Curug Nangka, Hidden Waterfall di Bogor yang Masih Asri

Kalau lagi stress, emang paling enak main air. Bukan terus masuk ke baskom atau bak isi air dan nyelem di situ lho, ya! Hahahaha. Yes, obat stress paling mujarab yang sampai saat ini ampuh untuk aku adalah main-main ke tempat yang ada airnya. Pantai, laut, air terjun atau ke tempat yang bisa hujan-hujanan. Bahkan, aku bisa melepaskan stress lewat audio yang berisikan suara air, lho! Hebat, kan. Tepi, ini tergantung dengan tingkat stress yang aku alami.

Ah, udah udah curhatnya. Kali ini aku bakalan sharing tentang perjalananku ke Curug Nangka yang letaknya di lereng Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Awal-awal aku tau tempat ini bukan karena searching di Google. Tetapi, karena aku nanya salah satu teman kantor yang memang asalnya dari kota hujan, Bogor. Andhika Mahendra, namanya.

Berhubung Jakarta ke Bogor masih tergolong dekat, jadilah kota hujan jadi pilihanku untuk ‘berlibur’. Singkat cerita, setelah aku nanya-nanya via WhatsApp sama Dhika, dia bilang katanya ada Curug Nangka yang masih masuk di lereng Gunung Salak, Bogor. Sebenarnya aku nyarinya yang bisa ngecamp. Jadi, ngecamp, tidur di bawah ribuan bintang terus keesokan paginya nanjak buat menuju ke air terjun. Ah, jadi keinget pas di nglimut jaman kelas 1 SMK sama teman-teman KIR SMK, deh hahahahah. Kangeeeennnn.

Tiba di hari H aku ke Bogor, aku janjian sama Dhika di stasiun minta jemput *dasartemankantortidaktahudiri* :))). Karena tempatnya rada susah kalo ngangkot, jadilah Dhika bawa motor *inibukanalasanbiaririt* weheheheh. Dan sebelum kami beranjak menuju Curug Nangka, kami makan tekwan terenak versi Dhika dulu.

Udah lama pengen nyobain ini tekwan, sih. Soalnya, katanya si Dhika enak. Kan jadi penasaran ya, kan? Dan ternyata, setelah nyobain di kuah pertama emang aseli enak! Juara, deh. Ternyata memang lidahnya Dhika cukup oke milih makanan XD. Oh ya, tekwanya ini yang jualan aseli Palembang. Tempatnya ada di belakang Pusat Grosir Bogor. Di ruko-ruko situ cari aja nanti pasti nemu hehe.

Racikan tekwannya ada jamurnyaaaaa, jadinya makin mantap. Kalau yang di dekat kosku kan nggak pakai jamur. Yaiyalah, lawong murah mau minta banyak. Kan kurang ajar! Hahahaha.. Harga tekwannya seporsi 22ribu. Lumayan mahal, tapi sebandinglah sama rasanya yang mantap dan nikmat ini. Suegerrr…

Setelah perut kenyang, kami berdua lanjut menuju ke Curug Nangka. Sebenarnya pengennya ke Bukit Alesso, sih. Tapi katannya pas itu Bogor hujan terus, jadi rada rawan kalau nekat ke sana. Eh, qodarullah alhamdulillah pas aku ke Bogor langitnya cerah bukan main. Aku disambut dengann gembira di kota hujan yang tidak sedang hujan tersebut. Hehehe

Rute Menuju Curug Nangka

Curug Nangka letaknya di Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Tepatnya, curug ini ada di kaki Gunung Salak pada ketinggian 750 mdpl. Kalau teman-teman mau ke sini, rute yang harus ditempuh adalah rute ke Desa Warung Loa, Kecamatan Tamansari, Bogor, Jawa Barat. Karena naik motor dan di guide oleh anak asli Bogor, ya jadilah aku cuma duduk di bangku belakang sambil pasrah. Kalaupun diculik juga nggak bakalan paham jalan pulang soalnya :)).

Nah, kalau teman-teman mau naik angkutan umum, bisa kok naik angkot jurusan Ramayana (BTM) – Ciapus atau angkot No.03 yang bisa didapat di depan Bogor Trade Mall (BTM). Teman-teman bisa berhenti di pertigaan sebelum pintu gerbang menuju lokasi. Terus, tinggal jalan, deh!

Sepanjang perjalanan rasanya kayak lagi di Semarang wahahah. Cuma, lebih sejuk dan pemandangannya lebih cakep di Semarang soalnya nggak macet. Bogor macet banget, euy! Tetapi aku akui jalanan di TKP lebih cakep di Bogor. Masih bisalah disentuh sama motor, mobil dan angkutan umum.

Lokasi yang Mirip dengan Gedong Songo Semarang

Rasa-rasanya de-ja-vu. Lokasinya mirip banget dengan Gedong Songo Semarang. Ah, jadi pengen pulang, kan :)). Bedanya, di lokasi parkiran banyak sekali warung makan dan oleh-oleh. Pun ada listrik dan kalian bisa nyolokin kalau handphone kalian mati dan butuh banget update di sosial media muehehehe.

Di sini ada 2 curug seingatku. Curug Nangka dan curug yang satunya lupa karena aku nggak naik sampai atas. Untuk bisa ke curug nangka, harus susur sungai terlebih dahulu. Iya, copot sepatu sembari basah-basahan di sungai, lewatin goa gitu. Mendaki lembah, lah ceritanya. Lumayan licin, jadi hati-hati, ya!

Aku sih pakai kaos kaki dan cuma  lepas sepatu, jadi rada aman, lah. Kalau Dhika pakai sandal, jadi aman juga. Oh ya, kalau mau ke sini, pakai sandal gunung aja. Soalnya, medannya lumayan nanjak dan medan bukit gitu, rada terjal gitulah. Kalau aku sih suka karena biasa di gunung dan di hutan. Alias nggak kaget gitu :)).

Sampai di curug nangka, dari kejauhan udah keliatan cakep banget Masya Allah. Sayangnya aku nggak bawa baju ganti. Mungkin kalau aku bawa aku bisa basah-basahan sampai lupa waktu. Eh, nggak juga deng, jaga image juga biar  nggak dikira norak sama orang banyak hahahha. Sok sokan pencitraan gitu ceritanya.

Kayak gini nih, penampakan curug nangka yang sempat tertangkap oleh kamera:

Oh ya, kali ini aku nggak nampang banyak soalnya memang ke sini tujuannya jalan-jalan, bukan ngeksis. Ah, boong deeeh, emang lagi males foto aja jadinya nggak update di sosmed. Padahal biasanya bisa boom foto kalau lagi main main di tempat wisata weheheh maklumin aja milenials soalnya :).

Di perjalanan kali ini aku lebih sering fotoin Dhika. Mayan, soalnya ada subyek buat difoto. So, akunya juga bisa milih sudut pandang sendiri saat framing fotonya dia. Etapi setiap kali mau take foto harus berantem dulu gitu karena dia nggak mau difoto. Yaaaaa, jadilah candid-candidan ala-ala gitu.

Curug nangka semacam hidden waterfall gitu sih buat aku, karena untuk bisa sampai ke TKP harus susur sungai. Daaaannnn tempatnya masih asri belum terjamah sama alay yang suka ngerusak alam gitu. So, aman buat kali
an yang pengen menenangkan diri meskipun akan banyak pemandangan orang-orang pacaran di sini.

In the end, sedih karena ternyata handphone-ku kecelup air pas aku lagi terpesona sama bapak-bapak yang lagi main sama anaknya huhuhu. Setengah jam ada kali ya handphone kerendem air sampai nggak bisa nyala dan sempet rada panik. Buru-buru ke warung untuk nge-charge ternyata nggak bisa. Akhirnya sampai beli beras buat ngerendem handphone. Kok beras? Iya, soalnya beras punya kemampuan absorb air yang terlanjur masuk ke gadget ehehe.

Gitu deh gengs cerita perjalanan di Bogor kali ini. Hopefully bisa lagi lagi ke Bogor meskipun entah kapan :)) Ekasi tau dong pengalaman kalian selama di Bogor. Apa aja ya wisata alam yang masih asri yang kira-kira bisa dieksplore dari Bogor?

Salam,

Jakarta Barat

2 Comments

  1. Andhika Mahendra

    “Etapi setiap kali mau take foto harus berantem dulu gitu karena dia nggak mau difoto. Yaaaaa, jadilah candid-candidan ala-ala gitu.” Warbyazaaah😂😂 Jangan kapok main ke bogor, ya😊 kapan kapan aku culik lagi ✌✌✌

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s