Kalo Kita Nggak Dikasih Ujian, Kita Belajar Sabar Darimana?

Pernah nggak sih kalian curhat sama orang dengan emosi yang pengen luapkan karena kesel tapi malah jadinya nggak sesuai?

Pasti pernah, kan?

Bahkan, seringkali ketika kita curhat, aku terutama mengalami yang namanya dikomporin alias bukannya ditenangin tapi malah dibuat makin panas karena yah begitulah manusia kayaknya memang harus baku hantam biar emosinya tersalurkan.

Tapi nggak gitu kalau curhat sama mas. Nggak pernah sekalipun dalam sejarah aku menikah dan hidup sama mas yang selalu mendengar sambatanku terus ngomporin biar aku makin panas dan terbakar api emosi.

Malah yang ada diingatkan, dinasehatin, dan dipeluk. Eh, konten dewasa ya ini hahahaha…

Serius serius, masalah besar itu nggak ada apa-apanya kalo kita punya hati yang lapang. Aku ngeliat itu di mas. Ngeliat banget gimana sikap mas, perbuatan mas, cara pemikiran mas buat menenangkan aku yang suka lari-larian kalo ada masalah.

“Nggak apa-apa, dimaafin aja, Allah tahu kok kalau kamu mampu melewatin ini. Ini bagian dari ujianmu. Disyukuri aja buat belajar, berarti kita nggak boleh kayak gitu.”

“Sabar, kalo nggak diuji, kita gimana naik levelnya?”

“Anggep aja ini ujian buat kita. Kalo nggak dikasih ujian, kita belajar sabar darimana?”

Dan petuah-petuah lain yang kadang bikin gemes tapi malah jadi melunakkan hati. Terus bikin ngucap syukur banyak-banyak karena Allah sudah baik banget sebab telah menjodohkan kami, aku yang suka meledak-ledak tiba-tiba dengan pria sabar yang sekarang selalu menemani pagi, siang, sore dan malamku tanpa pernah sambat kalau istrinya ini sebenarnya bawel wekekeke.

Dulu aku selalu punya trustment issues, masalah buat mempercayai seseorang dan menganggap bahwa tidak ada seorang pun yang bisa dipercaya sampai takut untuk menikah.

“Ada nggak ya orang yang mau menikah denganku dan benar-benar bisa percaya denganku? Ada nggak ya orang yang rela menghabiskan waktunya denganku yang banyak kekurangannya ini? Ada nggak ya yang bersedia menemani suka dukaku sepanjang hidupnya?”

Nyatanya, sekarang, aku nggak bisa seharipun nggak liat mas. Berat rasanya ketika harus diuji dengan LDM. Bersyukur sekali bisa dibersamakan dengan pria sabar dan dewasa yang menjadi bapak dari anakku. Alhamdulillah,

Semoga Allah selalu jaga keluarga kecil kami dari hal yang terlihat maupun yang tak terlihat.

Dan semoga para pembaca yang belum bertemu, tetap berbaik sangka terhadap takdir Allah yang mungkin menurut kita kurang baik, tetapi itulah yang terbaik menurut Allah.

Semoga Allah hadirkan bahagia yang sama untuk kalian. Bahagia karena merasa tenang sebab telah dipertemukan dengan orang yang tepat 🙂

Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s