LDM Itu Berat

Kalau disuruh milih, deket sama suami tapi nggak bisa kemana-mana atau jauh dari suami tapi bisa kemana aja, aku bakalan milih opsi pertama.

Aku paling nggak bisa yang namanya ditinggal sendiri. Ya, meskipun terbiasa ngapa-ngapain sendiri, buatku, menikah itu untuk hidup berdua. Jadi, kalo tujuannya buat ditinggal doang, duh, bye, deh!

Sejak awal, sebelum menikah, kalau ditanya maunya calon yang kayak gimana, aku selalu jawab: yang nggak suka ninggal meskipun cuma sebentar. Nggak kuat aku kalau harus jauh-jauhan.

Bahkan, aku nggak sungkan nanya mas dulu ketika kami mau menikah. Dan jawaban mas sama dengan keinginanku, nggak mau jauh-jauhan.

Tapi, namanya juga hidup, kan, ya. Nggak ketebak mau diarahin kemana mah ngikut wae. Sampai akhirnya ketakutan terbesar LDM kejadian justru pas Khaula sudah lahir.

Pas lagi diuji sama keadaan Khaula yang demam tinggi, tongue tie, lemes dan nggak bisa nyusu, mas dapet panggilan kerja di luar kota. Sedih, tapi harus tetep sok tegar dan support. Alhamdulillahnya, mas dapat kerja di Kudus. Di kampung mertua, yang mana nggak bingung untuk cari tempat tinggal karena bisa numpang di rumah mertua dulu untuk sementara selama kami belum punya rumah.

Tetep aja, meskipun jarak Semarang-Kudus itu dekat, aku tetep nggak bisa ditinggal. Alhasil, selalu ada drama ketika aku di Semarang dan mas di Kudus.

Tiba-tiba nelpon cuma nangis, lah. Tiba-tiba hape dimatiin dan lebih milih tidur sama Khaula, lah. Banyak! Dan itu semua karena stress jauh dari suami. Jadi salut, sama pejuang LDM karena aku se-nggak bisa itu jauh dari suami.

Aku nggak megharamkan LDM. Malah salut sama yang tahan buat jauh-jauh dari suami. Aku, yang kelihatannya tegar ini ternyata ambyaarrr boooossssss kalo ditinggal sama suami meweeeek hahaha.

Nggak salah baca beneran deh kalian yang baca tulisan ini. Septi anaknya emang manja. Bahkan setelah menjadi ibu.

Buatku, suami support system yang paling kubutuhkan untuk jauh dari stress yang datang dari luar. Buatku, kekuatan utama buat tetep bisa kuat urus anak ya suami.

Jadi, kalau kalian memutuskan untuk LDM, aku mau peluuukkk kalian. Kalian hebat, kalian kuat. Aku nggak sanggup kalo harus LDM sampe berbulan-bulan 🙂

Semangat ya, para pejuang LDM! 🙂

6 Comments

  1. Siska Astari Dewi

    Halo dek! Heehe tertarik sama tulisannya. Kebetulan aku juga LDM, padahal pas sebelum nikah udah LDR haha. Ya gimana ya! Bener sih kata kamu. Kita nggak tahu mau diarahin di mana. Dulu setelah menikah, aku kira aku bakal tinggal sama suami di Purwokerto, eh malah LDM. Btw aku setelah menikah udah LDM Smg Pwt, skrg habis lahiran LDM Jgj Kaltara haha. Jadi curhat ya 😂. Eh btw, semoga kamu bisa. ❤️

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s