Life As A Content Creator: Nggak Cuma Harus Bisa Nulis, Tapi Harus Bisa Lebih dari Itu



Flashback
Jakarta, 2015
Aku menantang diriku sendiri untuk bisa menjadi bagian dari salah satu digital creative agency yang pernah mendapatkan best agency of the year di Jakarta. Alasannya sederhana, aku ingin mematahkan stereotipe bahwa anak SMK itu nggak akan bisa kerja kantoran di Jakarta karena background pendidikan yang cuma sampai pada sekolah menengah alias bukan sarjana. Iya, aku cuman lulusan SMK komputer yang bahkan nggak paham kalau disuruh ngulangin pelajaran itu lagi HAHAHA emang dasar gadungan ya aku ini 😀
Aku yang keras kepala dan nggak suka diremehkan lantas menantang diriku sendiri untuk bisa ke Jakarta dengan uang pas-pasan dan bekal seadanya. Numpang nginep di kosan teman sampai kecopetan HP pun pernah aku alami hanya demi bisa membuktikan bahwa Jakarta tidak sekeras itu untuk anak sekolah menengah sepertiku.
But, hey! Jakarta keras bung.
Hari dimana aku interview dan kehilangan handphone-ku, aku bertemu dengan salah seorang pelamar yang dari perawakannya sudah jauh lebih dewasa dariku. Waktu itu aku masih berusia 20 tahun. Waks! Masih sangat muda ya ternyata.. Sekarang juga masih muda, kok! Muehehehe :))
Back to the topic
Aku masih ingat betul ketika mas-mas pelamar (sebut saja begitu) ngobrol denganku, kira-kira seperti ini:

“dari mana, Mba?”“saya dari Semarang, mas.”“wah, jauh sekali ya Semarang. Lulusan kampus UND**, ya?”“Oh, enggak kok, mas. Saya cuma lulusan SMK.”“Hah, jauh-jauh dari Semarang dan cuma lulusan SMK? Memang bisa ya mba masuk kantor sini?” “Hahahaha, bismillah aja, mas. Emang masnya lulusan mana?”“Oh, saya baru S2 di ……. dan sudah berpengalaman sebagai content writer selama 7 tahun di perusahaan X.”“Waaa hebat. Keren dong, ya. Punya blog?”“Ada, dong di http://www.xxxx.blogspot.com”“Woh, masih blogspot ya, mas?”“Emang mba ngerti blog? Punya emang?”“Ada, mas di http://www.dwiseptia.com :)”

Daebak! Aku minder bukan main ketika diajak ngobrol. Tapi di sisi lain, aku semakin tertantang untuk menunjukkan kepada semesta bahwa aku nggak harus jadi sarjana dulu untuk bisa dapat kesempatan bergabung ke perusahaan yang aku impikan sejak lama, yaitu bekerja di Jakarta.
Singkat cerita, ketika aku dipanggil keruang interview, aku bertemu dengan senior content, manager dan HRD perusahaan. Guess what??!! Managerku bilang “Septi, sebenarnya saya mau test Septi nulis, tapi lihat blog Septi saya yakin banget pasti Septi cinta banget sama nulis, kan?” Aku tersipu sekaligus bersyukur telah mengenal dunia blogging saat aku tengah duduk di bangku SMK.
Dan, aku diterima karena aku seorang blogger dan suka nulis di blog! Awwwww… Sebagai syarat wajib, aku diminta untuk menuliskan kisah sederhana sebagai syarat sah interview siang itu. Aku lantas memiliki jabatan sebagai content writer di perusahaan di Jakarta pada hari dimana aku interview tanpa harus menunggu sampai 2 minggu hingga 1 bulan karena aku seorang blogger. I’m proud of being blogger! ^^

Jakarta mengenalkanku pada banyak hal tentang dunia kepenulisan yang aku alpa di dalamnya. Aku belajar banyak hal baru semenjak bergabung menjadi bagian dari tim konten. Aku belajar tentang bagaimana memilih dan memilah istilah yang tepat, bagaimana menulis singkat rapi atau menulis panjang tetapi tidak bertele-tele dan bagaimana membuat pembaca jatuh cinta dengan karakter tulisan kita. Yaaa, kayak yang kalian baca sekarang ini gengs! Heheu 🙂 Kalian jatuh cinta nggak sama tulisanku? Ah elah genit amat ini bocah HAHAHA
But, seriously! Jakarta teach me a lot of things. I’m feeling like I’m the new one. Lebih dari apa yang aku bayangkan, aku jadi mengerti tentang dunia periklanan yang teramat sangat dekat dengan dunia kepenulisan. Satu yang nggak bisa aku lupa adalah ketika managerku bilang “Konten itu cuma dasar, pengembangannya banyak sekali. Jadi, kalau Septi mau benar-benar jadi hebat, Septi harus jadi penulis hebat dulu.Well noted, mas! I’ve been do it and here I am right now 🙂
Setelah memahami tentang dasar-dasar kepenulisan dengan caci maki sebagai makanan sehari-hari, aku dihadapkan pada dunia Search Engine Optimisation, Search Engine Marketing, Social Media Management dan Digital Marketing alias dunia periklanan yang sejak dulu kala aku idam-idamkan. Yup, aku mengincar posisi ini sejak lama. Aku belajar dengan otodidak demi bisa duduk di kursi panas dan menjabat sebagai seorang Digital Ads Specialist. Uwuwuwuw rasanya kayak naik roller coaster ternyata menjadi seorang pengiklan yang mengelola konten klien untuk bahan iklan demi bisa meningkatkan awareness, reach, engagement dan impression. Duuuuhhh ini istilah emang bikin pusing 🙂

Time flies..
Ibuku memintaku untuk kembali ke Semarang. Dan bagiku tidak mudah untuk kembali dari perantauan ke tempat asal yang tidak jauh lebih maju dari Jakarta. Sedih, depresi dan tentu saja bingung harus menjadi seperti apa. Tapi bersyukur, aku sudah mengantongi cukup ilmu untuk bisa membuatku menjadi seseorang yang cukup bisa berdikari dengan profesiku, yaitu menjadi seorang blogger dan digital nomaden. Euuuhh istilahnya aneh-aneh banget, ya! Hahaha maapkeun. Dunia digital marketing memang sungguh bikin pusing tujuh keliling :))

People Change..
Ada beda dari Semarang dan Jakarta. It feels like Jakarta beat drive me crazy and Semarang make me crazy because I can’t doing anything here. Oh God! I’m feeling so down live back to Semarang. Aku beradaptasi setengah mati, sebab biasanya di Jakarta hidupku penuh tekanan, aku dipaksa untuk bisa hidup dengan pace yang luar biasa cepat, waktu yang hampir tiada liburnya dan tentu saja lingkungan yang membuatku harus bisa menguasai banyak hal karena aku tidak akan menjadi siapa-siapa jika aku tidak menguasai apa-apa.

Tapi, Semarang membuatku menjadi seseorang yang lebih santai untuk bisa menikmati hidup. Bebas dari hiruk pikuk kota yang macet, orang-orang yang 24 jam hidupnya di jalan dan tentu saja Semarang tidak membuatku tertekan akan istilah-istilah aneh dalam dunia digital marketing ini. Eheu ternyata semua kota memang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing ya :))

Digital Improve..
Digital yang kukenal dulu dan sekarang berbeda. Aku sungguh seperti terseret arus dan harus bertahan demi bisa berenang ke tepian *halah drama HAHAHAHA. Aku mengenal digital sebagai tempat dimana personal branding dibentuk, portfolio disampaikan tanpa harus bertatap muka dan tentu saja membangun sosialisasi lewat social media tanpa harus saling tahu dalam dunia nyata.

It’s time to challenge myself to be a better me. Sebagai manusia yang cinta dengan tantangan aku menantang diriku sendiri untuk bisa belajar lebih dan lebih dan lebih lagi sampai akhirnya aku memutuskan untuk menjadi seorang freelancer alias digital nomaden, yaitu orang yang bisa bekerja di berbeda tempat. Yesss, bekerja dimanapun, masuk ke bidang apapun untuk bisa mengerti segala macam hal dan bertemu dengan orang dengan berbagai macam bentuk. Yeah, please let me introduce myself that I’m a content creator. Someone who create content in any way. 

Punya basic sebagai seorang blogger tidak lantas membuat pekerjaan sebagai content creator lebih mudah. Heeeyyyyyy!! Ngeblog itu nggak cuma sekadar nulis, apalagi jadi content creator :))))

Kadang suka gemas sama teman-teman yang menganggap bahwa pekerjaan sebagai seorang content writer, copy writer, advertiser dan content creator itu cuma sebatas NULIS DOANG. Yaiyasih cuma nulis, tapi nulis itu juga butuh skill alias nggak bisa sembarangan nulis :))
Apalagi, setelah memutuskan menjadi seorang digital nomaden alias orang yang kerjanya pindah-pindah, aku jadi punya tuntutan kepada diriku sendiri untuk bisa bekerja secara mandiri dimanapun dengan laptop yang harus selalu on setiap waktu karena aku harus siap kapanpun klien atau partner kerjaku membutuhkanku.

Selain itu, aku juga harus punya kemampuan yang nggak cuma sekadar nulis. Aku dituntut untuk bisa fotografi, videografi, editing foto dan video, desain grafis sampai harus bikin sketch atau typography ala ala untuk bisa mendukung segala sesuatu yang bisa menjadikan kontenku makin kece dan ciamik.

Yaaahhhh for the sake of content I have to be a good content creator too, right? Simple, kenapa harus bisa semuanya? Karena ngrepotin orang lain itu nggak gampang, belum lagi kalau yang direpotin pas nggak bisa. Duh, pokoknya jadi content creator itu nggak bisa bergantung sama orang lain. Belum lagi idealisme diri yang kadang gede banget. Uh! Minimal kalau mau jadi content creator itu menguasai basic dari berbagai macam hal, deh pokoknya heheu :))

That’s why, biarpun nggak professional banget, setidaknya aku bisa membuat produksi kontenku semakin kaya dengan beragam jenis konten, seperti tulisan, foto, video, atau sekadar desain infografis apa adanya mueheheh yang penting nggak kosongan aja! :))
Pernah nggak sih punya pengalaman yang super duper mengesalkan saat laptopan? Yes, tiba-tiba laptop force close padahal banyak file yang belum disimpan! Nyesek beb :”) Sedihnya nggak ketulungan kalau sampai harus mengulangi segala sesuatu dari awal. Aku selalu halu punya laptop yang dibekali dengan processor AMD APU A10-8700P dan GPU AMD Radeon R6 M340DX 2GB.

Boro-boro force close, kalau laptopnya sudah dilengkapi dengan processor ciamik tersebut nge-lag aja udah nggak mungkin banget hahahaha. Prosesornya aja bisa buat main gaming. Kebayang kan kalau cuma buat software content creator macam rentetan keluarga Adobe mah keciiiillll. Apalagi buat nonton film atau video? Wuuuhhhhhh jangan salahhhh bisa wuswuswus ini mah.. Enteng pisaaannnn :))

Cuma aku suka parno kalau laptop bagus itu biasanya berat dan bikin capek kalau dibawa kemana-mana alias nggak bisa menunjang mobilitasku yang luar biasa kayak belut kepanasan ini heheu. I
yak! Anaknya nggak bisa diem banget buset dah hahahaha. Pagi dimana, siang dimana, sore dimana, malam dimana, hari ini dimana, besok dimana, lusa ehhh udah pindah kota lagi. Emang dasar cacing kepanasan! Heheheu :))
Makanya aku punya angan-angan banget bisa punya laptop yang slim, desainnya kece dan hmmm harus bikin aku ngerasa prestige karena laptopnya membuat setiap pasang mata jatuh cinta. Cieeeee ah ini obrolannya kemana-mana banget yah hahaha. Jadi kebayang sama desain ASUS X555 seriesyang luar biasa menggoda kannnn hmmmm…

Ya gimana dong, nggak cuma unggul di performa, laptop ASUS X555 nggak cuma unggul di performa dan desain yang nyaris sempurna. Laptop ini bahkan punya keyboard yang terbuat dari alumunium dan bisa menyerap panas. Nah loh, makin betah laptopan nggak tuh ceunah!!! Belum lagi, baterai laptop ASUS X555 ini non removable yang artinya nggak ada tuh laptopnya benjol karena ada bagian baterai yang menonjol terlihat dan kadang justru mengganggu. Ringkas banget, kan?
ASUS X555 punya baterai jenis Li-Polimer yang daya tahannya 2,5 kali lebih kuat dibandingkan baterai Li-Ion Silinder. Bahkan setelah diisi ulang hingga ratusan kali, baterai ini tetap dapat menyimpan sampai 80% dari original kapasitasnya. Kita nggak sering cari colokan deh kalo mau kerja.
Parahnya, si ASUS X555 series ini baterainya adalah jenis Li-Polimer yang tahannya bisa 2.5 kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan baterai Li-Ion Silinder di pasaran. Nggak ada ceritanya nyari colokan pas lagi nongkrong-nongkrong cantik deh pokoknya! :))

Gokilnya lagi, Asus X55 ini sudah dilengkapi dengan teknologi IceCool yang dirancang untuk mengatasi overheat yang biasa menyerang laptop pada umumnya. Teknologi ini mampu menjaga temperatur notebook di antara 28-35 derajat. Suatu suhu yang bahkan lebih rendah dari suhu yang dihasilkan oleh tubuh manusia. Kebayang kan nyamannya bisa berduaan dengan laptop berlama-lama tanpa takut laptop jadi panas atau overheat? :))

Detailnya performanya bisa dicek di gambar di bawah ini ya, gengs!

Bisa dibilang, ini laptop impian content creator banget banget banget, sih! Mau diajak nulis hayuk, mau diajak bikin desain hayuuukkk, mau diajak olah digital foto hayuuukkk, mau diajak edit video dan render video ya hayuuuukkk. Pokoknya semuanya hayuuukkk dah!!! Udah paket lengkap pake telor ini mah bisa nulis, ngedit dan olah konten dalam satu perangkat. Yang penting, entengnya itu lhooo bikin cintak!!! Bisa dibawa-kemana mana, tapi tetap bisa diandalkan kapanpun tanpa takut berat dan bikin nggak nyaman heheu.

Anyway gengs, kalian kalau penasaran bisa lihat-lihat Asus X555 ini d Tokopedia, lho! Karena eh karena si ASUS X555 juga dijual di Tokopedia! Asyik kaaann bisa review dulu sebelum beli dan jangan lupakan baca testimoni dan review tentang ASUS X555 ini yaaa. Dijamin kalian yang nggak pengen beli jadi pengen beli dan yang pengen beli jadi tambah nggak tahan buat beli sekarang juga! Ya gimana dong, bagus banget sih barangnyaaa heheu :))

Ini nih yang nggak boleh ketinggalan! KAMERA! Yes, as a content creator kamera harus banget aku bawa kemana-mana. Setiap kali aku menuju suatu tempat barangkali untuk jalan-jalan atau memang khusus untuk take foto aku selalu menyiapkan jepretan terbaik. Tapi yaa kadang memang hasil tidak sesuai ekspektasi kan, ya? HAHAHA

Makanya aku butuh laptop canggih buat membantu aku olah digital foto agar hasilnya makin bagus dan makin siap untuk diunggah ke blog atau social mediaku. Heheu, hidup di sosial media harus sempurna, bukan? Dan Laptop ASUS X555 akan membantu mewujudkanku menjadi sesempurna itu karena kemampuannya yang luar biasa mumpuni bagi content creator sepertiku :))

Last but not least, I always admire a content creator di bidang apapun itu. Bagiku, jadi content creator itu nggak gampang dan bisa jadi bagian mereka itu such a gift, sih karena nggak semua orang bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Repot beb kalau nggak bisa bagi pikiran dan waktu dalam satu waktu. Apalagi kalau deadline menyerang. Euuuhhh jangan ditanya pusingnya heheu!

Aku paling seneng sama content creator yang bisa menciptakan desain dan video. Aku nggak bisa soalnyaaa huhu, nggak pernah bisa bikin desain semaksimal yang mereka bikin :”) Pokoknya content creator itu emang juarakkk!!! Btw, kalau sambil ngerjain jangan lupa siapkan cemilan biar nggak bosen, ya! Menghadapi deadline juga butuh tenaga bruh!!! HAHAHAHA

Salah satu proses content creator – sketch gambar dan menemukan ide sebelum akhirnya memvisualisasikan ide tersebut ke dalam gambar yang lebih matang


Tapi tenang, kalau sudah pakai ASUS X555 mah semuanya jadi bereeeeessssss ~

Mau
deadline lagi kenceng-kencengnya, semuanya bakalan aman. Laptop X555 kan udah ciamik banget dilengkapi dengan baterai jenis Li-Polimer, Teknologi IceCool, dan Prosesor AMD®Quadcore A10 yang mantap banget untuk mendukung kegiatan content creator yang nggak jauh-jauh dari dunia blogging, editing gambar, rendering video, dan membuat infografis untuk kebutuhan content masa kini.

Jadi kapan kamu punya laptop ASUS X555? :))

Salam,

Kembalinya Freelancer ke Kantor. Apakah Ini Sebuah Kemunduran?

Well, its been a long time since I update my blog talking about pekerjaan, dunia perkantoran dan dunia digital nomad yang menyenangkan. Yah, i think I wanna share one of my big revolution after being comfort with my daily routine as a freelancerI’M WORKING AND JOINING COMPANY now! XD
Hahaha maybe some of you ngakak deh baca prolog dari tulisanku kali ini. But, please stop laughing and let me explain you a story of me. I’ll to to explain by myself, so you guys bisa coba lihat dari perspektif kalian sendiri either itu dari perspektif freelancer atau perspektif karyawan full timer.

Satu tahun silam, aku menjalani karir sebagai seorang digital nomad, as a freelancer yang fokus di dunia content marketing, sosial media marketing dan digital ads yang you know guys pasti nggak asing di dunia ini. Yup, dunia ini sudah mendarah daging di aku selama satu tahun terakhir dan membuatku bisa menjadi diriku sendiri — yang suka jalan-jalan ke luar kota sambil bawa laptop. Atau bahasa sederhana dan kerennya sih, bisa kerja di mana saja as a digital nomaden.

Itu lhooo, orang yang kerjanya pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain kayak kutu loncat. Nggak ikutan gabung di satu perusahaan, tapi tetap mengerjakan project gituuu. Hihihi sounds fun ya kan? Tapi ya nggak juga seeehhh hahahaha.

Menikmati Indahnya Menjadi Digital Nomaden

Aku bisa bilang bahwa jadi digital nomaden itu salah satu pencapaian yang luar biasa menyenangkan. Bisa kerja kapan saja semaunya, dimana saja, dan yang jelas nggak terbatas ruang dan waktu. Selama jadi digital nomaden, aku biasanya pindah-pindah kota. Mulai dari ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Purwokerto, dan sampai ke Turki. Ah, such a wonderful experience, sih. Sungguh pengalaman yang nggak akan pernah bisa aku tukar dengan uang.

Meskipun pernah jadi orang konyol yang bawa laptop ke gunung dan nyoba bukain ads & business manager di gunung, tetap saja aku nggak pernah menyesal sedikitpun jadi orang yang konyol karena sebab tersebut. Hahahaha. Asyik soalnya jadi orang aneh di antara orang yang normal. Eh maap nih, jadi aku ini normal atau nggak sebenarnya? Skip ~

Menjadi digital nomaden juga mempertemukanku kepada banyak hal, mulai dari ketemu klien yang normal sampai aneh-aneh, ketemu sama partner kerja yang kerjaannya rapi sampe super bikin naik darah, hingga dicap sebagai influencer mata duitan karena aku itu jarang banget gabung ke event gratisan. Ya Allah, aku nggak matre kok beneran, deh. Tapi ya emang kalau ada event berbayar mendingan dateng ke event berbayar daripada gratisan *ehhhhh. Kecuali, event itu berupa event untuk belajar bareng-bareng. I mean, aku bisa belajar banyak dari event tersebut. Tsaaahhh ~ Pinter amat kalo ngeles, kayak guru privat aja XD.

Flashback ke Perjuangan Bisa Menjadi Digital Nomaden Alias Freelancer

Kata siapa jadi freelancer itu mudah?
Kata siapa jadi freelancer itu enak?
Kata siapa hm kata siapa?

Monmaap nih yaaaa, yang bisa bilang kayak gini pasti nggak pernah ngerasain jadi freelancer sebenar-benarnya freelancer. Palingan ya kalaupun pernah, dia cuma nanganin beberapa klien aja dan nggak multitasking. Monmaap yaaa, tapi jadi freelancer itu nggak gampang :”)

Butuh waktu satu lebih dari tahun untuk bisa membangun personal branding yang cukup kuat untuk bisa mendapatkan klien dan dipercaya perusahaan untuk bisa handle berbagai macam jenis pekerjaan. Dulu, zaman sebelum aku kayak sekarang, bisa laptopan di mana saja, aku juga jadi karyawan di perusahaan Creative Agency di Jakarta, Bekasi, Semarang, dll.

Aku belajar banyak dari pengalaman gabung di agensi. Mulai dari anak bawang yang setiap hari cuma dimaki-maki sama senior karena tulisannya jelek, nggak bisa ngomong, nggak berani berpendapat, hingga akhirnya aku jadi Septi yang seperti sekarang ini.

Emang sekarang tuh Septi yang kayak gimana sih, Sep? Hahahaha nggak hebat-hebat banget, kok. Tapi yaaa alhamdulillah sekarang cukup bisa diandalkan dan bisa diajak diskusi perihal content writing, social media marketing, hingga digital advertising. Waaahhh, kayaknya keren, ya? Nggak juga sih, biasa aja sebenernya. Hanya alhamdulillah kebetulan mungkin aku lebih dulu tahu daripada teman-teman yang belum tahu saat ini. 🙂

Dimaki-maki Senior dan Nangis Setiap Pulang Kerja

Pait sih kalau inget momen beginian. Dulu setiap kali pulang kerja aku nangis di perjalanan pulang ke kosan. Apalagi ya, momen itu terjadi ketika aku baru pindah ke Jakarta. Stressnya itu lho Masya Allah. Peralihan dari anak desa ke anak kota, sampai peralihan dari anak bawang ke sekarang itu cukup makan waktu dan bikin sakit-sakitan. Sedih kalo inget. Sampai aku berkali-kali ke dokter, ganti-ganti dokter dan mereka bilang aku nggak ada gejala penyakit dalam karena semuanya normal. Dan kesimpulannya aku sakit hanya karena stress hahahahah. Sungguh bulan yang berat untuk hidup di Jakarta,

“Kok tulisanmu jelek banget sih. Ini nih yang kamu sebut tulisan? Kayak gini mah nggak usah belajar juga bisa.”
“Makanya kalau diajari tu dicatet, diinget di luar kepala. Diajari kok lupa terus, Capek tau ngajarin tuh kalau nggak ada gunanya begini.”
“Udah diajarin berapa lama masih nggak ngerti-ngerti juga? Disimak dong kalau ada orang yang ngajarin tuuu, jangan cuma dateng doang tapi nggak disimak.”

Deuuuhhhh, banyak banget deh kalau diinget-inget. Nggak guna banget rasanya waktu itu. Berasa kayak gue salah gabung perusahaan ga sih? Apalagi nih yaa, aku cuma pakai ijazah SMK. Kebayang dong mindernya ada di tengah-tengah teman-teman kantor Jakarta yang notabene-nya mereka adalah lulusan dari kampus-kampus keren dan dari jurusan keren di kampus mereka. Ada yang lulusan kampus Jakarta, Bandung, dll. Nah, aku? Remahan doang :”)

Yes, sebagai lulusan SMK, aku minder bukan main pada awalnya. Sampai akhirnya, aku ketemu sama dosenku, Pak Algooth dan senior kontenku, Innes Sabatini namanya. Aku bersyukur bertemu dengan mereka. Its like I get a gift from God. Anugrah ketemu mereka. Both adalah orang-orang yang cuek, tapi bener-bener bisa bikin aku tahan banting. Dari dikata-katain tulisanku jelek sampaaiiiiii dikatain karena masih kecil makanya suka labil :”).

Dibilang Hidupnya Enak Karena Bisa Jalan-jalan Kapanpun

Hellaaaawwww plissss, aku ini juga kerja, kok. Hahahha. Bedanya hanya kalau kalian mungkin kerja di kantor, terikat jam kerja, aku kerjanya lebih fleksibel baik dari segi tempat maupun waktu. Aku bisa jalan-jalan ketika kalian kerja. Aku bisa bangun siang ketika kalian sudah harus ke kantor. Kayaknya enak, ya?

Padahal, sisi freelancer yang tidak kalian tahu adalah kami ini jam kerjanya lebih gila dari kalian, loh. Kami bekerja saat weekend. Kami bekerja saat kalian tidur. Kami bawa laptop saat perjalanan bahkan membuka laptop di atas motor atau di atas kereta. I did it. Iya, aku pernah buka laptop di motor. Mulai dari nulis, sampai ngeceki iklan yang aktif. Emang nggak capek? YA MENURUT NGANA AJA! Eh maap ngegas :)))

Setelah Hampir Setahun Bekerja Secara Nomaden, Akhirnya…..

I
t isn’t that easy as you guys can see to decide that
FINALLY SEPTI NGANTOR LAGIIIII.  Jujur, nggak ngerti harus seneng atau sedih ketika pertama kali baca email yang intinya adalah “welcome to the team, Septi ^^”. Its too warm for me to feel hurt inside of me :“). Dan tepat nggak nyampe 5 menit setelah aku mendapatkan telepon dari CTO kantor sekarang dan email resmi bahwa aku bisa bergabung di kantor, aku nangis dong WUAKAKAKAAK. Nangis? Seorang Septi nangis? Jarang-jarang kan seorang Septi nangis dan ini beneran dong beneran banget nangis nyesek gituuu semacam kayak ada unek-unek di kepala dan kalo ni hati bisa teriak bakalan teriak “GUE BENERAN NGANTOR LAGI,NIH?” :”)

Kok sedih? Kan padahal cari kerja itu susah…
Kok sedih? Kan udah enak kerja tapi nggak perlu ngelamar..
Kok sedih? Kan enak kerjanya di Semarang dan deket rumah..

It doesn’t about the salary, it doesn’t about the time, that is all about the chance. Yap, aku harus melepaskan banyak sekali kesempatan setidaknya dalam tahun 2018 ini. Kesempatan untuk bisa ikut serta dalam Ubud Writer Fest yang aku dambakan selama 3 tahun ini harus kandas juga akhirnya. Belum lagi, aku harus melepaskan kesempatan untuk berangkat ke Slovenia dan Kroasia dengan jalur beasiswa. Kesempatan untuk bisa jadi moderator roadshow ASEAN GAMES 2018 di kota-kota Indonesia dan banyak kesempatan lainnya.

Sedih!
But, this is life. Sometimes we only need to accept about everything in the world for us.

Awalnya Bisa Kerja Company Lagi Gimana Ceritanya?

Doa itu emang sebaik-baik ucapan. Dan tolong, kalanian hati-hati dengan doa, umpatan dan semua keluhan kalian hahahaha. I can say this because this is the part of my dua anyway. Beberapa wakt terakhir sebelum akhirnya ngantor aku dapet klien macem-macem cukup banyak dengan tabiat dan karakter yang Masya Allah bener-bener bikin jantungan, ngelus dada dan istighfar banyak-banyak XD.

Jam kerja jadi berantakan (((emang aslinya udah berantakan sih))) tapi jadi makin berantakan. Terus bener-bener waktu tersita banyak, nggak tenang dan anything else, lah. Then, sering banget kayak ngomong lirih:

“ya Allah, aku capek jadi freelance. Pengen kerja di kantor yang gajinya tetap tiap bulan dan kliennya nggak model-model begini.”
“ya Allah, kalau ada kantor agensi atau apa deh yang modelnya kayak agensi Jakarta tapi ada di Semarang asik kali yaa.”
“Pengen deh kerjanya nggak sendirian, ada temennya, ada temen ngobrol, temen brainstorming, temen lah pokoknya. Kerjanya nggak di kafe sendirian, jalan-jalan sendirian terus.”

Anndddd dooor!!!!!

Beneran kejadian dong :”) terus akunya yang sedih! Wakakakaakaka. Ternyata manusia emang gitu ya, nggak bersyukurnya banyak! Padahal udah minta ini itu aneh-aneh dan dikabulin, tapi malah sedih. Sedangkan di luaran sana banyak yang tidak seberuntung aku yang alhamdulillah dikasih kesempatan lagi untuk belajar.

HAH BELAJAR?

Yup.. Pada akhirnya mengapa aku menerima tawaran untuk bisa bergabung dengan kantorku yang sekarang adalah karena aku ingin belajar. Tentang apa? Tentang banyak hal. Tentang sosialisasi, tentang digital marketing again pastinya, tentang society, tentang banyak hal yang nggak akan ada habisnya ilmu itu.

Sebab, kalau dari awal niatnya cuma uang, kerjaan pasti jadi setengah-setengah. That’s why aku selalu bilang ke diriku sendiri bahwa di manapun aku harus belajar dan dapat sesuatu dari sana alias nggak cuman buang-buang waktu aja dan doing nothing. Duuh, it’s not meee XD. Aku dengan curiousity yang bikin orang sering kesel ini paling nggak bisa kalau nggak nanya sesuatu apalagi kalau hal itu baru banget buat aku. Bisa sampe mumpluk nanyanya hahaha

In the end, i would like to said that being a freelancer or full times, both are have the plus and minus. Semuanya tergantung kita banget mau ambil dari perspektif yang mana. Baik buruknya porsinya sama. Tinggal porsi bersyukurnya. Bisa nggak kita jadi orang bersyukur? Dalam hal ini aku — kadang buat bisa bersyukur itu ada aja godaannya. Padahal, banyak yang pengen bisa dapat posisiku, tapi akunya suka leda-lede bersyukurnya. Astagfirullah :”)

And how lucky I am bisa bergabung ke dalam company yang menyenangkan, mulai dari sistem kerja, teman-teman, jam kerja, ambiance dan banyak hal lain yang semenyenangkan itu.

So, it’s okay to come back to be a full timer again asalkan jangan sampai lupa bersyukur karena:

Hidup yang kita jalani adalah hidup yang orang lain inginkan.

Jadi, Apakah Sebuah Kemunduran Bagiku dari Menjadi Freelancer dan Kembali Menjadi Full Timer di Kantor?

ABSOLUTELY NO kalau buat aku.

Tidak ada salahnya untuk kembali ke perusahaan, untuk belajar, untuk mengaplikasikan ilmu, untuk kembali mencoba hal baru — belajar tentang bagaimana caranya berinteraksi, belajar tentang bagaimana caranya bekerja bersama tim, belajar tentang hal teknis dengan case-case baru lagi tentu saja.

Yaaa meskipun tidak ada lagi bangun siang, bobo siang, tidur kapanpun, lembur kapanpun, libur kapanpun, jalan-jalan kapanpun, Tidak akan adalagi nonton drama korea sampe lupa waktu, tidak akan ada lagi ngopi semaunya, tidak akan ada lagi mblayang semaunya. Tidak akan ada lagi cerita enak jadi freelancer wkwkwkw.

Nggak deeeeng nggak gitu banget juga. Kerja juga masih bis amain, masih bisa nongkrong, masih bisa ngelakuin hal menyenangkan lainnya, kok HEHEHEHEHEHE asal pinter manage waktu aja :)))

Salam,
Freelancer yang akhirnya jadi anak kantoran (lagi)

Para Peminum yang Tak Punya Waktu Tidur

Image from: Google with edit
Waktu menunjukkan pukul 23.57 WIB. Iya, waktu sudah larut, hampir menjelang dini hari. Tapi masih saja kampung ramai akan orang-orang yang kenal waktu tidur. Di atas meja dan kursi tempat mereka duduk, seperti biasa ada botol-botol miras yang sebut saja tak pernah absen kulihat setiap kali aku melintas.
Beberapa di antaranya selalu memandang ke arah kami, orang-orang yang tengah menuju masjid saat waktu shalat tiba, termasuk hari ini. Iya, beberapa berdiri, memasang mata mereka, seolah mengunci fokus pada target dan siap melakukan “catcalling” atau sekadar menyapa dengan salam. Eh ini termasuk “catcalling” juga kan, ya?
Benar, lokasi tempat mereka, para peminum biasa berkumpul ada di jalan menuju masjid. Sebelum lorong kecil yang kami lalui, mereka biasa memenuhi halaman salah satu rumah dengan motor berjejeran hingga menutup jalan dan atau memenuhi dengan kursi dan duduk memenuhi teras. Aku tidak melihat kegiatan berfaedah yang mereka lakukan, selain hanya duduk, begadang degan ditemani botol-botol minuman yang seharusnya tidak ada di meja itu.
Ini bukan pertama kali aku melihat. Bahkan, bisa dibilang ini adalah makanan sehari-hariku. Sejak kecil, aku seolah telah terbiasa dengan kelakuan mereka yang tak jarang membuat warga kampung merasa insecure. Tahu kenapa? Ketika mereka hilang sadar, bukan hanya teman minumnya yang jadi korban, namun seringkali warga tak bersalah juga jadi korban. Dan kelakuan mereka beberapa kali menyeret mereka keluar masuk bui. Tapi, apa yang terjadi? Hukum selalu bisa dibeli dengan uang dan mereka kembali dengan aktivitas yang sedemikian membuat warga resah. Aku salah satunya.
Aku masih ingat betul beberapa hal tidak pantas yang aku lihat kala mereka hilang sadar. Dulu, saat aku masih memakai seragam, ada seseorang hilang sadar dan dia duduk, sesekali bersujud, menyembah rumah salah satu kyai di kampung selama beberapa hari dan membuat keluarga sang pemilik rumah takut untuk sekadar keluar rumah. Saat diajak pulang, ia kembali lagi dan begitu terus selama beberapa hari.
Aku, yang hanya tetangga yang tinggal di samping rumah pun merasa tidak nyaman melintas di depan rumah pak kyai. Sebab, sesekali ia, sang peminum yang hilang sadar berdiri dan berteriak sendiri. Kebayang nggak sih kalau pas aku lewat terus dia datengin aku dan teriak gitu? Hahahaha kan ngeri. Btw, ini hahanya jangan dianggap bercanda, ya.

Bambu yang panjang, balok kayu yang besar kerap kali jadi senjata untuk memukul yang mereka anggap lawan.

Tempat di mana mereka biasa berkumpul, di rumah sebelum lorong menuju masjid, sering terjadi drama. Tiba-tiba ada saja yang berteriak lalu mencari balok kayu atau senjata apapun yang bisa ia genggam, untuk bisa ia pukulkan ke lawan yang ia incar. Siapa lawannya? Entah. Siapa saja tiba-tiba bisa jadi lawan. Parahnya, kalau lawannya sama-sama mabok, yang jadi korban bukan hanya meraka berdua, tetapi orang-orang yang berusaha memisahkan mereka. Ngeri kan? Hahahaha aku pun kalau boleh pergi dari tempat ini, aku akan pergi sejauh yang aku bisa. Menjaga jarak dari mereka.

KDRT Bukan Lagi Hal yang Tabu

Seberapa parah KDRT yang ada di bayanganmu? Kalau di sekitarmu seringkali ada kekerasan dalam rumah tangga saat ada pihak baik dari istri atau suami saling tampar, itu biasa buatku. Di sekitarku, tak jauh dari rumah bahkan sering terjadi KDRT yang sungguh, kamu akan merasa bahwa mati baginya lebih baik daripada harus menanggung siksa yang naudzubillahimindzalik.
Salah satu contoh yang pernah kulihat dari jendela kamarku sendiri malam itu adalah saat ada perempuan yang rambutnya dijambak oleh satu orang laki-laki. Mau tahu kasusnya apa? Jadi, sore hingga malam waktu itu, tersebutlah sekumpulan anak muda sedang berpesta minuman di salah satu rumah. Mereka mengundang satu wanita penghibur yang dibawa oleh salah seorang dari mereka. Dan ketika si A, sebut saja begitu. Membawa sang wanita ke dalam kumpulan mereka dan si B ingin sang wanita juga menemaninya dan si wanita mau, si A yang hilang sadar tidak terima.
Si B dihajar habis-habisan oleh si A. Si B membalas dan terjadilah pertengkaran di antara mereka. Dan yang kulihat dari balik jendela kamar adalah ketika sang wanita, rambutnya dijambak oleh si A dan disalahkan si A, dimaki habis-habisan, diseret karena si A merasa telah membayar si wanita dan ia merasa dikhianati.
Kalau kamu wanita dan melihat hal seperti ini, kamu akan bersikap apa? Warga sekitar bahkan takut melerai. Warga bahkan takut akan ada korban jiwa sebab nyawa selalu jadi taruhan saat mereka hilang sadar. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bisa berpura-pura betah ada di tengah-tengah lingkungan mereka.

Kebiasaan yang Selalu Menjadi Hal Baru Bagi Mereka

Sungguh, ini sudah lama dan mungkin sudah beberapa generasi. Sejak aku masih kecil, pemandangan lumrah ini sudah ada. Tapi, tidak bagi mereka. Bagi mereka, peminum yang tak punya waktu tidur, ini adalah penyakit musiman. Yang kadang hilang dan kadang timbul. Mereka seringkali membuat zona waktu mereka sendiri.
Dan tahun ini, tren togel sedang marak di sini. Kalau kamu tidak asing dengan istilah HK dan SGP, maka selamat datang di dunia togel yang membuat mereka kecanduan. Hahaha ngomong-ngomong soal togel aku jadi ingat. Kala itu, di pekarangan belakang ruma yang ada pohon kelengkeng berdiri kokoh, ada seorang bapak-bapak yang hilang sadar berdiri di depan pohon. Ia diam, lalu mengobrol, lalu diam, dan ia bercakap-cakap dengan pohon meminta pencerahan tentang nomor togel keberuntungan. Wallahi, sedih liat pemandangan seperti ini.
Aku tak punya kuasa bahkan untuk sekadar bertanya ia sedang berbuat apa dan untuk apa. Aku hanya tahu bagaimana menutup mata, telinga, dan pintu rumah saat harus melihat hal-hal seperti ini terjadi. Hahahaha, iya, ibu selalu memintaku untuk buta dan tuli setiap kali kejadian seperti ini harus membuatku berpikir dan bersedih hati.
Mengapa aku menyebut mereka para p
eminum yang tak punya waktu tidur? Sebab hingga hari ini, sejak aku masih bayi, hingga pagi bahkan saat aku membuka mata, mereka selalu terjaga. Entah apa yang mereka lakukan, tapi sungguh ini bukan kabar baik untukku. Aku dan warga lain yang merasa tidak nyaman ini butuh perlindungan dari orang-orang yang seringkali bebas, meski seringkali keluar masuk bui.

Kenapa Nggak Lapor Aparat Berwajib Saja?

Well, cara ini sudah berkali-kali dilakukan oleh warga. Dan hasilnya selalu sama. Yang tertangkap, berhasil diciduk, selalu bisa lolos, dengan uang jaminan yang diberikan. Lalu, kebiasaan seperti tersebut di atas kembali terjadi, begitu dari aku tidak mengerti hingga kini sampai lelah hati.
Salam,
12 Juni 01.20 WIB
dari aku yang baru saja melintas di depan konferensi para peminum yang tak punya waktu tidur

Perjalanan Seperti Apa yang Kau Dambakan Untuk Menemanimu Menuju Rumah?

Menjadi anak rantau itu sulit. Apalagi jika setiap bulan sekali harus pulang ke kampung halaman.
Aku harus selalu berebut tiket dengan perantau lain yang ingin pulang dari riuhnya metropolitan.

Pernah bayangin nggak rasanya menempuh perjalanan jauh secara kilat, tetapi frekuensinya luar biasa sering. Aku mengalaminya secara langsung selama satu tahun ini. Dimana setiap Hari Jumat malam pulang ke kampung halaman Semarang dan menempuh perjalanan dengan kereta selama 7 jam, sampai di kampung halaman Sabtu Subuh dan Minggu malam harus kembali ke Jakarta, si kota metropolitan dengan menempuh perjalanan 7 jam lagi. Itupun kalau keretanya nggak delay!

Iya, aku menghabiskan empat belas jam lamanya di dalam kereta ekonomi, berbagi tempat dan ruang bersama penumpang lain, berdesakan dengan tas dan barang bawaan merea hanya demi bisa bertemu dengan keluarga. Dan itupun tidak lebih dari 48 jam lamanya — tidak lebih dari dua hari penuh. Such a tiring trip. But, i did it!

Semua lelah rasanya tidak sebanding dengan bisa menatap wajah kedua orang tua di rumah yang menanti dan berharap anak perempuannya ini bisa sampai dengan sehat walafiat dan selalu membawa kabar baik. Tidak dengan topik suasana kantor yang menyebalkan atau manusia-manusia metropolitan yang terkenal kejam.

Aku melabuhkan hatiku pada kereta api untuk menjadi armada yang menemani perjalanan panjangku. Tiada sebab lain yang membuatku bertahan pada gerbong-gerbong yang sekilas terlihat sempit itu selain keramahannya. Bagiku, bisa duduk berbaur dengan orang asing itu asyik. Aku jadi bisa melihat sisi lain kehidupan dari perspektif baru.

Di gerbong-gerbong itu selalu terjalin percakapan sederhana antar penumpang yang saling tak kenal sebelumnya. Sesederhana pertanyaan, “tujuannya mau ke mana, mbak?” atau sekadar pertanyaan basa basi, seperti “kerja di Jakarta, mba? Saya juga, lho.” Lalu percakapan mengalir dan mulai beranjak ke mana ia menemukan topik ternyamannya. Kamu sudah pernah merasakannya? Aku sering dan itu menyenangkan.

Belum lagi, gerbong-gerbong kereta yang terlihat diam itu di dalamnya ternyata menyimpan kehidupan yang menyegarkan bagi mata dan membukakan perspektif dunia dari sisi yang lain.
Gerbong kereta ternyata menyimpan cerita seorang ibu yang susah payah menghibur anaknya yang sedang rewel di dalam kereta, kisah pasangan kakek nenek yang berjalan bergandengan untuk mencari bangku mereka, kerja keras para porter tengah membantu mbak-mbak atau ibu-ibu yang merasa kerepotan dengan barang bawaan, polosnya wajah balita-balita lucu yang sesekali muncul di balik bangku kereta ke arahku hingga duduk di samping balita yang tidak mau dipangku oleh sang ibu. Lucu sekali tingkahnya.

Dan aku selalu bahagia bisa berinteraksi dengan mereka dan lupa bahwa empat belas jam bukan waktu yang singkat untuk ditempuh dalam keterbatasan waktu — aku, menikmatinya.

Aku larut dalam ruang dan waktu – menikmati perjalananku bersama orang-orang asing yang menjadi keluarga sementara di dalam gerbong kereta kesayanganku.

Mungkin omong kosong bila aku tidak suka jalur udara – pesawat. Namun, perlu dipahami bahwa jalur udara itu selain harus memiliki uang yang sedikit lebih banyak, aku juga harus memiliki kepentingan yang menuntutku untuk bisa terbang segera agar bisa sampai dengan kilat. Dan kereta, adalah solusi yang tepat bagi manusia sepertiku dengan kantong pas-pasan dengan frekuensi bolak balik kamping halaman-ibukota yang lumayan sering. 

Tetapi, dibandingkan pemandangan pesawat dari ketinggian yang luar biasa menakjubkan itu, ada hal yang tidak bisa dibeli dengan uang bila aku naik kereta api untuk mengantarku dari dan ke kota tujuanku. Ialah kemanusiaan – dimana toleransi, berbagi, keramahtamahan lebih bisa didapatkan dengan mudah jika harus disandingkan dengan penumpang pesawat yang cenderung individualis karena kepentingan untuk lekas sampai ke tujuan.

Di kereta, tak jarang aku tiba-tiba mendapatkan informasi terbaru dari penumpang lain. Saat aku bertemu dengan para pendaki yang baru pulang, aku jadi tahu bahwa gunung itu tidak semenakutkan itu bila kita memiliki niat dan tujuan yang baik. Aku yang tidak tahu apa-apa tentang gunung jadi paham bahwa naik gunung bukan sekadar untuk eksis belaka, melainkan untuk untuk melakukan kontemplasi (perenungan terhadap diri sendiri) sekaligus melakukan tadabur alam.

Di kereta, aku jadi tahu bahwa tidak semua anak kecil yang menangis bisa didiamka
n hanya dengan cara digendong begitu saja. Beberapa diantara mereka butuh dimengerti bahwa kereta itu memang tempat yang kecil, mereka butuh protes sebab ruang gerak mereka begitu terbatas. Bahkan, beberapa diantaranya lebih merasa nyaman untuk duduk dibangku sendiri daripada harus duduk di pangkuan ibunya yang selama ini digadang-gadang hangat tak tergantikan. Anak kecil, entah mengapa selalu punya sisi unik tersendiri bagiku yang sudah mulai berumur ini.

Dan dalam setiap perjalanan menuju rumah, aku selalu menemukan banyak rumah di gerbong-gerbong kereta ekonomi. Sebab rumah ialah tempat di mana hati berada, bukan hanya sekadar alamat belaka. Pada setiap jiwa-jiwa perantau yang akan pulang, aku melihat jauh ke dalam mata mereka ada binar-binar kebahagiaan yang tidak bisa dideskripsikan.
Aku pernah beberapa kali bercakap pada perantau dari beberapa kota dalam beberapa waktu. Salah seorang diantara mereka mengaku bahwa pulang Jakarta ke Kediri membutuhkan waktu tempuh hingga empat belas jam dan ia selalu pulang dua minggu sekali. Ia pulang untuk anak dan istrinya di rumah yang menantinya.

Seseorang yang lain pulang, mengambi cuti rutin dan sesekali meminta dispensasi untuk bisa lebih lama di rumah agar bisa duduk bercengkrama dengan orang tua mereka. Aku merasa kalah. Tujuh jam perjalananku ternyata masih biasa saja jika dibandingkan dengan mereka.

Dan di dalam gerbong-gerbong kereta yang bisu itu, ada banyak rumah yang dirindukan oleh para perantau dari ibukota. Mereka, para perantau membawa harapan baru bagi keluarga di kampung halaman. Aku makin takjub dengan perjuangan mereka dalam menempuh ruang, jarak dan waktu.

Bayangkan saja, duduk sendiri menjadi orang asing dan bertemu dengan orang asing dan harus duduk menghabiskan perjalanan bersama mereka selama empat belas jam itu sulit. Apalagi, bagi seorang introvert sepertiku, aku akan lebih memilih banyak diam jika tidak ada yang memulai percakapan 

Ada hal yang selalu aku takutkan setiap kaii ingin dan akan pulang. Aku takut tidak bisa pulang karena harus berebut tiket dengan para perantau yang rindu kampung halaman lainnya. Lebih-lebih kalau pas lagi high season, sepertii tanggal merah di Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Udah deh, tiket pasti sudah habis tiga bulan sebelum Hari H. Gimana enggak coba? Lawong yang hari merah biasa aja rebutannya naudzubillah, gimana kalau pas lebaran kan hahaha. 
Aku pernah merasakan habis tiket tepat saat long weekend dan akhirnya memutuskan pulang ke kampung dengan moda transportasi bus. Lalu, aku menyesali pilihanku sendiri hahaha. Sebab, waktu tempuh empat belas jam yang biasanya aku gunakan untuk pulang pergi hanya habis dalam sekali perjalanan saja. Kalau ditanya bagaimana rasanya, aku lebih baik di kosan nyuci baju daripada harus mengulangi kesalahan yang sama ehe.

Bukan hanya bosan, lelahnya itu lho nggak ketulungan. Itulah sebabnya aku merasa kalah seperti yang telah aku jelaskan di atas. Aku kalah dengan perjuangan pernatau lain yang jauh jauh lebih gigih jika dibandingkan perjuanganku yang baru begitu saja.

Sekarang, betapa bersyukurnya aku hidup di zaman yang serba digital. Dimana aku bisa mendapatkan apa yang aku mau hanya dalam satu genggaman saja. Sejak kenal dengan Traveloka aku teramat sangat terbantu untuk reserve jadwal kepulanganku bahkan ketika high season – ketika semua orang ingin pulang dan berisitirahat dari hiruk pikuk metropolitan. FYI, tiket Idul Fitri selalu habis tiga bulan sebelum Hari H.
Kebayang nggak tuh gimana hecticnya kami para perantau memperjuangkan ego kami masing-masing demi bisa pulang? Hehehe. Bahkan, saat-saat seperti ini, teman pun jadi lawan. Selama aku bisa pulang, ya aku akan mendahulukan diriku terlebih dahulu, baru temanku hahahaha.

Tapi, semua berubah sejak aku kenal Traveloka. Aku yang biasanya ‘nitip pesan jadwal’ ke temanku jadi nggak perlu takut kehilangan kursi. Sebab, aku bisa memesannya sendiri, meskipun aku sendirian ataupun tengah malam di kamar kosan. Hanya dengan satu aplikasi saja, aku bisa melakukan reservasi tiket kapanpun sesukaku.

Aku pernah mengalami bagaimana rasanya bingung nggak bisa pulang, sendirian di tanah rantau dan kehabisan tiket kereta atau moda transportasi lain saat ingin sekali pulang. Sedih, udah anak rantau, anak kosan, sendirian pula. Mending kalau kosan ramai, kosan kan juga sepi, hahahaha kasian banget ya aku kayaknya XD.

Nggak apa-apa, deh soalnya sekarang kan aku sudah aman-aman aja hehehe. Jadinya, sudah anti bingung lagi kalau misalkan mau pesan-pesan tiket entah buat pulang PP kampung halaman metropolitan atau untuk beli tiket bakal jalan-jalan ngebolang hahahaha.

Sekarang mah udah rebes banget mau pesan bangun tidurpun udah langsung bisa bisa aja. Lagi ngojek di atas motor pun bisaaaaaaaa banget hahahhaha. Sambil menyelam minum air kalau aku mah. Jadinya sambil naik motor menempuh perjalanan, sambil pesan tiket untuk perjalanan yang lain. Anaknya emang sekalian banget gitu nggak mau repot huahahahaha. Simpel banget lah pokoknya!

Ditambah lagi, aku sudah memiliki m-banking dan e-banking yang mana membuatku bisa langsung melakukan pembayaran saat itu juga tanpa harus ke minimarket terdekat. Jadi, kalau ada yang bilang anak zaman sekarang itu terlalu gandrung dengan gadget, maka aku ingin tertawa saja rasanya hahahha. Karena mungkin jika aku bukan anak zaman sekarang, aku nggak akan pernah aware dengan aplikasi Traveloka dan kemudahan-kemudahan yang bisa aku nikmati di dalamnya.

Sekarang, setiap kali aku butuh tiket, aku cukup buka aplikasi, isi stasiun awal dan stasiun tujuan, tanggal keberangkatan, memilih kursi yang aku ingin singgahi, menyelesaikan pembayaran daaaannnnn bayar, deh. Praktis abis sekarang. Malahan bisa bantu teman-teman atau orang asing yang sedang kesulitan memilih tiket.

Aku pernah nongkrong di Indomaret point di Pandanaran Semarang. Aku melihat bapak-bapak tengah kesulitan memilih tiket untuk Beliau pulang. Karena aku pernah merasakan betapa menyedihkannya nggak bisa pulang kampung dan kebetulan aku paham, maka aku mendekati bapaknya dan bertanya kepada Beliau.

Lalu, tanpa banyak basa-basi aku membantu beliau untuk pesan tiket melalui Traveloka. Taraaaaa!!! Tiket yang awalnya nggak ada di minimarket itu dengan keterangan “Kereta Habis atau Kursi Tidak Tersedia” bisa- bisa aja tuh dicari di Traveloka. Iyes, beda banget dan aku pada saat itu jadi makin bangga sama Traveloka sebab dia punya banyak stok kursi dan real time untuk ditampilkan. Jadi makin cinta deh, ah hahaha.

Asyiknya pakai aplikasi Traveloka itu hemat waktu dan hemat tenaga. Kalau zaman baheula harus antri ke stasiun untuk bisa pesan tiket, sekarang cukup buka aplikasi, masukin tujuan dan tanggal, konfirmasi, bayar, deh! Jadi makin hemat, kan? Hihihi
Apalagi kalau harus melakukan perjalanan tiba-tiba dan tak terduga. Bisa banget tuh pakai Traveloka. Kayak dulu, pas waktu masih pertama kali merantau ke Jakarta dan dapat kabar nenek meninggal di Semarang. Duh, udah gatau lagi tuh mau gimana, dan akhirnya yaudah pesen aja tiket d Traveloka biar cepet.

Waktu itu aku pesan tiket kereta eksekutif, karena memang butuh waktu yang lebih cepat dari kereta ekonomi. Dan eng ing eeeennggggg gampang banget dooooong caranya. Praktis abiiissssss. Apalagi aku juga pakai m-banking kan, jadinya bisa langsung transfer tanpa repot saat itu detik itu juga hihihi.

Btw, temen2 udah pernah nyoba Traveloka belum? Kalau belum, ini ada infografis sederhana deh bisa dilihat dulu. Gampang banget, kok! Nggak pake ribet-ribet. Coba deh dilihat dulu.
Gimana manteman? Super gampang, kan pesan tiket di Traveloka? Jadi, udah cucok banget nih kalau si Traveloka ini dibawa kemana mana dan dikantongin di saku celana. Bahkan, kalau punya aplikasi Traveloka di smartphone itu bisa banget buat bantuin orang lain yang lagi susah ataupun emang butuh bantuan untuk beli tiket dadakan.

Kalau aku sih, selain buat sendiri aku juga suka pesenin buat temenku karena dia masih kurang paham kalau pesan tiket itu bisa lewat aplikasi. Dan biar sekali kerja, biasanya aku pesan dari aplikasi dan akun Travelokaku.

Mayan kan, dengan makin banyak pesan makin banyak benefit. Ah iya, kalau pesan di Traveloka itu ada keuntungan lain juga, lho! Poin! Iya, kamu bakalan dapat poin setiap kali pesan tiket kereta di Traveloka. Nantinya, poin yang terkumpul ini bisa ditukar dengan tiket atau promo lain yang sedang berlaku. Jadi bisa tambah ngirit deh ehehehe anaknya irit banget ya aku. Gimana, asik banget, kan?

Terus nih terus, nggak cuma bisa pesan tiket kereta aja kalau pakai Traveloka. Alias, bisa pesan banyak tiket sekaligus di Traveloka jadinya irit banget nget nget nget. Apalagi ada promo bundling dari Traveloka kayak pesan Tiket Pesawat + Hotel bisa lebih murah. Ada juga nih promo pulsa internet. Cucok meong buat kalian yang kayak aku gini, cari diskonan mulu kerjaannya hahahha.

Dan kecenya di Traveloka ini, kamu jadi bisa pesan tiket event yang on going atau mendatang gitu. Jadinya yaaa begitu, deh. Praktis abeesssss. Nggak ada tu ngantri-ngantri buat bisa dapat tiket event yang murah atau gratis malahan. Pakai Traveloka aja udah beres, kok!

Kalau aku sih yang sering banget kepakai beli tiket kereta sama hotel. Gakuat beli tiket pesawat shay! Hahahah. Nih, buat teman-teman yang masih galau install Traveloka, lihat grafis ini dan pertimbangkan sendiri deh betapa menguntungkannya Traveloka. Dijamin nggak akan nyesellllllll XD.

Waaaahh nggak nyangka bisa nulis sepanjang ini kek kereta beneran hahaha. Abisnya kalau nyeritain tentang perjalanan dan kereta nggak akan ada habisnya, sih. Pasti pengen cerita lengkap gitu soalnya Traveloka bantu aku banget untuk jadi bisa ke mana-mana dengan kereta. Mau ke luar kota dari atau menuju ke Jakarta pun gampang dan nggak ribet. Tinggal klik aja, selesai, deh!
Apalagi aku kan anaknya nggak mau ribet banget, yak. Jadinya yaaaaa ngapain gitu maksudnya pake empet-empetan atau antri di event. Males ke warung juga btw kalau harus beli pulsa meskipun butuh heheheh. Dasar emang ini bocah malesnya naudzubillah banget XD. Tapi yaa mumpung jomblo lah yaaa males-malesannya di puas-puasin sek sebelum nanti akhirnya nggak jomblo lagi.
Lhooo ini apa ini kok bahas kereta jadi sampai jomblo? Hahaha. Udah udah udah, udahan aja sampe di sini. Intinya, kalau belum install Traveloka, gih, install! Gih cobain sendiri betapa praktisnya pakai Traveloka dan bukti
kan sendiri kalau aplikasi Traveloka #JadiBisa bikin teman-teman serasa punya kantong Doraemon karena bisa ngapa-ngapain hihihi.

Ini cerita perjalananku teman-teman, kalau kalian gimana? Share, dong! ^^

Selamat mencoba!
Salam

Apakah Kamu Termasuk Gen Z? Coba Baca Dulu Tulisan Ini!

“Kok lo bisa sih sambil kerja sambil makan sambil dengerin cerita?”
“Lo nggak pusing apa Sep pegang laptop ke mana-mana?”
“Itu smartphone nggak bisa gitu ditaruh dulu?”
Pernah mendapati pertanyaan-pertanyaan seperti di atas? Aku pernah, sering lebih tepatnya. Pertanyaan ini seringkali muncul ketika tengah berkumpul di suatu komunitas atau meetup bersama teman-teman. Sebagai seorang freelance yang hidup di dunia digital, rasa-rasanya pertanyaan ini terdengar seperti protes karena waktuku bersama gadget terasa lebih lama dibandingkan dengan dunia nyata.

Ah ~ memang tidak semuanya mengerti betapa menjadi seorang freelancer itu adalah hal yang penuh kebimbangan. Di satu sisi aku harus menjadikan gadgetku sebagai pacar pertama, sedangkan di sisi lain ada dunia nyata yang harus tetap kurengkuh agar aku tidak merasa aku jauh dari sebenar-benarnya duniaku.
Seperti dilema. Menjauhkan diri dari gadget bagiku dan para pekerja di dunia maya seperti bunuh diri. Bukan apa-apa, kami, aku terutama mendapatkan begitu banyak informasi dan benefit di sana. Tidak hanya satu dua, dari berita, hingga update teknologi terbaru bisa aku temukan melalui sosial media. Tentu saja setelah memfilter konten-konten alias bukan sekadar membaca informasi yang lebih banyak HOAX-nya daripada benarnya.

Selamat Datang di Dunia Gen Z, Selamat Bergabung!

Yash, selamat datang di dunia digital native, di mana anak-anak zaman sekarang cenderung lebih praktis dan lebih terbuka jika dibandingkan dengan masa lalu. Ciee masa lalu.
Kalau banyak yang mengatakan bahwa aku terlalu addict dengan smartphone, maka mungkin mereka memang belum terbuka dengan generasi Z alias Gen Z yang memang lebih fokus ke personal space dan cenderung addict dengan teknologi. Dan anak-anak sepertiku, cenderung lebih memilih kuota daripa makan mewah ala sosialita. Percaya, nggak?

dan ternyata baru ngeuh aku se serius ini kalau lagi di depan laptop
capture by: windisaras
Bagiku, kehabisan kuota internet itu paniknya bisa melebihi nyasar di kota orang sendirian. Soalnya, kalau ada kuota internet, nggak ada orangpun aku masih bisa buka aplikasi peta di smartphone dan tinggal ketik aku mau ke mana. Canggih, kan?
Dan yang lebih penting lagi nih, anak-anak sepertiku yang lahir dan hidup di dunia serba digital aliass Gen Z ini teramat sangat suka mengeksplorasi. Jadi, jangan sampai deh dikekang-kekang karena ini justru akan membuatku dan anak-anak sepertiku jadi nggak bisa berkembang. Hihi.. Makanya kalau di zaman sekarang nemu anak-anak kreatif, ya itu buat dari kebebasan kami untuk mengeksplorasi dunia yang kami sukai.

Sebenarnya Seperti Apa Sih Ciri-Ciri Gen Z Itu?

Gen Y, Gen X, sekarang ada Gen Z. Sebenarnya apa sih yang membedakan mereka dengan generasi sebelumnya?

Pernah nggak sih bertanya-tanya, si Gen Z ini gen apalagi, sih. Kemarin sudah ada gen X dan gen Y. Eh, lha kok sekarang ada Gen Z lagi, hmm…..

Jadi, kalau teman-teman merasa terlalu nyaman dengan smartphone, lebih takut kehilangan kuota daripada si dia dan punya sifat short attention span alias multitasking, maka teman-teman masuk ke dalam kategori Gen Z. Selain ciri tersebut, yang menandakan bahwa teman-teman adalah Gen Z sejati, yaitu saat teman-teman striving of freedom alias nggak suka dikekang di dalam kotak yang itu-itu aja. (((ini aku banget hahaha)))

Si Gen Z ini cenderung sensitif sama perubahan yang ada dii sekitar. Ya wajar aja, sih. Soalnya Gen Z ini terlahir untuk jadi smart dan lebih digital native. Terbuka akan informasi dan nggak mau dibohongi sama informasi yang nggak berbobot buat mereka. It means that, kalau mau serving konten buat Gen Z ini kudu pinter-pinternya. Soalnya kalau nggak pinter, yasudah deh nggak bakalan dibaca sama mereka.

Anak-anak Gen Z termasuk aku ini bisa dibilang perlu atensi lebih dari media yang ingin menjadikan kami sebagai target market. Lha kok, bisa? Yes, Gen Z punya typical yang kalau konten sedari awal sudah nggak menarik, ya siap-siap aja deh untuk nggak ditonton. Iklan, contohnya. Kalau Gen sebelumnya masih bisa disogok dengan visual berupa gambar, berbeda dengan Gen Z. Kami ini suka video format, tetapi jangan salah. Format video unskippable juga nggak banget buat kami. Nah, lho, bingung kan? :)))

Terus Gimana Dong Kalau Mau Deketin Gen Z?

Nggak cuma problematika para advertiser aja, sih. Banyak yang merasa gen Z itu terlalu gegayaan di zaman sekarang. Padahal sih, enggak juga. Lha wong memang mereka terlahir di dunia yang melek teknologi, kok. Jadi ya wajar-wajar aja kalau mereka terbuka akan informasi dari luar dan malah hal tersebut membuat para Gen Z ini jadi agak-agak berbeda dengan Gen-Gen sebelumnya.

Minggu lalu, aku berkesempatan ketemu Giring Ganesha. Iya, vokalis Nidji itu lho untuk duduk bareng sambil ngobrolin si Gen Z ini. Di H Gourmet n Vibes, Giring memaparkan bahwa Gen Z itu masuk ke generasi yang agak-aga
k susah dideketin. Soalnya mereka sudah smart, jadi bisa memilih dan memilah apa saja yang cocok untuk mereka.

Nah nah nah, kamu mau deketin gen Z atau deketin aku? Kalau mau deketin Gen Z itu ada triknya, soalnya. Ini dia:

– Provide the right content

Aku kan suka sama konten travel nih, nggak mungkin dong kalian maksain aku buat nyobain make up? :))) Bisa-bisa aku block karena bete akunya nggak bisa bedain mana eyeliner dan mana eye shadow :))

– Humor and Good Storyline

Kenal istilah dirty jokes? Itu lho, kalau becandaan jorok baru lucu. Itu mah udah lewat! Kalau sama gen Z mah, selama humornya punya storyline dan pesannya nyampe, asik-asik aja tuh buat di simak. Jadi ya, siapin aja konten yang sesuai sama Gen Z.

– Right Format dan Be Mindful of Video Ads Length

Seperti yang sudah aku mensyen di atas. Kami ini suka format video, jadi banyakin aja konten video. Tapi yang singkat aja, ya. Kami kan multitasking, agak susah kalau harus disuruh nontonin satu video dan itu harus fokus hihi.

– Right Context

Relevansi! Ah iya, pastikan konten yang mau disajikan ke Gen Z itu relevan. Soalnya nih soalnya kalau nggak relevan, jauthnya mubazir. Para advertiser nggak dapat manfaat. Para Gen Z juga nggak tertarik. Kan sayang ya, kan? Iya, sayang XD. *toyorpalasepti

Konten Kayak Gimana Sih yang Disukai Gen Z?

Hayooooo kalian tahu nggak konten kayak gimana yang bikin gen Z betah berlama-lama nangkring? Sudah tahu kincir.com, belum? Kalau belum, cus deh buka di tab baru di browser kalian. Di sana banyak banget konten-konten yang gen Z banget alias anak muda banget.

Seperti yang sudah aku singgung di atas, si Gen Z ini kan suka dengan perubahan zaman yang kian lama kian menarik, maka dari itu Kincir ini memfasilitasi keingintahuan Gen Z yang luar biasa tak terbendung. Dengan mengusung tag line masa kini, yaitu “We Are Young”, startup yang digawangi oleh Giring Ganesha ini menghadirkan 3 kanal baru dan mengembangkan dua kanal baru yang bisa kalian akses sebagai teman dikala bosan. *tsaaahhhhh *bakdumcessss

Emangnya kanal apa saja sih kok sampai harus baca KINCIR? Nih ya, nih!

– Geeky, Buat para lelaki yang masih muda dan cinta akan karya

Di kanal ini, ada banyak banget konten yang membahas tentang kebudayaan pop yang digemari oleh anak muda, khususnya laki-laki. Ada topik bahasan lengkap, mulai dari film, komik, game, anime, teknologi, hingga sains biar kamu jadi pinter. Nggak nyesel pokoknya kalau baca kanal ini. Super asik pokoknya!

– Chillax, teruntuk yang butuh panutan gaya hidup masa kini

Zaman kian lama kian canggih. Gaya hidup kian lama pun kian berkembang. Yang awalnya sederhana-sederhana saja, kini jadi super luar biasa bervarisi ragamnya. Nah, kalau kamu mau tahu lifestyle anak muda zaman kini, cus cus cus cek aja ke Kincir. Kanal Chillax ini cocok banget buat kamu karena di dalamnya banyak bahasan keren tentang pengetahuan dunia, relasi percintaan, hubungan buku, travel, musik, kuliner, kesehatan, edukasi, hingga pekerjaan. Lengkap, kan?

– Icon, kanal untuk kamu pecinta sosok

Suka action figure atau ngefans sama para influencer yang lagi naik daun? Kalau iya, cucok banget nih buat masuk ke kanal Icon. Pasalnya, kanal ini membahas sosok-sosok ternama yang tengah jadi sorotan. Ada banyak figur yang dibahas, mulai dari selebritas, figure yang tengah menjadi viral, dan tokoh yang menginspirasi di bidang apapun itu.

– Turbo, untuk si anak pencinta dunia otomotif

Hayolooo anak motor belum sah kalau belum masuk ke kanal Turbonya Kincir. Di kanal ini, pembahasan kendaraan dari basic, hingga modifikasi aksesoris otomotif yang digemari anak muda dikupas tuntas.

– Style, untuk kamu pencari inspirasi

Nah ini yang terakhir, nih. Kanal style alias kanal buat kamu yang mencari inspirasi dalam gaya, mulai dari bagaimana memadupadankan style berpakaian, aksesoris, sepatu, hingga gaya rambut masa kini. Jangan sampai ketinggalan berita dan bikin kamu pakai pomade rambut dari pasta gigi, ya! Hihihi
Jadi gimana? Setelah membaca tulisan di atas, kamu merasa bagian dari Gen Z atau malah merasa Gen Z itu generasi yang ajaib, unik dan aneh? Apapun jawaban kamu, jangan sampai itu membuatmu ketinggalan informasi terkini, ya! Makanya, kalau mau tetep stay tuned dapat informasi terbaru dan kekinian di masa sekarang, langsung aja kuy cek ke KINCIR.COM :))
Salam,

Bahagianya Bisa Menginspirasi dan Terinspirasi di Kelas Inspirasi Semarang #KISemarang4

Apa yang terpikirkan dalam benak teman-teman saat mendengar kata “relawan”?

Seseorang yang tidak dibayar
Seseorang yang suka dengan kegiatan sosial, atau
Seseorang yang suka pencitraan? *eh

Ada banyak persepsi tentang relawan, dan aku rasa semua persepsi itu benar adanya. Termasuk persepsi bahwa relawan itu hanya sebagai pencitraan belaka. Mungkin termasuk aku, yang memilih untuk menjadi relawan demi bisa membangun citra positif dari dalam diriku. Tetapi, sungguh lebih dari itu, aku punya visi dan misi yang mungkin tidak terlalu penting untuk diceritakan. Aku hanya merasa perlu membaginya karena bukan tidak mungkin teman-teman semua bisa mengambil hikmah dari setiap perjalanan yang aku tuliskan dalam blog ini.

Bukan tidak mungkin bila kita mengubah seseorang atau dunia hanya dengan melalui tulisan, bukan? 🙂

Ini adalah ceritaku tentang menjadi seorang relawan Kelas Inspirasi Semarang. Meski bukan yang pertama kali terjun ke dunia relawan, sosial dan pendidikan, kelas inspirasi adalah suatu hal yang baru bagiku. Perjalanannya untuk bisa diterima, hingga bagaimana berkoordinasi dengan orang-orang yang tidak pernah aku temui sebelumnya untuk bisa membuat suatu program kerja yang akan kami jalankan di Hari Inspirasi.

Bagaimana Bisa Kami Membuat Program Tanpa Tatap Muka?

Agak mustahil rasanya berdikusi dengan manusia yang baru dengan latar belakang yang berbeda dalam waktu kurang dari 2 minggu untuk mendiskusikan sesuatu yang besar, program kerja! Yes, kami yang saling tidak tahu menahu satu sama lain masing-masing memikul tanggung jawab yang luamayan berat untuk memastikan bahwa Hari H kami bisa menyelesaikan semuanya.

Menariknya lagi, para relawan KI terutama di kelompokku ini berasal dari berbagai macam kota, seperti Rembang, Yogyakarta, dll. Dan itu cukup menyulitkan kami untuk bisa berdiskusi secara keseluruhan. Beruntungnya, meski jauh dan tidak bisa kumpul secara lengkap, kami cukup bisa berkoordinasi dengan baik untuk mempersiapkan Hari Inspirasi. Alhamdulillah..

Jadi, teman-teman memang sengaja menyiapkan waktu luang di tengah-tengah kesibukan kerja untuk mempersiapkan hal-hal yang sekiranya akan dibutuhkan di Hari Inspirasi, mulai dari dress code, properti sampai games-games untuk membuat anak-anak tidak bosan.

Bertemu dengan Teman-teman Relawan Lintas Profesi

Kebayang nggak sih gimana rasanya menjalani profesi lain yang belum pernah dijalani sebelumnya? Jadi HRD, Perawat, Desainer, Jurnalis, Call Center, dll? Aku sih nggak pernah bayangin sebelumnya dan voila! Beruntung banget rasanya bisa ketemu sama mereka dalam satu kelompok yang sama, 17! Yap, di Kelas Inspirasi ini aku diberikan kesempatan bertemu dengan stranger yang bisa bikin aku melek akan profesi lain selain yang aku jalani selama ini.

Aku kagum sih sama mereka, teman-temanku sekelompok yang ternyata juga sefrekuensi sama aku, yaitu ingin bisa terjun langsung ke dunia pendidikan dan membagikan insight seputar profesi mereka ke anak-anak. It was pretty awesome!

Aku jadi terbuka tentang pekerjaan mereka yang tidak segampang kelihatannya. Yaaa kalau kata orang kan wang sinawang alias rumput tetangga selalu lebih hijau dari miliki sendiri. Tapi, setelah mengenal mereka, aku jadi tahu bahwa tidak ada satupun pekerjaan yang mudah dan tiap-tiap pekerjaan memiliki kesulitannya sendiri. Bahkan, yang HRD yang keliatannya gitu doang aja nih ternyata ribet abis hahaha.

Belum lagi yang perawat, yang jadi customer service, dll. Ah, satu lagi! Yang jadi freelancer juga nggak boleh diremehin, lho! Karena meskipun kelihatannya santai, main mulu sebenarnya mereka ini punya kerjaan yang juga belum tentu orang lain kuat untuk menjalaninya. Tssaahhh malah curhat haha
hah

Asik-asikan Bersama Murid-murid SDN Nyatnyono 2

di Hari H, alhamdulillah aku dan teman-teman relawan bisa berkumpul lengkap. Padahal sebelumnya kami belum pernah bertemu secara lengkap kecuali pada saat hari biefing. Seneng banget punya teman-teman yang tetap stand by komunikasi via digital meskipun tidak bisa bertatap muka secara langsung. Personil siap, perkap siap, dan kami memulai Hari Inspirasi dengan anak didik kami di SDN Nyatnyono 2, Ungaran.

Sejak pukul 6 pagi kami sudah stand by mempersiapkan MMT, dan diri kami masing-masing. Aku dan teman-teman dokumentator mempersiapkan gear kamera kami dan teman relawan pengajar mempersiapkan materi dan bahan ajar masing-masing.

Hingga pukul 11 siang tiba, kami para relawan disibukkan dengan mondar mandir pindah kelas. Aku, sebagai relawan dokumentator bahagia, melihat tawa riang anak-anak
Dan ini adalah pengalaman jadi relawan kelas inspirasi pertama yang membuatku mengorbankan pekerjaanku. Lho, kok bisa? Iya, aku melepas pekerjaanku karena ingin kontribusi lebih dalam kelas relawan, termasuk kelas inspirasi Semarang ini. Ini adalah pengalaman pertama kalinya yang aku alami dan pengalaman ini berbeda dengan pengalaman milik mba Marita Ningtyas dan mba Dini Rahmawati. Mereka juga punya banyak pengalaman menarik lho di blog mereka. Cus, kepoin aja, deh!

Asyiknya Menjadi Digital Nomad, Freelance yang Bisa Bekerja Di Manapun

Sedari dulu aku selalu memiliki mimpi untuk bisa ke manapun tanpa harus takut tidak memiliki uang. Menjadi seorang travel bloger atau profesional freelancer yang bisa kerja di manapun. Time flies, people change and the chance come over to me alhamdulillah. Setelah proses yang cukup panjang dan terjal, pengalaman pahit manis yang luar biasa menegangkan dan menyenangkan, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana indahnya bekerja di manapun.

Apa Itu Digital Nomad dan Freelancer?

Mungkin teman-teman masih awam apa itu freelance atau bahasa keren sekarangnya sih, digital nomad. Seperti namanya, freelance adalah pekerja lepas dan digital nomad adalah seorang pelaku digital yang kerjanya secara nomaden alias tidak tetap. Hari ini di sini, besok di sana dan besoknya lagi di beda tempat. Atau semacam orang yang bisa kerja di depan kolam renang, di pinggir pantai, bahkan kerja di kereta sambil menikmati perjalanan.

Hari ini, tepatnya tanggal 6 September aku resmi menjadi seorang freelancer, pekerja lepas yang bebas. Bebas bekerja di manapun, kapanpun dan dengan siapapun. Pekerja yang tidak harus ke kantor, yang bebas menentukan tempat mana yang ingin dituju atau pemandangan mana yang ingin dinikmati. Kalau diminta untuk mendeskripsikan bagaimana rasanya, maka akan aku jawab asyik! Eh salah, super asyik! Hahahaha
Saat menuliskan ini bahkan aku tengah berada di pinggir kolam renang, melihat orang berenang atau sekadar bersantai dengan pasangan masing-masing. Aku? Sendirian aja, lah ya pastinya. Eh, nggak deng, aku sama laptop kesayanganku kok yang menemani di manapun dan kapanpun aku ingin bersua dengan to do list yang menjadi sumber  rezekiku alhamdulillah. *pembelaanjombloyangberfaedah*

Mengapa Lebih Memilih Menjadi Seorang Freelancer daripada Menjadi Full Timer?

Mungkin beberapa berpikir bahwa menjadi seorang freelancer memiliki kekurangan-kekurangan yang menyebabkan pekerjaan ini tidak cocok untuk dipilih dan dijadikan sumber pemasukan. Namun, bagi orang-orang seperti saya yang bukan money oriented (oke ini agak tipu-tipu), menjadi seorang freelancer adalah hal yang sangat menyenangkan.
Meski tidak bisa dipungkiri bahwa menjadi seorang freelancer itu teramat sangat tidak menentu penghasilannya, tetapi tetap saja pekerjaan ini menjadi sangat menarik ketika aku atau mungkin teman-teman bisa menikmatinya. Karena ada teman yang bilang ke saya seperti ini, “nggak apa-apa jelata, asal tetap bahagia” *eh hahahahha.

Apa yang Membuat Pekerjaan Sebagai Freelancer Terasa Asyik?

Pernah mendengar keluhan dari teman-teman sepulang dari bekerja? Atau mungkin malah merasakan sendiri? Yes, aku adalah salah satu dari mereka yang suka membicarakan tentang kantor atau suasana kantor yang hm kadang tidak sesuai dengan ekspektasi. Jadi, daripada kejiwaan dan akhlakku makin tidak terarah karena bekerja dan ngomongin orang kantor, aku memutuskan untuk menarik diri dari lingkungan yang menyebabkan aku menjadi ‘tukang nyinyir’.

Kenapa? Yaaa supaya aku bisa lebih bersyukur saja dengan hidup dan apa yang aku punya. Kerja ikut orang itu kan mau nggak mau harus menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan lingkungan kantor. Tapi, kalau emang nggak cocok yaaaa gimana lagi? Masa aku mau terus-terusan menodai kebahagiaanku? Jadi, daripada kantor jadi sasaran ketidakcocokan atau ketidaksesuaian cara bekerjaku, lebih baik aku yang menarik diri.
Itu pemikiranku saja, sih. Tapi, tidak berarti bekerja di kantor atau menjadi seorang full timer itu nggak asyik, kok. Aku bahkan pernah merasakan malas ‘resign’ ketika berada di kantor Jakarta karena teman-temannya bisa menjadikan kantor terasa begitu homey. Bahkan, aku selalu suka kata-kata Mas Wahyu, mantan manager-ku dulu di Jakarta ketika dia ngajakin tim internal kami makan bareng atau sekadar makan es krim.
“Kita itu menghabiskan waktu di kantor lebih banyak daripada di rumah. Jadi, tim itu harus bisa jadi keluarga kedua, dan kantor jadi rumah kedua kita.”
Ah, lafff banget deh sama kata-kata ini. Syukaaakkk!!! Non sense, sih. Nggak semua orang berpikiran hal yang sama tentang hal ini. Dan kalau boleh bilang, Jakarta itu made me fallin in love banget, lah. Kantornya, macetnya, orang-orangnya di kantor even pasti ada yang bikin nggak cocok. Tapi ya itu, diberikan kesempatan bergabung dengan tim dan kantor yang luar biasa itu emejing syekali rasanya hahahha alhamdulillah banget, deh rasanya.

Bisa Nyambi Bikin Usaha yang Sesuai dengan Passion

Satu lagi sih, enaknya jadi freelancer itu bisa sambil nyambi merintis usaha atau bisnis yang sesuai dengan passion atau keinginan kita. Karena nggak bisa dipungkiri, berbisnis adalah cara terbaik untuk keluar dari zona nyaman menuju zona nyaman impian. Jadi yaaa, sembari bekerja, berbisnis, bisa sambil belajar pula kan tentang apapun yang aku pengen. Mumpung nih, mumpung aku masih muda dan masih jomblo. Kan kalau sudah menikah akan teramat sangat berbeda ya, kan? Hahaha
Tulisan ini terinspirasi dari teman arisan Gandjel Rel dari Bunda Wahyu W: dan BunSal tentang bisnis rumah impian. Maklum
, grup bloger Gandjel Rel isinya pebisnis dan orang-orang kece semuanyaa. Jadinya yaaa aku kan cuma freelancer, mendingan nulis pekerjaan impian aja hehehehe.
Kalau teman-teman #TeamPekerjaKantoran atau #TeamKerjaSambilJejalan nih? Hihi