sawah tegalalang ubud

Mensyukuri Hal-Hal Kecil

Hari ini aku dibuat panik bukan main ketika sedang bekerja dengan laptop tercinta. Bukan kali pertamanya aku dilanda panik, tetapi setiap kali menyinggung soal pekerjaan, entah mengapa tingkat kepanikan dalam diriku serasa memuncak.

Meski di luar selalu terlihat baik-baik saja, tidak banyak yang tahu bahwa seorang Septi mengidap penyakit panik yang luar biasa dan teledor yang super duper njiengkeliiiiii HAHAHAHA.

Dan pagi ini, aku dikejutkan dengan LCD laptop yang tiba-tiba berubah menjadi mbleret eh mbleret ki opo si bahasane hahaha, pokoknya eror LCDnya ngehang dan hilang semua yang terlihat di layar. Tapi anehnya, audio yang kusetel dari Youtube masih menyala nyaring dan tidak menunjukkan gejala apapun.

Singkat cerita, aku yang sedang bercanda dengan mas langsung mendadak panik dan lari ke laptop. Kumatikan dan kunyalakan berkali-kali hasilnya masih sama. Belum panik, masih mencoba khusnudzon, berbaik sangka mungkin laptopnya panas, tapi tetap tidak bisa.

Mulailah panik, kirim chat ke sana ke mari untuk tanya-tanya dimana lokasi service Mac di Semarang. Satu persatu kutanyai detail, dan qadarullah banyak yang tidak tahu. Dan aku mulai panik.

File kerjaan gimana ini,

File kuliah gimana,

File ini, file itu belum di backup di drive dan di laptop semua

Gimana kalau beneran rusak dan harus ganti LCD,

Gimana kalau harus ngulang semua dari awal,

Gimana kalau begini, gimana kalau begitu…….

Dan beruntungnya, aku punya suami yang level paniknya nggak separah istrinya alias beliau yang menenangkanku pas lagi embuh-embuhnya.

Kami bersiap-siap menuju ke tempat kami membeli laptop, sambil memberesi apa saja yang akan kami bawa, kami masih berbaik sangka sambil berpikir tentang banyak hal, termasuk:

Hak mana yang belum kami keluarkan, sehingga kami diingatkan dengan cara seperti ini? Barangkali ini hal yang sepele untuk sebagian orang. Namun, kami percaya bahwa ketika kami diuji dengan harta, kami akan merenungi “apakah ada hak orang lain yang masih belum kami penuhi, sehingga Allah ingatkan kami dengan cara yang menyedihkan?

Tiba-tiba di salah satu chat terselip satu nama yang tidak asing bagiku dan mas tentu saja. Nama ini pernah kuhubungi ketika aku sedang mencari Mac Pro sebelumnya. Dan alhamdulillah setelah tanya jawab panjang, berujung kalimat yang begitu membuat kami semakin berbaik sangka “Nanti saya coba bantu ya, Mba. Saya kenal orangnya. Dia temen saya. Nanti saya coba bantu ngomong baik-baik karena mbak nggak tau kualitas barang yang dibeli. Lagi dapet apes mungkin mbaknya.”

Saat kami sampai pun, kami tidak bertemu dengan yang bersangkutan, kami meninggalkan laptop dan menunggu di toko sebelah sambil menemani mas membuat desain undangan. Ada sekitar 4 jam kami menunggu dengan gelisah — wkwk aku sih yang gelisah parah. Karena pikiran kemana-mana, terutama soal kerjaan yang mostly di laptop semua.

Akhirnya, kami memutuskan kembali datang ke toko sambil berharap semuanya baik-baik saja. Smartphone ku berdering, si mas-mas yang mau bantu ini sudah menelepon ybs untuk mempermudahku karena aku sebagai korban yang tidak tahu apa-apa di dunia per-Macbook-an.

Sesaat, begitu kami sampai, kami menengok ke toko apakah ybs sudah datang sambil berjalan menuju ke musala. Selepas salat, aku bahkan sudah ikhlas untuk meninggalkan laptopku di toko untuk dicek keesokan harinya kalau memang hari ini belum bisa.

Qadarullah, saat sudah ikhlas dan yowislah bismiilah, kami mampir ke toko dan mendapati yang jaga toko adalah si bos pemiliknya. Ya Allah seneng dan lega, ditambah LCDku akhirnya diganti GRATIS sebagai bentuk pertanggungjawaban ke kustomer. Ini juga tidak lepas dari bantuan Allah lewat masnya yang bantuin aku dengan telepon ke bosnya yang juga ybs ini.

Bersyukur bukan main karena aku dan mas nggak jadi keluar uang 2.7juta untuk LCD saja (belum ongkir). Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah akunya udah bisa hepi lagi.

Dan yang menyenangkan dari setiap proses kepanikan itu, Allah memberikan seorang pendamping yang sabar dan selalu ada. Beliau selalu menggenggam tanganku ke manapun, sepanik apapun sambil berusaha menenangkan tanpa protes. Iyaaa mas tu protesnya kalau masalahnya dah selesai, protesnya lebih ke ngingetin tapiiii wkwkwk:

“tuh kan, jangan panikan dulu, tenang. Allah tu bantuin kok. Allah tu nggak tidur. Khusnudzon aja, kita lagi diingetin. (((terus akunya ketawa-ketawa))) Kamu sih, kalo panikan hmmmmmm semuanya aja berasa salahhhh, termasuk suaminya ini. Ditemenin kok ditemeniiiiinnnn :))”


Pelajaran yang kami ambil ketika uang kami dipaksa keluar pun juga selalu sama, yakni instropeksi. Apakah kami belum mengeluarkan hak orang lain yang ada pada diri kami? Jika iya, maka tugas kami yang lain kali tidak boleh lalai karena Allah tidak akan pernah mengambil apa yang telah menjadi milik kita.

Btw, meski laki-laki dicap nggak peka, tapi dari mas aku belajar bahwa yang tenang, bukan berarti nggak peka. Mereka (suami) hanya berusaha untuk lebih terlihat tenang agar bisa menenangkan pasangannya.

Nek jare mas, sih: “Kalau kamu panik dan aku ikutan panik, siapa yang bakalan nenangin kamu biar lega dan nggak panik? Siapa yang bakalan nemenin kamu kalau dua-duanya panik?”

Maapin istrimu ya, mas. Terima kasih telah bersedia mendampingi dedek panikan yang satu ini. Makasih ya Allah sudah dikasih suami yang teramat sangat sabar dan sayang. I love you, mas ❤ ❤

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s