Honeymoon di Bali – Satu Hari Menyusuri Keindahan Ubud Gianyar Kabupaten Bali

Dulu nggak pernah kebayang sekalipun bakalan bisa ke Ubud, apalagi keturutan liburan ke Ubud ke tempat yang aku bener-bener pengen sama suami. Dulu mah pikirannya cuma harus sisain budget buat ke sana, main, eksplor sepuasnya dan yang jelas harus hepi hepi XD. Maklum, anak low budget mah realistis aja gituuuu hehehehe.

Tapi semesta dan takdir berkata lain. Aku bisa kemari akhirnya sama suami. Nggak tahu mau bilang seneng kek gimana lagi. Alhamdulillah banget, udah dikasih kesempatan bisa ke Ubud eeehh sama suami pula hehehe. Senengnya berlipat-lipat karena dikasih nikmat berlipat-lipat ganda sama Allah.

Sebelum menikah, kami memang berencana untuk ke Bali. Mungkin aku lebih tepatnya — eh mas juga deng soalnya mas belum pernah ke Bali. Dan kami sepakat memilih Bali sebagai destinasi jalan-jalan setelah menikah.

Awalnya pengen ke Bali terus ke Lombok backpackeran. Tapi, setelah menghitung jamnya, ternyata kami akan kehabisan waktu selama di kapal kalau kami nekat backpackeran. Apalagi aku harus on laptop everywhere dan akan susah untuk di kapal dan moving pakai kendaraan umum. Akhirnya, ke Bali aja, deh. Gituuuuuu :))

Harus ke Ubud ya, mas….

Kalau ngomongin Bali, sebenernya aku nggak pengen jalan-jalan di kotanya. Udah mainstream rasanya. Jadilah aku ngotot ke Ubud — aku harus menyaksikan dan merasakan sendiri segarnya terasering Tegalalang dan asrinya Monkey Forest Ubud di Bali. Aku bilang ke mas, “aku mau dibawa ke Tegalalang liat sawah sama ke Monkey Forest. Sisanya terserah mas aja mau kemana aku ngikut.” Mas diem, terus iyain eheheh. Ya kan mas belum tau mau kemana, aku yang buat itinerarynya ajah! Wehehehehe…

Sedari zaman masih di Jakarta sampe dua tahun tinggal menetap di Semarang, aku punya tempat tujuan ke Tegalalang — liat sawah, Iya, nggak salah baca, kok. Aku emang cuma cari sawah dan pengen menikmati sawah aja gitu. Nggak tahu kenapa anaknya emang sesederhana itu. Nggak pengen yang ribet-ribet. Pengen lihat sawah di pagi hari sambil dengerin burung-burung berkicau aiiih sedyaaapp , bukan? XD

Akhirnya Jadilah Kami ke Ubud Berdua

Iyaa berdua saja ~ kayak lagunya payung teduh, kan? Wkwkwk apaan sik! Kami memutuskan untuk menginap di Ubud, mencari lokasi yang paling strategis di sekitaran tempat kami menikmati indahnya kearifan lokal di Ubud. Yaaaa kami menginap di salah satu villa minimalis yang homey banget di Umah Dewa. Bisa dibilang lokasi villa kami dekat untuk menuju ke Tegalalang dan Monkey Forest Ubud. Alhamdulillah nggak salah pilih pas lagi car-cari hehehe.

Disambut Hujan di Hari Pertama

Ekspektasinya begitu sampai bandara, terus ke penginapan naruh barang dan istirahat sebentar, lalu sorenya bisa jalan-jalan sore muterin Ubud. Realitanya lain! Sesampainya di bandara Ngurah Rai kami disambut gerimis sisa hujan yang asssoooyyy sepanjang kami menuju ke Ubud, Kabupaten Gianyar.

Pas sampai di penginapan persis alhamdulillah hujan! Berkah berkah berkaaaahhhh kami nggak bisa kemana mana :”). Memang disuruh istirahat dulu, hujan mengepung kami hingga pukul 20.00 WITA dan kami kelaparan karena kami nggak bawa bekal jajan apapun buat dimakan. Eh, ada cuma tango ukuran mini XD hahaha.

Akhirnya kami nekat keluar pakai jas hujan karena kami belum makan dan butuh minum di penginapan. Menyusuri jalanan, ternyata sepi gilaaaaakkk hahahah sedih karena nggak nemu makanan khas Bali kecuali nasi jinggo yang udah pada tutup dan kami belum sempat nyobain.

Kocaknya, kami nemu warung penyet Lamongan yhaaaaaaaa jauh-jauh nemunya lamongan jugak! Hahahah karena tiada tempat tujuan lain, akhirnya kami makanlah lele penyet. Oh ya, warung penyetan di Bali disebutnya Warung Lalapan. Tapi menunya sama persis dan yang jual bahkan orang Pekalongan XD XD. Ngakak wis to ujung-ujungnya ketemu orang asli Jawa lagi, tonggone dewe! Hahahah

Melaksanakan Itinerary yang Tertunda di Hari Esoknya

Jumat, 30 November 2018 kami memulai aktivitas kami. Awalnya mau ke Nusa Penida. Tapi, karena hari itu Hari Jumat dan bisa dipastikan akan sulit menjumpai masjid, maka aku dan mas reschedule jadwal ke Nusa Penida. Akhirnya jadilah kami muterin sekitaran Ubud wehehehe. 

05.30 WITA Kami sudah mulai bergegas meninggalkan penginapan menuju ke Tegallalang Rice Terrace. Deket, kok. Cuma sekitar 30 menit dari penginapan kami berdua wehehehe. Seperti biasa, kami cuma bermodalkan Google Maps atau Waze. Biar kayak turis gitu, ih wkwkwk. Padahal ya karena memang nggak tahu jalan aja hahahah..

Aku teriak-teriak di jalan begitu masuk ke daerah Tegalalang. Is it real? Aku akhirnya bisa menghirup udara segar Tegalalang yang luar biasa fresh karena masyarakat Bali masih belum beraktivitas. Btw, orang Bali bangunnya siang apa memang mereka baru beraktivitas siang, ya? Heheheh sepi coy jalanan tuh! Asyik hahaha.

Kupikir sawahnya Tegalalang tuh bisa dinikmatin aja gitu tanpa harus effort alias effortless hahahaha. Tapi, yaaaa NO PAIN NO GAIN. Aku sama mas berkeliling naik turun nyari spot yang selalu endless buat kami. Aku anaknya emang suka naik turun gunung mumpung masih pagi juga ya kan hehehe jadi bisa sambil hirup-hirup udara segar :))

Masya Allah ijonya itu lho luar biasa pengen dibawa pulang. Tapi tenang, mata kami telah merekam indahnya sawah terasering Tegalalang kok Insya Allah. Tapi yaaa kami nggak nolak kalau nanti bisa ke sini lagi dan mungkin sama di junior eheheh aamiin šŸ™‚

Masuk ke Tegalalang GRATIS, kok. Cuma bayar parkir aja. 5000-10000 tergantung tukang parkirnya. Beda-bedalah heheheh. Kami kena 10.000 pagi itu. Nggak apa-apa, kami nggak ngerasa rugi udah dikasih kesempatan lihat indahnya Tegalalang hehehe.

Sekitar sampai pukul 09.00 WITA, akhirnya kami pindah lokasi. Kami menuju ke wilayah Kintamani. Penasaran ada apa di sana daaaaaannn ya Allah ini mah kayak Ketep Pass versi buaguuusss dan indaaahhh banget. Dan 10.00 WITA kami akhirnya sampai di lokasi Kintamani. Kebayang nggak sih hamparan gunung dan danau Batur Bali yang nggak ada duanya indahnya itu ada di hadapan mata kami berdua. 

Ya Allah, bener-bener terharu bisa melihat pemandangan seindah ini sama suami. Kami melihat dari atas bukit dan sampai turun ke danau, menyaksikan embusan angin danau yang luar biasa sejuk bukan main. Cantik, seneng, bahagiaaaa šŸ™‚

Dannnn yang bikin bahagia lagi adalaaahhhh ini semua masuknya geratissssss ehehehehe. Anaknya kan bahagiak kalau gratisan weheheheh. Sepuasnya lihat pemandangan cantik dan gratis pulaaakkk hehehehe.

Kami nggak kemana-mana selama di Kintamani. Kami hanya menikmati pemandangan dari atas, mengambil beberapa potret gambar dan turun ke bawah — sekali berhenti menikmati indahnya alam Bali dan turun ke dana, naik perahu dan berbincang dengan mas. Indah banget rasanya bisa ke Kintamani berdua sama mas :”) Alhamdulillah.

Karena Hari Jumat, kami tidak bisa berlama-lama karena mas harus cari masjid untuk sholat Jumat. Sekitar pukul 11.15 WITA, kami berjalan ke arah pulang. Sambil tengok kanan kiri, kami cari masjid daaan nihil dooonggg hahahha.

Waktu menunjukkan pukul 11.45 WITA dan kami mulai panik. Bismillahitawakkaltu, diniatin buat ibadah, nemulah orang di pinggir jalan pakai baju koko dan sarung daaaannn mas mepet beliau yang lagi naruh galon and here we goooo! Kami diantar ke masjid — eh barengan jalan ke masjid deng maksudnya hehehhe. Aku nungguin di restoran padang — beli es teh sama gadoin telor dadar heheheu dambil tidur siang karena ngantuk banget.

13.15 WITA, lepas shalat Jumat, aku dan mas lanjut ke penginapan rencananyaaaa. Ehhhh, pas nyari tempat shalat buat aku, kami malah nemu Pasar Seni Ubud dannn tergodalah kami untuk mampir. Setelah tahu lokasinya, kami memutuskan untuk pulang dulu agar aku bisa shalat dhuhur sebelum kami kembali ke lokasi Pasar Seni Ubud.

To be honest, kami sama-sama mengantuk, tapi tidak mau melewatkan kesempatan jalan-jalan di Ubud. Akhirnya, kami sampai di penginapan pukul 14.30 WITA dan memutuskan keluar ke Pasar Seni pukul 15.35 WITA, yakni selepas shalat ashar. Lalu kami sampai pukul 16.00 WITA dan teramat sangat ramai lokasinya ternyata hahahaha.

Barang-barang jualan di Pasar Seni Ubud

We do love this place so much. Tradisional banget selayaknya masuk pasar. Kami berharap bisa bawa pulang barang murah, tapi itu cuma harapan. Harga di sini dibanderol gila banget :”). Dua kali lipat dari harga aslinya, lah. Tapi kami suka jalan-jalan blusukan di sini. Hujan pula hehehe. Allah tuh baik, kami dikasih kesempatan hujan-hujanan berdua — berteduh lihatin bule-bule lagi nawar harga hehehe.

Anw, harga di sini bisa sekitar 200 ribuan sampai jutaan. Pinter2 belajar logat bali sama jangan dandan kayak turis aja nanti bisa murah. FYI, pas kami pura-pura nawar, harga 500 ribu aja bisa sampai 200 ribuan. Yaaaaa kami nggak beli juga karena mahal, sih. Tapi, setidaknya kami tahu bahwa mereka memang jual mahal huhu. Nggak bersahabat sama sobat qismin, nih! šŸ˜¦

Lokasi: Pasar Seni Ubud

Oh ya, berhubung itu hari Jumat, kami juga nggak lupa sama kewajiban kami, yaitu ngaji Al-Kahfi. Kami melipir ke kafe gelato, berdua — tapi belinya satu hehehe. Biasalah yaaa hemat budget wkwkw.

Masuk maghrib, kami memutuskan untuk pulang, shalat di penginapan dan menyiapkan makan malam. Iya, kami siapin indomie dan sarden di penginapan supaya hemat hehehe. Biar romantis laaah makan sama suami di meja makan berdua hehehehe.

Anw, boleh tanyain apapun di kolom komentar. Nanti kami jawab hehehe šŸ™‚

Salam,

8 Comments

Leave a Reply to bang Tim (@timenz) Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s