Menemukanmu Adalah Takdir yang Kunanti Sejak Lama, Terima Kasih Suamiku

“Pada batas-batas penantian, rindu dan keinginan untuk segera menyudahi kesendirian, apa yang telah aku lakukan?”

 
Pertanyaan ini membuncah seiring bertambahnya usia — bertambahnya dewasa dan berkurangnya umurku. Hingga akhir tahun 2017, aku masih belum tahu kapan dan dengan siapa aku dipertemukan, untuk digenapkan, untuk diajak bergandengan tangan dan untuk diajak berjalan beriringan.
 
Keinginan untuk menikahku sudah muncul sejak lama karena bagiku, segala sesuatu yang baik harus disegerakan. Maka aku sudah merencakannya sejak lama, meski aku belum tahu akan dengan siapa aku bersanding di pelaminan nanti.
 
Sejak aku masih memulai karirku, aku benar-benar tidak memiliki tipe laki-laki idaman seperti apa yang nantinya ingin kulihat saat aku membuka mata di pagi hari — saat aku akan memejamkan mata, terlelap mengistirahatkan diri ini dari lelahnya hari.
 
Aku terus menyibukkan diri, membangun diriku sendiri dengan keyakinan bahwa kelak akan ada pangeran berkuda putih yang siap datang dan menjemputku, untuk meraih tanganku, mengajakku meminta ridho dari kedua orang tua kami, untuk melangkahkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yakni menyempurnakan separuh agama — berdua, atas ridho Allah dan ridho orang tua.
 
Ikut kelas inspirasi, ikut kegiatan kerelawanan masyarakat relawan Indonesia, turun ke jalanan, hingga cari ilmu sana sini, pindah kota sudah pernah aku lakukan. Pun bertualang hingga ke kota, propinsi dan negeri seberang juga tak luput jadi bagian dari pencapaianku yang membuatku bisa menjadi aku yang sekarang ini.
 
Hingga waktu itu tiba, semesta seperti mulai mengaamiinkan gundah, gulana dan gelisahku sebab ia tak kunjung datang. Sebab ia yang kunanti sejak lama belum jua muncul di hadapanku. Aku yang waktu itu sedang sibuk untuk jalan-jalan kesana kemari — ke pantai, ke gunung, ikut backpackeran mulai lupa pada target menikahku karena aku ingin ia datang memang karena sudah waktunya. Bukan karena aku memaksa ia datang lebih dulu dan memaksa untuk menjemputku agar bisa menghabiskan hidupku dengannya.
 

“Mainmu Terlalu Jauh, Coba Istirahat, Berhenti dan Tengok Kanan Kiri. Ia Mungkin Ada disekelilingmu, Tapi Kamu Tidak Pernah Menyadarinya Selama Ini.”

 
Aku tertampar ketika salah seorang teman yang baru kukenal sekitar satu setengah tahun yang lalu berkata demikian. Katanya, mainku kejauhan. Katanya, aku terlalu jauh mencari sampai lupa bahwa di sekelilingku ada beigtu banyak yang salah satu dari mereka mungkin adalah jodohku. Hal inilah yang menjadi salah satu alasanku untuk berhenti sejenak — introspeksi diri, menilik kembali apa-apa yang aku cari di tempat yang jauh hingga lupa hakikat mengenai apa yang aku cari.
 
Aku akhirnya menyadari bahwa yang mempertemukanku dengan mas bukanlah temanku, bukan orang tuaku, bukan sahabatku, melainkan Allah yang menghendaki bahwa semua aka terjadi suatu hari nanti. Dan semesta akan meng-aamiini perjumpaan kami berdua lalu menjadi saksi atas hari bahagia kami.
 

Pagi Itu, Menjelang Waktu Dhuha, Kami Berdua Pada Akhirnya Tahu Satu Sama Lain

 
Temanku menikah. Hari itu, di awal tahun 2018. Katanya, ada satu orang sahabatnya yang bisa dibilang “boleh dan bisa” untuk dipertimbangkan menjadi pendamping hidup. Aku yang memang suka bercanda memang sering berbincang dengan temanku itu perihal jodoh — perihal persiapan pernikahan.
 
Bahkan, jauh hari sebelum aku bertemu dengan mas, aku suka sekali menanyakan berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk menikah. Lalu aku tercengang karena memang ternyata biayanya tidak sedikit.
 
Tapi, Allah kembali hadir melalui batin — meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja karena ketika Allah telah menghendaki suatu pertemuan, maka Allahlah yang akan menjamin semuanya hingga acara berjalan dengan lancar dan selesai dengan sangat mulus.
 
Waktu berlalu, aku menabung, menyisihkan penghasilanku dengan niat untuk ikhtiar agar aku bisa menikah suatu hari nanti tanpa harus merepotkan orang tua. And here we go, waktu itu datang. Waktu dimana aku dan mas saling tahu satu sama lain — di hari akad, 6 Januari 2018 pertama kali aku melihatnya. Yang tengah sibuk mempersiapkan perlengkapan, yang tengah sibuk mondar-mandir, yang tengah sibuk mendokumentasikan pernikahan sabahat baiknya.
 
Iya, kami ada di satu tempat yang sama. Namun, kami tak bersua — tak pula bercengkrama dan waktu berlalu begitu saja. Aku dengan diriku kembali ke rumahku dan ia dengan dirinya dan pulang ke rumahnya. Dan sejak saat itu entah mengapa, ada doa dalam hati yang menggema begitu syahdunya. “ya Allah, jika memang benar ia yang kelak akan membersamaiku — yang namanya telah tertulis jelas di Lauh Mahfudz-Mu, maka kun! Jadikahlah ya Allah. Jadikanlah ia imam dengan cara yang Engkau kehendaki dan Engkau ridhoi.”
 
Hari itu, harapan dan doaku melebur menjadi satu. Ibaratnya udah kepedean duluan masnya bakalan naksir. Padahal ya entah, pasrah aja gitu. Tapi tetep ngarep sih hehehe. Kan katanya gantungkan cita-citamu setinggi langit. Biar kalau nanti jatuh, nyangkutnya di bintang. Tapi nggak gitu juga sih, berharapnya sama Allah aja pokoknya.
 
Sempet takut, sempet ragu, sempet ah yaudahlah. Karena…
 

Aku Khawatir, Aku Tidak Bisa Bersama dengannya Karena Aku Lahir di Keluarga Beda Agama, Berbeda Keyakinan

 
Di tengah-tengan doa dan pengharapan yang luar biasa besar, ada takut yang menyelimuti diriku. Ada perasaan tak yakin atas apa-apa yang aku ingin. Ada ketidakyakinan yang membuat nyaliku ciut. Karena orang tuaku berbeda agama dan itu membuatku tak mungkin memperjuangkannya.
 
Aku lahir di tengah-tengah keluarga yang berbeda keyakinan. Bapak beragama katolik dan Ibu beragama Islam. Ini bukan aib — BUKAN. Ini kenyataan yang aku pikir tidak ada salahnya membuatkan publik tahu dan membantuku mendoakan kelak, Bapak bisa memiliki keyakinan yang sama denganku — dengan ibu — dan dengan keluargaku.
 
Bukan, bukan berarti aku menganggap bahwa agama katolik hina atau tidak pantas untuk diakui. Tetapi, seperti pada umumnya yang kalian pun juga pasti punya pengharapan yang sama — yakni memiliki keluarga dengan keyakinan yang sama agar kelak, kalian bisa dipersatukan di surga bersama keluarga tersayang, tanpa kurang suatu apapun. Bukankah lebih asyik bila setelah dipersatukan di dunia, lalu dipersatukan lagi di surga? :”)
 
Mohon doa, ya…

Keraguanku masih besar, tetapi aku memilih untuk menyampaikannya kepada mas di hari di mana kami bercengkrama untuk pertama kali.

Waktu itu, entah ada kekuatan apa dan keyakinan dari mana aku yang memulai untuk membuka topik tetang kami berdua. Tetang aku kondisi keluargaku — kondisi bapak yang katolik, kondisi rumah, tentang background-ku sendiri dan tentang apa-apa yang ada dalam diriku, rumahku dan keluargaku.

Mas sempat tercengang — kaget. Mungkin, pada saat itu mas shock karena ternyata aku setidak basa-basi itu. Bahwa aku tidak ingin terlalu lama menggantung bersama ketidakpastian. Bahwa aku ingin menyegerakan karena kebaikan itu tidak untuk ditunda-tunda. Bahwa niat untuk menyempurnakan agama itu harus disegerakan.

Dan pada malam itu, aku berani berkata bahwa jika memang tidak ada ujungnya, tentang kita, maka lebih baik aku dan mas sama-sama menjaga diri untuk saling memberi jarak satu sama lain hingga akhirnya waktu itu datang — hingga akhirnya suatu hari nanti kita dipertemukan. bila memang berjodoh :”)

Semesta Bekerja.. Ada Titik Terang pada Hubungan Kami Berdua..

Tepat pada malam itu, aku dan mas sepakat untuk menjalani hubungan dengan tujuan, Hubungan yang akan membawa kami ke pelaminan, melepas status lajang dan membawa kami menyandanga status baru. Lalu hidup bersama, menua dan sehidup sesurga.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah.. Kami berdua berkomitmen untuk saling memperjuangkan melalui doa dan ikhtiar yang nyata. 

Hari menjelang keberangkatanku ke Turki, aku dibawa mas untuk bertemu dengan orang tuanya — diperkenalkan kepada ayah dan ibunya. Dan tahu nggak kocaknya? Pas aku lagi ngobrol sama mamah, mas melipir dan ternyata tidur .____________. Baiklah hahahaha

Ngomong-ngomong, flashback sedikit boleh yaa…

Jauh sebelum mas datang ke rumah, ibuku sulit sekali membuka pintu hatinya untuk menerima seseorang yang ingin menyampaikan niat baiknya untuk meminang anak gadisnya. 

Tapi qadarullah dan atas ridho Allah, ketika mas datang, Ibu dengan lapang dada mulai membuka hatinya dan mempersilakan anak menantunya ini datang :). Aku sempat tercengang kaget. Bahagia tentu, tapi sedikit kaget karena tidak ada penolakan sama sekali. Mas hebat memang. Pencuri hatinya ibuk hehehe. Duh, ini mas pasti ge-er pas baca part ini 😀

Lanjut yaaa….

Saat di rumah mas, aku ngobrol dengan ibuk dan untuk kali keduanya aku mampir, aku berpamitan untuk berangkat ke Turki. Jangan tanya gimana rasanya ninggalin calon suami ke beda benua, ya. Sudah pasti berat. Apalagi perginya sama rekan kerja yang kebetulan cowok. Berat bukan main. But, we trust each other, too focus too stay focus with our plan

Ramadan Menjadi Jawaban Kegelisahan Kami Berdua untuk Menyegerakan Niat Baik Kami Berdua

Tidak ada yang bisa membendung rindu kedua anak manusia. Meski salah, tetap saja rindu tidak bisa disalahkan karena memang hakikat manusia demikian adanya. Merasakan rindu pada selain jenisnya untuk merasakan tenang. Maka dari itulah, kami berdua berdiskusi lebih serius dari biasanya.

Di tengah-tengah gema tadarusan yang menyemarakan syahdunya Ramadan, aku dan mas berbincang melalui frekuensi telepon genggam. Kami berbincang. Berdiskusi tentang bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi rindu yang tak lagi terbendung. Rindu yang kami sama-sama tahu tidak akan baik bila dipelihara sedangkan di antara kami belum ada ikatan apa-apa.

Tiba-tiba mas menyeletuk di tengah percakapan kami, “Aku mau ngomong sama mamah sama bapak. Doain aku, ya…” Kami hening — Dan aku, bahagia bukan main. Mas memang beda. Di saat begitu banyak yang propose dengan cara “maukah kamu menikah denganku?”, ia justru meminta doa agar langkahnya menujuku dimudahkan dan bebas dari kendala yang ada. :”)

Dan bismillah…..

Kami berdua memantapkan langkah kaki kami, berjalan bersama menuju ke arah yang insya Allah lebih baik dari sebelumnya, yakni menikah.

Pertemuan Kedua Keluarga kami berlangsung setelah lebaran. Mas membawa keluarganya ke rumah untuk memintaku melalui keluargaku di rumah. Jantung kami berdegup kencang bukan main. Kami sama-sama tegang, gugup dan keringat dingin.

Aku tersenyum-senyum melihatnya duduk di samping pintu rumah. Ia yang memakai peci tampak berseri-seri siang itu. Dan seperti biasa, mas kalau grogi makannya cuma dikit. Padahal……. ((ampuni istrimu ini mas :D))

Kami saling tatap, aku mengiyakan ajakannya untuk menikah melalui walinya. Dan ia tersenyum sebab apa yang kami rencakan berjalan dengan mulus. Alhamdulillah….

Butuh Diskusi Panjang untuk Menentukan Kapan Hari yang Dirasa Baik untuk Melangsungkan Pernikahan

Bagi kami, semua hari itu baik. Namun, ada adat dan kebiasaan yang harus kami ikuti — yang harus kami patuhi dan kami taati. Sebab, menikah bukan hanya perkara bahagia berdua. Karena menikah bukan sekadar tentang aku dan mas. Melainkan tentang keluargaku, keluarga mas dan keluarga kami berdua.

Jadi, kalau suatu hari kalian menikah, tolong catat bahwa meski kalian punya mimpi yang begitu manis untuk melangsungkan pernikahan impian, tetap ingat bahwa sebaik-baik pernikahan adalah pernikahan yang di dalamnya begitu banyak doa dari pihak manapun — entah pihak keluarga, teman-teman atau kerabat di sekitar kita.

Akhirnya, hari itu ditentukan. 17 November menjadi hari terpilih. Hari yang katanya tepat untuk melangsungkan pernikahan bagi kami berdua. Kami yang tidak terlalu mengerti hitungan Jawa mengiyakan dengan penuh doa dan harap di dalamnya. Bismillah…….

“Mas, kita patungan, ya. Aku nggak pengen pernikahan kita ini menyusahkan orang banyak….”

Kataku pada mas. Sejak dulu, aku punya standar pernikahan impian sendiri, yakni menikah dengan uang sendiri tanpa harus merepotkan orang tua, tetapi masih bisa dengan baik menjamu saudara dan teman-teman yang hadir dan turut mendoakan kami berdua. Dan alhamdulillah, mas mengerti dan mendukung penuh atas keinginanku ini. I’m so blessed to met him at the first sight.

Lalu aku dan mas merincikan kebutuhan kami dan mencatatnya dalam file di Google Drive agar kami lebih mudah menghitung — agar kami lebih mudah menambah dan mengurangi apa-apa yang kurang dan butuh untuk diperbaiki. Yang tentu saja file ini sama-sama bisa diakses olehku dan oleh mas.

Satu persatu kami mulai mencicil kebutuhan kami berdua. Mulai dari desain undangan, cetak undangan, dekorasi gedung, perias, dress pengantin, hingga seragam keluarga kami diskusikan berdua. Mas kebetulan desainer dan sebab itulah kami punya idealisme yang cukup kuat untuk menjadikan pernikahan kami tetap sederhana, tetapi tetap layak untuk menjamu tamu kami.

Menganut konsep simple, minimalis dengan sentuhan tropical, kami sepakat untuk membuat dekor pernikahan kami full dengan kain putih dan dihias tanaman monstera dengan dress rose gold yang kami kenakan agar tetap terkesan sederhana, tetapi tetap classy. Belibet banget ya bahasanya hahahha yaaa intinya bagus lah gitu. Bagus menurut kita tapi yaaa hehehe..

Meski Terlihat Baik-Baik Saja, Ada Banyak Suka Duka yang Kami Lalui Berdua

Keraguan menjelang pernikahan ternyata bukan mitos belaka. Ada begitu banyak godaan yang kami lalui. Kami tahu betul ini semua bagian dari ujian pernikahan. Namun, hakikat ego yang selalu ingin menang membuat kami tak jarang beradu pendapat, hingga merasa menang sendiri.

Alhamdulillah, sejak awal kami sudah berkomitmen untuk “saling”. Saling mengingatkan kepada kebaikan, saling mengingatkan bila ada yang salah/belum sesuai, saling membersamai dalam suka duka dan saling menjaga ketika salah satu di antara kami sedang tidak dalam keadaan baik hatinya.

Beberapa kali kami ingin berhenti, namun kami bersyukur karena telah dikuatkan dari godaan-godaan yang mungkin ingin memisahkan kami berdua untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Adalah suatu yang wajar ketika godaan pranikah itu datang karena memang menikah adalah ibadah — menyempurnakan agama. Logikanya, mana ada setan yang suka manusia ibadah? 🙂

Mempersiapkan semuanya berdua, membuat kami semakin tahu satu sama lain tentang diri kami

Aku jadi tahu bahwa mas yang kini menjadi suamiku adalah orang yang sabar, orang yang gegabah, namun selalu lebih bijak untuk mengatasi aku yang mudah panik.

Aku jadi tahu bahwa mas atau aku sama-sama butuh didampingi, maka kami berdua memang harus berjalan beriringan. Tidak saling mendahului, sebab kami akan berjalan berdua menjalani ibadah terlama, yakni menikah.

Bicara tentang taaruf, kami berdua memang tidak taaruf. Kami tidak menggunakan perantara dan berhubungan secara langsung. Kami mempertimbangkan kedua orang tua kami yang masih asing dengan istilah taaruf. Maka, karena kami membutuhkan ridho mereka, kami mengalah untuk mengerti mereka dengan memberikan mereka, orang tua kami tahu tentang diri kami dan apa yang tengah kami perjuangkan.

Maka ketika ada yang bertanya, “kalian taaruf?” kami akan dengan senang hati menjawabnya :). Sayangnya, masih ada yang tidak mencoba bertanya dan menganggap bahwa kami tidak cukup dewasa untuk mengambil keputusan yang telah kami pertimbangkan secara matang ini. Like a they judge us only from the cover. Yah, namanya juga hidup hehehe akan selalu ada komentar-komentar yang tidak sesuai dengan hidup kita.

Dan now, we’re officially marriage. Alhamdulillah…

Tepat tanggal 17 November 2018 lalu, aku dan mas resmi menjadi suami istri.  I don’t know what to say to Allah. Alhamdulillahi bini’mat.. Bener-bener terharu, seneng bukan main dikasih keluarga baru yang baik, yang sayang dan bakalan nemenin aku sama-sama sampai nanti.

Terima kasih, suamiku

Menemukanmu Adalah Takdir yang Kunanti Sejak Lama,

Salam sayang,

Istrimu

 

6 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s