Jadi Gini Rasanya Ngebolang Tanpa Persiapan Ke Anyer!

Orang pikir aku gila. Menjadi serang wanita yang suka jalan-jalan nekat dan selalu tanpa persiapan. Rasa-rasanya aku memang sudah gila. Hal ini terbukti dengan jam terbang mainku yang sudah nggak tahu aturan. Mungkin memang ini yang namanya menghabiskan waktu kali, ya. Biasanya setiap kali weekend aku lebih suka di kosan istirahat.

Tidur kek, nonton drama korea, kek atau apapun itu. Tapi kali ini,beda. Punya limit waktu di suatu tempat itu benar-benar membuatku ingin menjadi manusia yang bisa ke mana-mana. Pengen kali kalau bisa jadi amoeba yang membelah diri jadi banyak biar bisa bawa banyak hal ketika pulang.

Merencanakan Perjalanan Anyer dengan Sangat Matang

Sepulang dari perjalanan gila ke Ciletuh Sukabumi, tepatnya saat mengembalikan tenda ke mas chef, aku dan Dimaz diajak untuk menikmati sunset di Anyer. Karena belum pernah kesana juga ya kan, akhirnya kami mengiyakan dan membuat itinerary. Karena merasa kurang ramai, akhirnya aku mengajak Dadang. Dadang mengajak Ken dan 1 temannya yang lain. Oh ya, aku juga ngajak Dewi, sahabatku dari SMK untuk bisa bergabung dengan perjalanan kali ini.

Tapi, hakikatnya manusia yang memang hanya bisa berencana dan takdir yang tetap menentukan. Tiba-tiba mas chef dan mba nisa ada acara. Dimaz kehabisan uang. Dadang membatalkan dan memilih dengan yang lain. Sedangkan aku masih ingin ke sana karena kalau aku sudah punya satu tujuan, ya itu harus terlaksana wehehehe. Aku nggak suka nanggung soalnya.

Buget Mepet, Tapi Tetap Nekat

In the end, akhirnya hanya aku dan Dewi yang berangkat. Karena ini perjalanan jauh dan cewek-cewek, akhirnya aku memutuskan untuk naik bus dan mencari penginapan di pinggir pantai. Budget pas-pasan dan kami nekat. Di kantongku hanya ada 150 ribu itupun belum dipotong dengan ongkos naik bus selama perjalanan.

Untuk bisa sampai ke Anyer, kami juga naik angkutan umum. Sempat nyasar dan salah jalan juga 🙂 Tapi, seruuu abiiisss. Capek? Lumayan karena ternyata Cilegon itu panas bangeet dan kering. Hahahaha.

Selama perjalanan, kami melewati beberapa pabrik gitu, maklum Cilegon kan Kawasan Pabrik. Jadi, kalau daerah ini panas ya wajar. Etapi sungguh, panas banget. Boleh banget untuk bawa sunscreen dan semacam sunblocknya kalau takut item.

Sampai di TKP, kami berdua langsung mencari penginapan yang murah. Karena biasa main di daerah pinggiran pantai, harga yang kami patok untuk semalam berdua adalah 150 ribu per malam yang mana seorang hanya kena 75 ribu saja. Cukup murah, kami pikir pada awalnya.

Sayangnya, manusia memang hanya sebatas merencana dan takdir yang tetap menentukan. Sampai di TKP, penginapan paling murah jatuh di harga 400ribu. Murah? Murah dari HONGKONG ._________. Aku lantas hopeless. Kami berjalan menyusuri jalanan mencoba mencari penginapan di rumah warga yang mau menampung kami. Dan hasilnya, nihil!

Masuk Secara Ilegal di Kawasan Pantai

Tiket masuk ke kawasan Pantai Anyer sebenarnya sangat murah, yaitu 5 ribu rupiah saja. Tapi, dengan kondisi budget yang pas-pasan, kami akhirnya mencari jalan yang bisa membuat kami sampai ke pantai tanpa harus mengeluarkan uang sedikitpun. Akhirnya, kami masuk lewat pintu gerbang hotel. Dan kebetulan, satpam sedang tidak ada. Jadilah kami akhirnya masuk lewat pintu hotel dan sampai di Pantai.

Lebih gilanya, demi bisa sampai di sisi timur, kami turun ke pantai dan menyusuri pantai di bebatuan demi menghindari penjaga hahahahaha. Hingga akhirnya munculan Plan B dalam kepala untuk tektok langsung pulang ke Jakarta hari itu juga. Anak gila memang aku ini XD.

Pokoknya kalau ngomongin anyer, ini adalah backpack paling gilaku selama ini hahha. Karena biasanya tiap jalan selalu ada 1 laki-laki yang bisa diandalkan tapi kali ini enggak sama sekali. Dan bahkan aku yang jadi laki-laki karena aku bersama dengan Sahabatku Dewi wuakakakaka. That was an amazing journey XD.

Pantai dengan Mercusuar

Kawasan anyer yang kami pilih adalah pantai dengan mercusuar. Alasannya karena memang kami nggak tahu mau ke mana. Jadilah setelah direkomendasikan, pantai mercusuar jadi labuhan terakhir. Awal dateng ke sini cuma keingetan sama Belitung. Maklum, pertama kali lihat dan naik ke mercusuar itu di Belitung. Jadinya ya ingetnya ke sana hehehe..

Sedikit kecewa sama pantainya. Soalnya, airnya nggak bersih-bersih amat dan nggak seperti bayanganku yang pasir putih gitu. Ternyata ini memang kawasan pantai berbatu. Apalagi, aku pas ke sana pas airnya lagi pasang-pasangnya. Jadilah kekecewaan itu menjadi.

Kami memutuskan untuk beristirahat sambil ngecharge energi dengan makan dan ngecharge energi smartphone yang sudah mulai engap-engapan. Sambil rebahan, kami menikmati debur ombak pantai yang lumayan ganas sambil lihatin bapak-bapak yang mancing sampe ciblon ke tengah.

Makanan Lumayan Mahal

Buat kami, jajanan di kawasan pantai ini tergolong mahal dan kurang enak, sih. Sebenernya nggak apa apa kalau
rada mahal tapi enak. Nyatanya, mahal dan nggak terlalu enak. Dan karena kami lapar, ya mau dikata apalagi coba? Makan seadanya, dong. Dewi pesan nasi goreng dan aku pesan gado-gado. Kami bertukar makanan. Romantis, kan? HAHAHAHA

Kami menunggu sampai matahari terbenam. Supaya kami nggak kecewa-kecewa banget gitu.

16 Comments

  1. Vita Pusvitasari

    Wah tadinya kami sekeluarga mau piknik ke Anyer lebaran nanti, ah bagusan pantai Pameungpeuk atuh ya, tadinya sekalian anterin adik pulang Karawang mau ke Anyer bawa balita dan batita ponakannku, kalau gini mah mending pantai dekat Garut aja Pameunpeuk 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s