Dalam balutan amarah, kusimpan kata-katamu rapat

Gadis itu, masih saja mengunci rapat mulutnya yang mulai bergetar karena ingin bersuara
Tidak dengan satu atau dua kalimat
Untuk mengatakan “hai” saja rasanya sudah enggan

Amarahnya membuncah
Emosinya pecah
Bukan hujatan,
Bukan pula celaan
Bibirnya masih rapat, hanya hatinya tidak

Ia yang memang pendiam mengunci pada diri sendiri
Hingga tangisnya pecah
Ia tak mampu lagi menahan segala gundah dan resah
Ada apa gerangan?

Tenang,
Ia, hanya sedang kecewa
Jemarinya yang lugu hanya ingin mengungkapkan betapa besar kecewa yang menghampiri
Ketika mimpinya yang tinggi
Harus dijatuhkan oleh perusak mimpi
Lewat satu pertanyaan dan pernyataan sengit

“Apa kamu yakin kamu akan berkembang jika kamu menjadi penulis?”
“Dengar baik-baik ya, penulis itu tidak memiliki masa depan”

Entah seperti apa hatimu terbuat,
Kau harus melunakkan jiwamu agar kamu bisa tetap gigih

Jumat, 13 November
Dalam balutan amarah, kusimpan kata-katamu rapat
Ini memang termaafkan, namun tak akan pernah terlupakan

from Blogger http://ift.tt/1QuxpyE
via IFTTT

4 Comments

  1. sasakala

    Tadinya gw pikir ini story tentang perasaan perasaan yang mengenang, terus gw pikir bukan, kayanya ini puisi, ya udah gw xoba menghayati ya dengan cara membaca dalam hati, eh tapi bukan juga πŸ˜…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s