Review Film: Sabtu Bersama Bapak

Apa yang kalian pikirkan pertama kali jika ada pertanyaan tentang ‘Bapak’?
Hari ini, 9 Juli 2016 saya menonton sebuah film yang cukup menyita perhatian saya, “Sabtu Bersama Bapak”. Film yang dari judulnya saja sudah cukup menyiratkan banyak makna bahwa film ini adalah tentang anak dan Bapak. Sekilas, memang terasa seperti itu.

Dan kali ini, saya akan me-review film tersebut. Scene pertama, detik dimulai film ini kalian akan disuguhi dengan scene yang sedih. Ketika Mama harus menerima kenyataan bahwa Bapak ternyata mengidap kanker dan hidupnya tidak akan lama lagi. Klise, mama akan membesarkan anak-anaknya, Saka dan Satya sendiri tanpa seorang bapak.
Menariknya, bapakk dalam film ini punya cara unik untuk terus menemani keluarganya melalui video tentang pesan-pesan kehidupan yang hanya boleh ditonton hanya pada Hari Sabtu. Yes, pesan-pesan ini mengantarkan anak-anaknya untuk menjadi manusia sukses, manusia yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan di depan mata.
Ekspektasiku tidak sesuai dengan kenyataannya. Kupikir, film ini akan sangat menyedihkan dengan sosok bapak yang kental di dalamnya. Ternyata, tidak demikian adanya. Film ini menyelipkan komedi melalui Saka, anak kedua dari bapak dan mama. Menarik, pesan bapak yang direkam sampai dan selalu dipraktekkan oleh mereka berdua. Satya, yang akhirnya mendapatkan konflik dalam rumah tangganya bisa berakhir antiklimaks berkat pesan dari bapak.
Aku jatuh cinta pada Saka. Laki-laki, bagiku baru akan kusebut laki-laki jika ia tahu hak dan kewajibannya sebagai anak pada Ibunya. Tentu saja, Saka, dalam peran ini menjadi laki-laki idaman yang luar biasa. Saka, hingga umur 30 tahun masih belum menikah karena satu hal, ia ingin menjaga ibunya dengan baik. Satu poin yang membuatku menggilai sosok Saka dalam peran. Luar biasa! Tidak semua anak bisa demikian rela mengasuh Ibunya dan memastikan Ibunya mendapatkan yang terbaik hingga akhir hayatnya.

Bapak, selalu punya pesan untuk mengatasi masalah anak-anaknya, termasuk dalam rumah tangga mereka. Dan ada satu pesan yang aku suka ketika Saka akhirnya bertemu dengan tambatan hatinya, Ayu:

“Menjadi sempurna bukanlah tugas pasangan kita, itu adalah tugas diri kita sendiri. Karena dengan demikian, kita akan tahu batasan-batasan dan tanggungjawab yang seharusnya kita laksanakan pada pasangan kita. “



Laki-laki senakal apapun, tetap akan menjadi seorang bapak yang menjadi imam bagi istrinya dan menjadi panutan bagi anak-anaknya. Bapak, sosok yang aku rindu, aku cinta, semoga kelak kami bisa sesurga, mohon doanya. Doakan juga, aku kelak bisa menjadi seorang wanita yang bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anakku nanti, ya. Insya Allah.

Filmnya? Recomended! Siapin tissue, ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s