rindang pepohonan bambu, rawa-rawa dan air terjun mini masih mengalir begitu alami. Aku suka udara di Ragunan. Setidaknya bisa membuat pikiranku sedikit lebih jernih ketika sedang jenuh-jenuhnya. Sepanjang perjalanan menyusuri Ragunan, pikiranku melayang-layang entah ke mana. Rasanya begitu banyak kegalauan yang ada di kepala dan ingin segera menyelesaikannya. Semoga, segera.
Ragunan, sebagai kebun binatang di Jakarta kubilang masih belum terlalu cantik untuk mengelola wilayahnya. Masih banyak satwa yang sendirian seperti bekantan, banteng dan beberapa hewan lain. Rasanya, kasihan sekali melihat mereka sendirian tanpa teman. Pun, kandang-kandang mereka masih begitu bau untuk bisa dinikmati dengan tenang. Terutama, kandang primata.
Melihat satwa-satwa itu terperangkap di kandang yang bau rasanya kasihan sekali. Mereka seharusnya butuh tempat yang lebih layak dari ini, bukan?
Baiklah, aku tidak boleh judge sesuatu tanpa tahu sebenar-benarnya sistem yang ada, bukan? Setidaknya saat bosan di Jakarta bisalah main ke Ragunan sekali-sekali untuk menjenguk makhluk hidup lain sambil bertadabur. Ya, kan?

Kuy, mari main ke Ragunan! Tapi ingat,
Jangan buang sampah sembarangan
Tetap jaga sikap dan kebersihan
Jangan menyiksa hewan
Pastikan tidak berisik

Satwa yang ada di Ragunan juga makhluk hidup yang butuh dicintai dan disayangi. Jadi, kalau main-main ke sana, pastikan untuk tidak mengganggu mereka, ya! ^^
Salam,
Jakarta Selatan – Jakarta Pusat

3 Alasan Penting Kenapa Harus Hidup Berkomunitas

Pepatah mengatakan bahwa:

Kejarlah ilmu hingga ke Negeri China

Meanwhile, kalau kamu memang ingin berkembang, carilah tempat yang bisa kamu jadikan rumah dan orang-orang di dalamnya sebagai keluargamu. Ini kisah anak rantau yang jauh dari rumah dan tidak memiliki teman cukup banyak di kota orang. Perkenalkan, namaku Septi. Tapi, teman-teman sekolah lebih mengenalku sebagai septsepptt. Sudah, namanya memang alay, tapi paling tidak ini adalah branding yang sudah melekat sejak lama padaku. Aku bangga! Hahahahaha
Awal-awal dulu di Jakarta rasanya benar-benar buta aku mau ke mana, mau main sama siapa. Kupikir dulu Jakarta memang terlalu keras untuk penduduk pendatang sepertiku. Sayangnya, doktrin seperti ini membuatku terhambat untuk bisa hidup berkembang dan menemukan network baru.
Waktu berlalu, aku mulai memberanikan diri untuk ikut ke acara seminar yang diadakan di Jakarta. Meski masih cupu di kota orang (biasanya di kota sendiri malu-maluin soalnya), aku berusaha untuk bisa menikmati atmosfer baru di kota metropolitan ini. Yah, Jakarta memang beda. Anak-anaknya lebih banyak yang tertarik untuk menemukan sesuatu yang baru. Kalau dulu di kotaku, aku benar-benar tidak bisa menemukan orang baru setiap saat setiap kali ada acara. Dan ini membuatku kecewa.

The Backstage – Ziliun’s event
Beruntunglah, di Jakarta anak-anaknya lebih terbuka dan benar-benar senang berkomunitas. Sampai pada akhirnya aku ikut meetup komunitas Local Guides Jakarta dan engingeng aku bertemu dengan seseorang yang mengajakku untuk join ke komunitas Blogger Jakarta. Mas Ichsan, yang juga ketua Blogger Jakarta ini mengajakku untuk join bersama komunitas yang ia gawangi selama ini. Awesome! Dapat networking baru! Senangnya bukan main ­čÖé

And here we go, aku pengen banget kalian juga bisa hidup berkomunitas. Kenapa? Mari kita simak alasan yang aku temukan selama aku bertapa semalaman! (Nggak deng, canda ini mah XD)

Ada Rumah Untuk Singgah

Jadi anak kos pasti bosan banget, kan? Ini yang aku rasain selama menjadi anak kos yang merantau ke kota orang untuk bekerja. Bukan untuk kuliah. Beda lho ya, beda. Menghabiskan waktu di kosan itu tidak akan semenyenangkan kalau menghabiskan waktu di luar kosan. Entah itu untuk jalan-jalan nggak jelas atau memang bertujuan. Nah, dengan berkomunitas, tentu aku bisa menemukan tempat lain untuk melepaskan penat *halah.
Dengan bergabung ke komunitas, aku tentu bisa punya ‘rumah’ untuk singgah. Aku akan menemukan teman-teman baru yang bisa ┬ámembuatku melupakan sejenak beban pekerjaan atau problem pribadi yang biasanya bikin nggak produktif. Memiliki rumah, berarti memiliki keluarga. Sudah pasti, dengan hidup berkomunitas, aku punya rumah dan keluarga baru, toh? Let’s start with komunitas Blogger Jakarta! ^^

Melebarkan Sayap Networking

Nih, kalau ini cocok untuk yang punya ‘big curiousity‘ dalam hal apapun. Anak-anak blogger itu background-nya macam-macam. Dari IT ada, multimedia ada, teknik ada, agency ada, penulis ada, graphic design ada. pokoknya lengkap! Gabung di komunitas blogger, nggak cuma bakalan bikin aku jadi punya teman baru, melainkan juga punya networking dan ilmu baru. Aku jadi bisa tahu bidang apa saja yang sebelumnya aku nggak tahu dari mereka semua.
Tentu saja, hal ini nggak bisa aku catch dengan aku duduk di kosan doang, kan? Makanya, aku memutuskan untuk berkomunitas, biar nggak bego-bego amat karena terlalu mager di kos! Hahahahaha… Ini pun berlaku untuk kalian semua yang pengen dapat insight dunina kerja baaru. Siapa tau mau resign ya, kan? ^^

Ketemu Jodoh

Eh ini eh ini bukan kode lho, ya! Tapi emang cinta lokasi alias cinlok itu nggak bisa dipungkiri. Beberapa kali ikut komunitas, pasti ada yang cinlok. Ini positif kok, asalkan jangan sampai nggak produktif di komunitas karena kebanyakan pacaran aja, sih. Anyway, cinlok itu nggak melulu soal sama pasangan. Bisa jadi kamu cinlok sama mas-mas atau mbak-mbak yang pinter yang bisa bikin kamu tahu banyak hal baru. Mmmm.. Asyik banget sih kalau yang ini.
Kalau aku sih pengen ketemu jodoh di komunitas Blogger Jakarta yang bisa kasih aku insight banyak hal di dunia penulisan. Kalau ngomong di bidang yang sama aja nyambung, pasti nanti bisa jadi teman dekat dan teman curhat hahahahaha. Kan aku masih cupu kalau soal nulis nih, wajar kan kalau aku berharap bisa jadi penulis andal kayak teman-teman Blogger Jakarta? ^^
Meski aku hanya memaparkan 3 alasan, itu bukan berarti cuma ini yang akan kamu dapat kalau hidup berkomunitas. Masih buanyaaaakkk banget manfaat lain yang bisa kamu dapatkan kalau kamu berkomunitas. Asal niatnya memang untuk menemukann teman, lingkungan dan ilmu baru, pasti kamu bakalan dapat banyak manfaat, kok!
Kalau kamu, komunitas apa saja yang sudah kamu ikuti? Ceritain dong apa yang sudah kamu dapatkan selama berkomunitas! ^^
Salam,
Jakarta Barat – 28 Januari 2017

Ketika Jakarta Mulai Terasa Membosankan

Maret 2016 – Januari 2017

Time flies

Waktu berlalu, hampir satu tahun sudah aku berada di sini, di Jakarta. Aku mulai bosan dengan kota ini. Mungkin karena aku rindu rumah atau memang kota ini sejatinya membosankan. Sudah hampir 2 bulan pula aku tak pulang ke rumah. Biasanya setiap bulan aku selalu pulang, tetapi kali ini tidak. Aku hampir membunuh diriku sendiri di kota metropolitan ini.

Sepertinya singkat, 2 bulan bukanlah waktu yang lama. Itu, menurutmu. Tapi, untuk aku yang memang hidup sendirian di sini, 2 bulan dengan rutinitas yang sama terasa begitu membosankan. Rasanya ingin sekali membunuh waktu, sayang aku tak mampu melakukannya.

Weekend Terasa Lama

Kalau tiap bulan pulang, aku pasti bisa menikmati rasanya weekend di rumah dengan pemandangan dari jendela kamar yang menyegarkan. Pun aku bisa bermalas-malasan dengan nonton televisi di rumah dengan tiduran dan tidak mandi sampai siang. Jorok? biarin! Hahahaha…

Setiap kali weekend di rumah, rasanya luar biasaaaa. Bisa bangun siang, bisa nonton tivi sambil tiduran, nggak perlu mikirin segala macem yang bikin panik setiap kali dirasain di kos. Lega pokoknya. Dan favorit banget itu kalo pas males-malesan sama ibuk. Udah, tiduran aja sebelahan, ibuk tidur aku nonton tivi atau sebaliknya. Dunia rasanya surga kalo udah gitu. Mumpung belum nikah dan jauh dari orangtua kan, yaaaaa. Jadi, waktu itu memang seharusnya cuma buat orang tua aja :))

Jalanan Jakarta Terasa Membosankan

Aku hampir hapal dengan setiap yang ada dan apa yang akan terjadi di sudut jalan tertentu setiap kali aku berangkat atau pulang kerja. Seperti, ada tawuran di depan, ada macet yang tak berujung, orang-orang yang nggak sabaran setiap kali macet dengan membunyikan klakson, hingga polisi yang selalu ada untuk ngecek kelengkapan kendaraan bermotor setiap pagi. Membosankan!

Aku bosaaaann melihat pemandangan orang berdesak-desakan. Aku bosan rasanya melihat yang itu-itu saja di sini; gedung yang tinggi, rel kereta yang selalu berbunyi ketika ada kereta yang hendak lewat dan pejalan-pejalan yang berlarian mengejar kereta. Semuanya membuatku pusing bukan main.

Aku butuh pemandangan segar; aku butuh dibawa ke laut, ke gunung, ke rooftop. Aku butuh dibawa bersenang-senang untuk sekadar menikmati pemandangan hijau yang bisa menyegarkan mata. Setidaknya, itu bisa mengangkat beban yang ada begitu berat di dada.

Butuh Teman Jalan

Salah satu hal yang membuat Jakarta terasa begitu membosankan adalah teman jalan yang mulai jajrang. Ya, di Jakarta sendirian membuatku mau tidak mau harus merelakan weekend-ku dengan penuh kebosanan. Kalau dulu di Semarang aku bisa saja menuju ke Yogyakarta, Ungaran, Kendal, Boja, Jepara, Pati, dll setiap kali aku bosan di rumah. Lha kalo di Jakarta? Mau main khawatir macet dan nggak tau jalan pula.

Ditambah lagi, nggak ada teman jalan yang available kapanpun aku ajak. I mean, karena masih single terus aku jadi nggak bisa ke mana-mana maunya ditemenin terus. Coba aja kalau aku sudah taken, kan enak ya jalan-jalan sama ‘masku’ hahahha. Udah ada yang jagain, ada yang bawain tas lagi *geblek* hahahahahha.

Tulisan ini hanya pengusir rasa bosan, kok. Nggak ada kode dan maksud apapun di dalam tulisan ini. Jadi, jangan menganggap aku kodein kamu, ya! GR itu nggak bagus. Ya kalo bener sih gapapa, kalo enggak nanti sakit ati, loh! ^^