Mempersiapkan Detail Pernikahan Mandiri dengan Calon Suami

Bagi kami, nikah bukan soal gengsi, nikah adalah tentang menyempurnakan agama dengan cara yang baik, mulai dari prosesnya, persiapannya, hingga pelaksanaannya bahkan sampai detail acaranya pun.

Nikah itu mudah, yang susah itu gengsinya...

Bagi kami, nikah bukan soal gengsi, nikah adalah tentang menyempurnakan agama dengan cara yang baik, mulai dari prosesnya, persiapannya, hingga pelaksanaannya bahkan sampai detail acaranya pun.


Jauh hari sebelum mas datang, aku memang sudah mempersiapkan diri untuk menabung — mempersiapkan tabungan pernikahan agar kelak ketika dipertemukan aku tidak perlu berpusing-pusing ria memikirkan jumlah rupiah yang cukup menohok untuk resepsi pernikahan.

LHOOOO RESEPSI KAN NGGAK WAJIB?!

Yups, bener banget. Nikah pada intinya memang hanya sekadar pelaksanaan akad, yaksi ijab qobul yang disaksikan wali nikah dari pihak mempelai pria dan mempelai wanita. Dah, gitu aja.. Maka, izinkan aku, mewakili suami menjelaskan mengapa pada akhirnya kami menggelar acara resepsi pernikahan. 🙂

Kami Besar di Keluarga Kecil dan Keluarga Besar Berbeda Kota

Kudus dan Semarang membuat kami memikirkan tentang resepsi pernikahan yang awalnya tidak ingin kami gelar.

“Mas, pengen deh cuma akad aja, udah. Terus syukuran sama anak-anak.”

Mas sudah setuju. Tapi eiiittssss nikah itu tidak tentang sesederhana itu. Nikah itu bukan hanya tentang berdua, nikah itu tidak hanya tentang aku dan dia saja. Nikah itu tentang aku, mas, keluargaku, keluarga mas, saudaraku dan saudara mas. Tentang kami semua.

Yang artinyaaaaaa kami nggak mungkin egois mengedepankan ego kami yang cuma pengen akad aja, terus keluarga yang sudah jauh-jauh ditelantarin gitu aja. Maksudnya, kami ingin menjamu dengan sebaik mungkin biar keluarga, saudara dan teman-teman yang datang dari luar kota datang jauh-jauh tuh nggak nyesel gitu :”) karena ada jamuan yang setidaknya layak untuk mereka.

Oke, singkat cerita, diskusi kami berujung pada satu pikiran, yakni mengadakan resepsi sederhana, dengan hanya mengundang keluarga, kerabat, serta teman-teman di inner circle kami saja. Tidak melebar karena akan terlalu banyak. Selain itu, kami patungan berdua, jadi harus pandai mengatur budget agar tidak over. Karenaaaa…

Rumah tangga itu bukan hanya tentang akad dan resepsi, namun baru akan dimulai pada hari setelah pernikahan digelar, yakni setelah ijab qobul diucapkan — yakni setelah pesta pernikahan selesai.

Aku dan mas sepakat untuk membatasi tamu undangan kami. Sedih memang tidak bisa mengundang banyak orang. Tapi, kami mohon maaf, ini demi kebaikan semuanya. Maka, kami hanya benar-benar mengundang teman-teman yang masih berhubungan dengan kami setidaknya satu tahun terakhir dan punya komunikasi cukup intens dengan kami.

Kami cukup sibuk di bulan-bulan menjelang pernikahan. Maklum, kami mengurus hampir semuanya berdua. Mulai dari membeli seserahan sendiri, merangkai seserahan, memilih dekor secara selektif dengan budget pas-pasan, survey rias dan dress pengantin, membuat souvenir, merancang undangan, survey hingga survey untuk keperluan dokumentasi. CAPEK BTW! Hahahaha and alhamdulillah atas izin Allah, we did it :”).

Kami punya konsep menikah yang sederhana, kami hanya ingin pelaminan kami didekor dengan simple, yakni dnegan kain putih dan dihias daun monsterra sebagai pemanis. Kenapa simple? Karena kami penyuka konsep minimalis, yang sederhana, tapi tetap bisa memukau setiap mata yang memandang. Dan alhamdulillah banyak yang sukaaaa sama konsep dekor kami hehehe. Terharuuuu :”””

Dah, daripada panjang-panjang, berikut list vendor yang bisa teman-teman jadikan referensi kalau teman-teman akan menikah di Semarang.

Gedung Wisma Panunggal Mrican

Alasan pertama dan utama pilih gedung ini adalah karena lokasinya dekat dengan rumah. Banyak yang mengira kami menikah di gereja karena memang wisma panunggal ini letaknya satu wilayah dengan gereja. Jadi, buat yang nggak tahu pasti salah paham.

Padahal, gedung wisma panunggal mrican ini ada wisma khusus yang disewakan untuk acara, kok. Biasanya acara nikahan gitu. Karena sering kondangan di sini juga, akhirnya aku dan suami juga memutuskan untuk menggelar resepsi di sini juga.

Harganya cukup 2.5 juta per 3 jam. Kelebihan jam nambah 700 atau 900ribu aku lupa. Hitungan jamnya per pengantin datang dan pengantin pergi. Tapi, meskipun itungannya per 3 jam, bisa kok penataan dekor dan katering H-1. Amaaann dah. Gedungnya cukup luas, bisa menampung sekitar 500 kepala. Cukuplah kalau buat resepsi kecil-kecilan :).

Alamat gedung wisma panunggal: Jl. Tentara Pelajar No.53, Lamper Kidul, Semarang Sel., Kota Semarang, Jawa Tengah 50256

Dian Pravita Rias Pengantin

Jujur, aku sama mas perfeksionis soal rias dan dokumentasi. Eh, kalo rias lebih ke aku sih karena aku yang didandanin. Sebagai gadis eh gadis yang jarang kena makeup dan nggak pernah ngerti jenis-jenis makeup ini aku harus memastikan segala macam makeup yang nanti menempel di mukaku bagus dan nggak blontengan. WHAT IS BLONTENGAN?! wkwkwk. Belepotan lah bahasa gampangnya XD wkwkwk

Maka dari itu, kami sepakat untuk mengalokasikan budget mahal ke makeup dan dress demi keberlangsungan acara yang sempurna hahahah. Akhirnya, aku cari-carilah vendor makeup di Semarang dan survey satu persatu. Dari sekian banyak hestek, akhirnya kami nemu satu vendor yang budget dan paketnya pas di kantong kami, Dian Pravita. IGnya bisa dicek di @dian.pravita. Soal harga, agak lumayan hehe sekitar 14,xx juta lah. Tapi sudah lengkap sama pranata cara, perlengkapan adat panggih, sound system, dan hiburan musik., silakan DM sendiri tanya-tanya, ya. Mba Dian orangnya ramah, kok dan sabar banget meskipun aku banyak kustom ini dan itu rewel wkwkwk.

Nah, dress akad dan resepsiku pisah dari paket, nih. Dress akad aku dipinjami oleh Mba Laily Muntasiroh, kakak kelas di SMK dulu yang udah nikah duluan dan buat dress sendiri alhamdulillah. Sedangkan dress resepsi aku sewa di BOJ makeup studio, ignya @boj.beautyofjannah. Harganya 350 aja! Hehehe murah kaaannn. Kan udah dibilang kami low budget :). Murah-murah gini udah cantik, kok. Hehehe

Newasides Photography

Ini dia waktunya ngomongin dokumentasi. Nggak cuma soal rias, dokumentasi pun kami pilih-pilih. Yaaaagimanadooooongggg kami anaknya anak kamera semua dan biasa jadi dokumentator. Kalo rewel soal dokumentasi yaaa wajar XD. Hehehehe

Dari sekian banyak orang yang kami temui, kami cukup cocok sama vendor @newasides yang juga kawan lama di komunitas fotografiku dulu semasa aku masih SMK. Sebenernya lebih ke model sih portfolionya, tapi karena sering handle wedding, jadilah aku dan mas sepakat pakai mereka.

Untuk harga sendiri kami deal di harga 5,5 juta dengan detail paketnya 1 video teaser 1 menit untuk instagram, 1 video full dari akad sampai resepsi, full sofot copy acara, cetak photobox pengantin, dan album besar yang isinya foto akad, foto resepsi, sampe foto dokumentasi bersama para tamu. Cukup lengkap alhamdulillah.

Supana Dekor

Ini nih yang paling mencuri perhatian di acara nikahan kemarin hehehe. Dekornya katnaya simpel, mahal, keren, mewah, sederhana, minimalis tapi menawan. UUUUUUHHH KAMI TERSANJUNG LOH! To be honest, banyak sekali yang mengira dekor yang kami pakai mahal. Banyak yang mengira dekor yang kami pakai dari vendor terkenal. Padahal mah enggak sama sekali.

Kami dapat kontak vendor dari adik sepupuku yang punya channel vendor di daerah pasar bergota. Yup di bergota kami blusukan ketemu sama Pak Supana pemilik dekor. Dan guess what?! Kami dapat harga 3,5 juta saja. :” terharu beneran pas dapet harga segini dimana ketika kami cari vendor dekor minimal mereka kasih harga ke kami 8jutaan hiks!

Monggo yang butuh dekor bisa langsung kontak ke WhatsApp beliau di: +62 858-6556-6158 (Pak Supana) bilang aja dapet kontak dari Septi dan dapat rekomendasi dari Septi. Bismillah semoga bisa dapat harga yang cocok, ya.

Kalau kemarin aku dan mas kasih konsep sendiri tanpa gebyok. Jadi, kami emang cuma pengen kain putih sama dikasih daun monsterra dengan nuansa tropis putih hijau yang simpel dan elegan. Jadi, kalau kalian punya konsep dekor yang kalian impikan monggo dikomunikasikan sendiri, ya!

Beberapa Juga Kami Hand Over Sendiri

Selain pakai vendor, ada beberapa yang juga kami hand over sendiri seperti desain undang dan cetak undangan hingga desain dan cetak souvenir. Suami alhamdulillah desainer, jadi mas sendiri yang gambar undangan dan souvenir terus cari vendor cetak sendiri yang murah. Mau tahu vendornya siapa?

Sini ke kami aja! Nanti kami bantu konsep desain, desain, sampai cetak! Kalian tinggal duduk manis aja heheheu. Harga bisa dikondisikan laaahhh kami nggak matok harga mahal karena kami tahu nikah itu nggak murah! wkwkwkw…

Anyway, seserahan juga kami beli sendiri berdua sesuai dengan kebutuhan kami dan yang parah kami ngerangkai seserahan sendiri. Bodo amat jelek! Kami sudah berusaha semaksimal mungkin wkwkkw. Kami nontonin video di Youtube satu persatu dan nyontoh cara merangkai meskipun hasilnya nggak sebagus yang ada di video hahah.

Tapi, kami bangga bisa merangkai seserahan mandiri tanpa keluar biaya. Mayan lho sekotaknya bisa 75ribuuu… Lhaaaaaaa kalo beberapa kotak tinggal dikali aja.

Murah, yak? Iyaaa murah banget! Tapi yagimana kami kan gapunya cukup budget untuk seserahan. Lebih tepatnya kami punya prinsip :“Kalau bisa dikerjakan sendiri, lebih baik dikerjakan sendiri karena bisa lebih hemat.!

Hehehehe anaknya itung-itungan banget buseeeettttttt XD.

Yang juga terpisah adalah vendor kipas air. Yupsiiii kami pesennya bener-bener pisah-pisah biar hemat budget. Kipas air harganya 250ribu dan kami pesan 6 kipas untuk 1 gedung. Sudah free ongkir karena kebetulan vendornya dekat dengan lokasi gedung. Monggo yang mau kontak bisa langsung WA ke: +62 856-4350-3844

Untuk akomodasi nikah alhamdulillah aku dibantu sama temen-temen eks kantor lama yang jadi sodara sampe sekarang. Mereka baik banget mau bantu transportasi pas hari H mulai dari nganterin akad sampai resepsi selesai. Terharu banget dibantuin plus disupirin tanpa mau dikasih apapun :”). Barakallah, teman-temankuuuu…

Terakhir, urusan katering kami dibantu sama budhe yang punya Adijaya`s catering di Pati. Yup, kami dibantu sama budhe dimasakin di Pati dan dibawa ke Semarang. Makasih banyak, budheee, Allah yang bales kebaikan budhe dan keluarga :).

Untuk gerabah (piring, mangkok, sendok) catering kami sediakan sendiri karena budhe dari Pati nggak mungkin siapin meja, kursi dan gerabah untuk tamu. Jadilah kami pesan di tetangga rumahku dan habisnya sekitar 2.4juta. Cukup mahal, tapi cukup untuk satu gedung dan ratusan tamu alhamdulillah.

Nah, itu dia list vendor kami. Coba hitung sendiri kira-kira kami habis berapa untuk acara di gedung hehehe. Kan itu udah dijabarin. Tapi ini cuma habis di gedung, yah. Belum sama acara di rumah 🙂

Selamat mempersiapkan!

Boleh banget kalau mau tanya-tanya di komentar 🙂

Honeymoon di Bali – Satu Hari Menyusuri Keindahan Ubud Gianyar Kabupaten Bali

Dulu nggak pernah kebayang sekalipun bakalan bisa ke Ubud, apalagi keturutan liburan ke Ubud ke tempat yang aku bener-bener pengen sama suami. Dulu mah pikirannya cuma harus sisain budget buat ke sana, main, eksplor sepuasnya dan yang jelas harus hepi hepi XD. Maklum, anak low budget mah realistis aja gituuuu hehehehe.

Tapi semesta dan takdir berkata lain. Aku bisa kemari akhirnya sama suami. Nggak tahu mau bilang seneng kek gimana lagi. Alhamdulillah banget, udah dikasih kesempatan bisa ke Ubud eeehh sama suami pula hehehe. Senengnya berlipat-lipat karena dikasih nikmat berlipat-lipat ganda sama Allah.

Sebelum menikah, kami memang berencana untuk ke Bali. Mungkin aku lebih tepatnya — eh mas juga deng soalnya mas belum pernah ke Bali. Dan kami sepakat memilih Bali sebagai destinasi jalan-jalan setelah menikah.

Awalnya pengen ke Bali terus ke Lombok backpackeran. Tapi, setelah menghitung jamnya, ternyata kami akan kehabisan waktu selama di kapal kalau kami nekat backpackeran. Apalagi aku harus on laptop everywhere dan akan susah untuk di kapal dan moving pakai kendaraan umum. Akhirnya, ke Bali aja, deh. Gituuuuuu :))

Harus ke Ubud ya, mas….

Kalau ngomongin Bali, sebenernya aku nggak pengen jalan-jalan di kotanya. Udah mainstream rasanya. Jadilah aku ngotot ke Ubud — aku harus menyaksikan dan merasakan sendiri segarnya terasering Tegalalang dan asrinya Monkey Forest Ubud di Bali. Aku bilang ke mas, “aku mau dibawa ke Tegalalang liat sawah sama ke Monkey Forest. Sisanya terserah mas aja mau kemana aku ngikut.” Mas diem, terus iyain eheheh. Ya kan mas belum tau mau kemana, aku yang buat itinerarynya ajah! Wehehehehe…

Sedari zaman masih di Jakarta sampe dua tahun tinggal menetap di Semarang, aku punya tempat tujuan ke Tegalalang — liat sawah, Iya, nggak salah baca, kok. Aku emang cuma cari sawah dan pengen menikmati sawah aja gitu. Nggak tahu kenapa anaknya emang sesederhana itu. Nggak pengen yang ribet-ribet. Pengen lihat sawah di pagi hari sambil dengerin burung-burung berkicau aiiih sedyaaapp , bukan? XD

Akhirnya Jadilah Kami ke Ubud Berdua

Iyaa berdua saja ~ kayak lagunya payung teduh, kan? Wkwkwk apaan sik! Kami memutuskan untuk menginap di Ubud, mencari lokasi yang paling strategis di sekitaran tempat kami menikmati indahnya kearifan lokal di Ubud. Yaaaa kami menginap di salah satu villa minimalis yang homey banget di Umah Dewa. Bisa dibilang lokasi villa kami dekat untuk menuju ke Tegalalang dan Monkey Forest Ubud. Alhamdulillah nggak salah pilih pas lagi car-cari hehehe.

Disambut Hujan di Hari Pertama

Ekspektasinya begitu sampai bandara, terus ke penginapan naruh barang dan istirahat sebentar, lalu sorenya bisa jalan-jalan sore muterin Ubud. Realitanya lain! Sesampainya di bandara Ngurah Rai kami disambut gerimis sisa hujan yang asssoooyyy sepanjang kami menuju ke Ubud, Kabupaten Gianyar.

Pas sampai di penginapan persis alhamdulillah hujan! Berkah berkah berkaaaahhhh kami nggak bisa kemana mana :”). Memang disuruh istirahat dulu, hujan mengepung kami hingga pukul 20.00 WITA dan kami kelaparan karena kami nggak bawa bekal jajan apapun buat dimakan. Eh, ada cuma tango ukuran mini XD hahaha.

Akhirnya kami nekat keluar pakai jas hujan karena kami belum makan dan butuh minum di penginapan. Menyusuri jalanan, ternyata sepi gilaaaaakkk hahahah sedih karena nggak nemu makanan khas Bali kecuali nasi jinggo yang udah pada tutup dan kami belum sempat nyobain.

Kocaknya, kami nemu warung penyet Lamongan yhaaaaaaaa jauh-jauh nemunya lamongan jugak! Hahahah karena tiada tempat tujuan lain, akhirnya kami makanlah lele penyet. Oh ya, warung penyetan di Bali disebutnya Warung Lalapan. Tapi menunya sama persis dan yang jual bahkan orang Pekalongan XD XD. Ngakak wis to ujung-ujungnya ketemu orang asli Jawa lagi, tonggone dewe! Hahahah

Melaksanakan Itinerary yang Tertunda di Hari Esoknya

Jumat, 30 November 2018 kami memulai aktivitas kami. Awalnya mau ke Nusa Penida. Tapi, karena hari itu Hari Jumat dan bisa dipastikan akan sulit menjumpai masjid, maka aku dan mas reschedule jadwal ke Nusa Penida. Akhirnya jadilah kami muterin sekitaran Ubud wehehehe. 

05.30 WITA Kami sudah mulai bergegas meninggalkan penginapan menuju ke Tegallalang Rice Terrace. Deket, kok. Cuma sekitar 30 menit dari penginapan kami berdua wehehehe. Seperti biasa, kami cuma bermodalkan Google Maps atau Waze. Biar kayak turis gitu, ih wkwkwk. Padahal ya karena memang nggak tahu jalan aja hahahah..

Aku teriak-teriak di jalan begitu masuk ke daerah Tegalalang. Is it real? Aku akhirnya bisa menghirup udara segar Tegalalang yang luar biasa fresh karena masyarakat Bali masih belum beraktivitas. Btw, orang Bali bangunnya siang apa memang mereka baru beraktivitas siang, ya? Heheheh sepi coy jalanan tuh! Asyik hahaha.

Kupikir sawahnya Tegalalang tuh bisa dinikmatin aja gitu tanpa harus effort alias effortless hahahaha. Tapi, yaaaa NO PAIN NO GAIN. Aku sama mas berkeliling naik turun nyari spot yang selalu endless buat kami. Aku anaknya emang suka naik turun gunung mumpung masih pagi juga ya kan hehehe jadi bisa sambil hirup-hirup udara segar :))

Masya Allah ijonya itu lho luar biasa pengen dibawa pulang. Tapi tenang, mata kami telah merekam indahnya sawah terasering Tegalalang kok Insya Allah. Tapi yaaa kami nggak nolak kalau nanti bisa ke sini lagi dan mungkin sama di junior eheheh aamiin 🙂

Masuk ke Tegalalang GRATIS, kok. Cuma bayar parkir aja. 5000-10000 tergantung tukang parkirnya. Beda-bedalah heheheh. Kami kena 10.000 pagi itu. Nggak apa-apa, kami nggak ngerasa rugi udah dikasih kesempatan lihat indahnya Tegalalang hehehe.

Sekitar sampai pukul 09.00 WITA, akhirnya kami pindah lokasi. Kami menuju ke wilayah Kintamani. Penasaran ada apa di sana daaaaaannn ya Allah ini mah kayak Ketep Pass versi buaguuusss dan indaaahhh banget. Dan 10.00 WITA kami akhirnya sampai di lokasi Kintamani. Kebayang nggak sih hamparan gunung dan danau Batur Bali yang nggak ada duanya indahnya itu ada di hadapan mata kami berdua. 

Ya Allah, bener-bener terharu bisa melihat pemandangan seindah ini sama suami. Kami melihat dari atas bukit dan sampai turun ke danau, menyaksikan embusan angin danau yang luar biasa sejuk bukan main. Cantik, seneng, bahagiaaaa 🙂

Dannnn yang bikin bahagia lagi adalaaahhhh ini semua masuknya geratissssss ehehehehe. Anaknya kan bahagiak kalau gratisan weheheheh. Sepuasnya lihat pemandangan cantik dan gratis pulaaakkk hehehehe.

Kami nggak kemana-mana selama di Kintamani. Kami hanya menikmati pemandangan dari atas, mengambil beberapa potret gambar dan turun ke bawah — sekali berhenti menikmati indahnya alam Bali dan turun ke dana, naik perahu dan berbincang dengan mas. Indah banget rasanya bisa ke Kintamani berdua sama mas :”) Alhamdulillah.

Karena Hari Jumat, kami tidak bisa berlama-lama karena mas harus cari masjid untuk sholat Jumat. Sekitar pukul 11.15 WITA, kami berjalan ke arah pulang. Sambil tengok kanan kiri, kami cari masjid daaan nihil dooonggg hahahha.

Waktu menunjukkan pukul 11.45 WITA dan kami mulai panik. Bismillahitawakkaltu, diniatin buat ibadah, nemulah orang di pinggir jalan pakai baju koko dan sarung daaaannn mas mepet beliau yang lagi naruh galon and here we goooo! Kami diantar ke masjid — eh barengan jalan ke masjid deng maksudnya hehehhe. Aku nungguin di restoran padang — beli es teh sama gadoin telor dadar heheheu dambil tidur siang karena ngantuk banget.

13.15 WITA, lepas shalat Jumat, aku dan mas lanjut ke penginapan rencananyaaaa. Ehhhh, pas nyari tempat shalat buat aku, kami malah nemu Pasar Seni Ubud dannn tergodalah kami untuk mampir. Setelah tahu lokasinya, kami memutuskan untuk pulang dulu agar aku bisa shalat dhuhur sebelum kami kembali ke lokasi Pasar Seni Ubud.

To be honest, kami sama-sama mengantuk, tapi tidak mau melewatkan kesempatan jalan-jalan di Ubud. Akhirnya, kami sampai di penginapan pukul 14.30 WITA dan memutuskan keluar ke Pasar Seni pukul 15.35 WITA, yakni selepas shalat ashar. Lalu kami sampai pukul 16.00 WITA dan teramat sangat ramai lokasinya ternyata hahahaha.

Barang-barang jualan di Pasar Seni Ubud

We do love this place so much. Tradisional banget selayaknya masuk pasar. Kami berharap bisa bawa pulang barang murah, tapi itu cuma harapan. Harga di sini dibanderol gila banget :”). Dua kali lipat dari harga aslinya, lah. Tapi kami suka jalan-jalan blusukan di sini. Hujan pula hehehe. Allah tuh baik, kami dikasih kesempatan hujan-hujanan berdua — berteduh lihatin bule-bule lagi nawar harga hehehe.

Anw, harga di sini bisa sekitar 200 ribuan sampai jutaan. Pinter2 belajar logat bali sama jangan dandan kayak turis aja nanti bisa murah. FYI, pas kami pura-pura nawar, harga 500 ribu aja bisa sampai 200 ribuan. Yaaaaa kami nggak beli juga karena mahal, sih. Tapi, setidaknya kami tahu bahwa mereka memang jual mahal huhu. Nggak bersahabat sama sobat qismin, nih! 😦

Lokasi: Pasar Seni Ubud

Oh ya, berhubung itu hari Jumat, kami juga nggak lupa sama kewajiban kami, yaitu ngaji Al-Kahfi. Kami melipir ke kafe gelato, berdua — tapi belinya satu hehehe. Biasalah yaaa hemat budget wkwkw.

Masuk maghrib, kami memutuskan untuk pulang, shalat di penginapan dan menyiapkan makan malam. Iya, kami siapin indomie dan sarden di penginapan supaya hemat hehehe. Biar romantis laaah makan sama suami di meja makan berdua hehehehe.

Anw, boleh tanyain apapun di kolom komentar. Nanti kami jawab hehehe 🙂

Salam,

Menemukanmu Adalah Takdir yang Kunanti Sejak Lama, Terima Kasih Suamiku

Di tengah-tengah gema tadarusan yang menyemarakan syahdunya Ramadan, aku dan mas berbincang melalui frekuensi telepon genggam. Kami berbincang. Berdiskusi tentang bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi rindu yang tak lagi terbendung. Rindu yang kami sama-sama tahu tidak akan baik bila dipelihara sedangkan di antara kami belum ada ikatan apa-apa.

“Pada batas-batas penantian, rindu dan keinginan untuk segera menyudahi kesendirian, apa yang telah aku lakukan?”

 
Pertanyaan ini membuncah seiring bertambahnya usia — bertambahnya dewasa dan berkurangnya umurku. Hingga akhir tahun 2017, aku masih belum tahu kapan dan dengan siapa aku dipertemukan, untuk digenapkan, untuk diajak bergandengan tangan dan untuk diajak berjalan beriringan.
 
Keinginan untuk menikahku sudah muncul sejak lama karena bagiku, segala sesuatu yang baik harus disegerakan. Maka aku sudah merencakannya sejak lama, meski aku belum tahu akan dengan siapa aku bersanding di pelaminan nanti.
 
Sejak aku masih memulai karirku, aku benar-benar tidak memiliki tipe laki-laki idaman seperti apa yang nantinya ingin kulihat saat aku membuka mata di pagi hari — saat aku akan memejamkan mata, terlelap mengistirahatkan diri ini dari lelahnya hari.
 
Aku terus menyibukkan diri, membangun diriku sendiri dengan keyakinan bahwa kelak akan ada pangeran berkuda putih yang siap datang dan menjemputku, untuk meraih tanganku, mengajakku meminta ridho dari kedua orang tua kami, untuk melangkahkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yakni menyempurnakan separuh agama — berdua, atas ridho Allah dan ridho orang tua.
 
Ikut kelas inspirasi, ikut kegiatan kerelawanan masyarakat relawan Indonesia, turun ke jalanan, hingga cari ilmu sana sini, pindah kota sudah pernah aku lakukan. Pun bertualang hingga ke kota, propinsi dan negeri seberang juga tak luput jadi bagian dari pencapaianku yang membuatku bisa menjadi aku yang sekarang ini.
 
Hingga waktu itu tiba, semesta seperti mulai mengaamiinkan gundah, gulana dan gelisahku sebab ia tak kunjung datang. Sebab ia yang kunanti sejak lama belum jua muncul di hadapanku. Aku yang waktu itu sedang sibuk untuk jalan-jalan kesana kemari — ke pantai, ke gunung, ikut backpackeran mulai lupa pada target menikahku karena aku ingin ia datang memang karena sudah waktunya. Bukan karena aku memaksa ia datang lebih dulu dan memaksa untuk menjemputku agar bisa menghabiskan hidupku dengannya.
 

“Mainmu Terlalu Jauh, Coba Istirahat, Berhenti dan Tengok Kanan Kiri. Ia Mungkin Ada disekelilingmu, Tapi Kamu Tidak Pernah Menyadarinya Selama Ini.”

 
Aku tertampar ketika salah seorang teman yang baru kukenal sekitar satu setengah tahun yang lalu berkata demikian. Katanya, mainku kejauhan. Katanya, aku terlalu jauh mencari sampai lupa bahwa di sekelilingku ada beigtu banyak yang salah satu dari mereka mungkin adalah jodohku. Hal inilah yang menjadi salah satu alasanku untuk berhenti sejenak — introspeksi diri, menilik kembali apa-apa yang aku cari di tempat yang jauh hingga lupa hakikat mengenai apa yang aku cari.
 
Aku akhirnya menyadari bahwa yang mempertemukanku dengan mas bukanlah temanku, bukan orang tuaku, bukan sahabatku, melainkan Allah yang menghendaki bahwa semua aka terjadi suatu hari nanti. Dan semesta akan meng-aamiini perjumpaan kami berdua lalu menjadi saksi atas hari bahagia kami.
 

Pagi Itu, Menjelang Waktu Dhuha, Kami Berdua Pada Akhirnya Tahu Satu Sama Lain

 
Temanku menikah. Hari itu, di awal tahun 2018. Katanya, ada satu orang sahabatnya yang bisa dibilang “boleh dan bisa” untuk dipertimbangkan menjadi pendamping hidup. Aku yang memang suka bercanda memang sering berbincang dengan temanku itu perihal jodoh — perihal persiapan pernikahan.
 
Bahkan, jauh hari sebelum aku bertemu dengan mas, aku suka sekali menanyakan berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk menikah. Lalu aku tercengang karena memang ternyata biayanya tidak sedikit.
 
Tapi, Allah kembali hadir melalui batin — meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja karena ketika Allah telah menghendaki suatu pertemuan, maka Allahlah yang akan menjamin semuanya hingga acara berjalan dengan lancar dan selesai dengan sangat mulus.
 
Waktu berlalu, aku menabung, menyisihkan penghasilanku dengan niat untuk ikhtiar agar aku bisa menikah suatu hari nanti tanpa harus merepotkan orang tua. And here we go, waktu itu datang. Waktu dimana aku dan mas saling tahu satu sama lain — di hari akad, 6 Januari 2018 pertama kali aku melihatnya. Yang tengah sibuk mempersiapkan perlengkapan, yang tengah sibuk mondar-mandir, yang tengah sibuk mendokumentasikan pernikahan sabahat baiknya.
 
Iya, kami ada di satu tempat yang sama. Namun, kami tak bersua — tak pula bercengkrama dan waktu berlalu begitu saja. Aku dengan diriku kembali ke rumahku dan ia dengan dirinya dan pulang ke rumahnya. Dan sejak saat itu entah mengapa, ada doa dalam hati yang menggema begitu syahdunya. “ya Allah, jika memang benar ia yang kelak akan membersamaiku — yang namanya telah tertulis jelas di Lauh Mahfudz-Mu, maka kun! Jadikahlah ya Allah. Jadikanlah ia imam dengan cara yang Engkau kehendaki dan Engkau ridhoi.”
 
Hari itu, harapan dan doaku melebur menjadi satu. Ibaratnya udah kepedean duluan masnya bakalan naksir. Padahal ya entah, pasrah aja gitu. Tapi tetep ngarep sih hehehe. Kan katanya gantungkan cita-citamu setinggi langit. Biar kalau nanti jatuh, nyangkutnya di bintang. Tapi nggak gitu juga sih, berharapnya sama Allah aja pokoknya.
 
Sempet takut, sempet ragu, sempet ah yaudahlah. Karena…
 

Aku Khawatir, Aku Tidak Bisa Bersama dengannya Karena Aku Lahir di Keluarga Beda Agama, Berbeda Keyakinan

 
Di tengah-tengan doa dan pengharapan yang luar biasa besar, ada takut yang menyelimuti diriku. Ada perasaan tak yakin atas apa-apa yang aku ingin. Ada ketidakyakinan yang membuat nyaliku ciut. Karena orang tuaku berbeda agama dan itu membuatku tak mungkin memperjuangkannya.
 
Aku lahir di tengah-tengah keluarga yang berbeda keyakinan. Bapak beragama katolik dan Ibu beragama Islam. Ini bukan aib — BUKAN. Ini kenyataan yang aku pikir tidak ada salahnya membuatkan publik tahu dan membantuku mendoakan kelak, Bapak bisa memiliki keyakinan yang sama denganku — dengan ibu — dan dengan keluargaku.
 
Bukan, bukan berarti aku menganggap bahwa agama katolik hina atau tidak pantas untuk diakui. Tetapi, seperti pada umumnya yang kalian pun juga pasti punya pengharapan yang sama — yakni memiliki keluarga dengan keyakinan yang sama agar kelak, kalian bisa dipersatukan di surga bersama keluarga tersayang, tanpa kurang suatu apapun. Bukankah lebih asyik bila setelah dipersatukan di dunia, lalu dipersatukan lagi di surga? :”)
 
Mohon doa, ya…

Keraguanku masih besar, tetapi aku memilih untuk menyampaikannya kepada mas di hari di mana kami bercengkrama untuk pertama kali.

Waktu itu, entah ada kekuatan apa dan keyakinan dari mana aku yang memulai untuk membuka topik tetang kami berdua. Tetang aku kondisi keluargaku — kondisi bapak yang katolik, kondisi rumah, tentang background-ku sendiri dan tentang apa-apa yang ada dalam diriku, rumahku dan keluargaku.

Mas sempat tercengang — kaget. Mungkin, pada saat itu mas shock karena ternyata aku setidak basa-basi itu. Bahwa aku tidak ingin terlalu lama menggantung bersama ketidakpastian. Bahwa aku ingin menyegerakan karena kebaikan itu tidak untuk ditunda-tunda. Bahwa niat untuk menyempurnakan agama itu harus disegerakan.

Dan pada malam itu, aku berani berkata bahwa jika memang tidak ada ujungnya, tentang kita, maka lebih baik aku dan mas sama-sama menjaga diri untuk saling memberi jarak satu sama lain hingga akhirnya waktu itu datang — hingga akhirnya suatu hari nanti kita dipertemukan. bila memang berjodoh :”)

Semesta Bekerja.. Ada Titik Terang pada Hubungan Kami Berdua..

Tepat pada malam itu, aku dan mas sepakat untuk menjalani hubungan dengan tujuan, Hubungan yang akan membawa kami ke pelaminan, melepas status lajang dan membawa kami menyandanga status baru. Lalu hidup bersama, menua dan sehidup sesurga.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah.. Kami berdua berkomitmen untuk saling memperjuangkan melalui doa dan ikhtiar yang nyata. 

Hari menjelang keberangkatanku ke Turki, aku dibawa mas untuk bertemu dengan orang tuanya — diperkenalkan kepada ayah dan ibunya. Dan tahu nggak kocaknya? Pas aku lagi ngobrol sama mamah, mas melipir dan ternyata tidur .____________. Baiklah hahahaha

Ngomong-ngomong, flashback sedikit boleh yaa…

Jauh sebelum mas datang ke rumah, ibuku sulit sekali membuka pintu hatinya untuk menerima seseorang yang ingin menyampaikan niat baiknya untuk meminang anak gadisnya. 

Tapi qadarullah dan atas ridho Allah, ketika mas datang, Ibu dengan lapang dada mulai membuka hatinya dan mempersilakan anak menantunya ini datang :). Aku sempat tercengang kaget. Bahagia tentu, tapi sedikit kaget karena tidak ada penolakan sama sekali. Mas hebat memang. Pencuri hatinya ibuk hehehe. Duh, ini mas pasti ge-er pas baca part ini 😀

Lanjut yaaa….

Saat di rumah mas, aku ngobrol dengan ibuk dan untuk kali keduanya aku mampir, aku berpamitan untuk berangkat ke Turki. Jangan tanya gimana rasanya ninggalin calon suami ke beda benua, ya. Sudah pasti berat. Apalagi perginya sama rekan kerja yang kebetulan cowok. Berat bukan main. But, we trust each other, too focus too stay focus with our plan

Ramadan Menjadi Jawaban Kegelisahan Kami Berdua untuk Menyegerakan Niat Baik Kami Berdua

Tidak ada yang bisa membendung rindu kedua anak manusia. Meski salah, tetap saja rindu tidak bisa disalahkan karena memang hakikat manusia demikian adanya. Merasakan rindu pada selain jenisnya untuk merasakan tenang. Maka dari itulah, kami berdua berdiskusi lebih serius dari biasanya.

Di tengah-tengah gema tadarusan yang menyemarakan syahdunya Ramadan, aku dan mas berbincang melalui frekuensi telepon genggam. Kami berbincang. Berdiskusi tentang bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi rindu yang tak lagi terbendung. Rindu yang kami sama-sama tahu tidak akan baik bila dipelihara sedangkan di antara kami belum ada ikatan apa-apa.

Tiba-tiba mas menyeletuk di tengah percakapan kami, “Aku mau ngomong sama mamah sama bapak. Doain aku, ya…” Kami hening — Dan aku, bahagia bukan main. Mas memang beda. Di saat begitu banyak yang propose dengan cara “maukah kamu menikah denganku?”, ia justru meminta doa agar langkahnya menujuku dimudahkan dan bebas dari kendala yang ada. :”)

Dan bismillah…..

Kami berdua memantapkan langkah kaki kami, berjalan bersama menuju ke arah yang insya Allah lebih baik dari sebelumnya, yakni menikah.

Pertemuan Kedua Keluarga kami berlangsung setelah lebaran. Mas membawa keluarganya ke rumah untuk memintaku melalui keluargaku di rumah. Jantung kami berdegup kencang bukan main. Kami sama-sama tegang, gugup dan keringat dingin.

Aku tersenyum-senyum melihatnya duduk di samping pintu rumah. Ia yang memakai peci tampak berseri-seri siang itu. Dan seperti biasa, mas kalau grogi makannya cuma dikit. Padahal……. ((ampuni istrimu ini mas :D))

Kami saling tatap, aku mengiyakan ajakannya untuk menikah melalui walinya. Dan ia tersenyum sebab apa yang kami rencakan berjalan dengan mulus. Alhamdulillah….

Butuh Diskusi Panjang untuk Menentukan Kapan Hari yang Dirasa Baik untuk Melangsungkan Pernikahan

Bagi kami, semua hari itu baik. Namun, ada adat dan kebiasaan yang harus kami ikuti — yang harus kami patuhi dan kami taati. Sebab, menikah bukan hanya perkara bahagia berdua. Karena menikah bukan sekadar tentang aku dan mas. Melainkan tentang keluargaku, keluarga mas dan keluarga kami berdua.

Jadi, kalau suatu hari kalian menikah, tolong catat bahwa meski kalian punya mimpi yang begitu manis untuk melangsungkan pernikahan impian, tetap ingat bahwa sebaik-baik pernikahan adalah pernikahan yang di dalamnya begitu banyak doa dari pihak manapun — entah pihak keluarga, teman-teman atau kerabat di sekitar kita.

Akhirnya, hari itu ditentukan. 17 November menjadi hari terpilih. Hari yang katanya tepat untuk melangsungkan pernikahan bagi kami berdua. Kami yang tidak terlalu mengerti hitungan Jawa mengiyakan dengan penuh doa dan harap di dalamnya. Bismillah…….

“Mas, kita patungan, ya. Aku nggak pengen pernikahan kita ini menyusahkan orang banyak….”

Kataku pada mas. Sejak dulu, aku punya standar pernikahan impian sendiri, yakni menikah dengan uang sendiri tanpa harus merepotkan orang tua, tetapi masih bisa dengan baik menjamu saudara dan teman-teman yang hadir dan turut mendoakan kami berdua. Dan alhamdulillah, mas mengerti dan mendukung penuh atas keinginanku ini. I’m so blessed to met him at the first sight.

Lalu aku dan mas merincikan kebutuhan kami dan mencatatnya dalam file di Google Drive agar kami lebih mudah menghitung — agar kami lebih mudah menambah dan mengurangi apa-apa yang kurang dan butuh untuk diperbaiki. Yang tentu saja file ini sama-sama bisa diakses olehku dan oleh mas.

Satu persatu kami mulai mencicil kebutuhan kami berdua. Mulai dari desain undangan, cetak undangan, dekorasi gedung, perias, dress pengantin, hingga seragam keluarga kami diskusikan berdua. Mas kebetulan desainer dan sebab itulah kami punya idealisme yang cukup kuat untuk menjadikan pernikahan kami tetap sederhana, tetapi tetap layak untuk menjamu tamu kami.

Menganut konsep simple, minimalis dengan sentuhan tropical, kami sepakat untuk membuat dekor pernikahan kami full dengan kain putih dan dihias tanaman monstera dengan dress rose gold yang kami kenakan agar tetap terkesan sederhana, tetapi tetap classy. Belibet banget ya bahasanya hahahha yaaa intinya bagus lah gitu. Bagus menurut kita tapi yaaa hehehe..

Meski Terlihat Baik-Baik Saja, Ada Banyak Suka Duka yang Kami Lalui Berdua

Keraguan menjelang pernikahan ternyata bukan mitos belaka. Ada begitu banyak godaan yang kami lalui. Kami tahu betul ini semua bagian dari ujian pernikahan. Namun, hakikat ego yang selalu ingin menang membuat kami tak jarang beradu pendapat, hingga merasa menang sendiri.

Alhamdulillah, sejak awal kami sudah berkomitmen untuk “saling”. Saling mengingatkan kepada kebaikan, saling mengingatkan bila ada yang salah/belum sesuai, saling membersamai dalam suka duka dan saling menjaga ketika salah satu di antara kami sedang tidak dalam keadaan baik hatinya.

Beberapa kali kami ingin berhenti, namun kami bersyukur karena telah dikuatkan dari godaan-godaan yang mungkin ingin memisahkan kami berdua untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Adalah suatu yang wajar ketika godaan pranikah itu datang karena memang menikah adalah ibadah — menyempurnakan agama. Logikanya, mana ada setan yang suka manusia ibadah? 🙂

Mempersiapkan semuanya berdua, membuat kami semakin tahu satu sama lain tentang diri kami

Aku jadi tahu bahwa mas yang kini menjadi suamiku adalah orang yang sabar, orang yang gegabah, namun selalu lebih bijak untuk mengatasi aku yang mudah panik.

Aku jadi tahu bahwa mas atau aku sama-sama butuh didampingi, maka kami berdua memang harus berjalan beriringan. Tidak saling mendahului, sebab kami akan berjalan berdua menjalani ibadah terlama, yakni menikah.

Bicara tentang taaruf, kami berdua memang tidak taaruf. Kami tidak menggunakan perantara dan berhubungan secara langsung. Kami mempertimbangkan kedua orang tua kami yang masih asing dengan istilah taaruf. Maka, karena kami membutuhkan ridho mereka, kami mengalah untuk mengerti mereka dengan memberikan mereka, orang tua kami tahu tentang diri kami dan apa yang tengah kami perjuangkan.

Maka ketika ada yang bertanya, “kalian taaruf?” kami akan dengan senang hati menjawabnya :). Sayangnya, masih ada yang tidak mencoba bertanya dan menganggap bahwa kami tidak cukup dewasa untuk mengambil keputusan yang telah kami pertimbangkan secara matang ini. Like a they judge us only from the cover. Yah, namanya juga hidup hehehe akan selalu ada komentar-komentar yang tidak sesuai dengan hidup kita.

Dan now, we’re officially marriage. Alhamdulillah…

Tepat tanggal 17 November 2018 lalu, aku dan mas resmi menjadi suami istri.  I don’t know what to say to Allah. Alhamdulillahi bini’mat.. Bener-bener terharu, seneng bukan main dikasih keluarga baru yang baik, yang sayang dan bakalan nemenin aku sama-sama sampai nanti.

Terima kasih, suamiku

Menemukanmu Adalah Takdir yang Kunanti Sejak Lama,

Salam sayang,

Istrimu

 

Berkat happyOne, Travelling Kemanapun dan Kapanpun Jadi Happy

Selain punya julukan digital nomaden, aku ini bisa dibilang juga sebagai kutu loncat yang kerja dan mainnya bisa pindah-pindah tempat, pindah kota, bahkan pindah propinsi. Nggak kenal waktu dan nggak kenal jarak jauh. Selama masih bisa dijangkau dengan kereta api, pesawat dan moda transportasi lain ya aman-aman aja. GASKEEEEUUUUUUNNNN.
Dibilang capek, ya capek. Dibilang bosan emm kalo ini enggak, sih hehe karena anaknya suka jalan pakai banget. Bersyukur banget lah kerjanya bisa sambil jalan-jalan dan bisa sambil hepi-hepi. Tapi suka tiba-tiba badmood kalau misalkan ketemu sama jadwal pesawat delay, macet di jalan, atau mendadak harus ganti jadwal keberangkatan. Ribet banget soalnya harus ngurus sana-sini. Mana waktu kan nggak bisa nyesuaiin aku kan alias aku yang harus pontang-panting untuk ngurusin delay atau keberangkatan yang batal.
Tapi itu dulu, zaman ketika aku masih belum kenalan sama happyone.id. Sekarang mah, udah nggak perlu khawatir lagi kalau ada kendala di perjalanan karena ada produk happyTrip dari happyOne yang memberikan perlindungan atas resiko sebelum dan selama perjalanan dalam negeri.

happyTrip Punya Segudang Manfaat Untuk Para Traveller

 
Mendapatkan Perlindungan Pembatalah Perjalanan
Kebayang nggak sih udah beli tiket ternyata nggak jadi berangkat dan harus batalin tiket, tapi ternyata kuasa tertanggung nggak mau tanggung jawab? Kesel kan pasti? Tenaaaanggg, happyTrip akan melakukan penggantian biaya perjalanan yang telah dibayar di muka bila adanya pembatalan perjalanan karena hal-hal di luar kuasa tertanggung.
 
Perlindungan Terhadap Bagasi dan Barang Pribadi
Aku masih inget banget keril temanku rusak dan kopernya rusak di bandara, tetapi pihak bandara nggak mau tanggung jawab sama sekali. Nah, di happyTrip ini aku bisa mendapatkan perlindungan atas kehilangan dan kerusakan bagasi termasuk barang-barang di dalamnya serta barang yang dipakai atau dibawa selama melakukan perjalanan. Enak banget, kan? YATAPI HARUS TETAP HATI-HATI, ya.
 
Biaya Medis Akibat Kecelakaan
Biaya kecelakaan memang selalu jadi hal yang tidak diinginkan terjadi dalam perjalanan. Dan sebagai traveller cerdas, aku harus dong punya asuransi yang bisa mengganti biaya medis yang diperlukan akibat kecelakaan selama perjalanan. Naudzubillah.. Tapi waspada tetep harus, yah!
 
 
Perlindungan Keterlambatan Penerbangan
Dulu pas ke Belitung pernah delay pesawat. Ya nggak sampai lama, sih cuma sejam. Tapi kan bosen dan kesel ya, nunggunya. Dan kasus lain, temanku delay ke Jepang sampai 12 jam. Capek banget sih itu pasti. happyTrip mengerti hal ini dan memberikan santunan untuk setiap 8 jam keterlambatan pada pesawat, kereta api atau kapal laut (sampai batas maksimum yang tertera dalam sertifikat polis) akibat kejadian di luar kuasa tertanggung serta pertanggungan atas biaya pembatalan, biaya akomodasi, dan biaya tambahan lainnya yang muncul akibat adanya perubahan jadwal.
Evakuasi Medis Darurat dan Repatriasi
Pengaturan dan pembiayaan evakuasi dan repatriasi apabila traveller mengalami keadaan darurat medis akibat sakit ataupun kecelakaan yang dijamin dalam polis. Duh, serem, ya. Tapi memang harus jaga-jaga, sih.
 

Fitur Lengkap dari happyOne

Gimana, lengkap banget kan fitur happyTrip dari happyOne.id ini? Ya jelas karena lengkap makanya aku merekomendasikan ke teman-teman semuanya. dan dan dannnn, nggak cuma happyTrip aja. happyOne.id juga punya fitur lain. Beberapa di antaranya, yakni: Asuransi Kecelakaan diri dan Asuransi Kebakaran.
Untuk asuransi Kecelakaan Diri ada 4 produk yaitu,
happyMe yang memiliki manfaat utama yaitu santunan meninggal dunia / cacat tetap keseluruhan karena kecelakaan. Sedangkan manfaat tambahan santunan rawat inap di rumah sakit karena kecelakaan minimal 5 hari berturut-turut, tunjangan kehilangan pendapatan karena cacat tetap keseluruhan, dan santunan biaya pemakaman. Untuk usia yang tertanggung lebih dari 17 tahun hingga 64 tahun. dan range premi dari Rp. 50.000 – Rp. 180.000.
happyEdu yang memiliki manfaat utama santunan biaya pendidikan anak jika tertanggung meninggal dunia karena kecelakaan. Sedangkan untuk manfaat tambahannya berupa santunan meninggal dunia / cacat tetap keseluruhan karena kecelakaan, santunan rawat inap di rumah sakit karena kecelakaan minimal 5 hari berturut-turut, santunan biaya pemakaman dan tunjangan kehilangan pendapatan karena cacat tetap keseluruhan. Untuk usia yang tertanggung lebih dari 17 tahun hingga 64 tahun dan usia anak kandung 1 – 21 tahun. Range premi dari Rp. 100.000 – Rp. 180.000.
happyMeMicro yang memiliki manfaat santunan meninggal dunia karena kecelakaan, santunan biaya pemakaman, santunan kedukaan karena kecelakaan. Untuk usia yang tertanggung lebih dari 11 tahun hingga 64 tahun. dan range premi untuk produk ini lebih terjangkau yaitu Rp. 10.000 – Rp. 30.000.
happyEduMicro yang memiliki manfaat santunan biaya pendidikan anak jika tertanggung meninggal karena kecelakaan, tunjangan perlengkapan sekolah jika tertanggung meninggal, dan santunan pemakaman. Untuk usia yang tertanggung lebih dari 17 tahun hinggak 64 tahun, usia anak kandung 1 – 21 tahun. Untuk range premi yang sangat terjangkau yaitu dari Rp. 10.000 – Rp. 50.000.
Asuransi Rumah memiliki jaminan berupa asuransi k
etika tejadi kebakaran, petir, ledakan, kejatuhan pesawat terbang dan asap; kerusuhan, pemogokan, perbuatan jahat dan hura-hura; kecelakaan diri akibat kebakaran; biaya pengobatan akibat kebakaran; tanggung jawab hukum pihak ketiga; biaya tempat tinggal sementara; tertabrak kendaraan; biaya pemadam kebakaran; biaya pembersih puing; biaya arsitek, surveyor, konsultan; santunan biaya pemakaman akibat kebakaran; dan santunan pembelian perabotan kembali akibat kebakaran. Untuk range premi dari Rp. 98.750 – Rp. 750.000. Sangat terjangkau, bukan?
Di antara banyak produk dari happyOne.id, aku paling cocok sama happyTrip karena pekerjaanku sebagai digial nomaden dan melipir jadi sok-sokan traveller. Jalan-jalan jadi aman, tenang dan nyaman tentu saja. Kerjaan jadi beres, delay nggak jadi masalah, mau batal pun juga nggak rugi.

Biaya Premi Sangat Murah dan Terjangkau!

Tau nggak sih kenapa aku pakai happyOne.id? Karena murah dan terjangkau! Wkwkw anaknya kan low budget tapi maunya banyak yaaa *dasar! Jadi si happyTrip yang aku pilih ini hanya perlu membayar premi Rp. 10.000 saja. Gimana, terjangkau, kan?
Kamu cukup mengakses Asuransi Astra ini di http://www.happyone.id dan kenalan sama konsep OneID. Apa atuh OneID? Jadi, setiap kali kamu mendaftarkan email, maka kamu akan tercatat sebagai OneID. Setelah mendaftar, kamu langsung bisa melakukan transaksi pembelian polis dengan lebih mudah hanya dengan melihat status riwayat polis yang ada di akunmu.
Secara singkat, proses pemeblian happyTrip di website happyone.id, yaitu dengan:
1. Memilih Perlindungan – kamu bisa memilih perlindungan sesuai dengan kebutuhanmu.
2. Mengisi Form Daftar – di sini kamu akan diminta untuk mendaftarkan One ID-mu dan melengkapi form yang dibutuhkan.
3. Membayar – tahap ini kamu akan diminta untuk untuk membayar premi sesuai dengan paket yang kamu pilih.
4. Menerima Polis – setelah proses selesai, kamu akan mendapatkan email berisikan polis yang telah kamu daftarkan sebelumnya.
Dannnn selamatt!!! Kamu sudah langsung terdaftar dan mendapatkan polis dari Astra Asuransi happyOne.id
Aku sudah pakai happyOne.id  Kamu, kapan jadi #BeTheHappyOne? 🙂

Tentang Perspektif: Menjadi Generalis Atau Spesialis

DSCN0040.JPG
Beberapa waktu yang lalu, aku dihadapkan pada suatu statement, yakni:

Menjadi spesialist itu memang penting, tetapi akan lebih baik bila kita bisa menjadi seorang generalist.

Well, noted. I’m trying so hard to understanding this statement while other of my friend said this kind of sentences to me:

Sudah, kamu itu cukup jadi penulis saja. Jangan merambah ke dunia lain yang “bukan kamu.” Beri kesempatan orang lain untuk unggul di bidang lain, seperti apa yang sudah kamu dapatkan saat ini. Beri mereka kesempatan yang sama untuk bertumbuh sepertimu.

I’m not trying do defense all the things I get.
Actually, after I hear the statement, it really made me suck in the deep though. Tahu alasannya? Ada kontradiksi yang menarik dari dua statement yang muncul dari dua kepala yang berbeda.
See, dua kepala yang artinya adalah ada perbedaaan perspektif yang memengaruhi tentang pandangan-pandangan seseorang terhadap sesuatu atau seseorang yang lain.

Being An Ambitious Person is Kinda Sucks

Honestly, aku terjebak dalam insecurity lingkungan yang selalu menekanku tak tidak habis-habisnya “mengataiku” bahwa aku adalah seseorang yang terlalu ambisius. Yes, u read it well. Septi is an ambitious girl. Seseorang yang penuh dengan ambisi dan teramat sangat visioner. But hey! Jangan dikira menjadi seseorang yang ambisius itu semenyenangkan itu. Ada banyak hal yang membuatku takut untuk tetap menjadi diriku sendiri akibat terlalu banyak di sekitarku yang bilang, bahwa:

Jangan terlalu menggebu-gebu jadi cewek, nanti cowok pada takut deketin, lho.

Jangan pinter-pinter, kasian nanti pada nggak bisa ngimbangin, lho.

Mbok ya jadi orang tuh yang biasa-biasa aja biar yang mau ngajak temenan nggak takut kalah pinter sama kamu.

And so many statement like this yang buat aku jadi bener-bener mikir sekadar cuma nanya ke diri sendiri, “Memangnya salah ya kalau aku pengen pinter?” “Memangnya salah ya kalau aku ingin unggul dalam satu bidang?” “Memangnya salah ya kalau punya visi misi buat masa depan?” “Memangnya salah ya menjadi seorang cewek yang penuh dengan ambisi?” 
I’m getting tired of this dan akhirnya memutuskan untuk, baiklah, aku akan menjadi biasa saja demi bisa hidup dengan tenang dan tidak tersiksa dengan judgement yang terlalu banyak dari lingkungan di sekitarku.
 
 

And Now Life Dragging Me To Contradiction Perspective

Sebut saja, rekan kerjaku terang-terangan bilang bahwa being spesialist is good, but it better for me if I can be a generalist too. It drag me into the feeling like “WHAT THE KIND OF THIS SITUATION?” Setelah bertahun-tahun aku bersusah payah untuk, baiklah, aku harus menyadari bahwa aku punya kapasitas untuk tidak menganggap bahwa aku bisa di semua hal dan semua bisa. Sebab, ada orang lain yang lebih bisa untuk menguasai hal tersebut dan dia pekerjaan itu lebih efektif jika bukan aku yang handle.
 
Entah mengapa aku merasa ada yang salah, pada diriku mungkin. Ada pemikiran yang menjebakku pada lingkaran berpikir bahwa

Setiap orang itu terlahir menjadi perfeksionis dengan standar masing-masing yang mereka buat dan mereka jalani untuk diri sendiri atau untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan dia.

No, ini tidak sama dengan “Lah, berarti kamu nggak bisa terima masukan, dong?” Bukan! Bukan itu maksudnya… Tapi, lebih ke andai memang kita dipaksa untuk menjadi seorang generalis, lalu kita menguasai berbagai bidang sedangkan kita bekerja sama dengan orang-orang yang lebih ekspert di bidang tersebut, yang terjadi bukan malah kita jadi belajar hal baru, melainkan kita jadi buang-buang waktu karena sebenarnya kita unggul di bidang lain, tetapi kita memaksa diri kita untuk ada di kondisi yang kita tidak bisa, namun memaksa diri kita untuk bisa. Hanya untuk sekadar mendapat predikat bahwa: Kita bisa melakukan apapun.
Aku merasa bahwa menyelesaikan pekerjaan bukan hanya sekadar “menyelesaikan pekerjaan”, melainkan seharusnya bisa memberikan value, impact atau perubahan yang bisa membuat kita menjadi spesialist yang nggak cuma sekadar punya title.
Simply way, let me said that done the task is not only about say to the world that “I’VE BEEN DONE THIS TASK,” but I feeel I have to say “I’m done with this, I am doing this because of……. and after this i’m gonna doing…… for a better result.”
Seperti yang aku percaya dan tanamkan pada diri sendiri bahwa melakukan kesalahan itu tidak sesederhana trial and error, tetapi adalah tentang trial and measure. Apakah kesalahan yang kita lakukan menjadikan kita sebagai seseorang yang lebih berkembang atau justru menjadikan kita sebagai seseorang yang penuh dengan makian karena terlalu memaksakan keadaan?
Silakan menjawab dengan perspektif masing-masing.
Salam.

Life As A Content Creator: Nggak Cuma Harus Bisa Nulis, Tapi Harus Bisa Lebih dari Itu



Flashback
Jakarta, 2015
Aku menantang diriku sendiri untuk bisa menjadi bagian dari salah satu digital creative agency yang pernah mendapatkan best agency of the year di Jakarta. Alasannya sederhana, aku ingin mematahkan stereotipe bahwa anak SMK itu nggak akan bisa kerja kantoran di Jakarta karena background pendidikan yang cuma sampai pada sekolah menengah alias bukan sarjana. Iya, aku cuman lulusan SMK komputer yang bahkan nggak paham kalau disuruh ngulangin pelajaran itu lagi HAHAHA emang dasar gadungan ya aku ini 😀
Aku yang keras kepala dan nggak suka diremehkan lantas menantang diriku sendiri untuk bisa ke Jakarta dengan uang pas-pasan dan bekal seadanya. Numpang nginep di kosan teman sampai kecopetan HP pun pernah aku alami hanya demi bisa membuktikan bahwa Jakarta tidak sekeras itu untuk anak sekolah menengah sepertiku.
But, hey! Jakarta keras bung.
Hari dimana aku interview dan kehilangan handphone-ku, aku bertemu dengan salah seorang pelamar yang dari perawakannya sudah jauh lebih dewasa dariku. Waktu itu aku masih berusia 20 tahun. Waks! Masih sangat muda ya ternyata.. Sekarang juga masih muda, kok! Muehehehe :))
Back to the topic
Aku masih ingat betul ketika mas-mas pelamar (sebut saja begitu) ngobrol denganku, kira-kira seperti ini:

“dari mana, Mba?”“saya dari Semarang, mas.”“wah, jauh sekali ya Semarang. Lulusan kampus UND**, ya?”“Oh, enggak kok, mas. Saya cuma lulusan SMK.”“Hah, jauh-jauh dari Semarang dan cuma lulusan SMK? Memang bisa ya mba masuk kantor sini?” “Hahahaha, bismillah aja, mas. Emang masnya lulusan mana?”“Oh, saya baru S2 di ……. dan sudah berpengalaman sebagai content writer selama 7 tahun di perusahaan X.”“Waaa hebat. Keren dong, ya. Punya blog?”“Ada, dong di http://www.xxxx.blogspot.com”“Woh, masih blogspot ya, mas?”“Emang mba ngerti blog? Punya emang?”“Ada, mas di http://www.dwiseptia.com :)”

Daebak! Aku minder bukan main ketika diajak ngobrol. Tapi di sisi lain, aku semakin tertantang untuk menunjukkan kepada semesta bahwa aku nggak harus jadi sarjana dulu untuk bisa dapat kesempatan bergabung ke perusahaan yang aku impikan sejak lama, yaitu bekerja di Jakarta.
Singkat cerita, ketika aku dipanggil keruang interview, aku bertemu dengan senior content, manager dan HRD perusahaan. Guess what??!! Managerku bilang “Septi, sebenarnya saya mau test Septi nulis, tapi lihat blog Septi saya yakin banget pasti Septi cinta banget sama nulis, kan?” Aku tersipu sekaligus bersyukur telah mengenal dunia blogging saat aku tengah duduk di bangku SMK.
Dan, aku diterima karena aku seorang blogger dan suka nulis di blog! Awwwww… Sebagai syarat wajib, aku diminta untuk menuliskan kisah sederhana sebagai syarat sah interview siang itu. Aku lantas memiliki jabatan sebagai content writer di perusahaan di Jakarta pada hari dimana aku interview tanpa harus menunggu sampai 2 minggu hingga 1 bulan karena aku seorang blogger. I’m proud of being blogger! ^^

Jakarta mengenalkanku pada banyak hal tentang dunia kepenulisan yang aku alpa di dalamnya. Aku belajar banyak hal baru semenjak bergabung menjadi bagian dari tim konten. Aku belajar tentang bagaimana memilih dan memilah istilah yang tepat, bagaimana menulis singkat rapi atau menulis panjang tetapi tidak bertele-tele dan bagaimana membuat pembaca jatuh cinta dengan karakter tulisan kita. Yaaa, kayak yang kalian baca sekarang ini gengs! Heheu 🙂 Kalian jatuh cinta nggak sama tulisanku? Ah elah genit amat ini bocah HAHAHA
But, seriously! Jakarta teach me a lot of things. I’m feeling like I’m the new one. Lebih dari apa yang aku bayangkan, aku jadi mengerti tentang dunia periklanan yang teramat sangat dekat dengan dunia kepenulisan. Satu yang nggak bisa aku lupa adalah ketika managerku bilang “Konten itu cuma dasar, pengembangannya banyak sekali. Jadi, kalau Septi mau benar-benar jadi hebat, Septi harus jadi penulis hebat dulu.Well noted, mas! I’ve been do it and here I am right now 🙂
Setelah memahami tentang dasar-dasar kepenulisan dengan caci maki sebagai makanan sehari-hari, aku dihadapkan pada dunia Search Engine Optimisation, Search Engine Marketing, Social Media Management dan Digital Marketing alias dunia periklanan yang sejak dulu kala aku idam-idamkan. Yup, aku mengincar posisi ini sejak lama. Aku belajar dengan otodidak demi bisa duduk di kursi panas dan menjabat sebagai seorang Digital Ads Specialist. Uwuwuwuw rasanya kayak naik roller coaster ternyata menjadi seorang pengiklan yang mengelola konten klien untuk bahan iklan demi bisa meningkatkan awareness, reach, engagement dan impression. Duuuuhhh ini istilah emang bikin pusing 🙂

Time flies..
Ibuku memintaku untuk kembali ke Semarang. Dan bagiku tidak mudah untuk kembali dari perantauan ke tempat asal yang tidak jauh lebih maju dari Jakarta. Sedih, depresi dan tentu saja bingung harus menjadi seperti apa. Tapi bersyukur, aku sudah mengantongi cukup ilmu untuk bisa membuatku menjadi seseorang yang cukup bisa berdikari dengan profesiku, yaitu menjadi seorang blogger dan digital nomaden. Euuuhh istilahnya aneh-aneh banget, ya! Hahaha maapkeun. Dunia digital marketing memang sungguh bikin pusing tujuh keliling :))

People Change..
Ada beda dari Semarang dan Jakarta. It feels like Jakarta beat drive me crazy and Semarang make me crazy because I can’t doing anything here. Oh God! I’m feeling so down live back to Semarang. Aku beradaptasi setengah mati, sebab biasanya di Jakarta hidupku penuh tekanan, aku dipaksa untuk bisa hidup dengan pace yang luar biasa cepat, waktu yang hampir tiada liburnya dan tentu saja lingkungan yang membuatku harus bisa menguasai banyak hal karena aku tidak akan menjadi siapa-siapa jika aku tidak menguasai apa-apa.

Tapi, Semarang membuatku menjadi seseorang yang lebih santai untuk bisa menikmati hidup. Bebas dari hiruk pikuk kota yang macet, orang-orang yang 24 jam hidupnya di jalan dan tentu saja Semarang tidak membuatku tertekan akan istilah-istilah aneh dalam dunia digital marketing ini. Eheu ternyata semua kota memang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing ya :))

Digital Improve..
Digital yang kukenal dulu dan sekarang berbeda. Aku sungguh seperti terseret arus dan harus bertahan demi bisa berenang ke tepian *halah drama HAHAHAHA. Aku mengenal digital sebagai tempat dimana personal branding dibentuk, portfolio disampaikan tanpa harus bertatap muka dan tentu saja membangun sosialisasi lewat social media tanpa harus saling tahu dalam dunia nyata.

It’s time to challenge myself to be a better me. Sebagai manusia yang cinta dengan tantangan aku menantang diriku sendiri untuk bisa belajar lebih dan lebih dan lebih lagi sampai akhirnya aku memutuskan untuk menjadi seorang freelancer alias digital nomaden, yaitu orang yang bisa bekerja di berbeda tempat. Yesss, bekerja dimanapun, masuk ke bidang apapun untuk bisa mengerti segala macam hal dan bertemu dengan orang dengan berbagai macam bentuk. Yeah, please let me introduce myself that I’m a content creator. Someone who create content in any way. 

Punya basic sebagai seorang blogger tidak lantas membuat pekerjaan sebagai content creator lebih mudah. Heeeyyyyyy!! Ngeblog itu nggak cuma sekadar nulis, apalagi jadi content creator :))))

Kadang suka gemas sama teman-teman yang menganggap bahwa pekerjaan sebagai seorang content writer, copy writer, advertiser dan content creator itu cuma sebatas NULIS DOANG. Yaiyasih cuma nulis, tapi nulis itu juga butuh skill alias nggak bisa sembarangan nulis :))
Apalagi, setelah memutuskan menjadi seorang digital nomaden alias orang yang kerjanya pindah-pindah, aku jadi punya tuntutan kepada diriku sendiri untuk bisa bekerja secara mandiri dimanapun dengan laptop yang harus selalu on setiap waktu karena aku harus siap kapanpun klien atau partner kerjaku membutuhkanku.

Selain itu, aku juga harus punya kemampuan yang nggak cuma sekadar nulis. Aku dituntut untuk bisa fotografi, videografi, editing foto dan video, desain grafis sampai harus bikin sketch atau typography ala ala untuk bisa mendukung segala sesuatu yang bisa menjadikan kontenku makin kece dan ciamik.

Yaaahhhh for the sake of content I have to be a good content creator too, right? Simple, kenapa harus bisa semuanya? Karena ngrepotin orang lain itu nggak gampang, belum lagi kalau yang direpotin pas nggak bisa. Duh, pokoknya jadi content creator itu nggak bisa bergantung sama orang lain. Belum lagi idealisme diri yang kadang gede banget. Uh! Minimal kalau mau jadi content creator itu menguasai basic dari berbagai macam hal, deh pokoknya heheu :))

That’s why, biarpun nggak professional banget, setidaknya aku bisa membuat produksi kontenku semakin kaya dengan beragam jenis konten, seperti tulisan, foto, video, atau sekadar desain infografis apa adanya mueheheh yang penting nggak kosongan aja! :))
Pernah nggak sih punya pengalaman yang super duper mengesalkan saat laptopan? Yes, tiba-tiba laptop force close padahal banyak file yang belum disimpan! Nyesek beb :”) Sedihnya nggak ketulungan kalau sampai harus mengulangi segala sesuatu dari awal. Aku selalu halu punya laptop yang dibekali dengan processor AMD APU A10-8700P dan GPU AMD Radeon R6 M340DX 2GB.

Boro-boro force close, kalau laptopnya sudah dilengkapi dengan processor ciamik tersebut nge-lag aja udah nggak mungkin banget hahahaha. Prosesornya aja bisa buat main gaming. Kebayang kan kalau cuma buat software content creator macam rentetan keluarga Adobe mah keciiiillll. Apalagi buat nonton film atau video? Wuuuhhhhhh jangan salahhhh bisa wuswuswus ini mah.. Enteng pisaaannnn :))

Cuma aku suka parno kalau laptop bagus itu biasanya berat dan bikin capek kalau dibawa kemana-mana alias nggak bisa menunjang mobilitasku yang luar biasa kayak belut kepanasan ini heheu. I
yak! Anaknya nggak bisa diem banget buset dah hahahaha. Pagi dimana, siang dimana, sore dimana, malam dimana, hari ini dimana, besok dimana, lusa ehhh udah pindah kota lagi. Emang dasar cacing kepanasan! Heheheu :))
Makanya aku punya angan-angan banget bisa punya laptop yang slim, desainnya kece dan hmmm harus bikin aku ngerasa prestige karena laptopnya membuat setiap pasang mata jatuh cinta. Cieeeee ah ini obrolannya kemana-mana banget yah hahaha. Jadi kebayang sama desain ASUS X555 seriesyang luar biasa menggoda kannnn hmmmm…

Ya gimana dong, nggak cuma unggul di performa, laptop ASUS X555 nggak cuma unggul di performa dan desain yang nyaris sempurna. Laptop ini bahkan punya keyboard yang terbuat dari alumunium dan bisa menyerap panas. Nah loh, makin betah laptopan nggak tuh ceunah!!! Belum lagi, baterai laptop ASUS X555 ini non removable yang artinya nggak ada tuh laptopnya benjol karena ada bagian baterai yang menonjol terlihat dan kadang justru mengganggu. Ringkas banget, kan?
ASUS X555 punya baterai jenis Li-Polimer yang daya tahannya 2,5 kali lebih kuat dibandingkan baterai Li-Ion Silinder. Bahkan setelah diisi ulang hingga ratusan kali, baterai ini tetap dapat menyimpan sampai 80% dari original kapasitasnya. Kita nggak sering cari colokan deh kalo mau kerja.
Parahnya, si ASUS X555 series ini baterainya adalah jenis Li-Polimer yang tahannya bisa 2.5 kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan baterai Li-Ion Silinder di pasaran. Nggak ada ceritanya nyari colokan pas lagi nongkrong-nongkrong cantik deh pokoknya! :))

Gokilnya lagi, Asus X55 ini sudah dilengkapi dengan teknologi IceCool yang dirancang untuk mengatasi overheat yang biasa menyerang laptop pada umumnya. Teknologi ini mampu menjaga temperatur notebook di antara 28-35 derajat. Suatu suhu yang bahkan lebih rendah dari suhu yang dihasilkan oleh tubuh manusia. Kebayang kan nyamannya bisa berduaan dengan laptop berlama-lama tanpa takut laptop jadi panas atau overheat? :))

Detailnya performanya bisa dicek di gambar di bawah ini ya, gengs!

Bisa dibilang, ini laptop impian content creator banget banget banget, sih! Mau diajak nulis hayuk, mau diajak bikin desain hayuuukkk, mau diajak olah digital foto hayuuukkk, mau diajak edit video dan render video ya hayuuuukkk. Pokoknya semuanya hayuuukkk dah!!! Udah paket lengkap pake telor ini mah bisa nulis, ngedit dan olah konten dalam satu perangkat. Yang penting, entengnya itu lhooo bikin cintak!!! Bisa dibawa-kemana mana, tapi tetap bisa diandalkan kapanpun tanpa takut berat dan bikin nggak nyaman heheu.

Anyway gengs, kalian kalau penasaran bisa lihat-lihat Asus X555 ini d Tokopedia, lho! Karena eh karena si ASUS X555 juga dijual di Tokopedia! Asyik kaaann bisa review dulu sebelum beli dan jangan lupakan baca testimoni dan review tentang ASUS X555 ini yaaa. Dijamin kalian yang nggak pengen beli jadi pengen beli dan yang pengen beli jadi tambah nggak tahan buat beli sekarang juga! Ya gimana dong, bagus banget sih barangnyaaa heheu :))

Ini nih yang nggak boleh ketinggalan! KAMERA! Yes, as a content creator kamera harus banget aku bawa kemana-mana. Setiap kali aku menuju suatu tempat barangkali untuk jalan-jalan atau memang khusus untuk take foto aku selalu menyiapkan jepretan terbaik. Tapi yaa kadang memang hasil tidak sesuai ekspektasi kan, ya? HAHAHA

Makanya aku butuh laptop canggih buat membantu aku olah digital foto agar hasilnya makin bagus dan makin siap untuk diunggah ke blog atau social mediaku. Heheu, hidup di sosial media harus sempurna, bukan? Dan Laptop ASUS X555 akan membantu mewujudkanku menjadi sesempurna itu karena kemampuannya yang luar biasa mumpuni bagi content creator sepertiku :))

Last but not least, I always admire a content creator di bidang apapun itu. Bagiku, jadi content creator itu nggak gampang dan bisa jadi bagian mereka itu such a gift, sih karena nggak semua orang bisa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Repot beb kalau nggak bisa bagi pikiran dan waktu dalam satu waktu. Apalagi kalau deadline menyerang. Euuuhhh jangan ditanya pusingnya heheu!

Aku paling seneng sama content creator yang bisa menciptakan desain dan video. Aku nggak bisa soalnyaaa huhu, nggak pernah bisa bikin desain semaksimal yang mereka bikin :”) Pokoknya content creator itu emang juarakkk!!! Btw, kalau sambil ngerjain jangan lupa siapkan cemilan biar nggak bosen, ya! Menghadapi deadline juga butuh tenaga bruh!!! HAHAHAHA

Salah satu proses content creator – sketch gambar dan menemukan ide sebelum akhirnya memvisualisasikan ide tersebut ke dalam gambar yang lebih matang


Tapi tenang, kalau sudah pakai ASUS X555 mah semuanya jadi bereeeeessssss ~

Mau
deadline lagi kenceng-kencengnya, semuanya bakalan aman. Laptop X555 kan udah ciamik banget dilengkapi dengan baterai jenis Li-Polimer, Teknologi IceCool, dan Prosesor AMD®Quadcore A10 yang mantap banget untuk mendukung kegiatan content creator yang nggak jauh-jauh dari dunia blogging, editing gambar, rendering video, dan membuat infografis untuk kebutuhan content masa kini.

Jadi kapan kamu punya laptop ASUS X555? :))

Salam,

Barangkali Bukan Aku

yang kamu cari
yang kamu butuhkan
yang kamu inginkan untuk ada
menemani pagi, siang, malammu
menemani sehat hingga sakitmu
menemani luang dan sibukmu
barangkali bukan aku
yang tangannya ingin kamu genggam
yang malamnya ingin kamu bahagiakan
yang bersamanya kamu rasa surga begitu dekat adanya
barangkali bukan aku
yang pantas mendapatkan seutuhnya kamu
yang akan kamu bagi senang dan sedihmu
yang jikalau kamu butuh, namanya akan kamu panggil untuk pertama kali
iya, barangkali memang bukan aku
orang yang akan kamu peluk saat kamu resah
orang yang kamu kecup setiap kali kamu beranjak tidur
orang yang akan kamu ajak berdiskusi tentang lelahnya hari yang kamu jalani
barangkali memang bukan aku…