Cahaya Anak Negeri

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin, maka celakalah bagi orang-orang yang sholeh yaitu orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang berguna”.
(QS. Al-Ma’un ayat 1-7)

Naudzubillahimindzalik… Semoga kita semua bukan termasuk golongan yang menghardik anak yatim dan tidak mau tahu dengan kehidupan orang miskin. Semoga kita termassuk orang-orang soleh dan selamat dunia akhirat. Aamiin Aamiin Allahumma Aamiin..


Setelah kesibukan yang tiada habisnya saat weekend, akhirnya Allah memberiku satu hari yang bisa kugunakan untuk singgah di sanggar Cahaya Anak Negeri, sebuah sanggar kecil yang terletak di belakang stasiun Bekasi. Sanggar ini adalah rumah bagi anak-anak jalanan, yatim dan dhuafa yang ingin belajar dan bermain bersama teman-teman mereka.

Sesampainya di Bekasi, aku tak langsung menuju sanggar karena kebetulan anak-anak CAN, sapaan akrab Cahaya Anak Negeri ini sedang ada acara di Balai Patriot. Jadilah aku menyusul mereka dan ikut duduk bersama mereka.

CAN dinaungi oleh dua manusia keren, Andi Suhandi dan Nadiah Abidin, pasangan suami istri yang peduli tidak hanya dengan kehidupan anak-anak CAN, tapi juga peduli terhadap masa depan mereka.  Usai acara, aku dan adik-adik langsung menuju ke sanggar, jalan kaki. Iya, karena lokasi tergolong dekat kami semua berjalan kaki.

Aku tidak pernah membayangkan rute perjalanan mereka. Perjalanan yang mengharuskan mereka untuk melewati 3 rel sekaligus. Oh men, I’ve never imagine this before. Membayangkan perjalanan mereka harus terburu-buru karena mengantisipasi kereta yang akan melintas. Tapi disatu sisi kami semua juga harus berhati-hati terhadap kereta yang tengah melintas. 


Yang bikin ngeri, anak-anak ada yang lari -_-. Ngeri banget bayangin mereka lari-larian di rel kereta. Iya sih udah biasa. Tapi kan tetep bahaya, deeeeekkkkk. Gregetan kalau ingat bagian ini =) Tapi mereka sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini dan seolah-olah melintasi rel kereta bukan lagi jadi hal keren.

Akhirnya, aku sampai di sanggar CAN (bacanya can yang artinya ‘bisa’ di Bahasa Inggris, yaw). Sama dengan bayanganku. Akan ada banyak buku-buku bacaan di sanggar. Yups, ada berbagai macam buku yang memang digunakan adik-adik untuk belajar. 

Pertama kali melihat mereka, terlihat jelas kemampuan musik mereka menonjol sangat jelas. Wajar, sebagian dari mereka ada yang berasal dari pengamen jalanan. Jadi, suara mereka tak usahlah kalian ragukan lagi.

Sebenarnya, aku bisa sampai di sanggar ini karena rindu. Iya, rindu pada Rubbik Indoshelter salah satu rumah singgah anak jalanan di Semarang. Dulu, biasanya kalau misalkan kangen, pasti main sama adik-adik di shelter. Sekarang, Jakarta-Semarang 7jam T_T. Nggak mungkin kalau balik cuma bentar tiap weekend. Hiks anak rantau nggak punya duit hiks.

Buat kalian-kalian yang mau mampir ke sangar, sok atuh mampir. Kalau bisa jangan cuma mampir, ya. Tapi kalian juga ikut andil. Ngajarin adek-adek disana ilmu baru, bagi motivasi mereka supaya mereka tambah semangat juga. Dijamin berkah, deh.

Anyway, kalau ada yang mau donasi ke Rubbik Indoshelter dan CAN, bisa tanya via saya. Donasi nanti akan digunakan untuk keperluan sekolah adek-adek dan bayar uang SPP mereka.

Semoga bermanfaat, ya!

Regards.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s