Perjalanan Hidupku Sebelum Bertemu dengan Digimart

“Banyak jalan menuju Roma”

Kalimat ini begitu kuat melekat di pikiranku. Kalimat ini pula yang membawaku untuk tetap bertahan di situasi yang sulit sekalipun. Karena aku percaya, banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan untuk bisa meraih mimpi sekalipun itu harus dilalui dengan berdarah-darah dan penuh perjuangan.

Anak SMK Bisa Apa?

Aku pernah stuck dengan kalimat ini. Kalimat yang sama sekali tidak menguatkan, melainkan melemahkan. Sejak SMK, aku sudah terbiasa “bekerja” untuk menyambung hidup selama bersekolah. Pulang sekolah aku langsung melanjutkan hariku dengan bekerja di salah satu kantor animasi di Semarang. Waktu kerjaku pun hingga pukul 9 malam, cukup larut untuk aku yang berangkat sekolah sejak pukul 6 pagi dari rumah.

Tidak selesai di situ saja, aku masih mencari lowongan pekerjaan yang bisa aku kerjaan secara remote alias tanpa harus datang ke kantor. Dan waktu itu, temanku menawari pekerjaan untuk menulis, mengelola sosmed, mengelola blog dengan gaji 300 ribu per bulan dengan job desk yang aku awam saat itu. Aku mengiyakan karena bagiku, aku lebih butuh hidup daripada mengeluhkan gaji.

Waktu berlalu, sampai akhirnya aku lulus SMK, aku mencoba melamar ke salah satu perusahaan telekomunikasi di Semarang sebagai seorang CS, dan lamaranku ‘dibuang’ begitu saja karena aku hanya lulusan SMK. Saat itu duniaku runtuh. Kecewa sekali mengapa HRD perusahaan tidak berusaha melihat pengalaman kerjaku terlebih dahulu dan langsung memberikan label kepadaku sebagai Anak SMK semata.

Hidup Harus Terus Berjalan

Aku tidak menyerah. Aku terus mencari dan mencari pekerjaan setelah proyek demi proyek pekerjaan sampinganku selesai. Hingga waktu itu seorang kakak kelas menawariku untuk bekerja di salah satu perusahaan penyedia jasa Distribution Channel, General Service dan Telco Infrastructure Services. Aku mengiyakan karena tidak lain dan tidak bukan aku harus hidup.

Bekerja di lapangan yang mayoritas teman-temannya adalah laki-laki dengan jam kerja pagi-siang-sore-malam hingga dini hari, membuatku kesulitan untuk beristirahat. Sebab, aku masih mengerjakan proyek tulisan di salah satu perusahaan digital marketing agency. Ngoyo banget, ya? Iya, sampai salah satu karyawan senior di perusahaan tersebut bertanya, “ngebet banget sih, dek kerjanya, mau nikah ya?” Aku tersenyum kecut. FYI, waktu itu aku baru berusia 18 tahun dan sudah menjalani peliknya dunia kerja.

Ngoyo Banget Sih, Kerja, Mau Nikah, Ya?

Aku sih haha-in aja kalau ada yang ngomong gini waktu itu. Satu hal yang pengen aku lakuin banget sejak dulu adalah kuliah sampai lulus sarjana. Sederhana, aku pengen melanjutkan pendidikanku, tapi aku sadar orang tuaku nggak mampu buat biayain aku kuliah. Makanya aku mati-matian cari uang, nabung dengan harapan suatu saat aku bisa kuliah.

Semesta berpihak kepadaku, tahun 2014 aku lolos ke salah satu kampus swasta terbaik di Semarang dan mendapatkan beasiswa. Sayangnya, uang tabunganku tak cukup untuk membayar uang gedung yang sudah didiskon oleh kampus. Dengan waktu yang sangat mepet, aku minta bantuan teman-temanku dan ada salah satu teman yang meminjamiku uang untuk membayar uang gedung. Aku tersenyum lebar sekali. Akhirnya aku jadi mahasiswa 🙂

Tapi semua itu tidak berjalan lama……

Selama kuliah, aku juga menjalani profesi sebagai wartawan media online, guru les privat dan freelance content writer dari dosen. Hampir setiap hari aku sampai di kampus jam 6 pagi dan sampai rumah kembali hampir pukul 12 malam. Aku butuh bekerja untuk biaya kuliahku yang tidak sedikit, terlebih lagi aku juga harus melunasi hutang uang gedung pada temanku.

Sampai akhirnya aku ada di titik tidak sanggup, aku melepas status mahasiswaku setelah dosenku memutuskan untuk tidak lagi mengajar. Aku kehilangan dosenku, tidak hanya kehilangan sebagai sosok guru, aku juga kehilangan salah satu sumber penghasilanku. Yang artinya, uang bulananku tidak lagi sebanyak biasanya dan aku harus merelakan jas almamaterku untuk tidak lagi kupakai ke kampus. Sedih sekali….

Aku mengurung diri di kamar. Aku menjauh dari sosial media dan kehidupan sosialku. Aku depresi parah kala itu. Waktu seakan berhenti. Akupun meninggalkan semua pekerjaanku dan hanya bisa meratapi diriku yang menyedihkan.

Namun, aku sadar, selama aku hanya meratapi kesedihanku tanpa berusaha berupaya kembali, semuanya akan sia-sia. Aku tetap tidak akan mendapatkan apa-apa. Aku hanya tetap akan menjadi pecundang saja.

“Di Jakarta banyak lowongan kerja, tapi untuk kelas Jakarta, mereka susah nerima anak SMK.”

Sebuah pesan masuk yang menantang. Jiwaku terbangun dan ingin meruntuhkan stigma bahwa Jakarta hanya untuk Sarjana menjadi Jakarta adalah tempat untuk siapa saja, tak terkecuali bagi anak SMK. Semangatku terpantik. Aku akan buktikan bahwa Jakarta akan kugapai meski aku hanya punya ijazah SMK.

Aku menyusun portfolio-portfolio yang telah kulakukan selama tahun-tahun perjuanganku. Aku menyusunnya dengan kemampuan desainku yang gitu-gitu aja. Satu hal yang membuatku terus bersemangat, “banyak jalan menuju Roma,” yang mana dimana ada kemauan di situ ada jalan. Satu persatu portfolio kususun, kurangkai profil semenarik mungkin dengan harapan Jakarta memanggilku untuk menjadi bagian darinya.

Kabar Baik Bersambut

Ponselku berdering. Terlihat nomor perusahaan meneleponku dan saat kuangkat, itu dari kantor di Jakarta Pusat yang baru saja kukirimkan surat lamaran kepadanya. Mereka memintaku untuk datang dan tentu saja dengan senang hati aku mengiyakan untuk berangkat ke Jakarta.

Aku berangkat seorang diri dengan ongkos seadanya. Sesampainya di kantor, aku menyadari aku kehilangan ponselku saat aku naik ojek online. Aku bingung bukan main. Aku tidak tahu bagaimana aku akan pulang karena semua data informasi tiket keretaku untuk keesokan harinya ada di ponsel.

Pikiranku kalut, tapi aku harus tetap terlihat cool di depan HRD, Manager dan senior yang akan mengetes dan mewawancaraiku. Dan terkejutnya aku, ketika mereka bilang “kami percaya kok Septi bisa nulis. Kelihatan dari blognya yang aktif. Jadi nggak perlu wawancara lebih lanjut, Septi kami terima. Selamat bergabung.” Aku sumringah bukan main. Alhamdulillah…… Dan betapa bahagianya aku ketika manager membantuku menghubungi pihak KAI untuk mengirimkan kode booking yang telah kupesan sebelumnya.

Aku pulang ke Semarang seorang diri tanpa ponsel dengan uang sisa dari Jakarta. Sendirian, menyedihkan sekali. Sambil memikirkan apa yang akan kukatakan nanti tentang ponsel ke Ibu, aku mengucap syukur banyak-banyak atas diterimanya aku di salah satu perusahaan impianku di Jakarta, di salah satu Digital Creative Agency terbaik kala itu.

Nampaknya Restu Ibu Berbentuk dengan Impianku

Baru dua bulan di Jakarta, nenek memintaku pulang dan tinggal di rumah saja. Katanya biar bisa ketemu tiap hari. Kangen katanya. Aku sedih mendengarnya. Lebih sedih lagi ketika nenek memintaku pulang, aku tidak bisa pulang karena tidak punya ongkos. Dan telepon itu adalah telepon terakhir yang kuterima dari nenek sebelum nenek berpulang.

Hari dimana teleponku berdering berkali-kali, aku membaca pesan singkat dari kakakku bahwa nenekku telah pulang ke rahmatullah. Aku langsung menelepon temanku dan memintanya untuk meminjamkan uang agar aku bisa pulang memesan tiket kereta saat itu juga.

Aku kalut bukan main, dan sesampainya di rumah, hatiku patah melihat Ibu yang terlihat begitu sayu. Ibu yang biasanya di rumah ditemani nenek, harus merelakan dirinya sendirian di rumah dan ditinggal anak-anaknya merantau jauh di kota orang. Aku galau bukan main.

Sepulang dari Semarang, aku tidak bisa tidur. Aku mencari pekerjaan sampingan meskipun aku sudah bekerja. Melalui temanku, aku mendapatkan pekerjaan sampingan lumayan untuk kebutuhan bulanan. Aku menabung agar aku bisa pulang 2 minggu sekali. Biarpun rasanya lelah sekali di badan, aku melakukan semuanya demi Ibu.

Sampai pada akhirnya, aku mendapati ibu sakit-sakitan karena banyak pikiran karena sendirian di rumah. Aku merasa aku tak pantas ada di Jakarta. Aku merasa tak seharusnya aku di Jakarta dan meninggalkan ibu sendirian sedangkan sedari bayi Ibu selalu menemani hari-hariku meski rasanya sulit sekali untuk membagi waktu.

Aku menyiapkan banyak portfolio. Aku menyebar berbagai proposal ke perusahaan-perusahaan semampuku demi bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa kulakukan dari jarak jauh. Proposal demi proposal terkirim, namun tidak satupun balasan kuterima. Sampai pada akhirnya aku mendapati ada satu perusahaan merespons emailku dan memintaku bertamu ke kantornya. Kami mengobrol dan kami sepakat untuk bekerja sama.

Di lain waktu, perusahaan yang lain juga menjadikanku salah satu pegawai jarak jauhnya. Dengan bekal ini, aku nekat untuk resign demi bisa menemani ibu di rumah. Karena aku yakin, restu Ibuku akan membuatku bisa menjalani hidupku yang tak pernah habis ujiannya ini.

Tapi aku sadar, aku harus bertahan hidup setelah proyek demi proyek dari perusahaan ini selesai…

Aku mulai mencari-cari apa yang bisa kulakukan dengan internet, laptop dan smartphone sederhana yang aku punya. Sampai aku menemukan Digimart, situs marketplace untuk freelancer di Indonesia dimana aku bisa berjualan jasaku di internet dan mendapatkan klien secara online tanpa harus repot bertamu ke perusahaan klien dan cukup berkomunikasi via laptop/smartphone saja.

Digimart adalah marketplace jual beli produk dan jasa digital terpercaya. Di sini, aku sebagai freelancer bisa menjual jasaku dan Digimart akan membantuku untuk menemukan perusahaan yang membutuhkan jasa yang aku jual. Cara kerjanya pun semuanya remote working alias jarak jauh.

Aku, sebagai content writer bisa menjual produkku berupa biaya per satu tulisan atau membuat paket pembuatan tulisan di Digimart. Menyenangkannya, aku bisa menentukan sendiri berapa harga jasa yang ingin kujual dan Digimart akan membantuku untuk menjualnya ke klien.

Nggak cuma jasa penulisan saja, Digimart juga menyediakan berbagai layanan kategori untuk penjualan jasa kita. Ada script & pemrograman, desain grafis, digital marketing, jasa SEO, poster & logo, video & audio, penulisan & terjemahan, dll.

Cara kerja di Digimart pun terbagi menjadi dua, yaitu sebagai pembeli dan sebagai penjual jasa dalam hal ini freelancer sepertiku.

Jadi, kalau aku bertindak sebagai pembeli dalam hal ini perusahaan atau perorangan yang butuh produk atau jasa digital, seperti tema website wordpress, remote desktop, VPS murah, jasa optimasi SEO Backlink , jasa desain logo atau jasa penulisan SEO website. Tinggal masuin keyword aja di kolom pencarian.

Tapi, kalau kamu adalah seorang freelancer sepertiku, yang merasa memiliki kemampuan dalam bidang jasa digital, seperti jasa penulisan, jasa backlink, jasa edit desain grafis atau bahkan memiliki lisensi tema website, pemrograman software, dll kamu bisa gabung sebagai penjual jasa alias freelancer.

Terus Gimana Kalau Mau Gabung Jadi Freelancer di Digimart?

Untuk cara gampangnya, cus langsung lihat videonya aja, ya!

Gimana, gampang banget kan cara daftarnya? Simpel dan nggak pakai ribet. Dalam waktu kurang dari satu jam saja kita sudah bisa bergabung dan terdaftar menjadi freelancer di Digimart.

Terus Kalau Sudah Verified via Email di Digimart, Lanjut Bikin Paket Harga Jasa Kita, Deh!

So, kalau kita sudah terdaftar menjadi member, kita bisa mulai bikin paket jualan untuk diverifikasi oleh tim Digimart dan akhirnya kalau sudah terverifikasi nanti pemilik perusahaan yang membutuhkan jasa kita akan melihat dan mempertimbangkan apakan mereka mau pakai jasa kita sesuai yang mereka butuhkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s