Baiti Jannati: Menemukan Surga di Rumah Sendiri

Baiti, jannati

Pernah dengan istilah ini? Iya, rumahku, surgaku. Seseorang mengajarkanku beberapa waktu yang lalu tentang ini. Istilah yang terasa begitu merdu jika ia yang mengatakan. Katanya,
“seberapapun jauh kamu pergi, rumah adalah tempat terbaik untuk kamu kembali karena di sana ada surga yang tidak bisa kamu tukar dengan apapun kondisinya,”
Aku tertegun, terdiam beberapa saat, tak berkutik.
“Bagaimana bisa, rumah yang kita tinggali menjadi surga kita di dunia? Surga, yang belum pernah kurasa indah sejak aku lahir hingga dewasa,” kataku.
Ia tersenyum, menjelaskan. Rumahmu, yang Allah beri untukmu, Ibumu yang Allah jadikan malaikat duniamu, keluargamu yang Allah jadikan keluarga pertamamu, adalah surga yang tak terbayarkan nilainya.
Surga yang mengajarkanmu tentang bagaimana kamu seharusnya tidak menangis ketika apa yang kau inginkan tak jua kau dapatkan meski kau telah berjuang mati-matian, dari Ibumu.
Surga yang mengajarkanmu bahwa ketika ada yang melukaimu, kamu harus percaya ada rumah yang selalu menerima dan menghapus segala lukamu, dari keluargamu.
Surga yang mengajarkanmui tentang cinta pertama yang harus kau temukan saat kau beranjak dewasa nanti, dari Ayahmu.
Mungkin, tidak semua orang merasa menemukan surga di rumah.
Tapi kau harus ingat bahwa tanpa Ibumu,
kamu tidak akan bisa hidup dibawah naungan kasih sayang seseorang yang benar-benar tulus.
Seseorang yang telah merelakan 9bulan10hari-nya membawa beban kemanapun ia pergi.
Ibu, yang mampu memberikanmu rasa percaya bahkan ketika semua orang tidak meletakkan kepercayaannya kepadamu.
Dan yang paling penting, Ibumu selalu menyisipkan doanya untukmu meski kamu tidak tahu.
Dan tentu, doa terbaik yang ia panjatkan adalah yang terbaik untuk hidupmu.
Apa ada oranglain yang berdoa setulus itu selain Ibumu sendiri?

Rumahku, surgaku.

Saat kau tak punya cukup uang untuk jajan, rumah selalu menyediakan makanan bahkan ketika kamu memilih pergi jajan dengan temanmu saat kamu punya cukup uang.
Saat kau tak punya tempat untuk tidur, rumah selalu punya ruang untuk kau jadikan tempat agar kau bisa beristirahat dengan nyenyak dari lelahnya aktivitas seharianmu.
Sudahkah kau syukuri itu?
Iya, rumahku, surgaku. Jangan pernah kau tukar hal itu dengan apapun. Jangan pernah kau tukar nilai ini meski kelak engkau telah bertemu dengan seorang tambatan hatimu. Jangan pernah lupa, darimana asalmu, siapa yang ada bersamamu dalam masa sulitmu, siapa yang ada untukmu saat kau tak punya apa-apa. Sekalipun jangan.
Kelak, dalam perjalanan kamu akan menemukan tempat untuk singgah, tempat yang mungkin kau jadikan labuhan terakhirmu untuk pulang. Tapi sungguh, jangan lupakan darimana kamu berasal. Ajarkan pula keluargamu tentang hal itu. Tentang bagaimana kita seharusnya bersikap pada surga kita meski kita juga punya tanggungjawab untuk bisa membangun surga baru bersama orang yang baru pula nanti.
Karena apa yang kau tanam adalah apa yang kau petik. Jikalau kamu tak cukup bisa memuliakan rumahmu sendiri, bagaimana bisa kau merasakan aura surga padanya? Bukankah surga itu bisa kau dapat sejauh mana kau bisa bersyukur atas apa yang kau punya? Dan ingat, jikalau kau tak bisa memuliakan surga yang telah kau dapat, jangan pernah berharap bisa membangun surga yang indah, kelak bersama keluargamu.
Bagaimana bisa kau membangun surga yang indah jikalau kau tak bisa mensyukuri segala surga yang telah kau dapat sebelumnya?
Semoga kelak, tambatan hatimu cukup mengerti bagaimana seharusnya baiti jannati itu. Aamiin
Jakarta Pusat,
17 Juli 2016 

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s