Sayang ya Sekolah Tinggi-Tinggi Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga Doang

Ibu rumah tangga menjadi momok pekerjaan yang sangat menakutkan bagi para pengejar karir yang menganggap bahwa sekolah tinggi-tinggi itu harusnya tidak hanya berakhir menjadi seorang ibu rumah tangga saja.

Bagaimanapun aku menolaknya, aku pernah menjadi takut seperti mereka. Septi kecil pernah penuh dengan ketakutan akan berdiam diri di rumah saja suatu hari ketika telah menikah. Tapi, kenyataannya berbeda.

Apa-apa yang dikatakan orang tentang ibu rumah tangga tidak sedemikian benar. Bagi seorang aku di masa sekarang yang menyandang status sebagai seorang istri dan ibu satu anak, menjadi seorang ibu rumah tangga was kinda hard. Never easy as people thought about. Nggak gampang buat bisa jadi ibu rumah tangga yang sempurna sesempurna postingan instagram orang-orang yang isinya happy terus.

Kemampuan berpikir cerdas, cara mengelola emosi, hingga kemampuan bersabar teramat sangat diuji ketika menyandang status sebagai IRT.

Pekerjaan domestik, seperti mencuci, menjemur, menyetrika, menyapu, mengepel, mencuci piring dan printilan lainnya seolah tak pernah berakhir.

Belum lagi kalau disambi dengan mengurus anak alias momong. Rasa-rasanya bisa tidur menjadi hal yang mahal. Boro-boro mau mandi lama, kebelet pipis aja bisa ditangisin kayak mau ditinggal pergi ke luar negeri. Posesif sekali anak kalau sama ibunya.

Eh, kok sambat?

Nope.. Please dont think that sambat is the wrong thing. Semua orang pasti akan merasa lelah pada titik-titik tertentu. Merasa lelah karena banyak hal. Dan menjadi ibu rumah tangga bisa saja menjadi lelah karena tidak pernah merasa sempurna bahkan di rumah sendiri. Ya, kendala paling besar pada seorang ibu berstatus IRT adalah tidak pernah merasa bahwa apa yang dilakukannya benar.

  • Seperti rasa-rasanya ada saja yang salah… Ada saja hal yang dilakukan terasa tidak benar sehingga membuat para ibu merasa dirinya belum bisa disebut menjadi seorang ibu. Contohnya?
  • Saat main dengan anak/menyuapi anak, lantai berserakan dan pekerjaan domestik tertunda hingga menumpuk.
  • Saat menidurkan anak dan ketika anak menolak tidur/susah tidur dan menangis kencang, maka akan muncul pikiran-pikiran “apa yang salah dengan yang kulakukan? apa aku tidak bisa menjadi seperti ibu lain yang kalo anaknya di boboin langsung manut tanpa harus di pukpuk?”
  • Saat anak bbnya naik atau turun,
  • Saat anak kekeuh hanya boleh minum ASI ibunya atau anak minum sufor karena kondisi tertentu
  • Saat ketika melahirkan harus melalui proses cesarian alias sesar dikatain lahiran lewat jendela yang seharusnya nggak ada.

And a lot of things, out of nowhere yang bikin nyesek tapi nggak bisa diomongin.

People have to know that being Ibu Rumah Tangga itu perangnya sama diri sendiri, bukan sama orang lain.

Pernah kebayang nggak saat 24 jam di rumah terus yang orang-orang pikir di luaran sana kami ini enak, cuma di rumah tapi dapat nafkah. Nggak ngapa-ngapain udah ada yang kasih makan. Nggak ngapa-ngapain bisa hidup enak di rumah tanpa harus ngerasa capek kerja. Nggak ngapa-ngapain cuma di rumah nemenin anak aja.

Pernah kebayang nggak saat 24 jam di rumah terus orang-orang pikir kami ini cuma tidur-tidur doang, punya waktu istirahat cukup nggak perlu repot motoran, naik angkot, panas-panasan hingga mikir berujung debat sama bos karena dikira nggak patuh sama brief.

Pernah kebayang nggak saat 24 jam di rumah terus orang-orang pikir kami ini bisa bangun siang, terus main sama anak seharian, bisa lihat tumbuh kembang anak, bisa ngurus anak dengan baik, dll.

Pernah kebayang nggak betapa sebenarnya tersirat banyaknya harapan orang-orang di luaran sana terhadap kami para ibu rumah tangga yang berjuang mati-matian untuk tetap di rumah dengan segudang pekerjaan domestik yang menguras fisik dan printilan-printilan yang dikatain cuma oleh segelintir orang yang menguras emosi?

Pernah?

Kami butuh melihat dunia luar, kami butuh bergaul, kami butuh menyalurkan emosi, kami butuh teman ngobrol, kami butuh diajak brain storming, kami butuh haha hihi, kami butuh keluar rumah, kami butuh bertumbuh.

Tapi kami berusaha untuk tidak cemburu pada hal tersebut karena kami sadar betul bahwa rumah adalah sebaik-baik tempat tinggal bagi para wanita. Karena rumah adalah tempat bertumbuh anak pertama kali sebelum pada akhirnya nanti anak-anak memilih untuk keluar dari rumah dan menemukan dunianya sendiri.

Bagaimanapun kami terlihat begitu lebay karena merasa sendiri di tengah heningnya malam dan menangis karena rindu melakukan banyak hal, kami hanyalah manusia biasa yang butuh untuk hidup bahagia.

Karena bagaimanapun kami berjuang untuk menjadi sempurna di rumah, kami tetap tidak sempurna.

Karena bagaimanapun tagline “anak tak butuh ibu sempurna, anak hanya butuh ibu yang bahagia” hanyalah sebuah kalimat yang tidak serta merta bisa diaplikasikan di dalam kehidupan rumah tangga.

Ibu-ibu, i feel u.

Love,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s