Hakikat Cinta

“Untuk apa ragu? Bukankah keraguan yang kita cipta justru akan menjadi peluang syaitan untuk terus mencari celah dalam menggoda iman kita?”

Pagi ini, aku terbangun di Subuh yang terlambat. Matahari sudah menukik beberapa inchi dari jarak yang semestinya aku sudah membuka mata. Aku biasa tidur setelah Subuh, lebih-lebih lagi beberapa hari yang lalu tubuhku rasanya lemah, mungkin ada yang berbeda, seperti biasa. Mungkin tekanan darahku turun atau mungkin aku butuh istirahat lebih lama dari biasanya. Kepala yang di dera pening yang tak terkira mampu membuat pandanganku seketika kabur ketika melihat indahnya dunia yang telah Allah reka sedemikian rupa. Ah, aku terlalu berlebihan dalam hal ini.
Masih dengan muka bantal aku mengambil wudhu untuk segera menunaikan kewajiban Subuh yang tertunda. Hingga kusadari ada yang mengganjal yang ada pada diriku. Ketika sedang melaksanakan wirid, kudapati gelang pada tanganku menghilang. Gelang yang sudah berumur tahunan itu, gelang kayu yang punya bau khas itu menghilang. Aku yang masih setengah sadar langsung terbelalak memastikan gelang itu masih ada di tanganku, melingkar manis pada pergelangan tangan. Namun, aku harus ikhlas nampaknya. Ia hilang entah kemana………
“Allah tidak selalu menghadirkan jawaban setiap Istikharahmu secara langsung. Pun dengan mimpi. Allah selalu punya cara untuk menunjukkan bagaimana tangan-Nya bekerja untuk membuat hambaNya baik-baik saja”

Di tengah kegelisahan tersebut, kalimat ini cukup membuatku tenang. Meski masih kusimpan pertanyaan “Inikah jawaban atas doa yang kupanjatkan kepadaMu kala itu?”. Aku masih tak tahu.
Kubiarkan rasa penasaranku menghilang bersama dengan hilangnya hawa basah Subuh yang berubah menjadi sinar mentari hangat. Ah, biarlah-kataku. Ku obati rasa kehilanganku dengan membaca penggal-penggal kata yang di rangkai oleh Azhar Nurun Ala, penulis favoritku saat ini (karena memang pada dasarnya aku tak suka membaca) Heheheh.
Novel bergaya roman islami khasnya berhasil membuatku jatuh cinta lebih dari sekadar menjadi seorang penikmat saja. Ia berhasil membuatku mengimpikan sosok imam sepertinya kelak suatu saat jikalau waktunya tiba. Kelak ya Allah, Kelak semoga aku bisa mendapatkan satu sosok sepertinya. Sosok yang mengerti tentang sejarah agama, yang mengerti tentang tafsir Al-Qur’an, istilah islam dan bahkan sosok yang paham bahwa “Wanita pendiam adalah sosok yang lebih butuh pelukan daripada sebuah solusi”.
Kutemukan kalimat manis dalan novelnya “Cinta Adalah Perlawanan” seperti ini :
“Lupakanlah cinta yang kita tak punya kemampuan untuk mengatakan dan membuktikannya. Lupakanlah cinta yang keindahannya hanya fatamorgana di padang pasir. Lupakanlah cinta yang bahkan kita masih ragu untuk menyebutnya cinta. Cintailah saja hal-hal yang kita memang sanggup mencintainya.”

Ketika kita jatuh cinta, kita perlu menanyakan pada diri kita “Apakah kita siap mengemban amanah lebih dari sekadar menjaga cinta?” Karena ketika kita jatuh cinta, kita harus siap akan tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar tau bahwa kita cinta dan kita ingin mencintai selamanya.
Terlebih wanita, tahu bahwa lelakimu mencintaimu itu tidak cukup. Setidaknya kita sebagai wanita harus paham betul apakah lelaki kita siap mengemban amanah untuk menjaga kita, menafkahi, merawat dan menua bersama lalu hidup di dalam surga bersama-sama? Jangan jadi wanita bodoh yang mau-maunya terbuai begitu saja dengan cinta :p
Cintai hal yang memang kita sanggup mencintainya, lupakan hal-hal yang ada padanya yang kita bahkan ragu untuk menyebutnya cinta. Misalnya keraguan apakah Ia mampu menjadi imammu kelak ketika kalian sudah menjadi sepasang kekasih dunia?
Sebab Cinta adalah KEPASTIAN

Kesiapan untuk menjaga, merawat dan menumbuhkan seseorang menuju derajat kehidupan yang lebih tinggi. Dan kesiapan selalu mensyaratkan dua hal : kemantapan hati dan kemampuan. Kita baru bisa dikatakan siap mencintai bila hati kita mantap dan kita mampu menunaikan pekarjaan-pekerjaan para pecinta : menjaga, merawat, dan menumbuhkan.

Duhai lelaki yang masih saja belum mengerti sajak sejati cinta, janganlah engkau sekali-kali berani mendekati seorang putri yang suci. Jikalau kau tak pernah bermaksud menyempurnakan agamanya, jangan sekali-kali kau buat Ia jatuh cinta dan terlena.
Pun wanita. Jangan engkau mudah dibuai oleh rayuan gombal para pria. Kau harus cukup dewasa membatasi, memilah baru memilih mana yang ubahnya pas untuk kau pertahankan lalu perjuangkan. Tentu, lewat doa yang bisa kau genggam dalam setiap waktu yang ada. Lantas biarkan alam bawah sadar yang membawamu bangun di sepertiga malamnya untuk kemudian meminta, berharap, dan bercerita tentang betapa inginnya kau bersamanya. Sampaikan pada Tuhamu betapa engkau menginginkannya seperti ketika Fatimah menginginkan Ali dalam diamnya hingga diriwayatkan (keshahihannya belum pasti) “syaitan bahkan tak tau rasa cinta yang mendera luka di kedua hati manusia pilihan ini”.
Apakah kau tak ingin jua dipertemukan dengan cara yang bijaksana? Cara yang hanya bisa kau dapatkan jika Ia ridho semata-mata karna Ia mencintaimu dan ingin yang terbaik untukmu…..

“Allah, Engkau yang Maha Mengetahui Segala Isi Hati
Bahkan sebelum aku mendekatiMu, Kau sudah terlebih dahulu Tahu..
Allah, aku tak perlu berteriak memintamu untuk mengabulkan permintaanku
Engkau telah menjanjikan semuanya akan indah sesuai dengan rencanaMu..
Tapi Bolehkah Wahai Tuhan Semesta Alam?
Bolehkah aku menjadikan Ia pilihan atasku dan agamaku?
Jika boleh, maka mudahkan langkah kami untuk sesegera mungkin menyempurnakan setengah Dien-Mu yang masih belum sempurna
Maka ijinkanlah kami untuk terus memperbaiki diri bersama mentadaburi kitab yang telah Engkau ciptakan sebagai petunjuk bagi kami..
Jikalau Engkau tak berkenan,
Maka hapuslah rasa diantara kami dengan indah..
Lalu seiring dengan berjalannya waktu, biarkan rasa kami memudar
Berganti dengan cinta yang baru tanpa pernah mengungkit masa lalu..
Tapi Ya Allah, apalah daya hambaMu yang kurang syukur ini bila..
Kami meminta dia yang kami cinta adalah jodoh kami bukan hanya di dunia namun jua di akhirat?
Apakah kami terlalu memaksa Ya Allah?
Engkaulah sebaik-baik pembuat keputusan..
Sedangkan hamba, hanya berhak memperjuangkan sembari terus memperbaiki supaya bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi agar kata pantas bisa hamba sanding untuk bisa bersanding dengannya,
Kekasih yang hamba nanti..
Aamiin”

Inilah sepenggal doa yang ada di angan-angan meminta untuk di Aamiinkan oleh semesta. Dalam ketidakberdayaan cinta memang selalu meminta jeda untuk terus membayangkan indahnya berdua bersamanya. Inilah peluang bagi syaitan untuk menghalalkan apa yang seharunya tak boleh kita lakukann. Memikirkannya, bersamanya, merabanya, hingga menodainya.
Hingga detik aku menuliskan ini, aku masih berharap 2016 esok aku sudah menjadi seorang istri. Aku ingin Dien-ku sempurna sedini mungkin. Menjadi istri penuh waktu, mencari ladang pahala dan mencari jalan surga bersama dengen ridho suami tercinta. Aku terus berandai itu kamu, tapi tetap tak berani membiarkan hatiku tertaut terlalu dalam. Karena aku takut, bukan hanya aku yang larut, tapi kamu juga ikut masuk dalam lubang dosa yang kugali begitu dalam. Maka biarlah doaku dan doamu menyatu andai kita memang layak untuk menjadi satu.
Terimakasih alunan depapepe yang menemaniku menyelesaikan bait-bait terakhir tulisan ini hingga aku sadar bahwa mataku mulai berkantung. Aku akan bergegas untuk tidur, tanpamu tentu saja. Tapi dengan doa kita.
Regards,

from Blogger http://ift.tt/1LBXRSt
via IFTTT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s