Hari-Hari Isolasi

Hari ini adalah hari ke-9 pasca tes swab PCR dan hari ke-5 pasca aku dinyatakan positif covid19. Cukup lama untuk menunggu hasil tes PCR kali ini memang.

Karena memang di rumah hanya sama ibuk dan khaula dan khaula tiap sama ibunya nempel melulu, maka selagi hasil tes belum muncul aku masih main dan melakukan kegiatan bersama khaula.

Qadarullah, ketika hasil tes keluar dan aku dinyatakan positif, aku langsung memblokade khaula dari kamar dan mengabari mas yang tengah ada di luar kota. Tanpa banyak kata, mas bergegas. Aku yang egois tak peduli apakah suamiku sudah makan atau belum karena di pikiranku waktu itu aku hanya ingin bapaknya khaula tahu bahwa aku terkonfirmasi positif dan meminta bantuannya untuk menjaga anak kami selama aku dalam masa isolasi.

Kenapa Tes Swab PCR?

Selasa, aku dan teman-teman kantor dikabari bahwa atasan kami positif setelah melakukan tes PCR setelah sebelumnya Senin, beliau ke kantor. Dan beliau melakukan tes PCR karena ternyata Minggu mertuanya terkonfirmasi positif keduanya. Akhirnya, kami sekantor dijadwalkan untuk tes swab PCR dan qadarullah dari semua orang di kantor, aku terkonfirmasi positif.

Kaget, tapi tidak begitu kaget karena sudah nerimo dan sadar diri bahwa selama ini masih sering pergi keluar untuk beli makan, beli sayur atau sekadar mampir ke minimarket. Virus ini nggak kelihatan, kan?

Ada Gejala Nggak Sebelum Tes Swab PCR?

Sejujurnya, nggak ada gejala apapun yang terjadi padaku. Not even pilek, batuk atau demam. Justru, setelah swab aku merasa sedikit meriang dan memutuskan untuk kerokan. Dan beberapa kali swab, pasti aku merasa pilek. Entah karena kebetulan aku sakit atau memang hidungku sensitif dengan alat tesnya.

Besokannya, karena masih harus belanja sayur, aku belanja sayur sendirian seperti biasa. Harusnya setelah swab langsung isolasi ya teman-teman. Bukan untuk dicontoh ini. Tapi kalau memang harus keluar, pastikan keluar pakai dobel masker, bawa hand sanitizer dan sebisa mungkin jangan sampai bersentuhan dengan orang lain.

Kemudian di tempat tukang sayur, tiba2 aku merasa pusing, mual dan keringat dingin tiba2 mengucur ke seluruh tubuh. Deras sekali bak hujan. Biasanya pun tak pernah. Lamat-lamat pandanganku buram, blur, suara-suara hampir tak terdengar dan orang-orang di depanku tak terlihat.

Tak lama ketika penjual menghitung harga belanjaanku, pendanganku menggelap. Aku memegang meja di depanku lalu berusaha mencari tempat duduk. Aku menundukkan kepalaku yang rasanya sudah tak tertahan ingin pingsan. Aku mencoba tetap sadar agar tak menyusahkan siapapun. Tapi rasanya sulit sekali merasakan pengalaman pertama yang seperti ini.

Namun, setelah hari itu berakhir tidak ada hal yang terasa. Alhamdulillah aku merasa sehat, tak ada pilek, tak ada batuk, tak ada demam, nafsu makan pun baik, seperti biasa masih bisa makan 2 kali sehari dan tak kehilangan nafsu makan sama sekali.

Masa-masa Isolasi

Hari-hari selama isolasipun, alhamdulillah tidak ada gejala yang muncul. Sehat walafiat alhamdulillah. Hanya saja sempat kehilangan nafsu makan karena mendengar khaula tertawa, menangis, namun tidak bisa dan tidak boleh menyentuhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s