Menanti Khaula

Manusia berencana, Tuhan tetap yang menentukan.

Tentang bagaimana akhirnya,

Tentang bagaimana hasil akhir ikhtiar seorang hamba.

yang tentu saja, tidak selamanya ekspektasi sesuai dengan realita.

Karena manusia, memang hanya berhak memegang kendali atas usaha

Serta melangitkan doa-doa dan

Berpasrah pada apapun keputusanNya.

Kami tidak mengira jika pada akhirnya kami harus benar-benar mempersiapkan diri untuk operasi. Terutama aku, yang sudah jauh-jauh waktu menanti dengan segala persiapan untuk melahirkan melalui proses pervaginaam.

Semuanya begitu mendadak. Semuanya begitu tidak terduga.

Selasa, 23 Juli, kami masih melakukan cek rutin kehamilan di dr.Dewi yang praktek di Ngesti Widodo, Ungaran. Sebelumnya, memang diingatkan bahwa kondisi air ketubanku cukup untuk lahiran dengan kondisi janin dengan ukuran 2.5kg, yakni ukuran di batas rata-rata jika tidak ingin anak kami masuk ke inkubator karena terlalu kecil (dikhawatirkan malnutrisi).

Saat melakukan periksa rutin malam itu, tiba-tiba bu dokter mengatakan bahwa ketubanku habis dan aku harus segera ditindak dengan induksi untuk mempercepat bukaan dan memajukan lahiran. Aku yang malam itu didampingi ibuku karena suamiku menunggu di luar kalut bukan main. Ingin menangis sekencang-kencangnya.

“Saya nggak ngerasa sakit buk, saya sehat, kok. Minumnya juga banyak.” Kataku, menyangkal kenyataan.

Namun, melihat hasil USG yang nyatanya ketuban hanya tinggal sedikit, yakni di bawah batas normal jauh, membuatku harus benar-benar mempersiapkan kemungkinan terburuk. Shock bukan main. Mungkin kalau suamiku yang ada di dalam ruang periksa malam itu, ia yang akan bertanya habis-habisan karena tahu aku tak bisa berkata-kata.

“Besok pagi ke sini, ya. Kita lakukan rekam detak jantung janin untuk tahu kondisi janin apakah baik untuk diinduksi atau tidak.” Kata Bu Dokter memberikan solusi.

Kami bertiga pulang, bungkam. Dan aku semakin tak berdaya, lemas, pasrah. Aku tidur dalam pelukan suamiku. Mas tahu aku sedang shock berat. Ia tak berkata apa-apa untuk menguatkan. Ia hanya memeluk, menggenggam tanganku, dan mencium keningku.

Pagi, Rabu, 24 Juli 2019 kami kembali ke klinik untuk melakukan rekam jantung janin. Selama proses perekaman detak jantung, mas selalu menggodaku agar aku tak tegang. Ia menceritakan cerita-cerita receh sambil sesekali memperlihatkan video lucu agar aku tetap rileks dan tetap tersenyum. Ia menggenggam tanganku, mengelus-ngelus perutku dan sesekali berbicara kepada anak kami untuk tetap kuat.

Dan alhamdulillah, ketika hasilnya keluar, kami dilegakan bahwa detak jantung janin stabil dan normal. Kami tersenyum, karena diizinkan pulang dengan pantauan dan diminta kembali di Hari Jumat.

Sesampainya di rumah, justru aku yang semakin panik karena pergerakan di dalam perut semakin tidak ada. Pergerakan adek semakin berkurang bahkan hampir tidak ada pergerakan sama sekali. Aku khawatir, dan di Kamis pagi, aku mengajak mas untuk mencari klinik terdekat dan melakukan USG. Dengan tujuan jika memang harus ditindak, maka hari itu juga kami akan berangkat ke klinik atau rumah sakit terdekat.

Qadarullah, klinik terdekat tutup dan klinik satunya lagi dokter SpOG-nya sudah pulang. Akhirnya kami tetap menunggu Jumat dengan berusaha tenang sambil memberikan afirmasi positif kepada anak kami untuk tetap bertahan, bersabar dan kuat di dalam rahim. Meskipun kalut bukan main, aku berusaha untuk tetap tenang karena ada mas yang selalu menguatkan.

Hari Jumat malam, kami melakukan kontrol dengan membawa segala persiapan persalinan yang telah kami siapkan sebelumnya. Baju ibu, baju bapak dan tentu saja perlengkapan bayi serta segala dokumen yang mungkin akan diperlukan.

Dan betul saja, tidak ada kabar baik dari dokter. Cairan ketuban benar2 telah habis dan berat badan adek kian lama kian turun. Tapi kami sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Aku, terutama sudah berdamai dengan diriku sendiri untuk tidak memaksakan diri bila memang harus ada tindakan operasi untuk menyelamatkan adek.

Malam itu, aku meminta dokter SpOGku untuk membantu persalinanku. Daripada harus dirujuk di rumah sakit lain, aku lebih memilih untuk menuju rumah sakit yang beliau praktek di sana, RS. Pantiwilasa Dr. Cipto. Tidak ada alasan lain selain karena beliau sudah mengetahui riwayatku, sehingga aku tidak perlu mengulang rekam medis dengan dokter lain. Dan terlebih lagi, dr. Dewi begitu baik dan detail. Aku cocok dengan beliau.

Hari Sabtu bada ashar, aku dan mas menuju ke rumah sakit untuk bersiap2 atas segala kemungkinan. Dan dokter Dewi langsung membuatkan surat rawat inap mendadak karena masuk sebagai pasien gawat darurat. Aku menjalani beragam tes pemeriksaan, mulai dari tes darah, tes tensi tekanan darah, dll sebelum masuk ke ruang persalinan untuk diisolasi.

Bukan main, mas tidak boleh masuk dan aku harus menunggu sendirian di dalam ruangan bersalin yang mana di dalamnya berisi orang2 yang merintih kesakitan karena merasakan bukaan, menangis karena merasakan sakit, dll. Aku yang sudah cukup siap untuk operasi jadi stress sendiri. Nangis-nangis, deh di dalem ruangan. Mana sendirian pula ._.

Sambil menahan sedih dan stress yang bukan main, aku menguatkan diri untuk tetap di dalam ruangan dan berusaha cuek. Bodo amat, dah. Meskipun tetap kepikiran. Dan keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan pagi pukul 6, aku disuruh berpuasa sebelum akhirnya operasi.

Ini adalah kali pertama dan semoga terakhirku merasakan operasi yang rasanya bukan main. Pukul 12 siang, setelah shalat, aku bersiap. Aku mulai dipakaikan pakaian operasi dan diangkut menuju ruang operasi. Semua keluarga memeluk, mendoakan, mengecup kening dan memegang tanganku erat. Bismillah….

Pukul 13.00 operasi dimulai. Aku dioperasi dalam keadaan sadar dan tidak sedikitpun dibiarkan tertidur oleh dokter. Tubuhku menggigil, bibirku gemetar. Dingin sekali rasanya sampai ke tulang. Dan pukul 13.32 Khaula lahir. Alhamdulillah… Lega rasanya mendengar tangisnya.

“Sudah lahir ya bu, perempuan, cantik. Ketubannya habis bis, bu. Untung segera ambil tindakan operasi,” kata dr. Dewi sambil tersenyum.

Aku tidak memikirkan apa-apa selain, “terima kasih, nak telah berjuang bersama ibumu yang penuh dengan kekurangan ini. terima kasih karena telah menjadi anak yang kuat dan menguatkan ibumu ini.”

Aku masih menggigil saat proses IMD, proses penjahitan hingga dipindah ke ruang sadar bius. Aku sudah tidak mengerti bagaimana rasanya menjelaskan dingin yang terlalu menusuk tulang. Bibirku semakin bergetar. Suster menyelimutiku dengan selimut dobel. Katanya, “nanti minta suami belikan teh panas ya, bu supaya badannya hangat.”

Akhirnya, aku dipindah ke ruang rawat inap setelah semua proses selesai. Dalam keadaan yang masih setengah sadar, aku masih gemetaran hebat. Mas bergegas membeli teh panas untukku. Dan ketika mas datang membawa teh panas, tak lama kemudian Khaula dibawa ke ruanganku. Aku tersenyum, lega.

Terima kasih Allah, karena telah menguatkan. Karena telah menjadikanku kuat. Maaf karena sempat tak yakin aku bisa melalui semua ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s