Memperjuangkan ASI, Memperjuangkan Khaula

“Maaf ya, mas kalau ternyata aku nggak bisa jadi ibu yang baik buat Khaula karena nggak bisa kasih full ASI,” Aku tersedu.

Mas memberikan bahunya, ia meraihku dan memelukku. Menenangkan dengan caranya dan meyakinkanku bahwa aku telah berupaya dengan sebaik-baiknya. Aku benar-benar telah melakukan segala cara dan ia menjadi saksinya.

Sore itu, tangisku kembali pecah. Sepulang dari bidan untuk konsultasi tentang ASI dan berat badan Khaula yang tak kunjung naik drastis karena baru saja pulih dari tongue tie, aku justru malah menangis.

Bagaimana tidak, yang awalnya datang untuk konsultasi saja malah dibanding-bandingkan dengan kondisi menantu bidan yang lahir hanya terpaut 3 hari lebih awal dari Khaula dan bobotnya sudah 2kg lebih di atas khaula. Terus terang aku nggak ngerti kenapa justru nakes (tenaga kesehatan) yang paling banyak memberikan tekanan berupa perbandingan anak satu dengan yang lainnya.

Padahal mereka paham betul bahwa setiap anak tumbuh dan berkembang dengan caranya masing-masing pada waktu yang berbeda-beda pula. Tapi, ah sudahlah. Aku nggak pengen memperpanjang. Yang jelas, aku kecewa ketika kami, aku dan mertua datang untuk konsultasi, justru cerita tentang menantu bidan yang kami dapatkan.

Alam bawah sadar memang berpengaruh penting. Saking pentingnya, sampai aku benar-benar kewalahan mengontrolnya. Kondisi bb Khaula memang kurang sedari lahir, ditambah Khaula baru saja pemulihan dan ini Khaula sedang dalam tahap pemulihan. Tapi, karena omongan bidan tersebut, alam bawah sadarku jadi liar. Aku jadi membayangkan begitu banyak kemungkinan yang mungkin terjadi bila Khaula tak kunjung mendapatkan bobot sesuai dengan indikator dalam KMS (Kartu Menuju Sehat).

Akhirnya, aku kembali seperti orang stress, ngomong ngelantur, tidur berantakan, makan berantakan dan aku memutuskan untuk ke DSA (Dokter Spesialis Anak) lagi. Padahal, jika dilihat dari timbangan pasca insisi (pemotongan tongue tie), Khaula sudah naik banyak! Hah, memang kalau sudah menyentuh alam bawah sadar kontrolnya jadi sulit sekali.

Semua Kulakukan Demi Bisa MengASIhi Khaula

Aku sudah melakukan cukup banyak hal demi bisa membuat ASIku mengucur deras. Mulai dari mengikuti mitos, seperti mandi dengan membasahi rambut setiap pagi, minum jus daun katuk tiap hari agar nutrisinya tidak hilang jika disayur, ke konselor ASI, makan telor setiap hari minimal 2-4 untuk menjaga kandungan protein dalam ASI, makan porsi sering minimal 3 kali sehari (aku jarang makan besar btw), makan ayam+telur+ikan+karbo+sayur dalam satu piring sekali makan, pumping ASI rutin setiap 2 jam sampai tidak bisa tidur nyenyak karena takut bablas, minum jamu wejah, makan sup daun kelor, dll dll dll.

APAPUN! Benar-benar apapun aku lakukan demi bisa memberikan ASI eksklusif Khaula. Hingga benar-benar terasa capeeeekkkk banget. “Mas, aku tu capek pumping…” Aku pernah melontarkan ini pada suamiku. Tapi aku jauh lebih takut bila aku malas pumping, anakku harus sufor. Setakut itu pada sufor. Maka, aku lebih memilih untuk berlelah-lelah. Bismillah.

Aku Saklek ASI!

Nggak, aku nggak benci sufor. Aku nggak mengharamkan sufor. Yes, aku saklek ASI. Bukan tanpa sebab mengapa aku jadi orang yang saklek ASI. Aku cuma pengen kasih haknya Khaula yang Allah titipkan melalui aku. Aku cuma nggak pengen dzalim sama anakku kalau nyerah gitu aja nggak memperjuangkan ASI.

Aku hanya merasa bahwa Allah menciptakan manusia itu selalu dengan sebaik-baiknya. Ketika Allah telah mempercayakan amanah anak kepada kita, tentu harusnya Allah telah mempersiapkan segala sesuatu yang bisa membuat kita memenuhi hak ASI anak kita. Oleh sebab itu, jika memang sampai ikhtiarku yang terakhir kalinya aku tetap tidak bisa memberikan ASI, maka aku akan dengan segala kerendahan hati merelakan anakku sufor. Tapi, when there is a will there is a way.

Aku berdoa sepanjang hari, memintaNya untuk memberikanku ASI yang cukup untuk Khaula. Memberikan asupan terbaik untuk Khaula melaluiku sebagai ibunya. Dan alhamdulillah, upayaku bersakit-sakit membuahkan hasil.

Meski harus kurang tidur, meski harus merintih kesakitan, meski harus terjaga setiap malam, meski harus kaget dengan alarm yang dipasang, meski harus makan makanan yang aku nggak pernah makan sebelumnya, aku bersyukur Allah kabulkan doaku.

Jangan Kira Aku Tidak Menyerah

Masa dimana Khaula demam adalah masa terberatku sebelum tahu bahwa Khaula tongue tie. Dan keesokan harinya, mas harus ke luar kota untuk pekerjaan. Aku sendirian di rumah dengan segala ke-chaos-an yang entah aku tidak mau jika harus membayangkannya lagi.

Dan masa-masa itu begitu banyak dorongan untuk memberikan sufor pada Khaula. Katanya, sama saja. Daripada anak lemes. Dan, aku kalah. Ketika hampir 4 jam lamanya Khaula tak kunjung menangis meminta susu. Ketika kulihat matanya sayu dan memerah. Ketika tubuh mungilnya lemas tak berdaya.

Aku memberikan Khaula sufor untuk kali pertamanya dengan berat hati. Dan di jam-jam setelah itu aku berupaya setengah mati untuk memompa ASI yang hanya keluar beberapa ml saja meski sudah kupompa bermenit-menit hingga berjam-jam. Aku menyerah. Tubuhku rasanya tak kuat melihat hasil ASIP yang menyedihkan.

Tapi, alih-alih menyerah, ketika melihat Khaula untuk kali pertamanya buang air besar di hari ketiga setelah demam, aku lebih baik bersakit-sakit ria mencoba memerah ASIP agar bisa keluar berapapun hasilnya daripada harus melihat anakku seperti itu.

Ia terlihat cukup sulit mengeluarkan kotoran dalam perutnya. Ia mengejan, terlihat sangat-sangat berupaya untuk mengeluarkan, tidak seperti ketika minum ASI, ia bisa dengan mudah dan tidak perlu bersusah payah mengejan. Aku saja yang orang dewasa tahu betul bahwa mengejan ketika buang air besar itu, sakit dan tidak nyaman.

Akhirnya, hari kedua Khaula ASI sambung sufor, emosiku makin tak tentu. Aku menangis sepanjang hari, meminta maaf pada Khaula. Menciumi tangannya, sambil membisikkan kata maaf berkali-kali karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya.

Dan tepat di hari ketiga, aku ingin sekali anakku stop sufor. Aku lantas menduga bahwa Khaula memiliki masalah tongue tie dan harus ditindak. Aku gelisah, ingin terbang ke rumah sakit saat itu juga rasanya.

Jumat siang, kira-kira pukul 11 aku menelepon mas yang ada di Kudus untuk meminta izin sekaligus mengabari beliau bahwa aku akan ke rumah sakit. Dan tidak disangka dan tidak diduga, mas sepulang shalat jumat langsung tancap gas ke Semarang untuk menemaniku dan Khaula. Allahu Akbar! Nggak ngerti gimana mau ngucapin terima kasihnya. Aku bersyukur punya kamu, mas 🙂

Dan ketika tiba dan bertemu dengan dokter spesialis anak konsultan, Khaula memang teridentifikasi tongue tie dan harus diinsisi. Lega sekali rasanya mendapati Khaula ditindak. Khaula menangis, tapi aku lega melihat akhirnya Khaula mendapatkan tindakan yang harusnya ia dapat sebelumnya. Maaf ya, nak ibu terlambat.

Dan sejak saat itu, aku langsung mencari tahu tentang konsultan/konselor laktasi yang bisa kujadikan tempat curhat dan berkonsultasi tentang ASI. ASIku yang tersumbat akhirnya dibantu untuk keluar dan aku diberikan resep untuk perbaikan kualitas ASI agar gizi Khaula tercukupi.

Alhamdulillah, setelah rangkaian menegangkan dan penuh emosi tersebut, aku tetap berada di jalanku untuk berlelah-lelah merelakan diriku kurang tidur, kurang istirahat, terjaga tiap malam, demi bisa memberikan ASI eksklusif kepada Khaula.

Untuk saat ini, aku memakai metode direct breastfeeding, yakni menyusui Khaula langsung dan pompa PD dengan pompa elektrik setiap 2-3 jam sekali mulai dari pukul 8 malam hingga subuh. Pagi – menjelang malam, menyusui langsung. Dan bada ashar pompa sekali karena biasanya Khaula diajak oleh neneknya. Stok agar Khaula tidak eprlu mencariku, tetapi tetap cukup ASI.

Dan, hasil pompa tidak kusimpan, ya. Melainkan langsung kuminumkan kepada Khaula karena kami ada PR untuk mengejar BB Khaula yang tertinggal jauh. Alhamdulillah, sampai postingan ini dibuat, BB Khaula sudah naik sangat-sangat lumayan. Meski demikian, aku tetap tidak boleh lemah!!

Tak apa nak bila ibu harus merasakan puting ibu lecet atau kebas karena sering dipompa atau tak sengaja kau tarik. Asal melihatmu bisa tumbuh sehat dan aktif, ibu rela.

Semoga ibu bisa memberikanmu ASI eksklusif 6 bulan – 2 hari sufor dan semoga ASI ibu bisa mencukupimu hingga kamu berusia 2 tahun ya, nak. Bismillah…

2 Comments

  1. Reska Donaga

    Semangat Mba, saya dan istri Alhamdulillah sudah melalui nya. Jangan lupa selalu positif, dan jangan lupa selalu tersenyum. Cuma itu yang saya implementasikan selama menemani istri saya berjuang untuk kasih anak saya [lanang] 2 tahun ASI esklusif. Good luck

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s