LDM Itu Berat

Kalau disuruh milih, deket sama suami tapi nggak bisa kemana-mana atau jauh dari suami tapi bisa kemana aja, aku bakalan milih opsi pertama.

Aku paling nggak bisa yang namanya ditinggal sendiri. Ya, meskipun terbiasa ngapa-ngapain sendiri, buatku, menikah itu untuk hidup berdua. Jadi, kalo tujuannya buat ditinggal doang, duh, bye, deh!

Kalau disuruh milih, deket sama suami tapi nggak bisa kemana-mana atau jauh dari suami tapi bisa kemana aja, aku bakalan milih opsi pertama.

Aku paling nggak bisa yang namanya ditinggal sendiri. Ya, meskipun terbiasa ngapa-ngapain sendiri, buatku, menikah itu untuk hidup berdua. Jadi, kalo tujuannya buat ditinggal doang, duh, bye, deh!

Sejak awal, sebelum menikah, kalau ditanya maunya calon yang kayak gimana, aku selalu jawab: yang nggak suka ninggal meskipun cuma sebentar. Nggak kuat aku kalau harus jauh-jauhan.

Bahkan, aku nggak sungkan nanya mas dulu ketika kami mau menikah. Dan jawaban mas sama dengan keinginanku, nggak mau jauh-jauhan.

Tapi, namanya juga hidup, kan, ya. Nggak ketebak mau diarahin kemana mah ngikut wae. Sampai akhirnya ketakutan terbesar LDM kejadian justru pas Khaula sudah lahir.

Pas lagi diuji sama keadaan Khaula yang demam tinggi, tongue tie, lemes dan nggak bisa nyusu, mas dapet panggilan kerja di luar kota. Sedih, tapi harus tetep sok tegar dan support. Alhamdulillahnya, mas dapat kerja di Kudus. Di kampung mertua, yang mana nggak bingung untuk cari tempat tinggal karena bisa numpang di rumah mertua dulu untuk sementara selama kami belum punya rumah.

Tetep aja, meskipun jarak Semarang-Kudus itu dekat, aku tetep nggak bisa ditinggal. Alhasil, selalu ada drama ketika aku di Semarang dan mas di Kudus.

Tiba-tiba nelpon cuma nangis, lah. Tiba-tiba hape dimatiin dan lebih milih tidur sama Khaula, lah. Banyak! Dan itu semua karena stress jauh dari suami. Jadi salut, sama pejuang LDM karena aku se-nggak bisa itu jauh dari suami.

Aku nggak megharamkan LDM. Malah salut sama yang tahan buat jauh-jauh dari suami. Aku, yang kelihatannya tegar ini ternyata ambyaarrr boooossssss kalo ditinggal sama suami meweeeek hahaha.

Nggak salah baca beneran deh kalian yang baca tulisan ini. Septi anaknya emang manja. Bahkan setelah menjadi ibu.

Buatku, suami support system yang paling kubutuhkan untuk jauh dari stress yang datang dari luar. Buatku, kekuatan utama buat tetep bisa kuat urus anak ya suami.

Jadi, kalau kalian memutuskan untuk LDM, aku mau peluuukkk kalian. Kalian hebat, kalian kuat. Aku nggak sanggup kalo harus LDM sampe berbulan-bulan ūüôā

Semangat ya, para pejuang LDM! ūüôā

Memperjuangkan ASI, Memperjuangkan Khaula

Aku sudah melakukan cukup banyak hal demi bisa membuat ASIku mengucur deras. Mulai dari mengikuti mitos, seperti mandi dengan membasahi rambut setiap pagi, minum jus daun katuk tiap hari agar nutrisinya tidak hilang jika disayur, ke konselor ASI, makan telor setiap hari minimal 2-4 untuk menjaga kandungan protein dalam ASI, makan porsi sering minimal 3 kali sehari (aku jarang makan besar btw), makan ayam+telur+ikan+karbo+sayur dalam satu piring sekali makan, pumping ASI rutin setiap 2 jam sampai tidak bisa tidur nyenyak karena takut bablas, minum jamu wejah, makan sup daun kelor, dll dll dll.

“Maaf ya, mas kalau ternyata aku nggak bisa jadi ibu yang baik buat Khaula karena nggak bisa kasih full ASI,” Aku tersedu.

Mas memberikan bahunya, ia meraihku dan memelukku. Menenangkan dengan caranya dan meyakinkanku bahwa aku telah berupaya dengan sebaik-baiknya. Aku benar-benar telah melakukan segala cara dan ia menjadi saksinya.

Sore itu, tangisku kembali pecah. Sepulang dari bidan untuk konsultasi tentang ASI dan berat badan Khaula yang tak kunjung naik drastis karena baru saja pulih dari tongue tie, aku justru malah menangis.

Bagaimana tidak, yang awalnya datang untuk konsultasi saja malah dibanding-bandingkan dengan kondisi menantu bidan yang lahir hanya terpaut 3 hari lebih awal dari Khaula dan bobotnya sudah 2kg lebih di atas khaula. Terus terang aku nggak ngerti kenapa justru nakes (tenaga kesehatan) yang paling banyak memberikan tekanan berupa perbandingan anak satu dengan yang lainnya.

Padahal mereka paham betul bahwa setiap anak tumbuh dan berkembang dengan caranya masing-masing pada waktu yang berbeda-beda pula. Tapi, ah sudahlah. Aku nggak pengen memperpanjang. Yang jelas, aku kecewa ketika kami, aku dan mertua datang untuk konsultasi, justru cerita tentang menantu bidan yang kami dapatkan.

Alam bawah sadar memang berpengaruh penting. Saking pentingnya, sampai aku benar-benar kewalahan mengontrolnya. Kondisi bb Khaula memang kurang sedari lahir, ditambah Khaula baru saja pemulihan dan ini Khaula sedang dalam tahap pemulihan. Tapi, karena omongan bidan tersebut, alam bawah sadarku jadi liar. Aku jadi membayangkan begitu banyak kemungkinan yang mungkin terjadi bila Khaula tak kunjung mendapatkan bobot sesuai dengan indikator dalam KMS (Kartu Menuju Sehat).

Akhirnya, aku kembali seperti orang stress, ngomong ngelantur, tidur berantakan, makan berantakan dan aku memutuskan untuk ke DSA (Dokter Spesialis Anak) lagi. Padahal, jika dilihat dari timbangan pasca insisi (pemotongan tongue tie), Khaula sudah naik banyak! Hah, memang kalau sudah menyentuh alam bawah sadar kontrolnya jadi sulit sekali.

Semua Kulakukan Demi Bisa MengASIhi Khaula

Aku sudah melakukan cukup banyak hal demi bisa membuat ASIku mengucur deras. Mulai dari mengikuti mitos, seperti mandi dengan membasahi rambut setiap pagi, minum jus daun katuk tiap hari agar nutrisinya tidak hilang jika disayur, ke konselor ASI, makan telor setiap hari minimal 2-4 untuk menjaga kandungan protein dalam ASI, makan porsi sering minimal 3 kali sehari (aku jarang makan besar btw), makan ayam+telur+ikan+karbo+sayur dalam satu piring sekali makan, pumping ASI rutin setiap 2 jam sampai tidak bisa tidur nyenyak karena takut bablas, minum jamu wejah, makan sup daun kelor, dll dll dll.

APAPUN! Benar-benar apapun aku lakukan demi bisa memberikan ASI eksklusif Khaula. Hingga benar-benar terasa capeeeekkkk banget. “Mas, aku tu capek pumping…” Aku pernah melontarkan ini pada suamiku. Tapi aku jauh lebih takut bila aku malas pumping, anakku harus sufor. Setakut itu pada sufor. Maka, aku lebih memilih untuk berlelah-lelah. Bismillah.

Aku Saklek ASI!

Nggak, aku nggak benci sufor. Aku nggak mengharamkan sufor. Yes, aku saklek ASI. Bukan tanpa sebab mengapa aku jadi orang yang saklek ASI. Aku cuma pengen kasih haknya Khaula yang Allah titipkan melalui aku. Aku cuma nggak pengen dzalim sama anakku kalau nyerah gitu aja nggak memperjuangkan ASI.

Aku hanya merasa bahwa Allah menciptakan manusia itu selalu dengan sebaik-baiknya. Ketika Allah telah mempercayakan amanah anak kepada kita, tentu harusnya Allah telah mempersiapkan segala sesuatu yang bisa membuat kita memenuhi hak ASI anak kita. Oleh sebab itu, jika memang sampai ikhtiarku yang terakhir kalinya aku tetap tidak bisa memberikan ASI, maka aku akan dengan segala kerendahan hati merelakan anakku sufor. Tapi, when there is a will there is a way.

Aku berdoa sepanjang hari, memintaNya untuk memberikanku ASI yang cukup untuk Khaula. Memberikan asupan terbaik untuk Khaula melaluiku sebagai ibunya. Dan alhamdulillah, upayaku bersakit-sakit membuahkan hasil.

Meski harus kurang tidur, meski harus merintih kesakitan, meski harus terjaga setiap malam, meski harus kaget dengan alarm yang dipasang, meski harus makan makanan yang aku nggak pernah makan sebelumnya, aku bersyukur Allah kabulkan doaku.

Jangan Kira Aku Tidak Menyerah

Masa dimana Khaula demam adalah masa terberatku sebelum tahu bahwa Khaula tongue tie. Dan keesokan harinya, mas harus ke luar kota untuk pekerjaan. Aku sendirian di rumah dengan segala ke-chaos-an yang entah aku tidak mau jika harus membayangkannya lagi.

Dan masa-masa itu begitu banyak dorongan untuk memberikan sufor pada Khaula. Katanya, sama saja. Daripada anak lemes. Dan, aku kalah. Ketika hampir 4 jam lamanya Khaula tak kunjung menangis meminta susu. Ketika kulihat matanya sayu dan memerah. Ketika tubuh mungilnya lemas tak berdaya.

Aku memberikan Khaula sufor untuk kali pertamanya dengan berat hati. Dan di jam-jam setelah itu aku berupaya setengah mati untuk memompa ASI yang hanya keluar beberapa ml saja meski sudah kupompa bermenit-menit hingga berjam-jam. Aku menyerah. Tubuhku rasanya tak kuat melihat hasil ASIP yang menyedihkan.

Tapi, alih-alih menyerah, ketika melihat Khaula untuk kali pertamanya buang air besar di hari ketiga setelah demam, aku lebih baik bersakit-sakit ria mencoba memerah ASIP agar bisa keluar berapapun hasilnya daripada harus melihat anakku seperti itu.

Ia terlihat cukup sulit mengeluarkan kotoran dalam perutnya. Ia mengejan, terlihat sangat-sangat berupaya untuk mengeluarkan, tidak seperti ketika minum ASI, ia bisa dengan mudah dan tidak perlu bersusah payah mengejan. Aku saja yang orang dewasa tahu betul bahwa mengejan ketika buang air besar itu, sakit dan tidak nyaman.

Akhirnya, hari kedua Khaula ASI sambung sufor, emosiku makin tak tentu. Aku menangis sepanjang hari, meminta maaf pada Khaula. Menciumi tangannya, sambil membisikkan kata maaf berkali-kali karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya.

Dan tepat di hari ketiga, aku ingin sekali anakku stop sufor. Aku lantas menduga bahwa Khaula memiliki masalah tongue tie dan harus ditindak. Aku gelisah, ingin terbang ke rumah sakit saat itu juga rasanya.

Jumat siang, kira-kira pukul 11 aku menelepon mas yang ada di Kudus untuk meminta izin sekaligus mengabari beliau bahwa aku akan ke rumah sakit. Dan tidak disangka dan tidak diduga, mas sepulang shalat jumat langsung tancap gas ke Semarang untuk menemaniku dan Khaula. Allahu Akbar! Nggak ngerti gimana mau ngucapin terima kasihnya. Aku bersyukur punya kamu, mas ūüôā

Dan ketika tiba dan bertemu dengan dokter spesialis anak konsultan, Khaula memang teridentifikasi tongue tie dan harus diinsisi. Lega sekali rasanya mendapati Khaula ditindak. Khaula menangis, tapi aku lega melihat akhirnya Khaula mendapatkan tindakan yang harusnya ia dapat sebelumnya. Maaf ya, nak ibu terlambat.

Dan sejak saat itu, aku langsung mencari tahu tentang konsultan/konselor laktasi yang bisa kujadikan tempat curhat dan berkonsultasi tentang ASI. ASIku yang tersumbat akhirnya dibantu untuk keluar dan aku diberikan resep untuk perbaikan kualitas ASI agar gizi Khaula tercukupi.

Alhamdulillah, setelah rangkaian menegangkan dan penuh emosi tersebut, aku tetap berada di jalanku untuk berlelah-lelah merelakan diriku kurang tidur, kurang istirahat, terjaga tiap malam, demi bisa memberikan ASI eksklusif kepada Khaula.

Untuk saat ini, aku memakai metode direct breastfeeding, yakni menyusui Khaula langsung dan pompa PD dengan pompa elektrik setiap 2-3 jam sekali mulai dari pukul 8 malam hingga subuh. Pagi – menjelang malam, menyusui langsung. Dan bada ashar pompa sekali karena biasanya Khaula diajak oleh neneknya. Stok agar Khaula tidak eprlu mencariku, tetapi tetap cukup ASI.

Dan, hasil pompa tidak kusimpan, ya. Melainkan langsung kuminumkan kepada Khaula karena kami ada PR untuk mengejar BB Khaula yang tertinggal jauh. Alhamdulillah, sampai postingan ini dibuat, BB Khaula sudah naik sangat-sangat lumayan. Meski demikian, aku tetap tidak boleh lemah!!

Tak apa nak bila ibu harus merasakan puting ibu lecet atau kebas karena sering dipompa atau tak sengaja kau tarik. Asal melihatmu bisa tumbuh sehat dan aktif, ibu rela.

Semoga ibu bisa memberikanmu ASI eksklusif 6 bulan – 2 hari sufor dan semoga ASI ibu bisa mencukupimu hingga kamu berusia 2 tahun ya, nak. Bismillah…

Belajar Menjadi Ibu

Being mom is kinda exhausting. Capek. Beneran deh nggak boong. Nggak bisa dijelasin pake mulut. Karna kalo udah kecapean cuma butuh waktu buat istirahat aja udah. Meskipun ada drama marah-marah sama suami dikit. Ehe.

Being mom is kinda exhausting. Capek. Beneran deh nggak boong. Nggak bisa dijelasin pake mulut. Karna kalo udah kecapean cuma butuh waktu buat istirahat aja udah. Meskipun ada drama marah-marah sama suami dikit. Ehe.

Sudah sekitar 40 hari ini aku resmi menjadi seorang Ibu. How it feel? It feels like wowwww nggak nyangka aja bisa ada di titik ini. Rasanya beneran senano-nano itu.

Senengnya, capeknya. gemesnya, sedihnya, marahnya, semuanya jadi satu. Momen dari menjelang lahiran, sampai lahiran, sampe punya bayi, sampe akhirnya mulai momen-momen perbandingan dimulai.

Bayinya kecil ya… Ih, rambutnya sedikit ya… Ukurannya imut-imut ya… Ih sesar ya, anak sekarang mah gitu gamau sakit… Enak ya sesar… Anaknya perempuan sih, ga kayak anak laki-laki… And so many damn statement like that.

Begitu masuk ke masa-masa mengASIhi, masih ada aja yang komen. ASI kok nggak gendut-gendut… Anaknya si A itu lho nyenengin, gendut… dll dll dll dll kalimat-kalimat yang nyakitin.

Can they think something about seberapa besar perjuanganku sebagai seorang yang masih belajar menjadi ibu untuk bisa mengASIhi dan memberikan yang terbaik untuk anak? I may not the perfect one, i’m just trying to give the best for my daughter. That’s it!

Aku sudah cukup menderita terkena Baby Blues ketika pada akhirnya mendapati anak dengan BB kurang dalam waktu 1 bulan, anak demam dan lemas karena tidak ada asupan yang masuk dan itu terjadi karena ketidaktahuanku tentang tanda-tanda tongue tie.

Belum lagi, aku kekeuh sekali untuk memberikan ASI apapun yang terjadi, bagaimanapun itu sampai datang ke dokter anak, beli pompa asi, minum multivitamin, pijat laktasi, kompres PD pakai air panas, tanya sana sini, sampai akhirnya aku menghadirkan konselor ASI ke rumah. Capek. Beneran deh. Biayanya pun nggak murah.

Mulai dari waktu, materi dan emosi terkuras habis. Belum lagi melawan omongan-omongan untuk susu formula, disuapi pisang, dll. Berat banget rasanya. Tapi memang dari awal aku berjuang dengan niat untuk bisa memberikan hak ASI anakku apapun yang terjadi. Meski harus berdarah-darah mah hayuk aja bismillah.

The more I try, the more I know the truth. Mana yang sebenarnya salah aku lakuin selama ini, mana yang benar. Mana yang harus aku perjuangkan, mana yang harus aku lawan. Dan semua itu proses. Memakan waktu yang tidak sedikit. Capek? Tentu.

Aku mengalami masa-masa nggak nafsu lihat makanan. Aku mengalami masa-masa nggak bisa tidur. Aku mengalami masa-masa tiada hari tanpa menangis meronta-ronta. Aku mengalami masa-masa depresi berat. Aku takut anakku meninggal karena ketidaktahuanku.

Baby Blues ternyata sebahaya itu. Bahkan, kalau tidak segera ditangani, Baby Blues bisa menjalar menjadi post partum depression. Lebih parah dan lebih mengerikan tingkatannya. Naudzubillahimindzalik.

Aku belajar banyak, bahwa ternyata belajar mendengarkan itu penting sekali. Belajar untuk tidak mendebat itu ternyata membantu banyak. Aku yang pernah memberikan pendapat kepada yang datang bercerita kepadaku akhirnya jadi tahu, bahwa teman baikku, keluargaku, saudaraku, datang kepadaku untuk menceritakan unek-uneknya pun masalahnya hanya butuh didengarkan saja.

Tanpa perlu diberikan pendapat, tanpa perlu diberikan saran apalagi harus disalah-salahkan. Agar korban bunuh diri tak lagi bertambah karena korban merasa terlalu lelah.

Karena ternyata, rasa lelah, marah dan teman-temannya itu hanya butuh diluapkan saja. “Makanya, wudhu. Biar marahnya reda. Marah kan dari setan…” Iya, bener. Tapi tolong please diingat bahwa, manusia itu punya titik rapuh. Manusia itu butuh tempat untuk mengaduh. Tentu, sajadah adalah jawabannya. Tapi sungguh, andai kamu sedang dalam posisi stress yang sama, kamu tentu akan sangat sensitif mendengarkan jawaban ini.

Tolong ingat-ingat dengan baik, mendengarkan itu tidak sulit. Orang-orang yang datang padamu dengan “masalah”, sebenarnya sudah tahu apa jalan keluarnya. Hanya saja mereka butuh untuk ditemani, untuk disupport, untuk didampingi agar tetap kuat dan ada pada jalannya.

Karena ketika kamu rapuh pun kamu hanya butuh untuk ditemani tanpa harus dihakimi, bukan?

Aku bangga dan bersyukur dengan diriku sendiri karena bisa terus belajar, karena diizinkan untuk belajar.

Karena menjadi ibu tidak mudah, maka hari-hari penuh dengan ilmu adalah anugrah.

Menanti Khaula

Kami tidak mengira jika pada akhirnya kami harus benar-benar mempersiapkan diri untuk operasi. Terutama aku, yang sudah jauh-jauh waktu menanti dengan segala persiapan untuk melahirkan melalui proses pervaginaam.

Semuanya begitu mendadak. Semuanya begitu tidak terduga.

Manusia berencana, Tuhan tetap yang menentukan.

Tentang bagaimana akhirnya,

Tentang bagaimana hasil akhir ikhtiar seorang hamba.

yang tentu saja, tidak selamanya ekspektasi sesuai dengan realita.

Karena manusia, memang hanya berhak memegang kendali atas usaha

Serta melangitkan doa-doa dan

Berpasrah pada apapun keputusanNya.

Kami tidak mengira jika pada akhirnya kami harus benar-benar mempersiapkan diri untuk operasi. Terutama aku, yang sudah jauh-jauh waktu menanti dengan segala persiapan untuk melahirkan melalui proses pervaginaam.

Semuanya begitu mendadak. Semuanya begitu tidak terduga.

Selasa, 23 Juli, kami masih melakukan cek rutin kehamilan di dr.Dewi yang praktek di Ngesti Widodo, Ungaran. Sebelumnya, memang diingatkan bahwa kondisi air ketubanku cukup untuk lahiran dengan kondisi janin dengan ukuran 2.5kg, yakni ukuran di batas rata-rata jika tidak ingin anak kami masuk ke inkubator karena terlalu kecil (dikhawatirkan malnutrisi).

Saat melakukan periksa rutin malam itu, tiba-tiba bu dokter mengatakan bahwa ketubanku habis dan aku harus segera ditindak dengan induksi untuk mempercepat bukaan dan memajukan lahiran. Aku yang malam itu didampingi ibuku karena suamiku menunggu di luar kalut bukan main. Ingin menangis sekencang-kencangnya.

“Saya nggak ngerasa sakit buk, saya sehat, kok. Minumnya juga banyak.” Kataku, menyangkal kenyataan.

Namun, melihat hasil USG yang nyatanya ketuban hanya tinggal sedikit, yakni di bawah batas normal jauh, membuatku harus benar-benar mempersiapkan kemungkinan terburuk. Shock bukan main. Mungkin kalau suamiku yang ada di dalam ruang periksa malam itu, ia yang akan bertanya habis-habisan karena tahu aku tak bisa berkata-kata.

“Besok pagi ke sini, ya. Kita lakukan rekam detak jantung janin untuk tahu kondisi janin apakah baik untuk diinduksi atau tidak.” Kata Bu Dokter memberikan solusi.

Kami bertiga pulang, bungkam. Dan aku semakin tak berdaya, lemas, pasrah. Aku tidur dalam pelukan suamiku. Mas tahu aku sedang shock berat. Ia tak berkata apa-apa untuk menguatkan. Ia hanya memeluk, menggenggam tanganku, dan mencium keningku.

Pagi, Rabu, 24 Juli 2019 kami kembali ke klinik untuk melakukan rekam jantung janin. Selama proses perekaman detak jantung, mas selalu menggodaku agar aku tak tegang. Ia menceritakan cerita-cerita receh sambil sesekali memperlihatkan video lucu agar aku tetap rileks dan tetap tersenyum. Ia menggenggam tanganku, mengelus-ngelus perutku dan sesekali berbicara kepada anak kami untuk tetap kuat.

Dan alhamdulillah, ketika hasilnya keluar, kami dilegakan bahwa detak jantung janin stabil dan normal. Kami tersenyum, karena diizinkan pulang dengan pantauan dan diminta kembali di Hari Jumat.

Sesampainya di rumah, justru aku yang semakin panik karena pergerakan di dalam perut semakin tidak ada. Pergerakan adek semakin berkurang bahkan hampir tidak ada pergerakan sama sekali. Aku khawatir, dan di Kamis pagi, aku mengajak mas untuk mencari klinik terdekat dan melakukan USG. Dengan tujuan jika memang harus ditindak, maka hari itu juga kami akan berangkat ke klinik atau rumah sakit terdekat.

Qadarullah, klinik terdekat tutup dan klinik satunya lagi dokter SpOG-nya sudah pulang. Akhirnya kami tetap menunggu Jumat dengan berusaha tenang sambil memberikan afirmasi positif kepada anak kami untuk tetap bertahan, bersabar dan kuat di dalam rahim. Meskipun kalut bukan main, aku berusaha untuk tetap tenang karena ada mas yang selalu menguatkan.

Hari Jumat malam, kami melakukan kontrol dengan membawa segala persiapan persalinan yang telah kami siapkan sebelumnya. Baju ibu, baju bapak dan tentu saja perlengkapan bayi serta segala dokumen yang mungkin akan diperlukan.

Dan betul saja, tidak ada kabar baik dari dokter. Cairan ketuban benar2 telah habis dan berat badan adek kian lama kian turun. Tapi kami sudah mempersiapkan diri sebelumnya. Aku, terutama sudah berdamai dengan diriku sendiri untuk tidak memaksakan diri bila memang harus ada tindakan operasi untuk menyelamatkan adek.

Malam itu, aku meminta dokter SpOGku untuk membantu persalinanku. Daripada harus dirujuk di rumah sakit lain, aku lebih memilih untuk menuju rumah sakit yang beliau praktek di sana, RS. Pantiwilasa Dr. Cipto. Tidak ada alasan lain selain karena beliau sudah mengetahui riwayatku, sehingga aku tidak perlu mengulang rekam medis dengan dokter lain. Dan terlebih lagi, dr. Dewi begitu baik dan detail. Aku cocok dengan beliau.

Hari Sabtu bada ashar, aku dan mas menuju ke rumah sakit untuk bersiap2 atas segala kemungkinan. Dan dokter Dewi langsung membuatkan surat rawat inap mendadak karena masuk sebagai pasien gawat darurat. Aku menjalani beragam tes pemeriksaan, mulai dari tes darah, tes tensi tekanan darah, dll sebelum masuk ke ruang persalinan untuk diisolasi.

Bukan main, mas tidak boleh masuk dan aku harus menunggu sendirian di dalam ruangan bersalin yang mana di dalamnya berisi orang2 yang merintih kesakitan karena merasakan bukaan, menangis karena merasakan sakit, dll. Aku yang sudah cukup siap untuk operasi jadi stress sendiri. Nangis-nangis, deh di dalem ruangan. Mana sendirian pula ._.

Sambil menahan sedih dan stress yang bukan main, aku menguatkan diri untuk tetap di dalam ruangan dan berusaha cuek. Bodo amat, dah. Meskipun tetap kepikiran. Dan keesokan harinya, setelah mandi dan sarapan pagi pukul 6, aku disuruh berpuasa sebelum akhirnya operasi.

Ini adalah kali pertama dan semoga terakhirku merasakan operasi yang rasanya bukan main. Pukul 12 siang, setelah shalat, aku bersiap. Aku mulai dipakaikan pakaian operasi dan diangkut menuju ruang operasi. Semua keluarga memeluk, mendoakan, mengecup kening dan memegang tanganku erat. Bismillah….

Pukul 13.00 operasi dimulai. Aku dioperasi dalam keadaan sadar dan tidak sedikitpun dibiarkan tertidur oleh dokter. Tubuhku menggigil, bibirku gemetar. Dingin sekali rasanya sampai ke tulang. Dan pukul 13.32 Khaula lahir. Alhamdulillah… Lega rasanya mendengar tangisnya.

“Sudah lahir ya bu, perempuan, cantik. Ketubannya habis bis, bu. Untung segera ambil tindakan operasi,” kata dr. Dewi sambil tersenyum.

Aku tidak memikirkan apa-apa selain, “terima kasih, nak telah berjuang bersama ibumu yang penuh dengan kekurangan ini. terima kasih karena telah menjadi anak yang kuat dan menguatkan ibumu ini.”

Aku masih menggigil saat proses IMD, proses penjahitan hingga dipindah ke ruang sadar bius. Aku sudah tidak mengerti bagaimana rasanya menjelaskan dingin yang terlalu menusuk tulang. Bibirku semakin bergetar. Suster menyelimutiku dengan selimut dobel. Katanya, “nanti minta suami belikan teh panas ya, bu supaya badannya hangat.”

Akhirnya, aku dipindah ke ruang rawat inap setelah semua proses selesai. Dalam keadaan yang masih setengah sadar, aku masih gemetaran hebat. Mas bergegas membeli teh panas untukku. Dan ketika mas datang membawa teh panas, tak lama kemudian Khaula dibawa ke ruanganku. Aku tersenyum, lega.

Terima kasih Allah, karena telah menguatkan. Karena telah menjadikanku kuat. Maaf karena sempat tak yakin aku bisa melalui semua ini.

Ramadan Pertama dalam Kondisi Hamil

Tidak ada yang mengira bahwa aku akan hamil secepat ini, setelah menikah dan alhamdulillah langsung diberikan amanah. Tak terkecuali aku. Meski tidak menunda, namun aku benar-benar tidak menyangka bahwa tepat setelah menikah Allah berikan amanah yang luar biasa. Amanah yang bisa membuatku mengharu biru setiap harinya jika mengingat bagaimana rasanya sakit luar biasa menjadi seorang ibu hamil.

Lebih dari itu, menjadi wanita hamil membuatku merasakan kasih sayang yang lebih, lebih dan lebih lagi luar biasa dari suamiku. Saking luar biasanya, rasanya air mataku terus mengalir sebab syukur tiada henti karena telah diberikan suami dan keluarga yang terus support.

Ini Ramadan kelima dan aku sudah bolong untuk kedua kalinya. Sedih bukan main rasanya karena Ramadan ini belum bisa beribadah secara maksimal karena kondisi badan yang tidak mendukung untuk puasa penuh. Alhasil, dengan sangat terpaksa aku harus merelakan untuk tidak puasa.

Aku punya masalah pencernaan yang sepertinya cukup serius sejak sebelum hamil. Namun, masalah lain muncul ketika hamil. Dan rasa sakit yang awalnya biasa saja aku rasakan saat masih sendiri kian menjadi saat hamil. Selain perut menjadi begah, tubuh rasanya lunglai bukan main karena menahan sakit dan harus berusaha tetap kuat.

Setiap kali mengeluh, beruntun suami selalu menguatkan. “Sabar ya, nggak apa-apa. Pahalanya ibadah ini buat kamu, nggak semua orang ngerasain rasanya berjuang hamil dan ngerasain berkahnya sakit yang kamu rasain.” Bersyukur, tapi sedih. Bingung setiap ditanya rasanya gimana dan cuma bisa nangis aja saking nggak bisa mendeskripsikan rasa sakitnya.

Sering banget ngobrol sama si bayik buat kuat nemenin ibunya dan berjuang bareng dari dalam perut. Kasih afirmasi positif ke si bayik biar tetep kuat dan sabar bareng. Tapi tetep melow rasanya karena nggak bisa sekuat yang aku bayangkan.

Dulu pernah ngebayangin kalau hamil masih bisa jalan-jalan sehat, masih bisa keliling-keliling gitu, masih bisa kerja tanpa takut ngedrop, masih bisa makan apa aja atau minimal makan secara normal. Qadarullah semuanya berbalik. Sekarang pegang laptop nggak bisa setiap waktu karena nggak bisa lama-lama duduk. Kecapean dikit bisa langsung demam dan ngedrop. Allahu Akbar.

Terima kasih mas, karena telah bersabar mendampingi. Kuatkan aku ya, mas :”)

Mohon doanya ya, teman-teman yang baca, semoga Allah kuatkan dan lancarkan sampai persalinan nanti :”)

Menikah, Pencapaian yang Melegakan

Kehidupan setelah menikah itu tentang syukur, tentang menerima, tentang legowo tur ora maido alias nerimo ing pandum. Kalo suami meriang, ya istri yang ngerawat. Kalo istri yang meriang, ya suami yang ngerawat. Kalo mood salah satu lagi nggak bagus, ya yang satunya yang ngimbangin biar suasana jadi nggak canggung satu sama lain.

Dulu, aku seringkali meracau — membayangkan akan dengan siapa aku akan menikah nanti. Membayangkan baik dan buruknya, beserta segala ketakutan yang mengiringi di dalamnya. Hingga memunculkan begitu banyak pertanyaan yang sedikit banyak membuat ragu pun takut untuk menikah.

Akankah laki-laki baik yang akan mendampingiku kelak? Atau aku akan mendapatkan laki-laki biasa saja? Akankah kehidupan pasca menikahku akan menyenangkan atau justru malah menyedihkan? “Wallahu alam,” pikirku waktu itu.

Dan ternyata menikah nggak segampang itu. Kehidupan setelah menikah itu nggak seindah telenovela yang isinya cinta-cintaan melulu. Dramanya ada, sedihnya ada, senengnya juga banyak.

Kehidupan setelah menikah itu tentang syukur, tentang menerima, tentang legowo tur ora maido alias nerimo ing pandum. Kalo suami meriang, ya istri yang ngerawat. Kalo istri yang meriang, ya suami yang ngerawat. Kalo mood salah satu lagi nggak bagus, ya yang satunya yang ngimbangin biar suasana jadi nggak canggung satu sama lain.

Kalo lagi sama-sama bosen, ya ngobrol solusinya gimana. Nggak malah diem-dieman atau malah ngelakuin hal mudharat lainnya. Kuncinya komunikasi. Karena menikah itu butuh kesiapan. Nggak cuma soal uang, nggak cuma soal materi, menikah itu butuh kesiapan mental yang akan terus diuji sampe tua nanti.

Bersama-sama menuju ke arah baik, dari yang awalnya hanya berdua, jadi bertiga, berempat atau berlima. Dari yang punya banyak materi atau mungkin lagi nggak ada sama sekali duit. Dari liat pasangan pas lagi cantik-cantiknya atau ganteng-gantengnya sampe liat pasangan dengan parasnya yang lagi sakit dan nggak sempet cuci muka.

Menikah itu melegakan, sekaligus menguji keimanan. Maka jika belum siap, lebih baik fokus kepada mempersiapkan. Karena kelak tanggung jawab peran setelah menikah itu juga dihisab di hari dimana semua manusia dibangkitkan.

Selamat mempersiapkan! ūüôā

Mensyukuri Hal-Hal Kecil

Dan pagi ini, aku dikejutkan dengan LCD laptop yang tiba-tiba berubah menjadi mbleret eh mbleret ki opo si bahasane hahaha, pokoknya eror LCDnya ngehang dan hilang semua yang terlihat di layar. Tapi anehnya, audio yang kusetel dari Youtube masih menyala nyaring dan tidak menunjukkan gejala apapun.

Hari ini aku dibuat panik bukan main ketika sedang bekerja dengan laptop tercinta. Bukan kali pertamanya aku dilanda panik, tetapi setiap kali menyinggung soal pekerjaan, entah mengapa tingkat kepanikan dalam diriku serasa memuncak.

Meski di luar selalu terlihat baik-baik saja, tidak banyak yang tahu bahwa seorang Septi mengidap penyakit panik yang luar biasa dan teledor yang super duper njiengkeliiiiii HAHAHAHA.

Dan pagi ini, aku dikejutkan dengan LCD laptop yang tiba-tiba berubah menjadi mbleret eh mbleret ki opo si bahasane hahaha, pokoknya eror LCDnya ngehang dan hilang semua yang terlihat di layar. Tapi anehnya, audio yang kusetel dari Youtube masih menyala nyaring dan tidak menunjukkan gejala apapun.

Singkat cerita, aku yang sedang bercanda dengan mas langsung mendadak panik dan lari ke laptop. Kumatikan dan kunyalakan berkali-kali hasilnya masih sama. Belum panik, masih mencoba khusnudzon, berbaik sangka mungkin laptopnya panas, tapi tetap tidak bisa.

Mulailah panik, kirim chat ke sana ke mari untuk tanya-tanya dimana lokasi service Mac di Semarang. Satu persatu kutanyai detail, dan qadarullah banyak yang tidak tahu. Dan aku mulai panik.

File kerjaan gimana ini,

File kuliah gimana,

File ini, file itu belum di backup di drive dan di laptop semua

Gimana kalau beneran rusak dan harus ganti LCD,

Gimana kalau harus ngulang semua dari awal,

Gimana kalau begini, gimana kalau begitu…….

Dan beruntungnya, aku punya suami yang level paniknya nggak separah istrinya alias beliau yang menenangkanku pas lagi embuh-embuhnya.

Kami bersiap-siap menuju ke tempat kami membeli laptop, sambil memberesi apa saja yang akan kami bawa, kami masih berbaik sangka sambil berpikir tentang banyak hal, termasuk:

Hak¬†mana¬†yang¬†belum¬†kami¬†keluarkan,¬†sehingga¬†kami¬†diingatkan¬†dengan¬†cara¬†seperti¬†ini?¬†Barangkali¬†ini¬†hal¬†yang¬†sepele¬†untuk¬†sebagian¬†orang.¬†Namun,¬†kami¬†percaya¬†bahwa¬†ketika¬†kami¬†diuji¬†dengan¬†harta,¬†kami¬†akan¬†merenungi¬†“apakah¬†ada¬†hak¬†orang¬†lain¬†yang¬†masih¬†belum¬†kami¬†penuhi,¬†sehingga¬†Allah¬†ingatkan¬†kami¬†dengan¬†cara¬†yang¬†menyedihkan?

Tiba-tiba di salah satu chat terselip satu nama yang tidak asing bagiku dan mas tentu saja. Nama ini pernah kuhubungi ketika aku sedang mencari Mac Pro sebelumnya. Dan alhamdulillah setelah tanya jawab panjang, berujung kalimat yang begitu membuat kami semakin berbaik sangka “Nanti saya coba bantu ya, Mba. Saya kenal orangnya. Dia temen saya. Nanti saya coba bantu ngomong baik-baik karena mbak nggak tau kualitas barang yang dibeli. Lagi dapet apes mungkin mbaknya.”

Saat kami sampai pun, kami tidak bertemu dengan yang bersangkutan, kami meninggalkan laptop dan menunggu di toko sebelah sambil menemani mas membuat desain undangan. Ada sekitar 4 jam kami menunggu dengan gelisah — wkwk aku sih yang gelisah parah. Karena pikiran kemana-mana, terutama soal kerjaan yang mostly di laptop semua.

Akhirnya, kami memutuskan kembali datang ke toko sambil berharap semuanya baik-baik saja. Smartphone ku berdering, si mas-mas yang mau bantu ini sudah menelepon ybs untuk mempermudahku karena aku sebagai korban yang tidak tahu apa-apa di dunia per-Macbook-an.

Sesaat, begitu kami sampai, kami menengok ke toko apakah ybs sudah datang sambil berjalan menuju ke musala. Selepas salat, aku bahkan sudah ikhlas untuk meninggalkan laptopku di toko untuk dicek keesokan harinya kalau memang hari ini belum bisa.

Qadarullah, saat sudah ikhlas dan yowislah bismiilah, kami mampir ke toko dan mendapati yang jaga toko adalah si bos pemiliknya. Ya Allah seneng dan lega, ditambah LCDku akhirnya diganti GRATIS sebagai bentuk pertanggungjawaban ke kustomer. Ini juga tidak lepas dari bantuan Allah lewat masnya yang bantuin aku dengan telepon ke bosnya yang juga ybs ini.

Bersyukur bukan main karena aku dan mas nggak jadi keluar uang 2.7juta untuk LCD saja (belum ongkir). Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah akunya udah bisa hepi lagi.

Dan yang menyenangkan dari setiap proses kepanikan itu, Allah memberikan seorang pendamping yang sabar dan selalu ada. Beliau selalu menggenggam tanganku ke manapun, sepanik apapun sambil berusaha menenangkan tanpa protes. Iyaaa mas tu protesnya kalau masalahnya dah selesai, protesnya lebih ke ngingetin tapiiii wkwkwk:

“tuh¬†kan,¬†jangan¬†panikan¬†dulu,¬†tenang.¬†Allah¬†tu¬†bantuin¬†kok.¬†Allah¬†tu¬†nggak¬†tidur.¬†Khusnudzon¬†aja,¬†kita¬†lagi¬†diingetin.¬†(((terus¬†akunya¬†ketawa-ketawa)))¬†Kamu¬†sih,¬†kalo¬†panikan¬†hmmmmmm¬†semuanya¬†aja¬†berasa¬†salahhhh,¬†termasuk¬†suaminya¬†ini.¬†Ditemenin¬†kok¬†ditemeniiiiinnnn¬†:))”


Pelajaran yang kami ambil ketika uang kami dipaksa keluar pun juga selalu sama, yakni instropeksi. Apakah kami belum mengeluarkan hak orang lain yang ada pada diri kami? Jika iya, maka tugas kami yang lain kali tidak boleh lalai karena Allah tidak akan pernah mengambil apa yang telah menjadi milik kita.

Btw, meski laki-laki dicap nggak peka, tapi dari mas aku belajar bahwa yang tenang, bukan berarti nggak peka. Mereka (suami) hanya berusaha untuk lebih terlihat tenang agar bisa menenangkan pasangannya.

Nek jare mas, sih: “Kalau kamu panik dan aku ikutan panik, siapa yang bakalan nenangin kamu biar lega dan nggak panik? Siapa yang bakalan nemenin kamu kalau dua-duanya panik?”

Maapin istrimu ya, mas. Terima kasih telah bersedia mendampingi dedek panikan yang satu ini. Makasih ya Allah sudah dikasih suami yang teramat sangat sabar dan sayang. I love you, mas ‚̧ ‚̧