Dilema Idul Adha

Rabu, 24 September 2015

Sejak malam lalu, tepatnya masuk waktu maghrib ketika senja mulai menampakkan diri suara takbir kemenangan mulai terdengar berkumandang. Bersaut-sautan dari satu surau disambut surau yang lain. Terus hingga malam larut-pertanda kita harus mempersiapkan diri untuk Hari Raya Idul Adha esok hari.

Aku yang masih berada di jalan menuju pulang masih belum ngeh tentang hal ini. Lebaran daging, kami menyebutnya adalah sebuah petaka yang tak tertulis namun begitu mengikis.

Hari ini, tepat 24 September 2015, aku terbangun sayu diatas tempat tidurku yang masih membelai manja agar ku tak beranjak dari sisinya. Masih belum dalam keadaan sadar bahwa aku harus segera bergegas bersiap untuk kemudian pergi ke lapangan tempatku dan Ibu melaksanakan shalat Ied. Maklum, si merah sedang datang bersamaan dengan momen lebaran daging.

Aku yang masih malas mendengar suara takbir yang menggema samar dari masjid Ad-Dien. Tempat yang lekat dengan masa kecil dan masa lalu yang indah. Kuresapi tiap gemanya dalam-dalam :

Allahu Akbar

Allahu Akbar

Allahu Akbar

Laa ilaa ha illallahu

Allahu Akbar

Allahu Akbar

Walillahilhamdu

Rasanya seperti menjadi lalu, menjadi seperti dulu-menjadi anak-anak yang masih gemar pergi ke masjid hanya untuk sekadar bertegur sapa dengan sahabat yang setiap hari jumpa namun tak bisa berlama-lama bercengkrama. Bukan, bukan itu topik yang ingin kuceritakan disini. Kegundahan yang membuncah setiap kali momen lebaran ini terjadi, ada pada rasaku. Rasa sensitif yang tak hanya menyiksa orang lain melainkan menyiksa diriku sendiri.

Aku harus mempersiapkan masker, pengharum ruangan dan sebagai pelengkapnya kantung muntah.

pukul 12.30

Ibu yang sedari pagi menjadi bagian dari manusia pembantai hewan Qurban masuk tiba-tiba di kamar untuk melaksanakan shalat dhuhur. Sedangkan aku yang tengah menonton film dari aplikasi youtube di handphone berteriak tanpa aba-aba satu, dua, tiga. “Ibuuuuuuuuuuuuuuuuukkkk….. Ibukkkk bauuuuuu” dengan suara melengking dan posisi reformasi tidur menjadi berdiri.

Seketika suasana rumah menjadi riuh, karena aku. Beginilah awal dari tersiksanya diriku dimulai.

“Hoooeeeekkk”

aku berlari menuju kamar mandi sesegera mungkin. Langkahku terbirit-birit. Entah ada berapa jin yang tersenggol olehku hanya karena aroma daging yang tanpa permisi masuk ke dalam lubang hidung yang mungil ini.

Sekitar 15 menit, aku memuntahkan seluruh isi perutku hingga tak ada yang tersisa kecuali darah. Ya, darah dalam diri seolah ingin ikut berbaur menjadi nasi-nasi bekas perutku lantas mengalir menuju hilir yang entah akan berlabuh kemana. Air mata pun ikut meronta-protes pada aroma yang tak sopan mengganggu waktu istirahat kami.

Aku keluar dengan mata basah dan perut kosong. Badanku terasa begitu lemas.

Oh Ibu, anakmu ini tak sedikitpun bisa mencium bau-bauan sensitif. Mengapa tak juga kau peka?

Aku mulai subyektif. Ibu pikir aku akan baik-baik saja. Gelak tawa dari kamar sebelah-kamar kakak laki-lakiku dan istrinya seolah-olah ingin berkata “Apa sih dek, alay banget kamu”

Hei, adikmu ini rasanya hampir mati karena bau-bauan ini dan kalian bisa tertawa bahagia melihat adikmu tersiksa? Kakak macam apa kalian ini.

Ingin marah, tapi entah harus kulampiaskan pada siapa. Tak seorangpun bisa menjadi sasaran amarahku hari ini. Aku yang salah. Ini adalah momen dimana mereka yang tak bisa merasakan nikmatnya daging akhirnya bisa memanjakan lidahnya. Momen dimana tak ada lagi kasta-siapa yang kaya makin kaya dan miskin makin miskin. Semua sama.

Kecuali aku, dan perutku.

Momen lebaran ini setiap tahun sekali menyiksaku. Aku, harus bisa menahan diri dari siksaa ini. BIsa kubilang bahwa “Mereka yang dibunuh, tapi aku ikut terbunuh”. Ya Allah maaf, bukan aku tak mau memaknai kisah Ismail a.s. dan Ibrahim a.s. Anugrah rasa mual ini benar-benar tak bisa kubendung lama. Bahkan jika bisa kubeli tabung kecil oksigen, akan kubeli :’)

Aku dilema, ingin bahagia tapi sejatinya aku tersiksa.

Aku, dilema

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s