Menikmati Hamparan Pemandangan dari Atas Bukit Panenjoan, Ciletuh Geopark

Sekitar setengah sebelas siang, Aku, Dimaz, Uti dan Dhika sampai di Bukit Panenjoan. Destinasi pertama yang kami tuju setelah membiarkan punggung dan pantat kami beradu dengan jok motor yang semakin terasa keras dan menyakitkan. Tepat setelah memarkir motor, kami beranjak ke gardu pandang yang menghadap hamparan pemandangan Sukabumi dari atas. Masya Allah.

Tidak ada satupun dari kami yang tidak memuji keindahan alam ini. Dari sebelah kiri, terdapat tebing yang berdiri kokoh menghadapkan wajahnya ke arah sawah dan hutan-hutan di bawah. Indah sekali. Sungguh merasa terhormat bisa disambut dengan keindahan alam yang sangat menakjubkan ini.

Tepat di depan mata, pemandangan hijau terbentang begitu indahnya. Tebing, sawah, kebun dan hutan melebur menjadi satu keindahan yang tidak bisa dideskripsikan hanya dengan kata-kata. Bahkan kamera pun tak sanggup mengabadikan indahnya lebih dari yang kedua mata kami lihat secara langsung.

 “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…”(Q.S. AlAnbiya [21] :30)
Sungguh, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Dan rugilah barang siapa yang masih ragu bahwa dunia dan seisinya ini sudah ditata sedemikian rupa hingga saat ini manusia masih bisa menikmatinya. 
Untuk bisa sampai ke Bukit Panenjoan, kami melewati rute yang diarahkan oleh Google Maps dibantu dengan plang di jalanan. Sepasrah itu, nyasar atau nggak itu urusan belakangan. Karena kami hanya punya satu tujuan untuk bisa sampai ke Geopark Ciletuh. Dan alhamdulillah, everything was perfect!

Sebagai gen millenials yang memang nggak bis jauh dari media sosial, masing-masing dari kami langsung mengeluarkan smartphone untuk mengabadikan atau membuat story di Instagram. Bukan karena tidak bisa menikmati waktu, tetapi dengan cara ini kami menunjukkan pada dunia tentang kebahagiaan yang kami rasakan ketika kami sampai di lokasi.

Gardu Pandang Bukit Panenjoan

Sebenarnya di Bukit Panenjoan sudah terlihat jelas hamparan pemandangan alam yang mengagumkan. Tetapi, untuk yang kurang puas tempat ini juga menyediakan beragam gardu pandang sekitar 3 meteran yang bisa kalian nikmati. Kalian bisa naik tangga dan menikmati Bukit Panenjoan dari titik tertinggi gardu pandang. Kalau aku sih nggak berani, soalnya cemen sama ketinggian XD.

Seingatku, hanya aku dan Dimaz yang gagal naik. Uti, apalagi Dhika berani naik sampai ke atas dan membuat kami berdua terlihat kecil sekali karena cemen. Tetapi, usut punya usut, Dimaz akhirnya berhasil naik sampai titik paling atas meski hanya sebentar. Ah, aku kalah! Tapi  tak apalah, toh aku juga nggak rugi. Daripada aku naik terus pingsan di atas kan berabe yak XD.

Parkiran Luas dan Homestay Tersedia Lengkap

Tempat ini tidak hanya bisa dinikmati dengan motor, guys. Di Bukit Panenjoan terdapat parkiran yang teramat sangat luas dan pilihan homestay yang lumayan untuk kalian yang datang bersama rombongan dan ingin bermalam di sini. Biayanya per malam tergantung ukuran penginapannya, berkirar antara 250-500 per penginapan. Meski terkesan mahal, tapi begitu membuka pintu, kalian akan dihadapkan langsung pada hamparan alam hijau yang tak bisa dipuji hanya dengan kata-kata. Sejuk sekali!

Kata masnya yang jaga, setiap weekend seminimal-minimalnya ada sekitar 150-250 orang yang datang ke Bukit Panenjoan. Kalau pas weekdays paling 50an saja. Oh ya, kami berempat termasuk beruntung karena datang di lokasi saat masih sepi. Alias, masih belum terjebak di dalam kerumunan pengunjung yang maunya foto ala ala. Tepat setelah kami beranjak, rombongan baru datang. Merasa beruntunglah kami hahahaha…
Di bagian depan, ada semacam kantin berbentuk rumah. Kalian bisa pesan makanan di sini, guys. Nggak cuma da mie rebus, kok. Ada telur dadar, sayur kangkung, ayam dan lauk-lauk lainnya. Kalau aku, cuma makan mi. Maklum, rada ribet anaknya kalau makan pilih-pilih. Harganya lumayan mahal, tapi untuk rasanya worth it, kok. Kemarin kami makan 2 nasi, 2 mie telur, kangkung dan 3 telur dadar habis 74 ribu. Ini murah apa mahal, yak? XD
Buat kalian yang mau shalat juga nggak perlu khawatir. Ada mushala di sudut sebelah kanan parkiran. Lumayan besar, untuk bisa menampung yang ingin shalat berjamaah di Bukit Panenjoan. Apalagi kalau dateng sama rombongan dan mau shalat berjamaah. Udah beres dah!

Tiket Masuk Bukit Panenjoan Murah

Oh ya, berapa harga tiketnya? Murah! Hanya cukup 5ribu untuk perorang! Murah banget, kan? Bahkan, kami termasuk nggak tahu diri karena kami dan barang-barang kami beristirahat di tempat masnya yang jaga. Pun, kami numpang ngecharge smartphone, powerbank dan baterai kamera. Mungkin ada sekitar 6 buah stop kontak dan semuanya GRATIS alias nggak kena charge.
Kami juga sempat isirahat (baca: tidur) di sofa untuk beberapa menit. Itung-itung charge energi lah untuk menempuh perjalanan selanjutnya. Rencananya, setelah dari Bukit Panenjoan kami mau ke Pantai Palangpang yang jauhnya sekitar 16km dari sini. Lumayan juga kan jaraknya? Hahahaha
Bukit Panenjoan, nggak bisa lagi deskripsiin indahnya tempat ini. Hopefully bisa ke sini lagi lah someday ^^
Jakarta Pusat, 6 Maret 2017
Septi

6 Comments

  1. Muslifa BunSal Aseani

    Sejuknyaaa..Gak kebayang kalo tanpa kabut dan awan, viewnya bisa makin cantik lagi ya mbak.Semoga saya nggak skip, arti kata Panenjoan apa mirip dengan satu kata di bahasa Sasak 'Peninjoan' alias 'pemandangan'?BW dari Lombok ^_^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s