Belajar Menjadi Ibu

Being mom is kinda exhausting. Capek. Beneran deh nggak boong. Nggak bisa dijelasin pake mulut. Karna kalo udah kecapean cuma butuh waktu buat istirahat aja udah. Meskipun ada drama marah-marah sama suami dikit. Ehe.

Sudah sekitar 40 hari ini aku resmi menjadi seorang Ibu. How it feel? It feels like wowwww nggak nyangka aja bisa ada di titik ini. Rasanya beneran senano-nano itu.

Senengnya, capeknya. gemesnya, sedihnya, marahnya, semuanya jadi satu. Momen dari menjelang lahiran, sampai lahiran, sampe punya bayi, sampe akhirnya mulai momen-momen perbandingan dimulai.

Bayinya kecil ya… Ih, rambutnya sedikit ya… Ukurannya imut-imut ya… Ih sesar ya, anak sekarang mah gitu gamau sakit… Enak ya sesar… Anaknya perempuan sih, ga kayak anak laki-laki… And so many damn statement like that.

Begitu masuk ke masa-masa mengASIhi, masih ada aja yang komen. ASI kok nggak gendut-gendut… Anaknya si A itu lho nyenengin, gendut… dll dll dll dll kalimat-kalimat yang nyakitin.

Can they think something about seberapa besar perjuanganku sebagai seorang yang masih belajar menjadi ibu untuk bisa mengASIhi dan memberikan yang terbaik untuk anak? I may not the perfect one, i’m just trying to give the best for my daughter. That’s it!

Aku sudah cukup menderita terkena Baby Blues ketika pada akhirnya mendapati anak dengan BB kurang dalam waktu 1 bulan, anak demam dan lemas karena tidak ada asupan yang masuk dan itu terjadi karena ketidaktahuanku tentang tanda-tanda tongue tie.

Belum lagi, aku kekeuh sekali untuk memberikan ASI apapun yang terjadi, bagaimanapun itu sampai datang ke dokter anak, beli pompa asi, minum multivitamin, pijat laktasi, kompres PD pakai air panas, tanya sana sini, sampai akhirnya aku menghadirkan konselor ASI ke rumah. Capek. Beneran deh. Biayanya pun nggak murah.

Mulai dari waktu, materi dan emosi terkuras habis. Belum lagi melawan omongan-omongan untuk susu formula, disuapi pisang, dll. Berat banget rasanya. Tapi memang dari awal aku berjuang dengan niat untuk bisa memberikan hak ASI anakku apapun yang terjadi. Meski harus berdarah-darah mah hayuk aja bismillah.

The more I try, the more I know the truth. Mana yang sebenarnya salah aku lakuin selama ini, mana yang benar. Mana yang harus aku perjuangkan, mana yang harus aku lawan. Dan semua itu proses. Memakan waktu yang tidak sedikit. Capek? Tentu.

Aku mengalami masa-masa nggak nafsu lihat makanan. Aku mengalami masa-masa nggak bisa tidur. Aku mengalami masa-masa tiada hari tanpa menangis meronta-ronta. Aku mengalami masa-masa depresi berat. Aku takut anakku meninggal karena ketidaktahuanku.

Baby Blues ternyata sebahaya itu. Bahkan, kalau tidak segera ditangani, Baby Blues bisa menjalar menjadi post partum depression. Lebih parah dan lebih mengerikan tingkatannya. Naudzubillahimindzalik.

Aku belajar banyak, bahwa ternyata belajar mendengarkan itu penting sekali. Belajar untuk tidak mendebat itu ternyata membantu banyak. Aku yang pernah memberikan pendapat kepada yang datang bercerita kepadaku akhirnya jadi tahu, bahwa teman baikku, keluargaku, saudaraku, datang kepadaku untuk menceritakan unek-uneknya pun masalahnya hanya butuh didengarkan saja.

Tanpa perlu diberikan pendapat, tanpa perlu diberikan saran apalagi harus disalah-salahkan. Agar korban bunuh diri tak lagi bertambah karena korban merasa terlalu lelah.

Karena ternyata, rasa lelah, marah dan teman-temannya itu hanya butuh diluapkan saja. “Makanya, wudhu. Biar marahnya reda. Marah kan dari setan…” Iya, bener. Tapi tolong please diingat bahwa, manusia itu punya titik rapuh. Manusia itu butuh tempat untuk mengaduh. Tentu, sajadah adalah jawabannya. Tapi sungguh, andai kamu sedang dalam posisi stress yang sama, kamu tentu akan sangat sensitif mendengarkan jawaban ini.

Tolong ingat-ingat dengan baik, mendengarkan itu tidak sulit. Orang-orang yang datang padamu dengan “masalah”, sebenarnya sudah tahu apa jalan keluarnya. Hanya saja mereka butuh untuk ditemani, untuk disupport, untuk didampingi agar tetap kuat dan ada pada jalannya.

Karena ketika kamu rapuh pun kamu hanya butuh untuk ditemani tanpa harus dihakimi, bukan?

Aku bangga dan bersyukur dengan diriku sendiri karena bisa terus belajar, karena diizinkan untuk belajar.

Karena menjadi ibu tidak mudah, maka hari-hari penuh dengan ilmu adalah anugrah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s